Jumat, 30 September 2016

Problem Dunia Kerja Generasi Millenial


Tulisan ini sekedar curhat. Jadi beberapa bulan ini Saya beberapa kali di approach untuk bekerja sebagai team kreatif dibeberapa perusahaan baru. Dan diantara mereka adalah perusahaan media digital yang buka cabang di Indonesia. Sayang, beberapa kali Saya harus menolak karena tidak sesuai dengan standard industri. Sebagai contoh, ada satu perusahaan mereka menawarkan pekerjaan sebagai Digital Content Producer. Dalam pikiran Saya pasti ini soal produksi video. Saya yang memang bagian dari industri film dan posisi terakhir sebagai Associate Producer tentunya tidak asing dengan produksi video. Tapi begitu Saya temui, Saya sungguh terkejut dan.... merasa sedikit tidak terima. Yang mereka harapkan dari Saya adalah Saya mahir SEO, mengerti bahasa HTML, dan beberapa skill yang sebenarnya lebih cocok dikerjakan oleh orang yang mahir IT. Bukan orang yang paham produksi film / content video. Jadi sebenarnya Digital Producer itu, orang IT yang paham industri showbiz, atau memang orang dengan latar belakang industri showbiz yang bisa pemograman? Beberapa hari Saya terus bertanya-tanya. Apa Saya yang salah paham atau mereka yang tidak paham industri?

Cerita kedua. Saya membaca sebuah perusahaan digital media besar, mereka mencari seorang Video Producer. Saya baca skill-skill yang harus dimiliki. Orang tersebut selain bisa membuat video, dia juga harus bisa editing dan motion graphic. Lagi-lagi Saya menyeritkan dahi. Okelah kalo editing Saya masih bisa terima, walau sebenarnya ada orang yang berprofesi sebagai editor. Tapi ini harus bisa motion graphic? Doh!! Producer itu adalah orang yang meng-hire editor dan motion graphic. Producer adalah leader sebuah project. Producer memang harus paham soal teknis, tapi bukan harus menjadi expertise di editing, design produksi atau departement lainnya.

Saya yang gagal paham atau HRD yang sebenarnya tidak paham soal pekerja kreatif? Disini masih blur soal sistem ini. Jika dibiarkan bisa-bisa merusak industri itu sendiri. Jika semua orang bisa mengerjakan semua pekerjaan, pasti akan banyak orang yang menganggur.

Kembali ke tema awal. Jelas ini sebuah problem dunia kerja masa kini. Generasi Millenial dituntut harus memiliki beberapa skill. Bagusnya hal ini akan merangsang keinginan untuk terus mempelajari hal baru dan bisa lebih paham banyak hal. Sisi buruknya, hal ini bisa membuat kita kurang expert di satu skill, jadi seperti setengah-setengah. Sedangkan untuk menghadapi persaingan global, kita wajib memiliki keahlian yang mendalam agar bisa maju. Dan memang dengan menumbuhkan expertise, akan membuat iklim dunia kerja lebih dinamis. Masa kalau ada Account Executive yang bisa design, dia juga yang harus menyiapkan dummy bahan presentasi untuk client? Yang ada makin banyak Graphic Designer yang nganggur dong :P

Sebenarnya banyaknya perusahaan baru baik dari asing maupun dalam negeri, harusnya mampu menyerap tenaga kerja. Tapi jika terus menerus 1 orang diharuskan memiliki banyak skill bahkan yang sebenarnya ada beberapa skill yang kurang cocok untuk pekerjaan tersebut, maka akan semakin sedikit tenaga kerja yang dapat diserap. Terus kalau sudah begini, kita akan berkoar "Lebih baik bikin usaha sendiri" ? Hallooo bikin usaha itu tidak mudah dan perlu mental yang kuat. Mau sekedar jadi pengusaha karbitan?

Kapan negara ini bisa punya sistem yang lebih bagus?

 

Selasa, 27 September 2016

Faktor Penentu Film Box Office



Tahun ini film "Warkop DKI" berhasil menjadi Film Indonesia Terlaris sepanjang masa dengan total 5juta penonton. Posisi sebelumnya diraih oleh film "Laskar Pelangi" (2008) yang mendapat 4 juta penonton. Saat film Laskar Pelangi rilis, Saya masih bekerja di 21 cineplex untuk divisi film Indonesia (fyi, dulu yang urus cuma 2 orang). Begitu mendapat laporan data harian penonton untuk Saya proses pembayarannya, Saya sempat tercengang melihat begitu banyaknya jumlah penonton untuk film Laskar Pelangi. Saya pun ikutan bersemangat menghitung sharing profit untuk produser. Hal yang sama Saya rasakan saat menghitung profit sharing film Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Masuk 2010, perolehan penonton film Indonesia tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Terlebih saat itu didominasi film Plus-Plus yang menjual sensualitas. Dan masanya juga sudah berbeda. Tahun-tahun sebelumnya film Indonesia yang tayang setiap minggunya hanya 1 film. Di 2010 karena banyak yang mulai produksi film, penayangan film Indonesia berubah menjadi 2 film setiap minggunya. Lalu berubah lagi menjadi 3 film/minggu hingga hari ini terkadang 4 film/minggu. Sebelum tahun 2010 untuk mencapai 200.000 penonton bukan hal yang sulit. Memasuki 2010 sampai hari ini untuk mendapat 150.000 penonton adalah hal yang patut disyukuri. Seiring berjalannya waktu, tantangan dan trend terus berubah. Terbatasnya jumlah layar membuat produser harus memikirkan strategi dengan cermat bagaimana caranya agar filmnya mendapat untung.

Di tahun 2016 ini geliat penonton Film Indonesia mulai meningkat lagi. Pastinya para produser sudah menemukan formula baru untuk mendapat penonton yang banyak dengan lebih jeli membaca pasar. Kualitas film-film Indonesia juga sudah memiliki production value yang bagus. Walau masih ada beberapa film Indonesia yang kualitasnya dibawah standar dan biasanya dibuat oleh produser karbitan. Ada 2 faktor utama yang menentukan sebuah film mendapat jumlah penonton yang massive.

1. Cerita
Cerita adalah fondasi dalam setiap produksi film. Cerita yang bagus adalah Investasi. Cerita yang bagus dapat berdiri sendiri untuk meninggalkan kesan pada hati penonton yang pada akhirnya bisa mengajak orang lain agar menonton film tersebut. Untuk sisi penonton, mereka tidak paham soal teknis tapi mereka pasti tahu cerita yang bagus atau tidak. Produser dan sutradara harus jeli untuk mendapatkan cerita bagus. Bahkan cerita yang bagus bisa mendatangkan kesempatan mendapat sponsor. Mungkin dalam cerita tersebut memiliki ideologi yang sama dengan sebuah brand sehingga bisa berkolaborasi.


2. Promo Tepat Sasaran
Promo adalah  faktor penentu kesuksesan sebuah film bahkan untuk film yang kualitas ceritanya tidak terlalu bagus. Sama seperti produk, tanpa marketing maka akan minim pembeli. Strategi promo harus sudah dirancang saat penggodokan cerita. Karena dari cerita kita bisa tahu demographic yang akan menjadi target market film yang kita buat. Beda demographic tentu beda pula treatment promonya. Salah satu strategi promo adalah dengan menggandeng brand yang sesuai dengan target market kita. Karena brand sudah pasti memiliki strategi marketing yang juga bekerja sama dengan agency advertising.

Promo tidak bisa hanya mengandalkan sosial media. Karena tidak semua orang digital savvy. Jika melihat contoh promo yang dilakukan Warkop Reborn, mereka bahkan melakukan promo eksklusif di salah satu station tv swasta. Bahkan setiap hari diputar di infotainment di tv tersebut. Selain itu mereka juga memasang reklame besar di gedung daerah Semanggi. Falcon Pictures, selaku production house film Warkop Reborn memang ahli dalam promosi. Promo untuk film-filmnya selalu berbeda.

Promo besar sekalipun tidak akan menghasilkan banyak penonton jika tidak dilakukan dengan tepat sasaran. Maka dari itu penting berkolaborasi dengan banyak pihak agar film bisa sukses secara komersial.


Lalu apakah film bagus itu sudah pasti laris? Tidak juga. Ada film bagus dan laris, ada pula film bagus tapi sayang tidak laris dan banyak pula film yang biasa-biasa saja tapi laris. Bagus tidaknya sebuah film itu tergantung selera masing-masing. Sebenarnya banyak pula film bagus yang tidak diputar di bioskop tapi diputar lewat penayangan alternatif yang banyak dilakukan oleh komunitas film. Lagipula masyarakat Indonesia masih banyak yang belum terbiasa dengan film arthouse.

Perfilman Indonesia semakin dinamis walau masih banyak kekurangan namun hal ini tidak menyurutkan semangat untuk berkarya. Semoga trend film box office ini bisa meningkatkan kepercayaan para investor untuk berinvestasi di industri film.



Minggu, 25 September 2016

DIY Dove Shower Cream



Saya pernah tulis review Dove Beauty Bar sebelumnya disini. Sesuai janji Saya dan demi kepraktisan mandi dengan sabun kesayangan ini, Saya coba bikin Dove sabun cair. Dove kan sudah ada sabun cairnya, ngapain bikin sendiri? Karena Saya juga keramas pakai Dove Beauty Bar dengan hasil rambut Saya baik-baik saja dan Saya gak tahu apakah formula sabun cair  Dove yang dipasaran bisa dipakai keramas atau tidak. 

Cara membuat Dove Shower Cream sederhana sekali. Kita hanya perlu menyiapkan air sebanyak 2 gelas (400 ml) untuk 1 batang Dove Beauty Bar.  Pertama-tama, kita cairkan dulu Dove Beauty Bar. Cara mencairkannya persis seperti mencairkan coklat batang, beri sedikit air sambil ditekan-tekan dengan spatula agar lumer. Jika air mulai agak mengering, tuang sedikit air lagi. Terus lakukan sampai sabun meleleh semua.


Ketika sabun sudah meleleh, akan masih ada bagian-bagian kecil sabun yang belum meleleh dengan sempurna. Kecilkan api. Lalu terus tambah air sedikit demi sedkit sampai air yang telah disediakan habis. Aduk sesekali untuk memeriksa apakah sabun sudah meleleh dengan sempurna. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit.


Lalu dinginkan adonan sabun yang sudah meleleh sebelum dituang kedalam wadah kira-kira setengah jam. Jika hasilnya terlalu kental, bisa ditambah sedikit air panas sampai tingkat kekentalannya pas.

Voila! Jadi deh shower cream! Saya coba shower cream ini untuk mandi seperti biasa, hasilnya sama sekali tidak beda dengan versi batangan. Saya sempat mencoba tidak memakai pelembab setelah mandi untuk memastikan DIY Shower Cream ini tidak mengurangi kualitas beauty bar. Dan kulit Saya tetap halus dan lembab seperti jika Saya mandi dengan versi batangan. Karena bentuknya yang cair, lebih mudah jika memakai shower puff. Kalau mau langsung digosok dengan tangan juga boleh, suka-suka hati kamu aja. Versi cair ini juga lebih mudah untuk diaplikasikan saat keramas dibandingkan jika mengusap versi batangan.  Tapi karena setiap sebelum keramas Saya selalu melakukan hot oil treatment, Saya harus 2x bilas jika keramas dengan versi cair. Kalau dengan versi batangan, 1x bilas sudah cukup.

DIY Dove Shower Cream ini bisa dipraktekkan kalau kamu mau lebih praktis mandi dengan Dove Beauty Bar. Tapi mungkin alasan yang paling jujur adalah, DIY Shower Cream ini jatuhnya lebih murah daripada Shower Cream yang dipasaran :D. Harga Dove Shower Cream 400 ml dipasaran sekitar Rp 20.000,-. Sedangkan kalau membuat sendiri, kamu hanya perlu beli Dove Beauty Bar seharga Rp 7.000,- untuk menghasilkan 400 ml shower cream.






Jumat, 23 September 2016

[Review] A Simple Life By Desi Anwar


Banyak cara untuk menikmati 'Me Time'. Beruntung Saya tinggal sendiri dan masih single jadi punya 'me time' yang lumayan banyak. Biasanya Saya menonton DVD atau membaca buku. Membaca buku bagi Saya memberikan nutrisi untuk otak. Hampir setiap hari sebelum tidur Saya menyempatkan diri untuk membaca buku walau sekedar 2 halaman. Dengan membaca, Saya mendapat inspirasi dan merasa lebih percaya diri jika berhadapan dengan orang lain karena merasa punya cukup pengetahuan sebagai bahan obrolan. Film dan buku adalah 2 hal yang tidak dipisahkan dari Saya. 

Tahun lalu Saya membeli buku "A Simple Life" yang ditulis oleh Desi Anwar. Judulnya yang sederhana, justru membuatnya paling menonjol diantara deretan buku-buku lainnya di toko buku. Kita mengenal Desi Anwar sebagai pembaca berita senior di Indonesia. Saya masih ingat ketika masih kecil, Desi Anwar setiap hari muncul di Seputar Indonesia. Mama Saya juga penggemar beliau karena pembawaanya yang cerdas. Bahkan Mama Saya pernah berpesan, "Nanti kalau sudah besar, Kamu harus pintar seperti dia yah, Nak". Karirnya dibidang jurnalis terus menanjak hingga hari ini dia bertahan di posisi puncak.


A Simple Life berisi 53 catatan tentang bagaimana menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Buku ini juga disisipi foto-foto karya Desi Anwar hasil dari perjalanannya keliling dunia. Saat membaca catatan pertama, Saya langsung hanyut karena rasa damai menyelimuti hati dan pikiran. Banyak sekali hal kecil dalam hidup kita yang dapat membuat hidup lebih bahagia. Seperti yang tertulis dibagian "Enjoy A Lie-In", sesekali kita berhak untuk bermalas-malasan ditempat tidur untuk mengisi kembali pikiran dan tenaga yang sudah bekerja keras untuk beberapa waktu. Nikmati waktu istirahat sampai tubuh berkata 'bangun'. Dijamin kita akan merasa lebih segar dari sebelumnya. 

Semua prinsip spiritual seperti Mindfulness dan Gratitude ada di buku ini. Dengan membaca A Simple Life dijamin akan membuat kita kembali menapak bumi setelah berinteraksi dengan hiruk pikuk kehidupan. Cara bertutur Desi Anwar begitu ringan membuat kesan tidak berjarak antara penulis dan pembaca. Walau hampir tidak ditemukan kalimat-kalimat ala pujangga, buku ini tetap berhasil membuat kita jatuh cinta. Salah satu bagian favorit Saya di bab "Carpe Diem". Desi bercerita tentang seorang temannya yang selalu menikmati  hari ini sehingga membuat dia lebih mudah mendapatkan apa yang diinginkan karena tidak pernah mengkhawatirkan masa depan.

Sampai hari ini Saya masih membaca-baca ulang A Simple Life. Saat Saya membutuhkan suntikan semangat baru, Saya langsung ambil buku ini dan membaca bab-bab nya secara acak. Buku ini mengajarkan kita untuk lebih mencintai diri sendiri, menikmati waktu yang ada dan lebih produktif dalam menjalani hari. Tulisan Desi Anwar bagaikan candu. Dia berhasil mentransfer energi positif kepada pembacanya. Hidupnya yang kaya akan pengalaman membuat tulisannya ditunggu orang banyak. Saya pun berniat untuk membeli buku-bukunya yang lain.


Kamis, 22 September 2016

Someone's Personal Business Is Not Yours


Saya suka ga habis pikir kenapa banyak banget orang yang terlalu ikut campur atau sibuk mengomentari urusan orang lain. Padahal dia ga ada kontribusinya sama sekali pada kehidupan orang tersebut. Hal ini tidak hanya dilakukan pada orang-orang sekitar, bahkan sampai artis yang tidak dikenalnya pun tak luput dari komentarnya. Menurut Saya ini salah satu penyakit masyarakat. Jika ditegur, mereka akan beralasan "Demi kebaikan". Oh, come on! Mereka selalu memaksakan pemikirannya kepada orang lain. Padahal setiap orang pasti punya pemikiran yang beda. Kenapa mereka lebih peduli pada hidup orang lain padahal sebenarnya mereka itulah yang perlu memperbaiki sifat dan hidupnya.

Baru saja kejadian sama Saya. Ada seorang teman sekolah, bukan teman sekelas tapi seangkatan waktu SMA dulu. Saya sama teman ini memang tidak pernah komunikasi secara intens. Kita tahu kabar masing-masing lewat Facebook. Saat ini si teman sudah punya 2 anak. Dan setiap kali dia mengirim pesan selalu menanyakan "Kapan kawin?". Saya memang jarang sekali mem-posting sesuatu yang terlalu personal. Social media Saya ya sebagai media networking dengan kolega dan teman lama. Biasanya Saya mem-posting soal pemikiran Saya, kegiatan yang berkaitan dengan profesi Saya sebagai filmmaker, foto saat sedang kumpul dengan teman atau hal-hal lucu. Seharusnya si teman ini punya bahan pertanyaan lain karena update tentang Saya hampir selalu ada social media. Saya juga sudah cukup sabar rasanya setiap pertanyaan "Kapan Kawin?" dilontarkan, selalu Saya jawab "Doain ajah". Kali ini ide iseng Saya bekerja. Berikut kira-kira percakapan Saya dengan  si Teman.

Teman: "Nov. Apa kabar? Kapan kawin? Jangan karier terus ah...."
Saya: "Alhamdulillah, Baik. Iya nih. Desember gue nikah"
Teman: "Asiiik! Siapa calonnya? Ga pernah diposting pacarnya. Undang-undang yaa"
Saya: (Disini udah merasa terganggu. Tapi sabarrr ini baru awal) "Gue kawinnya di Singapore. Ga rame-rame".
Teman: "Lho kenapa? Emang bisa?"
Saya: "Ya bisa doong... Cuma modal passport, mau nikah gampang. Soalnya calon gue beda agama. Kan kalo di Indonesia ga bisa. Makanya di Singapore aja".
Teman: "Lho beda agama? Dosa doong"
Saya: (Doh! Rempong amat sih)
Teman: "Sekarang ribet persiapan dong?"
Saya: "Oh nggak nyiapin apa-apa. Pendaftaran sudah sejak Juli. Cuma pesan gaun aja kok".
Teman: "Iya deh. Semoga nanti cepet dikasih momongan yaah"
Saya: "Oh ini udah, kok. Mau jalan 6 minggu". (Saya ga tahan buat ngakak pas ngetik)
Teman: "Hah!! Hamil duluan!! YA AMPUN!!"
Saya: "Lho emang kenapa? Daripada ntar abis kawin ditanyain kapan hamil kan"
Teman: SIGN OUT

See? Pengen tau banget urusan orang. Padahal apa urusannya sama dia coba? Saya saja sangat berhati-hati untuk menanyakan hal personal walaupun kepada sahabat. Karena Saya ga perlu tahu detail - sedetailnya. Saya sangat menghormati privacy orang lain. Jika dia tidak cerita, berarti dia ingin menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri.

Itu baru contoh kecil saja soal orang yang selalu ikut campur urusan orang lain. Sekarang ini orang-orang sedang sibuk mengomentari drama Raffi, Nagita dan Ayu Tingting. Saya sih sebagai orang yang bekerja di showbiz akan berpikir, "Bisa aja settingan atau kerjaan wartawan yang kehabisan bahan berita". Karena memang sudah jadi rahasia umum, untuk bikin berita di infotaiment, mereka menawarkan paket. Untuk muncul terus selama 3 bulan harganya sekian, muncul 6 bulan harganya sekian. Tapi jika seandainya Saya tidak tahu bahwa berita bisa dibuat, Saya juga ga akan mau mengomentari. Karena itu sama sekali bukan urusan Saya dan ga akan berdampak apapun untuk hidup Saya. Bahkan drama cinta segitiga ini dijadikan bahan postingan blog oleh beberapa blogger dan mereka mengomentari drama itu yang belum tentu benar juga. Ya, ampun #DemiKonten, cyiin?

Lalu untuk urusan selebgram. Beberapa nama seperti Karin, Anya dan Rachel dianggap postingannya vulgar. Karena penasaran Saya coba lihat-lihat ke Instagram mereka. Dan.... in my opinion, biasa-biasa aja tuh. Wajar dong kalau pakai bikini saat berenang atau dipantai. Saya ga tau kalau konten mereka selain di Instagram seperti Snapchat itu vulgar atau nggak. Kalaupun vulgar, tugas orang tua yang memberikan pengertian tentang self development untuk anak-anaknya bahwa hal itu tak perlu diikuti. Karena semakin banyak yang membicarakan dan membenci akan membuat mereka semakin terkenal. Selebgram-selebgram diatas bisa terkenal seperti sekarang juga karena sifat followers mereka yang memiliki rasa keingintahuan yang besar tentang hidup orang lain. Buktinya banyak selebgram yang fotonya lebih artistik dan tidak self center tapi followersnya tidak sebanyak selebgram yang lebih suka memposting social life-nya. Karena bagi followers, melihat foto kumpul-kumpul dengan teman lebih menarik ketimbang foto milkyway di langit Sumba.

Menurut Saya rasa ingin tahu urusan orang lain disebabkan karena tidak puas terhadap diri sendiri sehingga mereka sibuk membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Tidak ada hidup yang terlalu sempurna. Setiap orang punya masalah dan urusannya masing-masing. Lebih baik syukuri apa yang ada, Jika menginginkan sesuatu, bergeraklah. Jadi energi dan waktu kita tidak terbuang sia-sia. Hormati setiap pilihan hidup orang lain. Peduli yang sesungguhnya adalah membuat orang lain bahagia bukan memaksaka untuk menyamai persepsi.


Selasa, 20 September 2016

E-KTP Tanpa Ribet


Sejak Agustus, Pemerintah RI sudah menggalakkan agar setiap warganya segera membuat E-KTP. Hal ini bukan tanpa alasan. Selain untuk memudahkan proses administrasi, E-KTP juga digunakan sebagai kontrol data warga negara Indonesia agar tidak bisa memiliki lebih dari satu KTP yang suka diselewengkan oleh oknum seperti teroris atau urusan pencatutan data lainnya. Pemerintah bahkan memberikan batas akhir sampai 30 September 2016. Program E-KTP ini sebenarnya sudah dijalankan sejak 2012. Tapi bukan Indonesia namanya kalau program ini tak berjalan maksimal bahkan pemerintah masih kecolongan. Selain itu proses birokrasi pemerintah daerah yang super ribet membuat masyarakat malas membuat E-KTP. 

Termasuk Saya. Terakhir Saya ganti KTP tahun 2011 dan masih menggunakan KTP laminating. Saat program E-KTP mulai berjalan di 2012, Papa Saya mengingatkan agar Saya mengurus E-KTP dengan alasan gratis. Tapi Saya tak hiraukan karena Saya malas berurusan dengan pemerintah desa/daerah yang dipastikan akan makan waktu dan uang. Memang bilangnya gratis, tapi sudah jadi rahasia umum kalau lurah, RT, RW pasti akan minta diberi 'amplop'. Dan pada waktu itu Saya berpikir sistem Indonesia belum secanggih di luar negeri. Jadi percuma saja bikin E-KTP. Eh... benar saja. Ternyata E-KTP sistemnya belum sepenuhnya online ditambah ditemukannya kasus korupsi E-KTP. Bahkan ada yang sudah melakukan rekam data sejak 2012, sampai hari ini belum juga jadi E-KTP nya. Makin malas saja. Lagipula selama ini dengan KTP laminating, Saya tidak pernah menemukan kesulitan untuk urusan administrasi sampai soal pembuatan passport. Dengan bebas Saya keluar masuk gerbang imigrasi.

Kebetulan tahun ini KTP Saya akan habis masa berlakunya. Ditambah ada peraturan Pemerintah yang mewajibkan memiliki E-KTP. Ya sudahlah sekalian saja. Walau Saya malas harus menyiapkan waktu ke Tangerang. Tapi Saya penasaran juga. Masa sih sistemnya belum diperbaharui dari 2012? Kita kan sudah ganti presiden juga. Saya cari-cari informasi di internet. Ternyata berdasarkan Permendagri No 8 Tahun 2016 yang berlaku sejak April 2016, pembuatan E-KTP bisa dilakukan diluar domisili dan hanya membawa fotocopy KK dan KTP lama. Wow!! Ini baru namanya Revolusi Mental! Ini baru namanya sistem online! Sayapun langsung bersemangat untuk bikin E-KTP tanpa harus ke Tangerang. Walaupun perjalanan dari Jakarta Selatan ke Tangerang itu ga jauh. Tapi Saya lebih percaya pelayanan pemerintah daerah DKI jauh lebih baik.

Berdasarkan website Kemendagri , Kantor pemerintahan yang paling dekat dengan tempat tinggal Saya di Jakarta adalah di Dinas Catatan Sipil Jakarta Selatan, Jl. Raya Pasar Minggu KM 19, tepat diseberang Hotel Fiducia. Pertama kali kesana untuk rekam data pada hari Senin, 5 September 2016. Jam setengah 10 Saya datang, ambil nomor antrian dapat nomor 3. Proses dari antri sampai selesai rekam data sekitar 1 jam. Saat rekam data, Saya melihat sendiri sistem E-KTP ini sudah online. Petugas hanya mengetik NIK lalu keluar data Kartu Keluarga yang ada NIK Saya. Saya diminta untuk memeriksa apakah data-datanya benar. Setelah itu pengambilan rekam sidik jari dan rekam kornea mata. Saya sempat men-tweet pengalaman Saya urus E-KTP diluar domisili ga pake ribet. Teman Saya, Emil langsung telepon Saya. Dia ga percaya modal bikin E-KTP hanya fotocopy KK dan KTP. Dia terlanjur urus berdasarkan domisili asal KTP di Bekasi. Dia diribetin karena harus ada surat RT, RW, dan Lurah. Saya bilang mending datang langsung saja ke Discapil Jakarta Selatan daripada ribet. Pembuatan E-KTP di Discapil Jakarta Selatan memang tidak langsung jadi. Amannya 2 minggu. Emil yang rekam data beberapa hari setelah Saya, dia sudah ambil E-KTP -nya duluan. Sedangkan Saya baru hari ini. Tak jadi soal untuk Saya harus balik ke Discapil 2 minggu setelah rekam data, yang penting Saya tidak perlu direpoti dengan melampirkan surat RT, RW, Lurah dan teman-temannya itu.

Saya sempat membaca keluhan teman-teman tentang ribetnya pengurusan E-KTP diluar DKI Jakarta. Bahkan antrian sudah dimulai sejak pukul 3 subuh! Ya ampun beruntung Saya urus E-KTP di Jakarta. Emang Pak Ahok ini top banget deh. Udah ga ada lagi ribet-ribet urus administrasi di kantor pemerintahan. Kalau kalian belum urus E-KTP, ayo cepat urus. Mumpung masih ada waktu.


Kamis, 08 September 2016

Krim Untuk Kulit Sehat


 Sekali-kali pasang foto selfie untuk gambar pembuka. Sekalian mau pamer kulit sehat. Hehehe.... Itu Saya hanya pakai lipstick, tanpa bb cream atau bedak. Saya jarang upload foto selfie ke social media karena Saya lebih suka pamer soal buah pikiran Saya. Sekalinya upload foto selfie, banyak yang tanya ke Saya tentang perawatan untuk kulit karena menurut teman-teman kulit Saya terlihat sehat. Mereka selalu mengira Saya ikut perawatan ke derma atau pakai krim mahal. Ampun, Cyiiin.... Entahlah Saya masih merasa Sayang sediain budget untuk ke derma karena.... Mahal. Hahahaha!!! Dan Saya merasa belum perlu juga. Tapi kulit Saya ini bukan hasil perawatan instant. My mom did it. Yess.... Sudah dibiasakan dari kecil untuk pakai pelembab, minum air putih yang cukup dan perhatikan pola makan. Dan untungnya Saya tipe orang yang sangat memperhatikan penampilan. Jadi setiap harinya Saya selalu menyempatkan diri untuk perawatan.

Saya orangnya simple. Dan sebisa mungkin selalu beli produk yang bisa dipakai from head to toe. Memang beberapa tahun ini untuk pelembab kulit, Saya lebih suka pakai body oil. Tapi kan ga semua orang suka pake body oil dan ga mungkin juga kalo traveling bawa-bawa body oil karena takut tumpah-tumpah. Saya mau review 2 krim perawatan kulit favorit Saya.

1. Petroleoum Jelly


Nah.... Ini nih krim andalan aku dari kecil. Saya dari bayi sudah dipakein petroleum jelly. Setiap habis mandi, pake minyak telon trus dipakein petroleum jelly dari muka sampai badan. Dulu di Indonesia belum ada. Mama selalu nitip sama sepupu yang dulu tinggal di Amerika. Petroleum Jelly ada banyak merk nya. Untuk anak-anak biasanya tempatnya ada gambar sapi atau teddy bear. Baru setelah Saya SD, petroleum jelly masuk ke Indonesia. Dulu bisa didapat di Century dan hanya ada 1 merk, Vaseline. Sampai sekarang Saya selalu sedia petroleum jelly. Karena harganya murah dan bagus untuk kulit. 

Teksturnya thick. Tidak disarankan dipakai kalau cuaca sedang panas karena bikin kulit terasa agak lengket walau petroleum jelly sangat bisa melembabkan kulit. Aman ga untuk kulit wajah? Sangat aman. Tapi Saya hanya pakai diwajah untuk night cream, karena kalau siang kan Saya selalu makeup. Berat aja kalau petroleum jelly dipakai sebelum makeup. Jennifer Anniston saja pakai petroleum jelly untuk anti aging. 


2. Viva Skin Food



Saya pertama kali coba Viva Skin Food waktu SMP. Jadi dulu waktu masa penjajahan ikut Mak tiri, telapak kaki Saya jelek banget gara-gara kebanyakan mengerjakan pekerjaan rumah tapi ga dirawat kulitnya. Diam-diam Saya beli ini dan rutin setiap malam dipakaikan ke telapak kaki. Dalam seminggu kulit kaki Saya langsung sembuh bahkan kutu air ga terasa gatal. Baru sadar ternyata penyebab kutu air karena keringnya kulit kaki sehingga jamur betah nempel.

Lalu Saya coba pakai ke wajah. Wajah Saya jadi halus banget. Makanya setelah dewasa, Saya juga selalu sedia ini. Karena agak susah beli petroleum jelly, Saya harus nitip teman yang diluar negeri atau beli kalau lagi di Changi. Hahaha. Viva Skin Food gampang banget dicari dari Indomaret sampai Hypermart. Tekstur Viva skin food juga lebih 'ramah'. Kalau sedang cuaca panas banget, Saya pakai Viva Skin Food. Soalnya kalau pakai body oil berasa sumuk.

Invest on Healthy Skin

Tips tambahan. Kalau mau pakai pelembab, lebih enak dipakai setelah mandi tanpa handukan dulu. Karena bikin krim atau body oil gampang dibaurkan dan pemakaian juga lebih irit. Perawatan kulit tidak harus mahal. Yang penting konsisten. Lebih baik rawat dulu kulit sebelum menutupnya dengan makeup yang super tebal dan membuatmu terlihat seperti drag queen. Memiliki kulit sehat juga bisa meningkatkan percaya diri. Perempuan akan terlihat lebih menarik jika memiliki kulit yang sehat. Jangan terlalu terobsesi dengan kulit putih. Kulit gelap pun jika dirawat akan terlihat glowing dan cantik. Sebelum terlambat, rawat kulit sejak usia muda.