Sabtu, 03 Januari 2015

Cintai Produk Lokal

Masih ingat slogan “Aku Cinta Produk Indonesia”? Slogan yang sangat populer di tahun 1998 saat negara Indonesia mengalami krisis moneter. Mari kita lihat keadaan sekarang ini. Semua orang bangga menunjukkan label produk import. Karena bagi mereka itu prestige, menunjukan kalau mereka mampu membeli produk import yang harganya bisa 2 kali lipat dari produk lokal. Brand-

brand luar pun semakin menjamur apalagi di kota besar.


Disini kita ambil 1 contoh yaitu produk fashion. Kenapa fashion? Karena sebagian orang membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian terlebih pakaian merupakan kebutuhan premier.  Masih banyak orang yang memandang dengan sebelah mata untuk produk-produk buatan dalam negeri. Sekarang mari kita kupas lebih dalam bagaimana perkembangan industri fashion dalam negeri ini.


Saat ini banyak sekali bermunculan designer-designer yang menelurkan brand lokal. Sebut saja Tikprive, Tulisan dan Up Shoes. Mereka menciptakan produk yang up to date dan mengerahkan semua sumber daya yang Indonesia miliki. Designer-designer ini turut andil dalam memajukan negara. Terlebih produk mereka memang sudah memiliki standard International.


Banyak sekali produk lokal yang diproduksi dengan baik, memiliki bahan material yang bagus dan umur ekonomis yang panjang. Contohnya Elizabeth dan Buccherri. Tapi sayang sekali masyarakat kita lebih suka dengan merk luar yang umur ekonomisnya lebih pendek. Dipakai 1 tahun sudah rusak.

Jika ditelusuri lagi ada banyak produk lokal yang dibuat untuk kebutuhan kita sehari-hari. Seperti produk perawatan tubuh dan make up. Kita punya Sari Ayu, Fanbo, Mustika Ratu dan sebagainya. Harga mereka 10x lebih murah daripada kosmetik import dengan kualitas yang sama.


Ini bukan hanya menjadi PR bagi pemerintah. Tapi juga kita semua. Ada beberapa sebab kenapa banyak orang lebih memilih produk import salah satunya yang paling sering ditemukan adalah soal design. Produk lokal kebanyakan membuat model yang lebih cocok untuk golongan usia diatas 35 tahun.  Ini menjadi bahan evaluasi dan tantangan bagi produsen untuk terus meningkatkan kreatifitas dalam hal design agar target pasar mereka bisa lebih luas dan menjangkau konsumen muda. Jika para produsen sudah memiliki brand statement, mereka pun akan lebih siap bersanding dengan brand-brand luar. Dan juga kesempatan untuk dieksport pun akan lebih terbuka lebar. Ini sangat baik untuk meningkatkan pendapatan negara. Dengan begitu kita tidak akan tergantung dengan produk import. Jika kita bisa membuatnya didalam negeri, kenapa tidak? Jika pemerintah, pengusaha dan masyarakat konsisten untuk membangun industri dalam negeri, bukan hal yang mustahil jika dalam waktu 5 tahun mendatang kita akan melihat anak-anak muda begitu bangga menggunakan produk lokal.


Mungkin fashion terdengar sepele. Tapi jika urusan gaya hidup saja harus import bagaimana untuk kebutuhan hidup lainnya? Beberapa waktu lalu kita sempat import beras, gula, ikan, daging bahkan buah-buahan. Kondisi ini timbul bisa saja karena memang permintaan akan produk import bertambah. Lagi-lagi soal kualitas. Tugas pemerintah adalah menemukan solusi agar para petani dan nelayan dapat menghasilkan produk pangan yang berkualitas.  Paling tidak kita dapat memenuhi kebutuhan sendiri dulu sebelum kita mengeksport. Negeri kita ini begitu luas. Iklim kita tidak ekstrim seperti negara-negara di Barat yang memungkinkan kita selalu memiliki sumber daya alam yang bagus.



Kita harus mendidik generasi saat ini untuk menjadi generasi yang mandiri. Semua ini akan berdampak bagi kekuatan negara Indonesia dimata dunia. Meningkatkan produksi dalam negeri akan meningkatkan laju perekonomian Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar