Sabtu, 03 Januari 2015

Rajkumar Hirani

Pada suatu sore teman Saya salah satu penulis film Indonesia, Kang Deddy, mengajak nonton. Pilihan film jatuh pada PK. PK adalah film India yang diperankan oleh Amir Khan. Di Jakarta film ini hanya diputar di Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan Gading XXI. Sejak hari itu Saya jatuh cinta dengan Rajkumar Hirani, sang sutradara dan penulisnya. Setelah itu beberapa hari kemudian Saya cari dvd 3 Idiots. Lagi-lagi Saya suka. Rajkumar Hirani berhasil membuat Saya senang. Karena dia membuat film-film yang sangat bagus. Rajkumar memiliki kemampuan storytelling yang sangat kuat. Saya harus mendapatkan dvd film-film beliau lainnya.


Rajkumar Hirani mengangkat isu-isu sosial. Dalam film 3 Idiots tema yang disinggung adalah soal pendidikan dan PK tentang agama. Dalam film 3 Idiots kita disuguhkan dengan kenyataan sistem pendidikan di India yang hampir mirip dengan negara kita. Beberapa hal yang disinggung diantaranya sistem pengajaran yang text book. Seorang murid baru dikatakan excelent  jika dapat menjabarkan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dalam buku. Pendapat lain tidak diterima walau memiliki maksud yang sama. Selain itu adanya kenyataan bahwa banyak orang belajar hanya untuk mendapatkan gelar. Padahal studi yang diambil belum tentu sesuai dengan minat dan kemampuannya. Atau lebih parah sebenanrnya dia tidak benar-benar belajar.  Ditambah lagi banyak orang mengambil pilihan studi karena keinginan dari orang tua, bukan dari diri sendiri.


Dalam film PK, Rajkumar mengangkat isu agama. Tapi dikemas dengan cerita komedi. Sangat cerdas. Kita dapat menarik pelajaran apa esensi dari beragama itu. Sesungguhnya rasa spiritual jauh lebih penting daripada rasa religius. Karena terkadang religius merupakan label. Spiritual penjabarannya lebih luas. Tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Dan saat menonton film PK, seakan ada sedikit tamparan. Dalam setiap agama pasti ada “Orang Gila” yang hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi mengatasnamakan Tuhan. Seakan mereka adalah malaikat yang dikirim Tuhan. Bagi mereka halal untuk melakukan kekerasan asalkan memakai nama Tuhan.



Penulis yang bagus pastinya mereka memiliki tingkat spiritual yang tinggi dan pengalaman hidup yang banyak. Seperti itulah Rajkumar Hirani. Seperti mantra “All is Well” yang disisipkan dalam film 3 Idiots. Rajkumar selalu menciptakan karakter-karakter yang begitu kuat dan selalu diberikan penjelasan dalam filmnya. Sebab musabab juga dijelaskan dengan cara yang sangat rapi dan tetap menarik. Tapi yang paling menonjol dari karya Rajkumar adalah dialog-dialog yang begitu cerdas.


Freelance vs Inhouse



Sebuah dilema bagi anak muda masa kini. Anggapan menjadi pekerja lepas itu lebih keren daripada kerja kantoran. Mereka pikir menjadi pekerja lepas akan membuat mereka lebih memiliki banyak waktu untuk menikmati hidup. Untuk soal pendapatan, mungkin beberapa pekerja lepas memiliki penghasilan lebih besar daripada orang kantoran.  Tapi ada beberapa resiko yang tidak terpikirikan orang banyak saat akan memutuskan menjadi pekerja lepas terutama soal cashflow. Karena pendapatan yang diterima tidak tetap.


Bagaimana dengan pekerja kantoran? Mereka harus setiap hari datang ke kantor dan kerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore selama 5 hari dalam seminggu. Bertemu orang yang sama setiap harinya. Terdengar membosankan. Memang benar. Walau dalam urusan pendapatan para pekerja kantoran memiliki pendapatan tetap setiap bulannya. Apalagi ditambah fasilitas dana pensiun dari perusahaan.

Segala sesuatu itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebenarnya untuk menjadi freelancer itu diperlukan pengalaman yang banyak agar orang-orang memberikan kepercayaannya kepada kita bahwa kita mampu mengerjakan project yang mereka berikan.  Menjadi pekerja tetap kita akan mendapat banyak pelajaran yang akan sangat berguna saat kita nanti memutuskan menjadi freelancer. Anak muda harus menemukan karakter dan passion nya terlebih dahulu. Jadi sebaiknya sebelum memutuskan menjadi pekerja lepas, lebih baik kita menjadi pekerja tetap terlebih dahulu untuk menggali pengalaman dan mempelajari banyak hal.


Jika saat ini kamu ingin menjadi freelancer tapi masih bekerja dibawah naungan instansi, tak usah bersedih hati. Segala sesuatu ada waktunya. Sebaiknya kita terus mengasah skill kita sebagai bekal agar tak bingung saat menemui kesulitan sebagai pekerja lepas dikemudian hari.

Sebenarnya untuk menjadi besar, diperlukan kerja tim. Menjadi pekerja tetap adalah pilihan yang tepat. Karena untuk membuat sesuatu yang spektakular diperlukan konsistensi dengan tim yang belum tentu bisa diraih jika bekerja sebagai freelancer.



Singkat kata, apapun status kita, freelancer atau pekerja tetap, kita wajib memberikan yang terbaik sebagai aktualisasi diri.

Cintai Produk Lokal

Masih ingat slogan “Aku Cinta Produk Indonesia”? Slogan yang sangat populer di tahun 1998 saat negara Indonesia mengalami krisis moneter. Mari kita lihat keadaan sekarang ini. Semua orang bangga menunjukkan label produk import. Karena bagi mereka itu prestige, menunjukan kalau mereka mampu membeli produk import yang harganya bisa 2 kali lipat dari produk lokal. Brand-

brand luar pun semakin menjamur apalagi di kota besar.


Disini kita ambil 1 contoh yaitu produk fashion. Kenapa fashion? Karena sebagian orang membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian terlebih pakaian merupakan kebutuhan premier.  Masih banyak orang yang memandang dengan sebelah mata untuk produk-produk buatan dalam negeri. Sekarang mari kita kupas lebih dalam bagaimana perkembangan industri fashion dalam negeri ini.


Saat ini banyak sekali bermunculan designer-designer yang menelurkan brand lokal. Sebut saja Tikprive, Tulisan dan Up Shoes. Mereka menciptakan produk yang up to date dan mengerahkan semua sumber daya yang Indonesia miliki. Designer-designer ini turut andil dalam memajukan negara. Terlebih produk mereka memang sudah memiliki standard International.


Banyak sekali produk lokal yang diproduksi dengan baik, memiliki bahan material yang bagus dan umur ekonomis yang panjang. Contohnya Elizabeth dan Buccherri. Tapi sayang sekali masyarakat kita lebih suka dengan merk luar yang umur ekonomisnya lebih pendek. Dipakai 1 tahun sudah rusak.

Jika ditelusuri lagi ada banyak produk lokal yang dibuat untuk kebutuhan kita sehari-hari. Seperti produk perawatan tubuh dan make up. Kita punya Sari Ayu, Fanbo, Mustika Ratu dan sebagainya. Harga mereka 10x lebih murah daripada kosmetik import dengan kualitas yang sama.


Ini bukan hanya menjadi PR bagi pemerintah. Tapi juga kita semua. Ada beberapa sebab kenapa banyak orang lebih memilih produk import salah satunya yang paling sering ditemukan adalah soal design. Produk lokal kebanyakan membuat model yang lebih cocok untuk golongan usia diatas 35 tahun.  Ini menjadi bahan evaluasi dan tantangan bagi produsen untuk terus meningkatkan kreatifitas dalam hal design agar target pasar mereka bisa lebih luas dan menjangkau konsumen muda. Jika para produsen sudah memiliki brand statement, mereka pun akan lebih siap bersanding dengan brand-brand luar. Dan juga kesempatan untuk dieksport pun akan lebih terbuka lebar. Ini sangat baik untuk meningkatkan pendapatan negara. Dengan begitu kita tidak akan tergantung dengan produk import. Jika kita bisa membuatnya didalam negeri, kenapa tidak? Jika pemerintah, pengusaha dan masyarakat konsisten untuk membangun industri dalam negeri, bukan hal yang mustahil jika dalam waktu 5 tahun mendatang kita akan melihat anak-anak muda begitu bangga menggunakan produk lokal.


Mungkin fashion terdengar sepele. Tapi jika urusan gaya hidup saja harus import bagaimana untuk kebutuhan hidup lainnya? Beberapa waktu lalu kita sempat import beras, gula, ikan, daging bahkan buah-buahan. Kondisi ini timbul bisa saja karena memang permintaan akan produk import bertambah. Lagi-lagi soal kualitas. Tugas pemerintah adalah menemukan solusi agar para petani dan nelayan dapat menghasilkan produk pangan yang berkualitas.  Paling tidak kita dapat memenuhi kebutuhan sendiri dulu sebelum kita mengeksport. Negeri kita ini begitu luas. Iklim kita tidak ekstrim seperti negara-negara di Barat yang memungkinkan kita selalu memiliki sumber daya alam yang bagus.



Kita harus mendidik generasi saat ini untuk menjadi generasi yang mandiri. Semua ini akan berdampak bagi kekuatan negara Indonesia dimata dunia. Meningkatkan produksi dalam negeri akan meningkatkan laju perekonomian Indonesia.