Selasa, 01 Desember 2015

Tentang Perfilman Indonesia



Jumlah film submission di 21 Cineplex sebagai exibitor terbesar di Indonesia sudah terlalu banyak. Dalam 1 tahun mereka menerima 300 film yang minta tanggal penayangan. Karena keadaan ini waktu penayangan film Indonesia sangat singkat. Sudah saatnya sebuah film tidak ditayangkan serentak sekaligus seluruh Indonesia. Ada 4 judul film Indonesia baru setiap minggunya. Pembagian daerah untuk waktu tayang harus dilakukan. Itu cara agar waktu penayangan bisa stabil dan bisa lebih bertahan lama. Dibandingkan jika ditayangkan serentak, mungkin saat minggu berganti, film itu sudah tidak bisa dinikmati.


Kita tidak bisa menyalahkan film Hollywood. Karena pada kenyataannya memang mereka mampu menciptakan sesuatu yang menarik. Secara teknologi mereka nomor wahid. Dan saat proses awal pembuatannya memang sudah dirancang dengan sangat baik, hal yang jarang dilakukan oleh produser film lokal. Pembuatan film sudah seharusnya memiliki tahap development sebelum masuk ke tahap pre-produksi. Development ini mulai ditentukan proses kreatif dan bisnis plan.


Film Indonesia perlu dibuat pemetaan. Yaitu, Film Indonesia untuk pasar international, film Indonesia untuk pasar Indonesia dan Arthouse Film. Jika ini dilakukan, maka industri perfilman akan semakin dinamis. Kita tak hanya membuat film komersil tapi juga film art. Berdasarkan pembagian tersebut, maka exibitor (bioskop) juga harus memetakan cabang bioskopnya lebih cocok untuk pasar yang mana. Cara ini sangat efektif sehingga produser, bioskop dan penonton sama-sama senang. Bagaimana dengan exibitor lainnya seperti CGV Blitz dan Cinemaxx? Mengapa mereka tidak membuat slot penayangan sendiri untuk film Indonesia? Selama ini penayangan film Indonesia mengikuti penayangan di 21. Sistem pembayaran dari bioskop-bioskop masih sangat manual. Alangkah baiknya juga dibuat sistem input dari tiketing yang langsung terhubung ke pusat seperti sistem perbankan. Dengan begitu data penjualan tiket akan lebih akurat. Dan setiap produser diberi semacam keypad untuk bisa mengakses langsung dan mengetahui berapa total penjualan tiket filmnya.


Pembangunan bioskop-bioskop sudah harus masuk ke kota-kota kecil. Karena saat ini bioskop menumpuk di kota-kota besar. Sudah saatnya kita bisa menggandeng investor untuk membuat bioskop. Pemda juga harusnya mempunyai bioskop rakyat seperti yang sudah dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta. Sehingga semua lapisan golongan masyarakat memiliki kesempatan untuk menonton film layar lebar dan untuk pelaku industri hal ini sangat bagus untuk mendistribusikan karya mereka ke berbagai pelosok.



Industri film di Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Tak jarang beberapa kru mendapat panggilan job diluar negeri. Skill filmmaker Indonesia sudah diakui oleh dunia international. Namun sayang sekali di Indonesia masih ada gap kru. Mereka terpecah menjadi kru film, kru iklan, kru sinetron, kru FTV dan kru video klip. Kru film dan iklan pun dipecah lagi menjadi kru kelas A-B dan kru kelas C-D. Seharusnya ada suatu wadah yang menyatukan mereka sehingga akan terjadi harmonisasi dan tidak ada gap skill. Semua kru berhak mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas karya mereka.


Industri perfilman kita jauh lebih besar dari pada Malaysia dan Singapura. Tetapi equipment yang mereka punya lebih memadai dari yang kita punya. Seringkali kita harus sewa dari luar negeri jika kita perlu kamera phantom atau lensa zoom. Jika ada team film luar negeri syuting di Indonesia terkadang kita dibuat kelabakan karena terbatasnya equipment disini. Terlebih jika dari Amerika, mereka terbiasa memakai merk-merk tertentu. Sedangkan equipment di Indonesia kebanyakan merk dari Jerman dan dibeli dengan kondisi bekas. Disini belum ada penyewaan grip dengan sistem paket. Di luar negeri mereka biasa dengan paket 1 Ton, 2 Ton dst. Jika ada, ini akan sangat mempermudah sistem penyewaan tak perlu lagi harus pesan satu persatu.


Kebutuhan akan studio juga perlu diperhatikan. Studio besar hanya ada di Batam. Di Jakarta ukurannya termasuk tanggung dan pasti sudah di booking penuh oleh stasiun tv. Industri film terpusat di Jakarta, tetapi harga tanah di Jakarta sangat mahal. Kebutuhan akan studio akan semakin tinggi diikuti dengan pesatnya perkembangan animasi di Indonesia. Indonesia belum memiliki green screen studio yang proper.


Era digital juga sangat mempengaruhi perkembangan industri film. Saat ini semua film sudah syuting dengan kamera digital. Bahkan diluar negeri mereka sudah mulai syuting dengan format 8K. Di Indonesia kita cukup puas dengan syuting format 4K karena kendala di post production. Di Indonesia baru ada 1 post production yang bisa langsung mengerjakan RAW file 4K.  Jadi walau sudah syuting dengan format 4K, untuk pengerjaan post production file film harus di downgrade dulu ke 2K. Tentu ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi pemilik post production karena teknologi terus meningkat. Bahkan untuk syuting iklan di Indonesia, format 5K dan 6K sudah banyak digunakan.


Studio suara juga sangat penting. Suara berfungsi untuk memainkan emosi saat kita menonton film. Di Indonesia belum ada sound studio yang berlisensi dolby. Karena untuk mendapatkan license tersebut banyak persyaratan yang harus dipenuhi terutama besarnya studio dan harganya cukup mahal. Sistem suara dolby sangat dibutuhkan film-film Indonesia sebagai persyaratan untuk screening di festival-festival film International dan pasar film International. Saat ini jika ingin membuat sistem suara dolby, kita harus pergi ke Bangkok.


Industri film dan fasilitasnya hanya terpusat di Jakarta. Padahal Yogya, Bali dan Makasar adalah kota-kota yang sangat potensial untuk membangun industri film. Banyak filmmaker-filmmaker hebat berasal dari kota-kota tersebut. Di Yogya tidak ada RED kamera. Padahal ini adalah salah satu kamera yang paling sering digunakan untuk pembuatan film profesional. Equipment dan post production studio pun tidak memadai. Para penyewa alat-alat syuting hanya seperti menjalankan bisnis rumahan. Sudah saatnya kota Yogya dibangun sebagai pusat industri film setelah Jakarta. Karena sumber daya manusia disana sangat bagus. Banyak pekerja film di Yogya yang film-filmnya langganan masuk festival film international. Jika ini dijalankan maka pemerataan kesejahteraan ekonomi kreatif akan merata di kota-kota besar di Indonesia, tak hanya Jakarta.


Untuk membangun industri film yang sehat sehingga tercipta profesionalisme dan terus menghasilkan karya berkualitas diperlukan standarisasi industri. Standard-standard itu antara lain: Standard jam kerja, Standard upah pekerja film, Standard teknis untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan Standard harga sehingga tak ada penekanan harga bagi penyedia jasa rental. Jika standard-standard itu dibuat maka pekerja film akan menjadi mandiri secara ekonomi.



Bagaimana untuk memasarkan film-film Indonesia ke pasar Internasional? Perfilman Indonesia perlu Agen Film. Agen film ini akan mencarikan distributor-distributor diseluruh negara. Untuk setiap teritori, regulasi dan sensorship akan berbeda. Inilah tugas Agen film, mempertemukan pembuat film dan penjual film. Inilah sistem yang benar. Sehingga keberhasilan sebuah film tidak hanya dinikmati oleh satu pihak. Bisnis film bisa dinikmati oleh banyak pihak. Perlu adanya inisiatif dari pihak swasta untuk menjadi Agen Film.


Hubungan bilateral antar negara juga perlu dijalankan. Dengan adanya hubungan bilateral, bisa saja terbentuk pertukaran distribusi film. Workshop juga perlu diadakan sebagai sarana pertukaran ilmu dan pengalaman antar negara. Kita dapat membahas film dari hal teknis sampai bisnis oleh para expertise-expertise.


Dan ini adalah tugas besar pemerintah dan kita semua. Untuk membangun budaya nonton film, diperlukan pula perbaikan ekonomi nasional. Karena menonton film saat ini bukan menjadi kebutuhan utama. Kita memiliki lebih dari 200 juta penduduk. Tapi yang mampu dan memiliki kesempatan untuk nonton film mungkin hanya 20 juta jiwa. Industri film merupakan potensi ekonomi kreatif yang besar bagi Indonesia, baik berdampak langsung maupun tidak langsung. Jika sistem industri film berjalan dengan baik, maka akan tercipta lapangan pekerjaan yang baru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar