Rabu, 30 Desember 2015

Pelajaran di Akhir Tahun 2015

Kemarin seharian Saya merasa.... Kosong. Isi kepala Saya sangat random. Saya memikirkan saldo di rekening yang terus terpakai karena belum ada pemasukan. Saya memikirkan karakter-karakter yang sedang Saya tulis. Saya memikirkan bahan presentasi untuk 3 proyek film yang akan Saya coba tawarkan ke calon investor. Saya memikirkan apakah cerita yang Saya tulis cukup menarik untuk di visualkan. Saya merindukan seseorang. Begitu banyak ketakutan. 


Saya menargetkan dalam sehari paling tidak Saya bisa menulis 10 halaman. Tapi kemarin Saya memutuskan untuk break. Saya tak mau memikirkan apapun. Saya memilih diam.


Tadi pagi Saya memutuskan bahwa hari ini Saya ingin menulis sambil minum Ice latte. Plus ingin merasakan dinginnya AC. Sebelum berangkat, Saya makan siang disebuah warung makan. Saya makan pecel lele plus tempe. Saat Saya sudah selesai makan, Saya melihat seorang satpam yang sedang makan disebelah Saya, dia hanya makan tahu dan tempe. Kelihatan sekali dia sedang melakukan penghematan. Dia makan dengan lahap. Saya perhatikan wajahnya yang agak kurus. Dalam hati Saya bersyukur, Saya bisa beli lele untuk makan siang hari ini. Tak lupa Saya mendoakan semoga dia diberi rezeki yang lebih dikemudian hari.


Lalu Saya naik angkot. Ya memang sehari-hari Saya lebih suka naik angkutan umum yang murah meriah. Didepan Saya, duduk seorang Ibu Tua. Dia hanya membawa dompet kecil. Dia menyimpan uang 5ribunya dengan hati-hati. Oh, Tuhan. Saya berkaca kediri Saya sendiri. Dompet Saya berisi beberapa puluh ribu, kartu ATM dengan saldo sekian juta, 2 kartu kredit gold yang limitnya penuh. Saya bisa membeli apapun hari ini sebenarnya. Dan Saya menenteng laptop yang isinya project-project dan tulisan Saya. Lagi-lagi Saya merasa lebih beruntung. Semoga Tuhan memberika rezeki lebih ke ibu tua itu.


Lalu kejadian ketiga. Saat Saya sedang antri dikasih supermarket, di depan Saya ada seorang pria Afrika. Ditangannya dia hanya memegang uang 62 ribu rupiah. Sehingga dia harus mengurangi beberapa belanjaannya agar bisa membayar. Saya merasa bersyukur. Saya bisa membeli barang dan makanan yang Saya perlukan untuk satu bulan.


Jika kemarin Saya merasa ketakutan. Takut uang Saya habis. Takut jika calon investor tak suka konsep Saya, bagaimana Saya mencari pendapatan. Tapi hari ini Saya diberi pelajaran, ada orang-orang yang kondisinya tak lebih baik dari Saya. Saya harua bersyukur dengan apa yang Saya miliki.


Terkadang kita merasa hidup kita sulit. Saat rasa itu datang, pergilah keluar. Lihat keadaan sekitar. Kita akan disadarkan bahwa hidup kita tidaklah seburuk yang kita pikirkan.




Sent from Yahoo Mail on Android


Jumat, 18 Desember 2015

Kejar Setoran atau Kejar Ego?



Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh berita kecelakaan metromini dan kereta api di daerah Angke, Jakarta. Jumlah korban meninggal dalam kecelakaan itu berjumlah 18 orang. Berarti hampir semua penumpang metromini tewas dalam kecelakaan itu. Berdasarkan saksi mata, kecelakaan itu terjadi karena metromini tak mengindahkan sirine kereta lewat. Metromini tetap menerobos dan kecelakaan tak bisa dihindarkan. 18 nyawa melayang sia-sia karena kesembronoan 1 orang. Miris.


Kejadian ini bukan kali pertama di Jakarta. Kesadaran akan disiplin berlalu lintas semakin pudar. Semua mau cepat-cepat. Saya sebagai pengguna angkutan umum tentu sangat menyayangkan hal ini. Jakarta sudah terlalu macet, pemerintah pun sudah berusaha agar masyarakat lebih memilih angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Tapi niat baik pemerintah kurang ditanggapi baik oleh masyarakat. Dengan berbagai alasan. Ada yang bilang kegiatan mereka memang butuh kendaraan pribadi atau mungkin saja karena gengsi kalau bepergian dengan kendaraan umum. Dan memang angkutan umum yang nyaman jumlahnya masih sedikit. Itupun hanya yang dibawah naungan Trans Jakarta. Tapi jika rush hour, tetap saja kita harus rela berdesak-desakan.


Kecelakaan kopaja dan metromini seringkali akibat ulah pengemudi. Mereka menyetir ugal-ugalan. Kejar setoran dijadikan alasan. Padahal mereka itu bermain balapan dengan sesama sopir kopaja atau metromini lainnya. Diikuti pula dengan para kenek yang bersorai dan melambaikan badannya dipintu bus. Salah sedikit dia bisa jatuh dan terlindas kendaraan dari belakang. Mereka tidak peduli pada keselamatan penumpang yang dibawanya. Terkadang mereka menyetir dengan penuh emosi dan ambisi. Penumpang tentu tidak nyaman tapi mau bagaimana lagi. Menegurnya pun percuma. Bisa saja kita dipaksa turun kalau sang sopir tak suka hati kita tegur. Sedangkan kita bekejaran dengan waktu atau mungkin sayang untuk mengeluarkan ongkos taksi.  


Tapi Saya pikir keadaan ini sudah bukan karena urusan cari makan. Ini persoalan pola pikir. Ya, sangat disayangkan sekali, pola pikir mereka sama buruknya seperti badan bus yang mereka kemudikan. Mereka hanya mementingkan ego semata agar dibilang jantan oleh para pengemudi lainnya tanpa memikirkan keselamatan penumpang. Sesekali Saya mendengar beberapa penumpang berteriak, “Bang, nyetir yang bener dong. Kita ini manusia bukan kambing”.


Bahkan Kopaja AC yang diharapkan bisa lebih tertib dan nyaman, mereka juga tidak disiplin dalam berkendara. Kopaja AC sering kali menaik turunkan penumpang disisi kanan jalan. Sungguh sangat membahayakan. Kopaja AC juga sering memaksa penumpang untuk naik padahal kondisi bus sudah sesak sampai-sampai bernapas pun sulit.


Pemerintah Daerah dan kepolisian sudah harus bertindak tegas. Tangkap dan beri hukuman sopir-sopir kendaraan umum yang tidak tertib. Memang akan banyak perlawanan. Tapi tindakan ini sangat perlu dilakukan demi kenyamanan dan keselamatan masyarakat pengguna jasa angkutan umum. Kita sebagai masyarakat juga bisa membantu pemerintah dan polisi dengan cara berani menegur tindakan pengemudi angkutan umum yang tidak tertib. Pola pikir mereka harus dibenahi.


Selasa, 08 Desember 2015

5 Tips Bebas Hutang


Sebentar lagi akhir tahun. Biasanya para pekerja kantoran akan menerima bonus tahunan dan pengumuman kenaikan gaji. Seneng doong... Pasti udah bikin anggaran pengen ini pengen itu. Pengen cepat-cepat upgrade gaya hidup. Trus trus trus tanpa sadar, “Eh, kok, duitnya kemana ya?”. Jeng jeng! Banyak dari kita yang mengalami hal serupa kan... Udah ngaku aja...

Atau... Tiba-tiba bingung. “Kayaknya udah cukup lama kerja tapi belum punya aset bahkan investasi di rekening tabungan”. Coba cek lagi. Apa setiap tahun setelah kenaikan gaji diikuti pula ada cicilan baru? Nah itu penyakitnya.

Hutang konsumtif itu sangat ampuh untuk memiskinkan kita. Saya ingin menceritakan pengalaman Saya terjerat hutang kartu kredit. Hutang Saya waktu itu tidak besar. Hanya 2 juta sekian. Tapi karena saat itu 6 bulan tak ada pemasukan, Saya tak sanggup bayar. Sampai Saya didatangi pihak bank (untuk bukan debt collector). Dia tanya kenapa belum bayar. Ya Saya jelaskan saja keadaan yang sebenarnya. Untungnya Mas-mas dari Bank itu berbaik hati. Ya iyalah cuma 2 juta, yang hutangnya lebih dari 20 juta jauh lebih banyak. Setelah dapat kerja, Saya bayar hutang Saya plus bunganya yang aduhai besarnya bikin kepala sakit dan mbatin, “Bunganya bisa beli sepasang anting emas”. Saya yang punya hutang cuma 2 juta saja bingung apa kabar yang hutangnya puluhan juta ya? Hiii serem ngebayanginnya. Kalau hutangnya berupa pembelian aset aktif yang nilainya terus bertambah tiap tahun seperti kredit rumah, itu sah-sah saja. Tapi kalau cuma untuk beli gadget dan tas, aduh...

Sekarang bagaimana agar kita bisa terbebas dari hutang dan memperkaya diri. Berikut tips-tipsnya:

1.      Hidup Sesuai Dengan Pendapatan

Punya gaji 5 juta, tapi nekat kredit mobil yang cicilan sebulannya 4 juta. Atas nama biar kesohor. Emangnya kamu ga perlu makan? Oh, mungkin saat lapar karena jatah makan di press habis bisa berkurang saat nyetir mobil kreditan itu yaa. Trus belum minum-minum cantik bayarnya pake kartu kredit. Nah, sudah kelihatan kan kalau gaya hidup kamu melebihi pendapatanmu.

2.       Mulailah Menabung Berapapun Pendapatanmu

Sisihkan paling tidak 10% dari gaji kamu. Pokoknya harus. Buat rekening khusus. Setelah lebih kurang 1 tahun, coba cek saldo, dan pasti kamu akan merasa lebih aman karena ada uang stand by. Saya bisa menabung sepertiga dari gaji Saya. Dan memang jadi merasa lebih nyaman dan aman karena ga ada ketakutan kalau-kalau ada pengeluaran darurat.

3.      Lunasi Hutang

Apapun jenis hutangnya, hutang kartu kredit, hutang ke teman, hutang ke tetangga, pokoknya harus dibayar dulu. Usahakan saat fase bayar hutang ini tetap menabung walau sedikit. Setelah hutang normal, jangan tunda lagi langsung mulai menabung.

4.      Jika Ingin Sesuatu, Cek Dulu Saldo Tabungan

Ini trik pribadi Saya. Saya selalu menambahkan 1 nol untuk saldo tabungan untuk sesuatu yang Saya inginkan. Misalnya Saya mau tas harga 1 juta, berarti Saya boleh beli tas itu jika saldo tabungan Saya ada 10 juta. Jadi kan mesti sabar banget tuh. Bukannya punya uang 1,5 juta trus beli tas 1 juta, ya kapan punya duitnya kalau gitu.

5.      Putar Uang Yang Ada Dengan Investasi

Banyak pebisnis yang melakukan ini. Makanya uangnya terus bertambah. Ya uang kita mugkin ga sebanyak mereka. Tapi cara ini bisa kita tiru untuk menyiapkan kebutuhan... 10 tahun kedepan mungkin saat kewajiban sudah mulai banyak. Tapi sebelum memulai investasi, harap dicatat, jangan pernah utak-atik dana darurat. Dana untuk kebutuhan darurat dan Dana untuk investasi harus dibedakan. Saya sih ngaturnya gitu.

Itulah 5 tips simple dari Saya. Saya mau hidup Saya tenang tanpa hutang dan punya uang. Karena resiko pekerjaan Saya di industri kreatif cukup tinggi, bisa saja tiba-tiba Saya ga ada pemasukan, makanya harus pintar-pintar kelola uang. Saya memilih hidup sederhana dan hemat dengan kemampuan financial Saya daripada harus merepotkan orang dan diri sendiri dikemudian hari. Masih bisalah ngeteh-ngeteh cantik di Plaza Senayan sambil ngecengin bule-bule kece dan klimis. Tapi ya ga tiap minggu juga. Di kostan pun Saya mencuci baju sendiri tanpa jasa laundry kiloan. Selisihnya jauh sekali. Beli sabun cuci 20 ribu bisa untuk 2 bulan. Kalau laundry mungkin satu bulan bisa 200 ribu.

Jadilah konsumen yang cerdas. Beli barang memang karena butuh bukan karena mau. Jangan terlena dengan diskon. Walau diskon tapi sebenarnya ga perlu-perlu amat namanya pemborosan juga kan.

Beri hadiah untuk diri sendiri saat sudah melakukan sesuatu dengan baik dan sesuai target. Karena walau bagaimanapun, kita berhak menikmati hasil kerja keras kita. Dan siapkan budget untuk ini agar tidak kebablasan.

Kondisi keuangan kamu memperlihatkan apakah kamu bisa bertanggung jawab atas diri kamu sendiri.

Sabtu, 05 Desember 2015

26

Well, its a bit late to write about my 26. I'm very grateful for every experience, laughs and cries, up and down. It creates me who i am today. I'm grateful i have some friends who has my back. Too keep accompany me in my lowest part.

26. Another magical journey. I dont know what universe gonna give me but i asked for the best. And i'm pretty confidence, God will give me that. 

When I was 19 or 20, i was depressed because the closest people who i expected to always have my back, they weren't there. I felt like, "Why i dont get any support from them?" I felt my life harder than anyone else in my age.

But today, i really grateful. That was teach me about hard work. About reach dream. 

I still climb to get my dream. Its hard. Really. But as long as God give me live, i keep on moving. Sometimes in my room i just cry for no reason. 

I pay my bills from my own hands. Even i still rent a small room, i can't travel a lot, i can't sit in the fancy tea shop as much as my friends who live in this glamorous city. I go everywhere by angkot or kopaja. 

But I have my pride. I pay every pennies from my sweat. 

You cant judge a person from how much she/he earn, but how they are responsible with themselve. 

Sent from Yahoo Mail on Android

Selasa, 01 Desember 2015

Tentang Perfilman Indonesia



Jumlah film submission di 21 Cineplex sebagai exibitor terbesar di Indonesia sudah terlalu banyak. Dalam 1 tahun mereka menerima 300 film yang minta tanggal penayangan. Karena keadaan ini waktu penayangan film Indonesia sangat singkat. Sudah saatnya sebuah film tidak ditayangkan serentak sekaligus seluruh Indonesia. Ada 4 judul film Indonesia baru setiap minggunya. Pembagian daerah untuk waktu tayang harus dilakukan. Itu cara agar waktu penayangan bisa stabil dan bisa lebih bertahan lama. Dibandingkan jika ditayangkan serentak, mungkin saat minggu berganti, film itu sudah tidak bisa dinikmati.


Kita tidak bisa menyalahkan film Hollywood. Karena pada kenyataannya memang mereka mampu menciptakan sesuatu yang menarik. Secara teknologi mereka nomor wahid. Dan saat proses awal pembuatannya memang sudah dirancang dengan sangat baik, hal yang jarang dilakukan oleh produser film lokal. Pembuatan film sudah seharusnya memiliki tahap development sebelum masuk ke tahap pre-produksi. Development ini mulai ditentukan proses kreatif dan bisnis plan.


Film Indonesia perlu dibuat pemetaan. Yaitu, Film Indonesia untuk pasar international, film Indonesia untuk pasar Indonesia dan Arthouse Film. Jika ini dilakukan, maka industri perfilman akan semakin dinamis. Kita tak hanya membuat film komersil tapi juga film art. Berdasarkan pembagian tersebut, maka exibitor (bioskop) juga harus memetakan cabang bioskopnya lebih cocok untuk pasar yang mana. Cara ini sangat efektif sehingga produser, bioskop dan penonton sama-sama senang. Bagaimana dengan exibitor lainnya seperti CGV Blitz dan Cinemaxx? Mengapa mereka tidak membuat slot penayangan sendiri untuk film Indonesia? Selama ini penayangan film Indonesia mengikuti penayangan di 21. Sistem pembayaran dari bioskop-bioskop masih sangat manual. Alangkah baiknya juga dibuat sistem input dari tiketing yang langsung terhubung ke pusat seperti sistem perbankan. Dengan begitu data penjualan tiket akan lebih akurat. Dan setiap produser diberi semacam keypad untuk bisa mengakses langsung dan mengetahui berapa total penjualan tiket filmnya.


Pembangunan bioskop-bioskop sudah harus masuk ke kota-kota kecil. Karena saat ini bioskop menumpuk di kota-kota besar. Sudah saatnya kita bisa menggandeng investor untuk membuat bioskop. Pemda juga harusnya mempunyai bioskop rakyat seperti yang sudah dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta. Sehingga semua lapisan golongan masyarakat memiliki kesempatan untuk menonton film layar lebar dan untuk pelaku industri hal ini sangat bagus untuk mendistribusikan karya mereka ke berbagai pelosok.



Industri film di Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Tak jarang beberapa kru mendapat panggilan job diluar negeri. Skill filmmaker Indonesia sudah diakui oleh dunia international. Namun sayang sekali di Indonesia masih ada gap kru. Mereka terpecah menjadi kru film, kru iklan, kru sinetron, kru FTV dan kru video klip. Kru film dan iklan pun dipecah lagi menjadi kru kelas A-B dan kru kelas C-D. Seharusnya ada suatu wadah yang menyatukan mereka sehingga akan terjadi harmonisasi dan tidak ada gap skill. Semua kru berhak mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas karya mereka.


Industri perfilman kita jauh lebih besar dari pada Malaysia dan Singapura. Tetapi equipment yang mereka punya lebih memadai dari yang kita punya. Seringkali kita harus sewa dari luar negeri jika kita perlu kamera phantom atau lensa zoom. Jika ada team film luar negeri syuting di Indonesia terkadang kita dibuat kelabakan karena terbatasnya equipment disini. Terlebih jika dari Amerika, mereka terbiasa memakai merk-merk tertentu. Sedangkan equipment di Indonesia kebanyakan merk dari Jerman dan dibeli dengan kondisi bekas. Disini belum ada penyewaan grip dengan sistem paket. Di luar negeri mereka biasa dengan paket 1 Ton, 2 Ton dst. Jika ada, ini akan sangat mempermudah sistem penyewaan tak perlu lagi harus pesan satu persatu.


Kebutuhan akan studio juga perlu diperhatikan. Studio besar hanya ada di Batam. Di Jakarta ukurannya termasuk tanggung dan pasti sudah di booking penuh oleh stasiun tv. Industri film terpusat di Jakarta, tetapi harga tanah di Jakarta sangat mahal. Kebutuhan akan studio akan semakin tinggi diikuti dengan pesatnya perkembangan animasi di Indonesia. Indonesia belum memiliki green screen studio yang proper.


Era digital juga sangat mempengaruhi perkembangan industri film. Saat ini semua film sudah syuting dengan kamera digital. Bahkan diluar negeri mereka sudah mulai syuting dengan format 8K. Di Indonesia kita cukup puas dengan syuting format 4K karena kendala di post production. Di Indonesia baru ada 1 post production yang bisa langsung mengerjakan RAW file 4K.  Jadi walau sudah syuting dengan format 4K, untuk pengerjaan post production file film harus di downgrade dulu ke 2K. Tentu ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi pemilik post production karena teknologi terus meningkat. Bahkan untuk syuting iklan di Indonesia, format 5K dan 6K sudah banyak digunakan.


Studio suara juga sangat penting. Suara berfungsi untuk memainkan emosi saat kita menonton film. Di Indonesia belum ada sound studio yang berlisensi dolby. Karena untuk mendapatkan license tersebut banyak persyaratan yang harus dipenuhi terutama besarnya studio dan harganya cukup mahal. Sistem suara dolby sangat dibutuhkan film-film Indonesia sebagai persyaratan untuk screening di festival-festival film International dan pasar film International. Saat ini jika ingin membuat sistem suara dolby, kita harus pergi ke Bangkok.


Industri film dan fasilitasnya hanya terpusat di Jakarta. Padahal Yogya, Bali dan Makasar adalah kota-kota yang sangat potensial untuk membangun industri film. Banyak filmmaker-filmmaker hebat berasal dari kota-kota tersebut. Di Yogya tidak ada RED kamera. Padahal ini adalah salah satu kamera yang paling sering digunakan untuk pembuatan film profesional. Equipment dan post production studio pun tidak memadai. Para penyewa alat-alat syuting hanya seperti menjalankan bisnis rumahan. Sudah saatnya kota Yogya dibangun sebagai pusat industri film setelah Jakarta. Karena sumber daya manusia disana sangat bagus. Banyak pekerja film di Yogya yang film-filmnya langganan masuk festival film international. Jika ini dijalankan maka pemerataan kesejahteraan ekonomi kreatif akan merata di kota-kota besar di Indonesia, tak hanya Jakarta.


Untuk membangun industri film yang sehat sehingga tercipta profesionalisme dan terus menghasilkan karya berkualitas diperlukan standarisasi industri. Standard-standard itu antara lain: Standard jam kerja, Standard upah pekerja film, Standard teknis untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan Standard harga sehingga tak ada penekanan harga bagi penyedia jasa rental. Jika standard-standard itu dibuat maka pekerja film akan menjadi mandiri secara ekonomi.



Bagaimana untuk memasarkan film-film Indonesia ke pasar Internasional? Perfilman Indonesia perlu Agen Film. Agen film ini akan mencarikan distributor-distributor diseluruh negara. Untuk setiap teritori, regulasi dan sensorship akan berbeda. Inilah tugas Agen film, mempertemukan pembuat film dan penjual film. Inilah sistem yang benar. Sehingga keberhasilan sebuah film tidak hanya dinikmati oleh satu pihak. Bisnis film bisa dinikmati oleh banyak pihak. Perlu adanya inisiatif dari pihak swasta untuk menjadi Agen Film.


Hubungan bilateral antar negara juga perlu dijalankan. Dengan adanya hubungan bilateral, bisa saja terbentuk pertukaran distribusi film. Workshop juga perlu diadakan sebagai sarana pertukaran ilmu dan pengalaman antar negara. Kita dapat membahas film dari hal teknis sampai bisnis oleh para expertise-expertise.


Dan ini adalah tugas besar pemerintah dan kita semua. Untuk membangun budaya nonton film, diperlukan pula perbaikan ekonomi nasional. Karena menonton film saat ini bukan menjadi kebutuhan utama. Kita memiliki lebih dari 200 juta penduduk. Tapi yang mampu dan memiliki kesempatan untuk nonton film mungkin hanya 20 juta jiwa. Industri film merupakan potensi ekonomi kreatif yang besar bagi Indonesia, baik berdampak langsung maupun tidak langsung. Jika sistem industri film berjalan dengan baik, maka akan tercipta lapangan pekerjaan yang baru.


Selasa, 10 November 2015

Fenomena Hipster


Belakangan banyak ditemui sekumpulan anak-anak muda yang ga terlalu muda-muda amat bergaya futuristik. Gaya andalan mereka adalah wool coat. Walau di Jakarta suhunya bisa 40 derajat tapi mereka terlihat nyaman mengenakan pakaian berbahan tebal. Mereka mengaku anak indie banget dan suka segala sesuatu yang vintage. Mereka itu yang biasa disebut Hipster.

Hipster adalah gaya hidup anti mainstream. Mereka menganggap diri mereka unik dan beda dari yang lain. Sebenarnya kaum hipster sudah ada sejak lama yaitu 1940.


Gue sangat tergelitik untuk membuat tulisan tentang fenomena hipster ini. Karena gue menganggap mereka itu... ajaib. Tapi ada beberapa hal yang bikin gue kadang-kadang kesel sama anak-anak hipster itu. Gue ga mau hanya menulis dari sudut pandang gue sendiri. Ya sebenarnya biar seru aja sih, gue perlu pendapat orang lain juga soal anak-anak hipster. Disini gue mencoba membuat beberapa pertanyaan tentang definisi hipster ke 2 teman gue. Dan kedua teman gue itu diinisialkan JP dan TW. Dan juga gue sendiri yang akan memberikan pendapat gue tentang fenomena hipster ini.

1. Menurut lo, Hipster itu apa sih?
TW : Kekinian, ikut arus, gak kayak ikan salmon yang ngelawan arus, suka kebawa gara-gara musik yang sama or biar dipikir cool... Masuk ke lingkungan daripada loner


JP : Hipster? Hmm.. People who likes to be center of the world. The one who likes uncommon outfit and lifestyle. They claim themselves as a pioneer, as a trigger, not as a poser. Hipster nowadays is ain’t hipster anymore. They tend to hangout in Starbuck, using Apple products, wearing pastel coloured outfits, and talk about Yoga, coffee, good books and stuff. And most of them looks kinda the same

Ikut Arus dan terlihat sama? Tapi mereka meng-claim diri mereka berbeda. Apa karena saat ini sudah banyak Hipster jadi Hipster sudah menjadi sesuatu yang mainstream?
TW & JP : Exactly!

TW : Saking banyaknya jadi sudah biasa

JP : Maknanya udah ngabur

2. Hipster itu kebanyakan diusia 25 tahun keatas. Usia dimana seharusnya sudah bisa bersikap lebih dewasa secara gesture dan cara pikir, tahu tujuan hidupnya mau kemana. Tapi mereka terlihat seperti masih senang main-main. Gimana menurut lo?
TW: Mereka pikir dengan gaya dan profesi bisa saling angkat. Mungkin saja mereka punya link yang oke. Tapi pada akhirnya orang carinya skill sama attitude. Bukan lo temenan sama siapa atau gaya lo mau gimana.

JP: Yup. Karena dibawah 25 tahun masih peralihan teenager. Mereka mungkin Cuma nge-twist sesuatu yang formal aja jadi terkesan lebih chic dan casual. Balik lagi ke retrofuturistik-post-apocalyptic gitu. But well, no one wants to wear that wools stuff while having activities without AC. LOL.

Mostly mereka masih bergantung sama orang tuanya. Gaji mereka paling berapa sih. Kalo gue lihat teman-teman hipster gue kayaknya gitu. Bener ga sih? Atau Cuma asumsi gue aja?
JP: Ga terlalu paham sih. Kalopun benar mereka ga akan ngaku juga. But I am pretty sure that they supposedly got the money to style up.


3. Mereka suka banget ya diskusi-diskusi heboh gitu. Seperti menciptakan sesuatu yang besar.
JP: Ya... gue pernah nguping. Mereka itu ngomongin vegan, animal rights, good books to read, good coffeeshop, earth friendly fashion, surfing, gitu-gitu deh.

Gue: Misi sosial juga. Sering banget tuh mereka bikin. Gue pernah diajak juga ikutan tapi gue ga punya waktu. Trus ada satu orang yang kayak langsung menatap aneh gitu. Sebenarnya sih bagus mereka punya pikiran gitu. Tapi kan I have to work ada bill yang harus gue bayar....

JP: Ga misi sosial aja. Pokoknya mereka berusaha diskusi tentang hal-hal yang ga umum dibicarakan. That is what made them bunch of hipsters.


4. Sebenarnya keberadaan kaum hipster ini penting ga sih untuk perekonomian terutama ekonomi kreatif?
JP: Penting dong. Mereka ini termasuk dari salah satu tipe audiens juga. Dan ga sedikit dari industri kreatif yang ngonsepin ide mereka based on these hipsters.

TW: Penting kalo banyak kerja, bukan banyak gaya.

Gue: Ya... Ada pengaruh juga ya sebenarnya. Sekali waktu gue pernah datang ke Localfest. Banyak banget stand fashion yang gayanya kekinian lah. Gue melihatnya ya mereka berani untuk buka usaha. Tapi apa usahanya itu bisa kasih profit? Atau cuma musiman aja?


5. Terakhir nih. Pesan untuk para hipster.
JP: Hipsters, please don’t be an ass. Please don’t judge us by the way we wear, by the way we talk, and by the way we hanging out. We are just like you. So stop comparing yourself with us.

TW: Loyal pada profesi bukan sama perusahaan dan lingkungan bergaul.


Itulah beberapa percakapan singkat yang membahas Hipster. Jadi kesimpulannya adalah banyak orang yang tidak nyaman dengan para hipster karena attitude dan sikap jugdemental. Sebenarnya tidak ada masalah untuk memberi label diri seorang hipster. Hipster ini adalah kumpulan orang-orang kreatif. Mereka mampu membawa ide segar. Gue akui itu karena gue bekerja di industri kreatif. Tapi yang bikin gue ga nyaman, mereka kadang sok tahu seakan mereka expert. Gue lihat mereka belum bisa mengolah ide-ide mereka kedalam kenyataan yang sesungguhnya. Mereka masih terlalu cepat berubah-ubah.

Dan saat ini banyak sekali komunitas-komunitas mulai dari komunitas kopi, komunitas film, komunitas pengajar relawan apapun itu, hal itu terbentuk dari para Hipster. Sangat bagus sekali sebenarnya. Mereka mengerjakan sesuatu yang untuk kita yang sebagian orang profesional tak punya waktu untuk melakukan itu.

Sebaiknya memang orang-orang Hipster dan Non Hipster bisa berdampingan. Tanpa ada unsur judgemental. Kita punya karakter yang berbeda. Kita punya sudut pandang yang berbeda. Bukannya kalau semua sama, tak ada lagi keberagaman? Kita harus mampu meredam ego untuk menunjukan siapa identitas kita.

"Orang-orang disekeliling kita cukup berpengaruh besar untuk siapa membentuk diri kita"


Minggu, 08 November 2015

Tentang Disiplin

Say tiba-tiba teringat seorang kenalan Saya yang saat ini tak lagi berkomunikasi. Ya, ada sesuatu yang membuatnya marah dan tak lagi mau mengenal Saya. Penyebabnya sepele. Karena Saya selalu menolak ajakkannya untuk nongkrong. Dia selalu mengajak diwaktu yang tak masuk akal dan mendadak. Pokoknya orang ini memang tak tahu waktu. Saya selalu menyusun waktu Saya. Saya orang yang disiplin. Lalu teman Saya itu bilang Saya "Your life is so boring".


Saya sadar terkadang hidup Saya memang membosankan. Tapi kali ini Saya kasih pengecualian. My life actually so colorful. Saya tidak bisa terima kalau disiplin itu dibilang membosankan.


Discipline = Boring


Sekali lagi, Saya sama sekali tidak setuju jika sikap disiplin dianggap membosankan.


Setiap orang memiliki waktu yang sama dalam 1 hari. Orang-orang yang disiplin adalah orang yang memanfaatkan dan memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya. Mereka membuat jadwal. Dengan begitu apa yang menjadi target mereka sebagian besar akan tercapai.


Apa jadinya jika kita disiplin? Akan banyak sekali kekacauan. Disiplin berarti kontrol diri. Disiplin bisa digunakan dalam banyak hal. Bagaimana disiplin mengatur keuangan, bagaimana disiplin berlalu lintas, bagaimana disiplin bekerja sehingga deadline tak lagi menakutkan?


Jika kita lihat orang-orang besar dan sukses, mereka bisa seperti itu karena sikap disiplin. Kalau saja mereka tidak disiplin, apa bedanya mereka dengan segolongan orang yang hidupnya biasa-biasa saja tanpa ada hal berarti yang bisa dibanggakan?


Jadi kata-kata terakhir yang Saya katakan keorang itu adalah " You are not discipline. You will not going to anywhere".




Sent from Yahoo Mail on Android


Senin, 26 Oktober 2015

Jalur Rempah

Jalur Rempah ditemukan oleh para pelaut Eropa. Mereka berlayar jauh ke arah timur. Awalnya perjalanan ini dimulai saat mereka percaya bahwa bumi itu lurus. Dan ternyata apa yang mereka yakini itu salah. Mereka sepakat bahwa bumi itu bulat. Dalam perjalanan itulah mereka berakhir di Kepulauan Indonesia. Dan mereka menemukan harta karun ditimur bumi. Yaitu rempah-rempah.


Sejak saat itu mereka menjadi pedagang rempah-rempah. Karena rempah-rempah pula setengah dari benua Eropa menjadi bangsa yang maju. Kemegahan kerajaan-kerajaan di Eropa diperoleh berkat rempah-rempah. Mengapa rempah-rempah sangat mahal? Karena rempah-rempah memiliki berjuta khasiat untuk kesehatan.


Lalu muncul pemikiran bagaimana untuk menyembunyikan peta harta karun ini? Mereka membuat Jalur Sutera. Tak seperti Jalur Rempah yang dilalui melalui laut, Jalur Sutera merupakan jalur darat dan berakhir di dataran Cina. Disana terkenal sutera dan keramik sebagai komoditi. Padahal rempah-rempah lebih mahal dari sutera dan keramik. Hingga sampai saat ini kita lebih mengenal Jalur Sutera daripada Jalur Rempah.


Weekend lalu Saya berkunjung ke pameran Jalur Rempah di Museum Gajah bersama Mbak Ella. Saya takjub dengan pameran ini. Sangat bagus dan artistik. Disana kita mendapat pengetahuan lebih dari apa yang kita dapat dari pelajaran sejarah saat sekolah dulu. Hari itu kita langsung di guide oleh Mas Gerry, salah satu kreator pameran ini. Kita diajak ke Time Capsule . Pertama-tama kita disuguhi sebuah video berdurasi 3 menit tentang sejarah rempah-rempah di Indonesia. Ruangan pertama ini disponsori oleh Layaria. Setelah itu kita masuk ke Ruang Kerajaan. Pertama kali kita dikenalkan oleh pohon barus. Atau yang kita kenal kamper. Barus adalah nama tempat di Sumatra Utara. Pohon Barus banyak tumbuh disana. Zaman dulu Barus banyak dicari oleh orang Mesir untuk membuat mumi. Barus harganya sangat mahal. Karena butuh waktu 60 tahun untuk pohon barus menghasilkan barus dan maksimal hanya 2-3kilo. Dan sekali ditebang, pohon barus tak bisa tumbuh lagi. Dan tak semua pohon barus bisa menghasilkan barus. Jadi barus yang selama ini kita pakai hanyalah dari minyak tanah.


Lalu kita akan memasuki Ruang Sriwijaya. Di ruang ini tak banyak yang bisa diceritakan. Karena kurangnya bukti-bukti sejarah. Hilangnya Kerajaan Sriwijaya pun tak jelas karena apa.




Bergeser sedikit kita akan masuk ke Ruang Majapahit. Majapahit merupakan kerajaan yang sangat maju. Dimasa itulah pertama kali dibuat sistem perbankan. Saat itu masyarakat menggunakan celengan babi (Piggy Bank) untuk menabung. Dan karena sistem perbankan tersebut, Majapahit mampu membuat Real Estate.




Kita bergerak lagi ke Ruang Kerajaan Sunda. Dimasa ini adalah masa-masa kejayaan perdagangan. Kerajaan Sunda pertama kali dibuat sistem Supermarket. Dimana setiap pembeli mengambil sendiri barang-barang yang akan dibeli lalu membayarnya di kasir. Supermarket berbeda dengan pasar. Di pasar interaksi antara penjual dan pembeli dilakukan secara langsung. Saya juga melihat mahkota dan keris raja-raja. Ternyata jika dilihat dari batu permata dan designnya, mahkota raja-raja di Indonesia sama seperti mahkota raja-raja di Eropa.


Setelah itu kita diajak memasuki Ruang Hitam. Kenapa disebut Ruang Hitam? Karena dimasa itu terjadilah penjajahan bangsa Eropa terhadap Indonesia. Mereka tak lagi berdagang, tapi juga mengeksploitasi sumber daya Indonesia. Mereka ingin menguasai Indonesia. Di Ruang Hitam kita juga disuguhi footage-footage dimasa penjajahan.


Tibalah di Ruang Harapan. Ruang Harapan ini berwarna putih. Ruang ini menunjukan harapan-harapan Bangsa Indonesia setelah kemerdekaan dikumandangkan.



Sebenarnya di pameran Jalur Rempah ada beberapa Talkshow yang menarik. Tapi Saya tak bisa mengikuti talkshow karena sudah punya rencana lain. Dari kunjungan ini sekali lagi kita disadarkan, betapa kaya dan hebatnya Indonesia sehingga semua orang ingin memilikinya. Ada satu hal lagi yang membuat Saya tercengan. Ternyata bahan baku dasar minuman Cola itu berasal dari kulit biji pala. Dan Pala ini tumbuh di Indonesia. Bisa dibayangkan jika kita berhenti menanam pala. Tugas kita ini adalah melestarikan segala sumber daya yang sudah kita miliki. Jika tanah kita bisa memakmurkan bangsa lain, mengapa kita belum bisa memakmurkan bangsa sendiri?

Selasa, 29 September 2015

The Real Relationship



Pagi ini Saya membaca blog seorang teman yang baru saja kehilangan anak pertamanya. Anaknya yang berusia 7 hari meninggal karena gagal jantung.


Teman Saya ini sebenarnya bukan teman akrab. Dulu kita hanya pernah kerja bareng dalam sebuah project video clip. Dia adalah gambaran perempuan fearless. Agak tomboy dan artsy. Saya mengagumi kepintarannya. Selain kecantikannya yang alami. Dimata Saya, hidup dia sangat sempurna. Keluarga yang terpandang, pendidikan bagus, pintar, cantik dan karir yang cukup bagus.


Hingga suatu hari Saya melihat di Facebook nya berita duka cita. Anak pertamanya meninggal. Saya terdiam.


Tiba-tiba dia menghubungi Saya, untuk menemaninya santai di kedai kopi. Saya bukan tipe yang mendramatisir keadaan. Saya peluk dia lalu ngobrol tentang banyak hal. Tiba-tiba dia terdiam. Saya mencoba memposisikan diri sebagai dia. Pasti hal itu tidak mudah. Apalagi untuk seseorang yang mempunyai kehidupan sempurna seperti dia. Ini pasti pukulan besar. Tapi dia bukan tipe orang manja. Dia hadapi kenyataan itu. Dia terlihat sangat tegar. Saya ajak dia ke tempat Saya. Supaya dia bisa relax sedikit. Disanalah dia menangis memeluk Saya.


"Saya pikir hidup Saya akan selalu sempurna", isaknya. Saya peluk dia.

Akhirnya suaminya datang menjemput. Itu adalah kali pertama Saya bertemu dengan suaminya. Saya menilai mereka berdua sangat tegar. Sangat berbeda dengan gambaran anak-anak muda masa kini. Saya berbisik " You have the greatest husband in the world. You are not alone. You have a wonderful family and friends."


Saat itu Saya langsung berpikir. Inilah relationship yang sesungguhnya. Relationship is a journey. Its not only the sweet things. 

Selama ini kita sudah terdoktrin dengan dongeng-dongeng bahwa seharusnya pernikahan atau hubungan selalu indah. Tapi sebuah hubungan yang sesungguhnya bukanlah seperti itu. Tapi saling menguatkan. Mengarungi setiap detik kehidupan.

Jangan selalu menuntut minta dibahagiakan hanya karena kamu merasa kekurangan persediaan kasih sayang. Happiness will get to you when you are feel complete.


And you. Be strong :) 

Sent from Yahoo Mail on Android


Senin, 28 September 2015

Bigger Spirit

I'm not say my life is perfect
No. It is not
I do say i love imperfection of my life
My life is like a roller coaster
Upside down
But it creates who am I today

People judge me
Judge my background
Judge what i'm doing
And I dont care at all about that
Once again
I dont fucking care what people though about me.
But i only have one question
Are they have a bigger spirit than mine?

I dont want to take any shit
If they do it, I will let them to play with themselves shit.

I only can say y'all much better than me
If you have a bigger spirit than mine

Kamis, 27 Agustus 2015

Respect


Kemarin Saya nonton Kick Andy edisi Manusia Transgender di Youtube. Bintang tamunya ada Joy (transgender perempuan menjadi laki-laki), Dena Rachman (transgender laki-laki menjadi perempuan) dan Sam Brodie (terlahir laki-laki, pernah menjadi perempuan lalu sekarang kembali menjadi laki-laki. Semua bintang tamu ini memiliki pengalaman-pengalaman yang unik. Tapi yang paling Saya suka adalah kisah dari Sam Brodie.


Sam Brodie terlahir sebagai anak laki-laki dengan nama Samuel. Lalu saat dia remaja, tragedi menimpanya dan dia dipisahkan dari keluarganya menjadi anak negara. Saat itu dia tinggal di Skotlandia. Sampai suatu hari dia lari dari shelter dan menjadi orang jalanan. Bahkan untuk makan saja dia sangat susah sekali. Sampai dia hanya mengambil sambal tomat lalu dihisap-hisap dengan jarinya. Miris sekali. Hingga suatu hari dia melamar pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Dia saat itu sudah berpenampilan menyerupai perempuan. Saat majikannya bertanya, "Siapa nama kamu?" lalu tercetuslah nama "Samantha Brodie". Dia bekerja sebagai baby sister. Sampai suatu hari nasib mengubah hidupnya. Dia menjadi seorang model. Sejak saat itu hidupnya bergelimang harga. Tapi dia tak juga merasa bahagia. Sampai pada akhirnya dia kembali menjadi laki-laki dan pulang ke Indonesia.


Saya melihat hidup Sam Brodie ini sangat berat. Dan Saya juga melihat beratnya hidup 2 bintang tamu lainnya, yaitu Dena Rachman dan Joy. Bisa dibayangkan bagaimana pergulatan batin mereka. Tapi ketiga orang ini tak akan menjadi orang hebat jika jalan hidup mereka mulus-mulus saja. Dan pikiran positif lah yang membuat mereka bertiga menjadi orang hebat.


Jika kita gali lagi kehidupan masa lalu orang-orang hebat, jalan hidup mereka memang selalu melewati rintangan besar. Disitulah Tuhan memberikan contoh pelajaran. Bagaimana kuasa Tuhan mengubah hidup mereka dari orang yang hina menjadi orang yang dihormati.




Sudah selayaknya kita respect sama orang lain. Karena kita tak pernah tahu pengalaman hidup apa yg sudah dia lewati. Terkadang Saya berpikir, orang yang terlalu mudah men-judge, mungkin dia belum pernah merasakan dirinya dititik yang paling bawah. Dan orang yang menindas orang lain adalah orang yang lemah. Karena dia tak mampu melawan pikiran negatif yg masuk kedalam dirinya.


Saya juga kadang merasa sedih saat ada orang yang memperlakukan Saya dengan tak etis. Andai dia tahu apa yang sudah Saya lewati dalam hidup Saya. Tapi tak mungkin hal itu Saya ceritakan. Tapi biarlah kuasa Tuhan yang membalas semuanya. Yang bisa Saya lakukan hanya menikmati proses. Dan Saya sangat percaya, apa yang terjadi pada hidup kita pasti Tuhan punya maksud agar kita belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Senin, 24 Agustus 2015

Inside Out





Inside Out. Film karya Pete DocterRonaldo Del Carmen bentuknya memang film kartun. Film kartun identik untuk ditonton anak-anak. Tapi sebenarnya Inside Out ini terlalu berat untuk ditonton anak-anak. Untungnya secara visual film ini tetap bisa dinikmati anak-anak. Anak menonton, bapak atau ibunya merenung. Kira-kira seperti itulah bayangan Saya. 


Inside Out ini film tentang 5 emosi yang dimiliki manusia. Joy, Sadness, Disgust, Angry dan Fear. Secara visual, film ini menggambarkan isi otak manusia dan sistem kerja otak manusia. Dibuat dengan imajinasi yang wow. Kali ini Saya tidak menulis review film ini. Tapi akan sedikit berfilosofi.


Emosi dominan dalam diri manusia adalah Joy dan Sadness. Seiring berjalannya waktu saat manusia tumbuh semakin besar dan banyak peristiwa yang dialaminya akan membentuk karakter emosional orang tersebut. Tapi dalam hidup kita hanya tahu bahagia dan sedih. Kita selalu berusaha untuk bahagia. Selalu berusaha untuk menyebar kebahagiaan. Manusia takut untuk merasakan takut, sedih, marah dan muak. Jika keempat emosional itu muncul, maka emosi bahagia akan secara refleks melawan itu semua. Kesedihan adalah emosional yang akan paling sering dihindari. Karena jika kesedihan datang, maka marah, muak dan takut akan bekerja bersama-sama untuk memperburuk pikiran. Kesedihan memang menyebalkan. 


Tapi kesedihan mempunyai andil sendiri dalam mengatur emosi manusia. Kesedihan akan menyeimbangkan emosi kita yang secara otomatis akan merangsang emosi kesenang untuk bekerja. Tanpa kesedihan maka tak akan ada perkembangan-perkembangan yang akan membentuk karakter manusia. Kira-kira itulah point of view Saya tentang film Inside Out.


Jadi tak perlu kita takut untuk merasa sedih, marah, muak dan takut. Itulah yang akan membuat kita tetap waras menjalani hidup. Nikmati saja perasaan itu. Toh Tuhan sudah menciptakan 5 emosional itu untuk manusia.


Selasa, 14 Juli 2015

Tentang Bisnis



" Business is not always about money. But also charity, empathy, how to make people who work with us happy.





Business is not always use left brain, but also need right brain.





Thats why, businessman is not only profession but also character. "




Saya mengamati beberapa orang disekeliling Saya. Mana yang pengusaha sejati atau pengusaha musiman, Bisnisman bukan sekedar profesi, bukan sekedar menjadi bos. Bisnisman adalah karakter. Karena dalam berbisnis itu tidak melulu soal profit. Memang tujuan orang membuat usaha pasti mendapatkan untung. Tapi banyak yang tak paham bagaimana menghasilkan profit itu. 


Saya belajar dari para orang-orang besar. Mereka memiliki strategi agar perusahaannya besar. Terkadang strategi itu tidak melulu sesuatu yang rumit. Banyak pengusaha besar yang beramal. Karena itu dia mendapatkan simpati. Karena sudah mendapat simpati, maka orang tak segan memakai jasa atau produknya. Ya, semakin banyak memberi, semakin banyak pula yang kamu terima. Permah kita lihat pengusaha yang rajin beramal hidupnya menjadi miskin? Coba perhatikan lagi pengusaha yang usahanya cenderung stagnan, mereka terlalu pelit untuk membantu. Mereka hanya berpikir "Untuk apa kita menyumbang? Kita saja dapat profit susah".


Saya punya contoh nyata. Ada seorang editor. Dia termasuk senior di industri film. Dia begitu royal memberikan bantuan filmmaker-filmmaker yang punya budget terbatas untuk mengedit ditempatnya. Pokoknya dia royal sekali. Apakah usahanya rugi? Tidak sama sekali. Job nya ada terus. Walau tak besar tapi stabil. 


Dalam bisnis itu diperlukan pula cara berpikir dengan otak kanan. Harus kreatif dan mampu berpikir untuk kedepannya. 


Creativity = $ales


Bisnisman yang baik tahu bagaimana menyenangkan orang. Contohnya dia mau memberikan sebuah hadiah walau tak harus mewah untuk relasinya. Dia memberikan reward kepada pegawainnya yang sudah bekerja dengan baik. Hal-hal seperti ini akan menghasilkan loyalitas dari orang-orang sekitarnya. Dan itu baik untuk bisnisnya.


Banyak sekali  karakter seorang bisnisman sukses yang bisa kita bahas. Coba sesekali amati karakter dan kebiasaan mereka. Itulah yang membesarkan mereka. 


Selasa, 16 Juni 2015

Hidup Sederhana Untuk Masa Depan Bahagia

Terkadang kita suka iri melihat hidup orang lain. Kita selalu berpikir kalau hidup si Anu lebih enak dari kita. Traveling terus, punya barang bagus-bagus and sooo on. Tapi mungkin saat kita ajak orang itu ngobrol dari hati ke hati, dari situ kita bisa sadar kalau hidup orang itu juga punya problem. Sama seperti kita. Bisa lebih berat. 


Jadi apa harus kita selalu berpikir hidup orang lain lebih enak dari hidup kita?


Ada beberapa orang disekeliling Saya yang menjalani hidup terlalu konsumtif. Mengedepankan keinginan daripada kebutuhan. Dulu waktu Saya masih berpikir 'Wah hidupnya enak ya. Saya mah boro-boro beli tas  harga 30 juta. Pake yang harga 1 juta aja udah happy banget'. Tapi ternyata siapa yang tahu kalau hidup orang itu ternyata banyak hutang yang ga tahu kapan lunasnya. Tak punya tabungan. Tak punya tempat tinggal sendiri padahal usia tak lagi muda. Saat ini hidupnya masih bergantung sama orang tuanya. 


Saya langsung  sadar. Saya harus rajin bekerja supaya hari tua Saya tidak merepotkan anak cucu. Saya harus punya tabungan, aset dan investasi. Memang semua itu tak dibawa mati. Tapi dari kita hidup sampai kita mati ada banyak hal yang harus dibiayai. Lagipula kalau kita ada uang, kita akan merasa lebih kuat. Akan banyak orang yang bisa kita bantu. Hidup jadi lebih tenang. Beli barang sesuai kebutuhan saja. Atau jika ingin sesuatu yang lumayan mahal, buat diri kita melakukan sesuatu yang besar dulu sehingga hal yang kita inginkan itu kita jadikan hadiah untuk diri sendiri.


Saya mau mengingatkan teman-teman sekeliling Saya agar tak lupa menabung. Karena ternyata banyak orang-orang yang usianya jauh diatas Saya tapi mereka masih belum punya aset karena hidup terlalu konsumtif. Jangan malas bekerja. Apalagi di era modern ini banyak profesi yang bisa ditekuni asal kita mau berjuang dan terus kreatif.


Rabu, 03 Juni 2015

6 Months Go Natural



Jadi tahun ini Saya memutuskan untuk memakai bahan-bahan alami untuk perawatan tubuh. Ga keseluruhan, tapi paling tidak sudah mengurangi konsumsi produk. Gerakan ini diawali karena Saya udah gerah dengan begitu banyak produk ini itu yang menjanjikan ini itu pula. Ya gitulah pokoknya. Ga habis-habis. Dan yang paling ribet, kok step by step nya makin lama makin nambah. Misalnya habis cuci muka harus pake toner, lalu pakai pelembab, lalu pake serum, trus ditimpa lagi dengan sun screen, jangan lupa krim khusus untuk mata. Jadi intinya produk-produk yang dipasaran itu ya pintar-pintar brand manager dan orang-orang iklan aja.


Pertama. Sejak awal tahun Saya memutuskan untuk stop penggunaan shampoo untuk keramas. Waktu akhir tahun Saya potong rambut pendek. Alasannya karena biar kelihatan fresh dan rambut Saya lagi rontok parah. Setelah potong pendek, rontoknya ga berkurang. Bahkan makin menyeramkan. Saya cuma usap rambut aja bisa dapat 5 rambut yang rontok. 
Setelah googling bagaimana mengatasi rambut rontok, Saya tertarik mencoba metode No Poo. Alias no shampo. Jadi Saya totally stop penggunaan produk perawatan rambut apapun. Saya bikin shampo dari 1 sendok makan baking soda yang dicampur segelas air. Terus, rambut jadi ga ternutrisi dong? Kan biasanya shampoo atau conditioner itu mengandung bahan-bahan yang menutrisi rambut. Jadi sebagai perawatan extra, 1 minggu sekali Saya pakai Extra Virgin Olive Oil atau Virgin Coconut Oil yang dibaluri keseluruh rambut dan kulit kepala. Lalu didiamkan kurang lebih 1 jam. Apa dengan cuci rambut dengan baking soda minyaknya bisa bersih? Bisa banget. Jadi saat keramas dan baking soda sudah dibasuh ke kepala, kita pijat-pijat rambut dan kulit kepala. Baking soda ini terasa agak licin kok di kepala jadi mijitnya juga enak. Setelah itu bilas rambut. Kalau mau pake 'conditioner' bisa pake apple vinegar atau cuka biasa yang putih itu. Kira-kira 1 sendok makan dicampur segelas air. Tapi bau cuka ini asem, kalau ga suka, step ini dilewati juga bisa. Baking soda cukup membuat rambut lembut kok, walau ga selembut setelah pakai shampoo (karena shampoo ada bahan silikonnya). Biasanya tengah-tengah minggu Saya cukup keramas dengan air saja. Untuk menghilangkan debu dan keringat. Karena pemakaian baking soda sebagai shampoo, maximal 2x seminggu. Tapi sejak No Poo, kulit kepala ga gatel sama sekali kok. Dan rambut jadi gampang diatur aja. Rambut Saya itu licin banget. Kalau nge-blow (walau udah yang mahal treatmentnya) kena angin sedikit juga bakal turun lagi. Sejak No Poo, Saya bisa curly rambut, hal yang mustahil Saya lakukan waktu masih pake shampoo. Hahaha. Dan yang terpenting, rontok Saya berkurang drastis. Memang tetap rontok karena sepertinya faktor genetic dari mama. No Poo gitu, rambut jadi nggak wangi dong? Iya, tapi ga perlu takut rambut jadi bau. Kalian bisa tambahkan beberapa tetes essential oil saat memakai minyak untuk masker rambut atau kedalam cairan baking soda. Saya suka beli di Batik Keris (harga sekitar 80 ribu), atau merk Bali Alus (harga sekitar 30 ribu). Yang paling bagus itu merk Young Living, tapi agak mahal, diatas 200ribu.

Kedua. Saya menggunakan minyak-minyak alami untuk wajah dan tubuh. No more krim muka, no more body lotion. Dan yang Saya rasakan adalah kulit Saya jadi sangat halus, warna lebih merata dan cerah. Muka juga terlihat lebih fresh. Saat ini favorit Saya adalah EVOO dan Virgin Coconut Oil. Biasanya minyak-minyak ini dipakai untuk dressing salad. Tapi karena sifatnya yang Virgin itu, dikulit jadi enak. Memang kalau yang ga terbiasa, akan berasa sumuk. Solusinya bisa dipakai malam hari sebelum tidur. EVOO dan VCO ini ga bakal ngotorin kain kok. Saya sih pakai siang hari ga masalah. Karena minyak ini kan akan menyerap ke kulit, walau daya serapnya ga secepat lotion.


Memang kedengarnnya aneh. Tapi cara ini sangat murah dan ramah lingkungan. Kebetulan Saya sedang mau menerapkan prinsip consume less atau frugal living. Cara ini juga menyadarkan Saya kalau sebenarnya kebutuhan kita itu sedikit kok. Tapi karena sejak lahir otak kita sudah didoktrin untuk memakai bermacam-macam produk.

Bahkan untuk bersih-bersih rumah, Saya hanya memakai satu produk sabun yang multi fungsi. Bisa buat cuci piring, cuci baju dan lain-lain.

Semoga makin banyak orang yang menerapkan konsep consume less sehingga kita tak lagi menjadi budak produk dan menjadi konsumen yang lebih cerdas.


Sabtu, 03 Januari 2015

Rajkumar Hirani

Pada suatu sore teman Saya salah satu penulis film Indonesia, Kang Deddy, mengajak nonton. Pilihan film jatuh pada PK. PK adalah film India yang diperankan oleh Amir Khan. Di Jakarta film ini hanya diputar di Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan Gading XXI. Sejak hari itu Saya jatuh cinta dengan Rajkumar Hirani, sang sutradara dan penulisnya. Setelah itu beberapa hari kemudian Saya cari dvd 3 Idiots. Lagi-lagi Saya suka. Rajkumar Hirani berhasil membuat Saya senang. Karena dia membuat film-film yang sangat bagus. Rajkumar memiliki kemampuan storytelling yang sangat kuat. Saya harus mendapatkan dvd film-film beliau lainnya.


Rajkumar Hirani mengangkat isu-isu sosial. Dalam film 3 Idiots tema yang disinggung adalah soal pendidikan dan PK tentang agama. Dalam film 3 Idiots kita disuguhkan dengan kenyataan sistem pendidikan di India yang hampir mirip dengan negara kita. Beberapa hal yang disinggung diantaranya sistem pengajaran yang text book. Seorang murid baru dikatakan excelent  jika dapat menjabarkan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dalam buku. Pendapat lain tidak diterima walau memiliki maksud yang sama. Selain itu adanya kenyataan bahwa banyak orang belajar hanya untuk mendapatkan gelar. Padahal studi yang diambil belum tentu sesuai dengan minat dan kemampuannya. Atau lebih parah sebenanrnya dia tidak benar-benar belajar.  Ditambah lagi banyak orang mengambil pilihan studi karena keinginan dari orang tua, bukan dari diri sendiri.


Dalam film PK, Rajkumar mengangkat isu agama. Tapi dikemas dengan cerita komedi. Sangat cerdas. Kita dapat menarik pelajaran apa esensi dari beragama itu. Sesungguhnya rasa spiritual jauh lebih penting daripada rasa religius. Karena terkadang religius merupakan label. Spiritual penjabarannya lebih luas. Tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Dan saat menonton film PK, seakan ada sedikit tamparan. Dalam setiap agama pasti ada “Orang Gila” yang hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi mengatasnamakan Tuhan. Seakan mereka adalah malaikat yang dikirim Tuhan. Bagi mereka halal untuk melakukan kekerasan asalkan memakai nama Tuhan.



Penulis yang bagus pastinya mereka memiliki tingkat spiritual yang tinggi dan pengalaman hidup yang banyak. Seperti itulah Rajkumar Hirani. Seperti mantra “All is Well” yang disisipkan dalam film 3 Idiots. Rajkumar selalu menciptakan karakter-karakter yang begitu kuat dan selalu diberikan penjelasan dalam filmnya. Sebab musabab juga dijelaskan dengan cara yang sangat rapi dan tetap menarik. Tapi yang paling menonjol dari karya Rajkumar adalah dialog-dialog yang begitu cerdas.


Freelance vs Inhouse



Sebuah dilema bagi anak muda masa kini. Anggapan menjadi pekerja lepas itu lebih keren daripada kerja kantoran. Mereka pikir menjadi pekerja lepas akan membuat mereka lebih memiliki banyak waktu untuk menikmati hidup. Untuk soal pendapatan, mungkin beberapa pekerja lepas memiliki penghasilan lebih besar daripada orang kantoran.  Tapi ada beberapa resiko yang tidak terpikirikan orang banyak saat akan memutuskan menjadi pekerja lepas terutama soal cashflow. Karena pendapatan yang diterima tidak tetap.


Bagaimana dengan pekerja kantoran? Mereka harus setiap hari datang ke kantor dan kerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore selama 5 hari dalam seminggu. Bertemu orang yang sama setiap harinya. Terdengar membosankan. Memang benar. Walau dalam urusan pendapatan para pekerja kantoran memiliki pendapatan tetap setiap bulannya. Apalagi ditambah fasilitas dana pensiun dari perusahaan.

Segala sesuatu itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebenarnya untuk menjadi freelancer itu diperlukan pengalaman yang banyak agar orang-orang memberikan kepercayaannya kepada kita bahwa kita mampu mengerjakan project yang mereka berikan.  Menjadi pekerja tetap kita akan mendapat banyak pelajaran yang akan sangat berguna saat kita nanti memutuskan menjadi freelancer. Anak muda harus menemukan karakter dan passion nya terlebih dahulu. Jadi sebaiknya sebelum memutuskan menjadi pekerja lepas, lebih baik kita menjadi pekerja tetap terlebih dahulu untuk menggali pengalaman dan mempelajari banyak hal.


Jika saat ini kamu ingin menjadi freelancer tapi masih bekerja dibawah naungan instansi, tak usah bersedih hati. Segala sesuatu ada waktunya. Sebaiknya kita terus mengasah skill kita sebagai bekal agar tak bingung saat menemui kesulitan sebagai pekerja lepas dikemudian hari.

Sebenarnya untuk menjadi besar, diperlukan kerja tim. Menjadi pekerja tetap adalah pilihan yang tepat. Karena untuk membuat sesuatu yang spektakular diperlukan konsistensi dengan tim yang belum tentu bisa diraih jika bekerja sebagai freelancer.



Singkat kata, apapun status kita, freelancer atau pekerja tetap, kita wajib memberikan yang terbaik sebagai aktualisasi diri.

Cintai Produk Lokal

Masih ingat slogan “Aku Cinta Produk Indonesia”? Slogan yang sangat populer di tahun 1998 saat negara Indonesia mengalami krisis moneter. Mari kita lihat keadaan sekarang ini. Semua orang bangga menunjukkan label produk import. Karena bagi mereka itu prestige, menunjukan kalau mereka mampu membeli produk import yang harganya bisa 2 kali lipat dari produk lokal. Brand-

brand luar pun semakin menjamur apalagi di kota besar.


Disini kita ambil 1 contoh yaitu produk fashion. Kenapa fashion? Karena sebagian orang membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian terlebih pakaian merupakan kebutuhan premier.  Masih banyak orang yang memandang dengan sebelah mata untuk produk-produk buatan dalam negeri. Sekarang mari kita kupas lebih dalam bagaimana perkembangan industri fashion dalam negeri ini.


Saat ini banyak sekali bermunculan designer-designer yang menelurkan brand lokal. Sebut saja Tikprive, Tulisan dan Up Shoes. Mereka menciptakan produk yang up to date dan mengerahkan semua sumber daya yang Indonesia miliki. Designer-designer ini turut andil dalam memajukan negara. Terlebih produk mereka memang sudah memiliki standard International.


Banyak sekali produk lokal yang diproduksi dengan baik, memiliki bahan material yang bagus dan umur ekonomis yang panjang. Contohnya Elizabeth dan Buccherri. Tapi sayang sekali masyarakat kita lebih suka dengan merk luar yang umur ekonomisnya lebih pendek. Dipakai 1 tahun sudah rusak.

Jika ditelusuri lagi ada banyak produk lokal yang dibuat untuk kebutuhan kita sehari-hari. Seperti produk perawatan tubuh dan make up. Kita punya Sari Ayu, Fanbo, Mustika Ratu dan sebagainya. Harga mereka 10x lebih murah daripada kosmetik import dengan kualitas yang sama.


Ini bukan hanya menjadi PR bagi pemerintah. Tapi juga kita semua. Ada beberapa sebab kenapa banyak orang lebih memilih produk import salah satunya yang paling sering ditemukan adalah soal design. Produk lokal kebanyakan membuat model yang lebih cocok untuk golongan usia diatas 35 tahun.  Ini menjadi bahan evaluasi dan tantangan bagi produsen untuk terus meningkatkan kreatifitas dalam hal design agar target pasar mereka bisa lebih luas dan menjangkau konsumen muda. Jika para produsen sudah memiliki brand statement, mereka pun akan lebih siap bersanding dengan brand-brand luar. Dan juga kesempatan untuk dieksport pun akan lebih terbuka lebar. Ini sangat baik untuk meningkatkan pendapatan negara. Dengan begitu kita tidak akan tergantung dengan produk import. Jika kita bisa membuatnya didalam negeri, kenapa tidak? Jika pemerintah, pengusaha dan masyarakat konsisten untuk membangun industri dalam negeri, bukan hal yang mustahil jika dalam waktu 5 tahun mendatang kita akan melihat anak-anak muda begitu bangga menggunakan produk lokal.


Mungkin fashion terdengar sepele. Tapi jika urusan gaya hidup saja harus import bagaimana untuk kebutuhan hidup lainnya? Beberapa waktu lalu kita sempat import beras, gula, ikan, daging bahkan buah-buahan. Kondisi ini timbul bisa saja karena memang permintaan akan produk import bertambah. Lagi-lagi soal kualitas. Tugas pemerintah adalah menemukan solusi agar para petani dan nelayan dapat menghasilkan produk pangan yang berkualitas.  Paling tidak kita dapat memenuhi kebutuhan sendiri dulu sebelum kita mengeksport. Negeri kita ini begitu luas. Iklim kita tidak ekstrim seperti negara-negara di Barat yang memungkinkan kita selalu memiliki sumber daya alam yang bagus.



Kita harus mendidik generasi saat ini untuk menjadi generasi yang mandiri. Semua ini akan berdampak bagi kekuatan negara Indonesia dimata dunia. Meningkatkan produksi dalam negeri akan meningkatkan laju perekonomian Indonesia.