Selasa, 22 Maret 2016

Jasa Besar Media Cetak



Minggu lalu majalah Cita Cinta menerbitkan edisi terakhirnya setelah 16 tahun berdiri sebagai salah satu majalah untuk wanita muda. Entah ini sudah perusahaan media cetak yang keberapa yang memutuskan untuk berhenti terbit secara fisik. Era digital telah mengubahnya. Sebelum era digital saja tak banyak orang yang mau berlangganan majalah. Karena mereka pikir sayang uangnya dan minimnya kesadaran untuk membaca. Bahkan saat Saya SMA pun dalam 1 kelas, hanya Saya yang berlangganan majalah. Teman-teman biasanya hanya pinjam sebentar untuk baca-baca setiap Saya beli majalah baru.

Saya besar bersama majalah. I'm magazineholic. Pertama kali Saya berlangganan majalah saat Saya berusia 10 tahun. Saat itu Saya berlangganan majalah Gadis. Masih ingat betul saat pulang sekolah dan melihat majalah sudah ada dikamar, Saya langsung senyum sumringah. Saya suka warna-warni covernya dan bau majalahnya. Pada waktu itu majalah Gadis yang paling eyecatching dilapak-lapak koran. Cukup lama Saya berlanganan majalah ini kira-kira sampai tahun 2005. Lalu berganti ke Seventeen. Tapi isinya terlalu 'tua' untuk anak SMA. Well... Akhirnya Saya menemukan majalah Go Girl! Saya sangat jatuh cinta dengan majalah ini! Isinya yang sangat western dan pop. Dan disaat itu fashion yang ditampilkan majalah Gogirl! menjadi kiblat anak-anak muda Indonesia. I feel and I see that. Saya berlangganan sampai tahun 2008. Karena waktu itu Saya sudah memasuki dunia kerja, Saya butuh bacaan yang lebih dewasa. Lalu langganan Cita Cinta. Kemudian berganti ke Chic (Oh, I love this magazine also!), terakhir ke Cosmopolitan. Tapi hari ini Saya lebih suka baca koran dan majalah Tempo. I need more chalenge untuk bahan bacaan Saya seiring bertambahnya usia. Saya mau pengetahuan Saya tak terbatas di fashion dan beauty.

Majalah telah berjasa membentuk Saya menjadi seseorang yang berkarakter. Saya tak hanya melihat bagian fashion atau gosip, tapi semua artikel Saya baca. Karena membaca majalah Saya belajar menyusun kalimat. Karena majalah juga pengetahuan Saya tak terbatas hanya seputar pelajaran sekolah dan kantor. Makanya Saya sedih kalo ada media cetak yang tutup.

Era digital ini memang memaksa kita untuk terus beradaptasi dengan perubahan jika ingin bertahan. Semakin banyak informasi yang bisa didapatkan secara gratis dan mudah menyebabkan penjualan media cetak ikut sepi. Para redaksi semakin dituntut untuk menciptakan konten yang menarik agar pelanggan tetap tertarik membeli produk mereka.

Dulu beberapa orang pernah mencibir, "Ngapain sih beli-beli majalah buang-buang uang!". Well... Tapi hari ini Saya tidak menyesal karena telah 'membuang' uang Saya untuk setumpuk kertas warna-warni itu. I already invest for myself to be a better person dengan berlangganan majalah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar