Jumat, 20 Januari 2017

Parenting Lesson From Dear Zindagi



Saya baru saja nonton film India Dear Zindagi (Dear Life). Film ini bercerita tentang seorang Cameraman wanita bernama Kaira. Karakter Kaira ini sempurna. Cantik, muda, punya karir yang cemerlang, dikelilingi pria-pria keren. Typical cool girl. Tapi dibalik kesempurnaan itu, dia menyimpan luka yang dia pendam sejak kecil.

Saya perhatikan rata-rata orang pencapaian hidupnya bagus, pasti latar belakang keluarganya harmonis. Mereka tumbuh dari orang tua yang selalu men-support apapun pilihan anaknya. Bukan orang tua yang memaksakan kehendaknya. Pelajaran yang relate dengan kehidupan nyata dari film Dear Zindagi adalah seringkali orang tua lupa untuk memahami perasaan anak. Orang tua seringkali lupa melibatkan anak dalam setiap pengambilan keputusan. Jargon orang tua selalu benar dan merasa tahu yang terbaik untuk anaknya berlaku pula di India sana. Mungkin banyak dari kita yang mengalaminya, termasuk Saya sendiri. Saya bukan datang dari keluarga yang sempurna. Dampaknya terasa sekali saat memasuki usia dewasa.

Lalu bagaimana jika kita mengalami apa yang dialami Kiara? Berdamai dengan masa lalu. Tak perlu naif untuk berusaha memaafkan. Cara yang terbaik adalah menerimanya bahwa itu bagian dari hidup kita. Luka itu memang tidak akan bisa hilang. Tapi jangan biarkan luka itu terus mengatur perasaan dan pikiran sepanjang hidup.

Sekarang tugas kita agar menghasilkan generasi yang lebih tangguh adalah berkomitmen bahwa kita akan berusaha menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita. Berikan support agar anak bisa fokus menggapai tujuan hidupnya. Berikan pendidikan akal dan hati agar tak hanya cerdas akademik tapi juga emosionalnya. Jangan pernah mengeluh menjadi orang tua. Karena seorang anak tak pernah minta dilahirkan. Dan ketika 2 orang dewasa sudah memutuskan untuk memiliki anak, maka dia harus bertanggung jawab penuh. Menjadi orang tua bukanlah sebuah pekerjaan, dimana jika kita lelah atau bosan kita bisa meninggalkan pekerjaan itu.

Orang tua dan anak adalah manusia. Tak ada yang lebih tinggi atau rendah. Tugas sebuah keluarga adalah mencipatakan kedamaian di dalam rumah. Biasakan ada percakapan antara orang tua dan anak agar bisa saling memahami satu sama lain. Orang tua dan anak harus saling menerima ketidak sempurnaan. Saya memang belum menjadi orang tua. Tapi tulisan ini adalah perspektif Saya sebagai seorang anak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar