Rabu, 30 Desember 2015

Pelajaran di Akhir Tahun 2015

Kemarin seharian Saya merasa.... Kosong. Isi kepala Saya sangat random. Saya memikirkan saldo di rekening yang terus terpakai karena belum ada pemasukan. Saya memikirkan karakter-karakter yang sedang Saya tulis. Saya memikirkan bahan presentasi untuk 3 proyek film yang akan Saya coba tawarkan ke calon investor. Saya memikirkan apakah cerita yang Saya tulis cukup menarik untuk di visualkan. Saya merindukan seseorang. Begitu banyak ketakutan. 


Saya menargetkan dalam sehari paling tidak Saya bisa menulis 10 halaman. Tapi kemarin Saya memutuskan untuk break. Saya tak mau memikirkan apapun. Saya memilih diam.


Tadi pagi Saya memutuskan bahwa hari ini Saya ingin menulis sambil minum Ice latte. Plus ingin merasakan dinginnya AC. Sebelum berangkat, Saya makan siang disebuah warung makan. Saya makan pecel lele plus tempe. Saat Saya sudah selesai makan, Saya melihat seorang satpam yang sedang makan disebelah Saya, dia hanya makan tahu dan tempe. Kelihatan sekali dia sedang melakukan penghematan. Dia makan dengan lahap. Saya perhatikan wajahnya yang agak kurus. Dalam hati Saya bersyukur, Saya bisa beli lele untuk makan siang hari ini. Tak lupa Saya mendoakan semoga dia diberi rezeki yang lebih dikemudian hari.


Lalu Saya naik angkot. Ya memang sehari-hari Saya lebih suka naik angkutan umum yang murah meriah. Didepan Saya, duduk seorang Ibu Tua. Dia hanya membawa dompet kecil. Dia menyimpan uang 5ribunya dengan hati-hati. Oh, Tuhan. Saya berkaca kediri Saya sendiri. Dompet Saya berisi beberapa puluh ribu, kartu ATM dengan saldo sekian juta, 2 kartu kredit gold yang limitnya penuh. Saya bisa membeli apapun hari ini sebenarnya. Dan Saya menenteng laptop yang isinya project-project dan tulisan Saya. Lagi-lagi Saya merasa lebih beruntung. Semoga Tuhan memberika rezeki lebih ke ibu tua itu.


Lalu kejadian ketiga. Saat Saya sedang antri dikasih supermarket, di depan Saya ada seorang pria Afrika. Ditangannya dia hanya memegang uang 62 ribu rupiah. Sehingga dia harus mengurangi beberapa belanjaannya agar bisa membayar. Saya merasa bersyukur. Saya bisa membeli barang dan makanan yang Saya perlukan untuk satu bulan.


Jika kemarin Saya merasa ketakutan. Takut uang Saya habis. Takut jika calon investor tak suka konsep Saya, bagaimana Saya mencari pendapatan. Tapi hari ini Saya diberi pelajaran, ada orang-orang yang kondisinya tak lebih baik dari Saya. Saya harua bersyukur dengan apa yang Saya miliki.


Terkadang kita merasa hidup kita sulit. Saat rasa itu datang, pergilah keluar. Lihat keadaan sekitar. Kita akan disadarkan bahwa hidup kita tidaklah seburuk yang kita pikirkan.




Sent from Yahoo Mail on Android


Tidak ada komentar:

Posting Komentar