Selasa, 19 April 2016

Tentang Rasa Iri



Rasa iri terhadap kehidupan seseorang Saya rasa sangat manusiawi. Pasti kita juga sering memiliki perasaan ini. Dan targetnya juga bisa siapa saja, mungkin pacar, saudara, atau teman. Sayapun sebenarnya sedang iri dengan seorang teman dekat. Early 2016 is very a good year for him. Launching ini dan itu. Memang sih dia membangun itu sejak 3 bahkan 5 tahun yang lalu dan Saya pun sempat membantunya. Sebagai saksi perjalanannya, Saya sebenarnya turut senang dengan moment ini. But when I look at myself in the mirror, I feel like, "What you've done so far?" Saya iri untuk menjadi sangat produktif dan melakukan sesuatu yang besar. Saya sempat cuekin teman Saya ini, ga jawab telpon atau whatsapp. Bukan karena marah, tapi perlu waktu saja supaya Saya ga emosional. Sampai suatu hari dia datang menemui Saya dan jujur saja bilang kalau Saya lagi iri sama dia. Dan jawaban dia sangat mengejutkan.


"Its not that hard to build something. In one day you get that spotlight, your profile on some media. But its really hard to maintain it, to make it grow bigger. Or at least just to keep it running. I had built some of it in the past and that was failed. I learned and build a new one."

Yah.... Terkadang kita hanya melihat kesuksesan seseorang dari luarnya. Padahal sebelum itu entah berapa liter keringat dan air mata yang dikeluarkan. Dan tak banyak dari kita yang bisa bangkit lagi setelah gagal. 


Cerita lain. Sepupu Saya cerita tentang sepupu Kami yang dari dulu selalu iri dengan hidup orang lain. Sayapun pernah jadi korbannya. Saya kira setelah bertambahnya usia dia bisa lebih bijak, ternyata tidak. Hidup sepupu Kami ini pun terlihat stagnan. Dia selalu membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain dan merasa hidupnya tak lebih baik dari mereka. 


Sebenarnya rasa iri itu bagus jika kita mampu menjadikannya sebagai motivasi untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tapi akan menjadi sangat buruk jika rasa iri itu menguasai hati dan pikiran sehingga kita lupa bersyukur.  Walau Saya juga suka ngirian, untungnya itu tak menjadikan Saya orang yang nyinyir. Saya berpikir kalau Saya mau memiliki kehidupan yang lebih baik secara materi, ya Saya harus bekerja dengan dedikasi dan harus kreatif. Dan syukuri saja apa yang sudah kita miliki saat ini. Saya bersyukur pernah punya pengalaman dengan orang-orang yang iri hati dan menyebalkan jadi Saya bisa belajar agar tidak menjadi seperti itu. Hidup itu pilihan bagaimana kita harus bertindak. Jika ingin memiliki hidup yang baik, bersikaplah dengan baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar