Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Sunday, January 13, 2019

Jadi Artis Ga Cukup Modal Cantik

artistakhanyacantik


"Mbak, anak Saya cantik. Kalau ada casting mau dong dikabari biar bisa jadi artis". Cukup banyak orang yang minta kesempatan casting. Berharap bisa jadi bintang besar, terkenal dan iming-iming menjadi kaya raya. Wajar saja manusia ingin hidupnya kebih baik dan punya mimpi. Sayapun pernah mencoba jadi artis dengan ikut casting-casting. Sampai suatu hari Saya sadar, bakat Saya ga cukup baik untuk jadi artis. Dan Saya cukup tahu diri karena wajah Saya tidak secantik Mikha Tambayong.


Saturday, July 28, 2018

Syuting Di Indonesia Tidak Murah

https://novyastria.blogspot.com/2018/07/indonesia-sebagai-lokasi-syuting.html
Blackhat at Jakarta


Indonesia sudah cukup banyak dilirik sineas luar negeri sebagai salah satu lokasi syuting. Bahkan beberapanya adalah film Hollywood blockbuster. Sebut saja "Eat, Pray, Love", "Blackhat", dan "King Kong". Selain itu masih banyak project lain seperti TVC dan Series, bahkan film indie. Sebelum menjelaskan lebih jauh, Saya ingin memperkenalkan kepada masyarakat yang bukan bekerja di bidang film. Mereka yang berjasa membawa Indonesia lewat layar perak adalah Gary Hayes dan Tino Saroengallo. Ditangan mereka tercipta kualitas film dan iklan yang grand, disertai para kru yang sangat terampil. Baru saja mereka menutup usia. Dasar sahabat sejati, mati saja jaraknya masih dekat. Pak Tino memang sudah sakit kanker beberapa tahun terakhir. Dan Pak Gary sempat jatuh sakit sebelum menghadap Sang Kuasa. Jasa dan dedikasi mereka akan terus Saya kenang.

Indonesia diberkahi pesona alam yang eksotik. Hutan tropis yang belum terjamah bahkan virgin beach. Tak jarang setiap project pasti menemukan lokasi baru yang bahkan kita sebagai orang lokalpun belum tahu. Selain lokasi, Indonesia juga memiliki cukup sineas yang mampu memenuhi standard kerja International. Seharusnya dengan 2 aset utama ini, Indonesia bisa menjadi salah satu Film Friendly. Untuk syuting di Indonesia masih banyak kendala yang perlu dihadapi.

Syuting di Indonesia tidaklah murah, seperti yang digembar-gemborkan para jajaran pemerintah di Indonesia. Tidak adanya tarif yang jelas dan birokrasi yang berbelit seringkali menyurutkan sineas asing untuk syuting di Indonesia. Sebagai contoh untuk perbandingan, syuting di kota New York hanya diperlukan $750 untuk perizinan lokasi. Sedangkan harga syuting di Kota Tua Jakarta, diperlukan 60 juta. Syuting di Jakarta dalam studio pun bisa mencapai 12-15 juta sehari dengan rata-rata tarif studio 6 juta per-8 jam.

https://novyastria.blogspot.com/2018/07/syuting-di-indonesia-tidak-murah.html


Baca juga: Susah Sinyal lebih mahal dari Critical Eleven

Saat ini digadang-gadang untuk perizinan syuting, dimanapun di wilayah Indonesia bisa dilakukan 1 pintu, melalui Pusbang Film. Pada kenyataannya, Kami tetap harus mengurus izin dari RT/RW, Polsek, Pemda dan preman setempat. Tentunya disetiap tahap tersebut Kami harus menyediakan amplop untuk melancarkan terbitnya surat izin syuting. Itupun tidak bisa menjamin mereka akan 100% bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang mengakibatkan proses produksi terganggu karena faktor eksternal.

Yang membuat biaya syuting di daerah Indonesia mahal juga disebabkan karena infrastuktur yang belum baik. Kami harus mengakali dengan menambah jumlah personil atau menyewa alat khusus yang akhirnya akan muncul cost baru. Biasanya jika syuting di daerah, Kami harus merekrut warga sekitar yang seringkali harga permintaan awal bisa berbeda saat sudah melakukan pekerjaan. Yang bikin kesal terkadang mereka tidak bisa mengikuti pace kerja Kami yang serba cepat.

Baca juga: Tentang Perfilman Indonesia

Beberapa waktu lalu Saya membaca buku "Film Marketing Into The 21st Century". Di dalamnya ada bab yang membahas Marketing Location, salah satunya membahas tentang Film Friendly yang sudah dilakukan New Zealand, dan negara / kota lainnya dibelahan dunia.


https://novyastria.blogspot.com/2018/07/syuting-di-indonesia-tidak-murah.html




Berikut rangkumannya:

1. Di Michigan ada sebuah agency yang menawarkan pelatihan kepada warga lokal, perusahaan dan penyedia jasa fixer untuk memudahkan proses pembuatan film dilokasi tersebut dan memudahkan warga yang ingin bergabung sebagai filmmaker.

Di Indonesia sendiri, Badan Perfilman Indonesia, juga sedang memberikan pelatihan-pelatihan serupa di daerah guna mempersiapkan mereka sebagai lokasi baru untuk syuting film. Kota-kota di Indonesia yang pemerintah daerahnya sudah siap sebagai lokasi syuting antara lain Bandung, Bayuwangi, Siak, dan Yogya. Di Bali pun tak ada kendala berarti karena kesigapan warganya yang juga sudah terbiasa sebagai daerah wisata.

Banyak pula komunitas film di daerah yang menelurkan sineas baru. Bagaimanapun sineas juga perlu regenerasi.

2. Film friendliness sangat penting untuk tempat yang tak memiliki atau sedikit track record sebagai lokasi syuting. Kualitas dan pelayanan yang buruk bisa merusak reputasi tempat tersebut.

Kami sebagai filmmaker lokal pun terkadang kapok syuting di tempat tertentu dan pastinya akan kami blacklist dan tak akan pernah masuk rekomendasi Kami. Pembuatan film itu secara tak langsung turut meningkatkan perekonomian. Karena pastinya Kami akan mempekerjakan warga lokal sebagai porter dan membayar sewa / hotel selama proses syuting berlangsung. Belum lagi Kami akan membutuhkan penyedia konsumsi. Coba bayangkan berapa banyak uang yang harus Kami keluarkan untuk syuting film.

3. Location Marketing tidak sama dengan promosi pariwisata, walaupun bisa saja itu akan menjadi salah satu tujuannya. Lebih dari itu, dengan adanya film friendliness, akan memicu pertumbuhan infrastuktur, baik untuk pariwisata maupun keperluan pembuatan film dikemudian hari.


Jadi tolong kepada jajaran pemerintah, jangan promosikan Indonesia murah untuk syuting film. Selain perizinan yang mahal, upah Kami sebagai pekerjapun tidak bisa dikatakan murah. Ga mungkin Kami mempekerjakan kru yang kemampuannya belum memenuhi standard demi harga murah. Karena Kami bawa nama negara saat bekerja dengan sineas asing.

Walau banyak yang masih awam terhadap pekerja film, secara tak langsung Kami turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Kami bayar pajak penghasilan, dimana pajak itu akan digunakan untuk pembanguan negara. Berkat industri yang semakin maju, tentunya tercipta lapangan kerja baru. Dalam proses produksi film kurang lebih ada 150 orang yang terlibat. Belum lagi dari sisi distribusi, munculnya bioskop atau channel distribusi baru, tentunya perlu pekerja baru. Berkat film juga berhasil muncul budaya atau trend baru yang lagi-lagi akan meningkatkan dan memperluas pasar.




Sunday, February 18, 2018

Mencintai Dengan Naif

Poster Cutie and The Boxer

Menikahi seseorang tidak cukup hanya dengan alasan dia keren atau memiliki minat yang sama. Itulah point of view Saya setelah menonton film dokumenter yang berjudul Cutie and The Boxer. Dimana ada korelasi kisah romansa yang dialami tokoh dalam film ini dengan kisah romansa Generasi Y.


(Spoiler alert)
Film ini menampilkan kehidupan pernikahan sepasang suami istri berasal dari Jepang yang berprofesi sebagai seniman dan hidup di New York. Mereka adalah Ushio Shinohara (Bullie) dan Noriko (Cutie). Saat film ini dibuat, Ushio telah berusia 80 tahun dan Noriko berusia 60 tahun. Mereka telah menikah selama 40 tahun. Noriko pertama kali menginjakkan kaki di New York saat berusia 19 tahun. Dia adalah art student. Bertemulah dia dengan Ushio yang saat itu berusia 40 tahun. Ushio sudah memiliki reputasi di New York sebagai salah satu seniman jenius. Tak butuh waktu lama mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah. Saat itu Noriko sedang 6 bulan mengandung anak pertama mereka. Orang tua Noriko yang mengetahui pernikahan mereka, menghentikan support financialnya. Sejak itu perjuangan hidup Ushio dan Nuriko dimulai. Mereka kesulitan menjual karya-karya mereka.

Kehidupan Ushio yang tidak stabil terlihat saat pertama kali bertemu dengan Noriko. Namun Noriko pada saat itu masih terlalu muda untuk berpikir jauh kedepan. Noriko mencintai Ushio dengan naive. Dipenghujung usianya, mereka masih harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Noriko selain masih aktif melukis, dia juga membuat karikatur semi-autobiografi yang menceritakan kehidupan pernikahannya. Karakter dirinya diberi nama Cutie dan Ushio bernama Bullie. 

Noriko dalam hati kecilnya mungkin menyesali keputusannya menikahi pria yang tidak stabil secara keuangan. She always struggle since that day. Tapi dia mengakui, dari situlah inspirasinya berdatangan. Dan dia memilih untuk mencintai Ushio dengan tulus dan menerima takdirnya. 

Sedangkan Ushio pria yang memiliki prinsip "Live For The Moment". Segala publikasi tentang dirinya sebagai salah satu seniman terbaik di New York, berbanding terbalik dengan apa yang dia miliki secara materi. Dia sangat mencintai Noriko dan walau hidup dalam kesulitan, dia selalu ingin memberikan yang terbaik dan bertanggung jawab  untuk keluarganya. Hal ini terlihat saat dia bersikeras untuk mencoba peruntungan dengan menjual karyanya ke Jepang saat mereka harus membayar sewa rumah tinggalnya. 

Dalam suatu wawancara, Ushio sedikit mengeluh karena sebenarnya film Cutie And The Boxer ini lebih banyak bercerita tentang istrinya, bukan tentang karya Ushiro. Egonya sebagai seorang seniman yang genius terusik. Bagaimanapun, kita memang harus mengangkat topi untuk Noriko karena memilih tetap menghabiskan hidup dengan Ushio. Tidak mudah menjadi Noriko, bahkan saat berkaryapun terkadang suaminya sedikit mengintimidasi. 

Nilai positifnya, mereka sangat produktif untuk berkarya bahkan sampai usia lanjut. Mereka mampu berusaha bahagia disegala keterbatasan. Hitam putih adalah kehidupan pernikahan mereka dan warna-warni adalah karya mereka. Kehidupan pernikahan memang tidak selamanya bahagia. Bahkan pasangan yang secara materi stabil juga mempunyai permasalahan lain. 

Mencintai dengan naif ini banyak terjadi di sekitar kita terutama di Generasi Y. Mereka terlena dengan slogan mencintai dengan tulus. Ada yang kuat menjalaninya, banyak pula yang memilih balik kanan. Tidak ada yang salah dengan pilihan itu dan apapun pilihannya pasti ada konsukensinya. Memilih pasangan hidup memang harus bijak, teliti, penuh pertimbangan dan butuh keberanian atas segala resiko. Saran ini Saya dapatkan dari teman-teman yang sudah menikah. Love is not enough. 

Ada 1 tugas penting untuk kita saat mengarungi kehidupan berumah tangga, yaitu membesarkan generasi selanjutnya yang brilliant dan lebih baik lagi. Mencintailah dengan logika. Karena kondisi keluarga yang stabil akan menghasilkan anak-anak emas.

Cutie and The Boxer adalah bukan sebuah film dokumenter tentang 2 seniman, tapi film tentang kehidupan pernikahan.






Tuesday, September 27, 2016

Faktor Penentu Film Box Office



Tahun ini film "Warkop DKI" berhasil menjadi Film Indonesia Terlaris sepanjang masa dengan total 5juta penonton. Posisi sebelumnya diraih oleh film "Laskar Pelangi" (2008) yang mendapat 4 juta penonton. Saat film Laskar Pelangi rilis, Saya masih bekerja di 21 cineplex untuk divisi film Indonesia (fyi, dulu yang urus cuma 2 orang). Begitu mendapat laporan data harian penonton untuk Saya proses pembayarannya, Saya sempat tercengang melihat begitu banyaknya jumlah penonton untuk film Laskar Pelangi. Saya pun ikutan bersemangat menghitung sharing profit untuk produser. Hal yang sama Saya rasakan saat menghitung profit sharing film Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Masuk 2010, perolehan penonton film Indonesia tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Terlebih saat itu didominasi film Plus-Plus yang menjual sensualitas. Dan masanya juga sudah berbeda. Tahun-tahun sebelumnya film Indonesia yang tayang setiap minggunya hanya 1 film. Di 2010 karena banyak yang mulai produksi film, penayangan film Indonesia berubah menjadi 2 film setiap minggunya. Lalu berubah lagi menjadi 3 film/minggu hingga hari ini terkadang 4 film/minggu. Sebelum tahun 2010 untuk mencapai 200.000 penonton bukan hal yang sulit. Memasuki 2010 sampai hari ini untuk mendapat 150.000 penonton adalah hal yang patut disyukuri. Seiring berjalannya waktu, tantangan dan trend terus berubah. Terbatasnya jumlah layar membuat produser harus memikirkan strategi dengan cermat bagaimana caranya agar filmnya mendapat untung.

Di tahun 2016 ini geliat penonton Film Indonesia mulai meningkat lagi. Pastinya para produser sudah menemukan formula baru untuk mendapat penonton yang banyak dengan lebih jeli membaca pasar. Kualitas film-film Indonesia juga sudah memiliki production value yang bagus. Walau masih ada beberapa film Indonesia yang kualitasnya dibawah standar dan biasanya dibuat oleh produser karbitan. Ada 2 faktor utama yang menentukan sebuah film mendapat jumlah penonton yang massive.

1. Cerita
Cerita adalah fondasi dalam setiap produksi film. Cerita yang bagus adalah Investasi. Cerita yang bagus dapat berdiri sendiri untuk meninggalkan kesan pada hati penonton yang pada akhirnya bisa mengajak orang lain agar menonton film tersebut. Untuk sisi penonton, mereka tidak paham soal teknis tapi mereka pasti tahu cerita yang bagus atau tidak. Produser dan sutradara harus jeli untuk mendapatkan cerita bagus. Bahkan cerita yang bagus bisa mendatangkan kesempatan mendapat sponsor. Mungkin dalam cerita tersebut memiliki ideologi yang sama dengan sebuah brand sehingga bisa berkolaborasi.


2. Promo Tepat Sasaran
Promo adalah  faktor penentu kesuksesan sebuah film bahkan untuk film yang kualitas ceritanya tidak terlalu bagus. Sama seperti produk, tanpa marketing maka akan minim pembeli. Strategi promo harus sudah dirancang saat penggodokan cerita. Karena dari cerita kita bisa tahu demographic yang akan menjadi target market film yang kita buat. Beda demographic tentu beda pula treatment promonya. Salah satu strategi promo adalah dengan menggandeng brand yang sesuai dengan target market kita. Karena brand sudah pasti memiliki strategi marketing yang juga bekerja sama dengan agency advertising.

Promo tidak bisa hanya mengandalkan sosial media. Karena tidak semua orang digital savvy. Jika melihat contoh promo yang dilakukan Warkop Reborn, mereka bahkan melakukan promo eksklusif di salah satu station tv swasta. Bahkan setiap hari diputar di infotainment di tv tersebut. Selain itu mereka juga memasang reklame besar di gedung daerah Semanggi. Falcon Pictures, selaku production house film Warkop Reborn memang ahli dalam promosi. Promo untuk film-filmnya selalu berbeda.

Promo besar sekalipun tidak akan menghasilkan banyak penonton jika tidak dilakukan dengan tepat sasaran. Maka dari itu penting berkolaborasi dengan banyak pihak agar film bisa sukses secara komersial.


Lalu apakah film bagus itu sudah pasti laris? Tidak juga. Ada film bagus dan laris, ada pula film bagus tapi sayang tidak laris dan banyak pula film yang biasa-biasa saja tapi laris. Bagus tidaknya sebuah film itu tergantung selera masing-masing. Sebenarnya banyak pula film bagus yang tidak diputar di bioskop tapi diputar lewat penayangan alternatif yang banyak dilakukan oleh komunitas film. Lagipula masyarakat Indonesia masih banyak yang belum terbiasa dengan film arthouse.

Perfilman Indonesia semakin dinamis walau masih banyak kekurangan namun hal ini tidak menyurutkan semangat untuk berkarya. Semoga trend film box office ini bisa meningkatkan kepercayaan para investor untuk berinvestasi di industri film.



Friday, July 22, 2016

8 Pelajaran Dari Film The Intern Untuk Para Profesional



I'm sorry if I am just 1 year too late to watch this movie. Saya sedang mencari referensi film tentang fashion industry. Saya pikir film The Intern ini adalah film semacam Devil Wears Prada yang lebih fokus pada fashionnya, Ternyata The Intern bukan film yang fokus pada fashion stuff tapi tentang kehidupan profesional masa kini. And I'm totally in love with it!! Nancy Meyers adalah salah satu scriptwriter brilliant di planet ini. Sejak menit pertama, Saya langsung jatuh cinta pada narasinya. Dan Saya juga jatuh cinta pada 2 karakter utama dalam film ini, Jules Ostin (Anne Hathaway) dan Ben Whittaker (Robert De Niro).  Karakter Jules mencerminkan sifat para CEO muda, bagaimana mereka meeting marathon, memimpin dengan gaya one man show, dan berusaha multitasking tentunya dengan bantuan gadget mereka. Disini kita juga melihat suasana open office yang menjadi ciri khas startup era digital, sebuah perusahaan yang mayoritasnya generasi millenial bergaya hipster (yes, those beard, wool outter and love with vintage stuff!).


Susana kantor Jules sangat kontras dengan Ben Whittaker, seorang pensiunan yang sedang magang di startup digital fashion retail. Kehadiran Ben seperti penyeimbang kehidupan para millenial yang dituntut serba cepat. Ben memang sudah memiliki 40 tahun pengalaman dalam bisnis. Tapi dia tidak berhenti belajar untuk mengisi hari tuanya.

Saya tidak akan menulis review tentang film ini. Tapi Saya ingin berbagi pelajaran yang sangat bagus setelah nonton film The Intern. 8 hal ini akan sangat berguna untuk para profesional.

1. Cara Perkenalan Diri
Diawal film The Intern, Ben membuat sebuah cover letter berupa video. Penyampaian dalam cover letter konvesional dan video tak ada bedanya, hanya medianya saja yang berbeda. Dalam cover letter, CV atau proses interview, kita wajib 'menjual' diri dengan menceritakan hal-hal menarik tentang diri kita sehingga perusahaan tersebut mau mempekerjakan kita. Dalam video tersebut, Ben menceritakan nilai jualnya "I want excitement, I want to be needed. I am loyal, I am trustworthy and I am good in a crisis".

2. Selalu Berkata Positif
Ben yang selalu positif ini memberi warna di kantor Jules Ostin. Semua orang suka pada Ben. Bahkan Jules yang awalnya tak terlalu bersemangat dengan Ben, merasa justru Ben yang menjadikan Jules menjadi pemimpin yang lebih baik untuk perusahannya dan dirinya sendiri. Ada satu scene saat Ben sedang mengantar anak Jules ke acara sekolah. Sekelompok Ibu-ibu bilang, "Jules kind of tough (bitch)". Ben tahu terkadang Jules menyebalkan (tipikal boss kan :p). Apa Ben juga ikutan menjelekkan Jules? Nggak sama sekali. Bahkan dia bilang Jules adalah boss yang keren. Karena sifatnya yang tough itu, perusahaan Jules bisa sangat maju.

3. Mindfulness
Profesional masa kini harus bisa multitasking karena tuntutan yang serba cepat. Tak jarang saat sedang makan siangpun kita masih harus sambil mengetik e-mail atau menjawab telpon. Akibatnya kita kurang bisa menikmati dan fokus pada satu aktifitas. Mulai saat ini coba biasakan untuk fokus pada 1 aktifitas sebelum mengerjakan aktifitas lainnya.  Nikmati makan siangmu tanpa main gadget atau melanjutkan kerjaan. Saat bekerja, hindari bermain handphone atau sambil mengecek social media. Beri jadwal kapan waktu untuk menjawab e-mail, refreshing dengan main internet atau menelpon orang tersayang. Mindfulness ampuh untuk menghindari stress dan membuat kita lebih fokus.

4. Bicara Sesuai Porsi
Biasanya karena merasa tahu akan banyak hal, muncul penyakit pengen show off supaya dapat pengakuan kalau dirinya hebat. Ya kan? Pernah bertemu orang seperti ini? Atau jangan-jangan kita sendiri :P. Ben sudah 40 tahun tahun memiliki pengalaman bisnis. Dia tahu banyak hal. Tapi apa karena dia senior dan tahu banyak hal dia berusaha mengajari Jules dan pekerja lainnya? Nggak sama sekali. Dia hanya jadi pengamat. Dia baru mau mengeluarkan pendapat jika itu memang diperlukan. Itulah orang cerdas yang sebenarnya.

5. Dalam Bekerja, Setiap Generasi Harus Saling Melengkapi.
Dalam satu perusahaan kita akan bertemu dengan orang-orang dari beberapa generasi. Tidak ada generasi yang paling hebat. Generasi millenial memang lebih up to date dan berani daripada generasi baby boomer. Tapi generasi baby boomer memiliki pengalaman jauh lebih banyak daripada generasi millenial.

6. Detail
Jules sebagai CEO yang one man show, dia sangat detail. Bahkan untuk urusan layout web harus approval dia dulu. Gambar harus terlihat jelas dihalaman web. Dia bahkan turun tangan langsung untuk mengecek inventory dan bahan-bahan di gudang. Untuk hasil yang sempurna memang dibutuhkan ketelitian.

7. Terus Belajar Hal Baru.
Walau sudah tua, semangat belajar Ben sangat tinggi. Dia bahkan kursus bahasa Jepang. Dia tak malu bertanya pada cucunya apa itu USB connector. Dan dia banyak belajar dari Jules, mengapa perusahaan itu bisa berkembang pesat dalam waktu singkat. Jules pun demikian. Setelah dia mau membuka hati untuk menerima kehadiran Ben, Jules belajar banyak hal dari pria itu. Bukan hanya soal bisnis, tapi juga pandangan hidup. Berapapun usia kita, terus lah mempelajari hal baru. Dengan belajar, hidup akan lebih berarti dan kita tak akan tumbuh tua menjadi orang yang membosankan karena tahu banyak hal. Kita bisa belajar dari membaca buku, menonton film atau sekedar berbagi pengalaman.

8. Work Smart, Not Work Hard
Masih banyak dari kita yang diperbudak oleh pekerjaan. Sehingga muncul masalah personal yang berdampak tidak baik untuk kehidupan kita sendiri. Hidup ini tak harus dihabiskan dengan bekerja 18 jam sehari. Kita harus sesekali have fun dengan teman-teman dan keluarga atau sekedar meluangkan waktu untuk hobi. Buatlah management waktu agar hidup lebih seimbang. Dan terapkan prinsip mindfulness.


Mungkin bagi yang sudah nonton The Intern sempat berpikir sosok Jules ini boss yang terlihat keren tapi sebenarnya agak nyebelin.  Yaaah... boss kan juga manusia yang tidak sempurna. Tapi coba deh kalau kita jadi boss, belum tentu kita tidak menyebalkan lho. Boss itu bebannya besar, dia mau semuanya berjalan dengan baik. Untuk siapa? Untuk perusahaannya agar bisa gaji kalian-kalian yang bekerja ini.  Dan dalam kehidupan nyata, daripada kita mikirin kelakuan boss yang kadang menyebalkan, lebih baik kita fokus untuk memberikan yang terbaik saja. Cara ini tak hanya bermanfaat untuk menarik perhatian boss tapi juga untuk diri kita sendiri. Mungkin saja dikemudian hari usaha kita ini didengar kolega dari perusahaan lain yang akan mengajak kita bergabung.

Thursday, June 16, 2016

The Conjuring 2, Drama Cinta Segitiga


Dear, Kokoh James Wan



Mungkin saat membaca tulisan ini, Kokoh  sedang asyik mandi uang di kamar. The Conjuring 2 berhasil menjadi film boxoffice. Disekuel kedua, Kokoh lebih fokus mengangkat romansa. Jika semua orang bilang The Conjuring 2 adalah film horor, bagi Saya ini adalah film drama cinta segitiga antara Valak, Ed dan Lorraine. Ditambah dengan camera movement yang melayang sangat indah, sudah dipastikan ini film tentang cinta-cintaan. Camera Movement ini menggambarkan perasaan Valak yang diam-diam jatuh cinta pada Ed Warren.


Kunci menarik perhatian penonton adalah memberikan keseruan di 10 menit pertama. Rasanya Kokoh James Wan sudah tahu tentang hal ini karena dijadikan kuncian di Hollywood sana. Tapi Kokoh berani tampil beda. Kokoh tak perlu berlama-lama, 5 menit pertama cukup untuk menghadirkan rasa penasaran penonton. Seakan kokoh berbicara pada penonton, “Nih.... treatment openingnya udah cantik dan tegang kan? Mau lanjut? Stay there....”.


Menurut gosip yang beredar dikalangan anak twitter bahwa Kokoh dulu kuliah di Binus, pasti pernah memiliki pengalaman dipalak sama anak punk Senayan. Palak itu artinya mengambil secara paksa. Hal ini mungkin mengisnpirasi Kokoh James Wan untuk memberi nama Palak untuk karakter iblis di The Conjuring 2. Tapi dirubah jadi Valak agar terdengar lebih Hollywood. Karakter iblis ini ingin mengambil paksa Ed dari Lorraine.


Valak ini emang rese banget. Waktu itu dia nimbrung nonton TV dan melihat Ed dan Lorraine sedang menjadi bintang tamu di talkshow. Valak jatuh cinta pada Ed. Dalam hatinya dia ingin Ed hidup bersamanya. Tapi bagaimana caranya? Ed tinggal di Amerika sedangkan Valak di Inggris. Dan ditahun 70an belum ada promo tiket murah. Akhirnya Valak menggunakan tubuh Janet untuk menarik perhatian Ed.  Janet kasihan banget. Masih kecil tapi kesurupan terus. Hal ini ga akan terjadi kalau saja Ed peka terhadap kode-kode yang dikirim Valak. Valak sudah hadir kedalam mimpi Ed. Tapi Ed sama sekali ga tergoda. Waktu Ed melukis wajah Valak, Valak udah girang banget. Kali aja kalau Ed melukis dirinya, Lorraine bakal cemburu dan meninggalkan Ed. Valak ga menyerah, persis seperti Ani-ani yang melabrak istri gadunnya, Valak berhasil meneror Lorraine waktu Lorraine sedang astral projection. Usaha keras Valak berhasil membawa Ed dan Lorraine untuk terbang ke Inggris.


Sesampainya di Inggris, Valak masih ga pede menampakkan wujud aslinya kepada The Warrens. Ini iblis udah rese, insecure pula. Ngebelin banget deh. Dia terus menggunakan Janet untuk berkomunikasi. Bahkan terang-terangan dia bilang mau menyakiti Lorraine. Lorraine ga peduli karena dia yakin Ed ga akan jatuh kepelukkan Valak. Lagipula Valak bukan tipe Ed banget. Dandanan Valak itu kalo pake bedak keputihan dan pake eyeshadow model mata rakun. Emang sih tahun 70an belum ada youtube jadi Valak ga bisa belajar tutorial makeup dari para beauty vlogger. Tapi kan dia bisa lihat referensi dari majalah atau TV gitu. Beda banget sama Lorraine yang manis dan anggun.


Walau The Conjuring 2 ini film drama cinta segitiga, tapi ketegangan yang Kokoh James Wan ciptakan sangat intense, berhasil bikin jantung cenat-cenut dan malamnya susah tidur. Mungkin kalau bukan Kokoh James Wan yang direct The Conjuring, hasilnya ga akan sebagus ini karena Kokoh menambahkan treatment horor Asia. Walau Kokoh sudah nge-direct Fast and Farious, di The Conjuring 2 Kokoh ingin bertutur secara Slow and Curious. Bagiku, The Conjuring 2 is just perfect.



Wednesday, March 30, 2016

Selamat Hari Film Nasional

Pin dari HFN

Bulan Maret ini banyak sekali rangkaian acara untuk meramaikan bulan Film Nasional. Mulai dari  Viddsee Juree Indonesian 2016, Temu Komunitas di Baturaden, pemutaran film lawas yang sudah direstorasi oleh  Flik TV  sebulan full setiap weekend di Galeri Indonesia Kaya dan Kelas Inspirasi Sinema di sekolah-sekolah SMA Jakarta dan Bandung. Mungkin masih ada acara lainnya untuk memeriahkan bulan film nasional ini.

Saya melihat antusiasme masyarakat diacara-acara tersebut begitu besar. Memang sudah saatnya para pekerja film membaur dengan masyarakat agar mereka sadar akan eksistensi film Indonesia. Dan kegiatan-kegiatan workshop atau nonton bareng harus sering dilakukan. Lumayan banyak juga kok yang sudah mengadakan kegiatan ini. Dengan kegiatan ini kita bisa menemukan bibit-bibit baru pekerja film dan menemukan film dengan penontonnya. Perjuangan para pelaku industri film tidak hanya sekedar membuat film laku atau bagus. Tapi juga memikirkan bagaimana agar industri ini semakin diminati, semakin besar dan akan terus ada. Cukup sudah kita mengalami masa-masa kehausan akan film Indonesia diera 90'an.

Semoga sinergi ini akan terus ada tak hanya dibulan Maret. Karena ini bukan hanya sekedar film bagus atau laku, tapi ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya di industri film. Masih banyak PR yang perlu dikerjakan. Salam Sinema!


Friday, March 18, 2016

Peran Komunitas Film Bagi Industri Perfilman



Kemarin malam Saya menghadiri acara presentasi 6 perwakilan komunitas film Indonesia yang diadakan di Galeri Indonesia Kaya. Saya mendengar cerita perwakilan komunitas suka duka mereka yang terus bersemangat menyebarkan gairah menonton film Indonesia. Mereka ini lah yang berjasa mempertemukan film dengan penontonnya sampai ke pelosok desa. Keterbatasan dana dan minimnya kesadaran menonton masyarakat tidak menurutkan semangat mereka, tapi justru memacu mereka untuk semakin berusaha keras memunculkan budaya menonton film.

Saya pribadi menyadari peran besar para komunitas ini setelah Saya membuat film pendek. Antusias mereka untuk memutar dan menonton berbagai macam film sangat besar. Mungkin hal ini yang tidak kita temukan pada karakter penonton film di bioskop komersil. Sebagai pembuat film tentu ini menjadikan suntikan energi. Syukurnya komunitas film di Indonesia terus bertambah. 




Hal ini menjadi motivasi diadakannya Temu Komunitas Film Indonesia pada tanggal 25-27 Maret 2016 di Baturaden. Dimas Jayasrana sebagai pemprakarsa mempunyai program yang menurut Saya sangat visioner. Para anggota komunitas ini akan dibekali dengan ilmu filmmaking, tapi bukan hanya ditahap produksi, tapi juga sampai tahap distribusi. Karena hampir semua filmmaker muda sudah bisa menguasai teknis membuat film tapi belum banyak yang bisa mendistribusikan film. Saya amati pula selama ini anak-anak komunitas yang sebagian besar adalah generasi Z, mereka memang perlu diasah untuk managerial skill. Karena tanpa adanya managerial skill, industri film hanya akan dipenuhi oleh orang-orang yang hanya pandai secara teknis. Sedangkan untuk memajukan industri film di Indonesia, film harus dijadikan suatu investasi jadi tidak hanya dipandang sebagai karya seni.

Sayapun sudah cukup sering mengatakan kepada para pelaku industri yang lebih senior untuk melibatkan para komunitas film dalam kegiatan produksi film. Karena support komunitas sangat luar biasa. Tanpa mereka tidak akan ada yang menyebarkan semangat menonton film Indonesia. Jika kita perhatikan lagi, sebagian besar penikmat film Indonesia adalah anak-anak muda. Dan tugas para komunitas film tak hanya sekedar mengadakan pemutaran film tapi juga mengadakan diskusi film. Dengan adanya diskusi film tentunya akan menambah pengetahuan anak-anak muda itu tentang perfilman dan diharapkan mereka ini adalah generasi yang sudah memiliki kesadaran akan budaya nonton film.

Eksistensi komunitas film ini harus terus dipelihara agar para pelaku industri dan masyarakat bisa bersinergi untuk memajukan perfilman Indonesia.


Tuesday, March 15, 2016

5 Bioskop Alternatif Seru Di Jakarta

Foto Kineforum waktu pemutaran Another Trip To The Moon

Saat ini sudah ada banyak sekali ruang sinema untuk menonton film-film anti mainstream. Kesempatan yang semakin mudah dijangkau untuk bisa menikmati beragam film mulai dari art house, film yang tidak tayang dibioskop komersil sampai film yang ditayangkan ulang. Ruang sinema alternatif ini juga bisa dijadikan ajang diskusi antara pembuat film dan penikmat filmnya. Karena ruang yang tidak terlalu besar akan menimbulkan kesan lebih akrab. Berkat bioskop alternatif ini industri film di Indonesia semakin dinamis karena didalamnya ada penikmat dan pendukung perfilman Indonesia. Di Jakarta ada banyak sekali bioskop alternatif yang program filmnya seru-seru. Berikut 5 diantaranya.

1. Kineforum
 Kineforum adalah bioskop alternatif favorit Saya. Ruangnya seperti mini theater of 21 group. Ya, Kineforum adalah hibah dari 21 group untuk komunitas perfilman Indonesia. Bioskop alternatif yang terletak di TIM ini memiliki kapasitas 40 kursi. Kenyamanan dan kualitasnya sama seperti di bioskop komersil.

2. Galeri Indonesia Kaya
 Galeri Indonesia Kaya adalah ruang conference hibah dari Djarum Foundation. GIK terletak di West Mall lantai 8 Grand Indonesia dan berkapasitas 100 orang. Selain untuk pemutaran film, ruang ini juga sering dipakai untuk pertunjukan seni atau ruang diskusi. GIK memiliki screen dan sound system yang cukup bagus. Untuk tempat duduknya dibuat melingkar dan berundak seperti ruang pementasan teater.

3. At America
 At America terletak di lantai 3 Pacific Place. Tapi untuk masuk kesini kita harus melalui pemeriksaan yang ketat. Mirip GIK, hanya saja At America didominasi warna hijau. Disini sering diadakan diskusi, workshop, music performance dan pemutaran film. Diluar ruang conference ada beberapa tempat duduk yang bisa dipakai untuk baca buku atau browsing. At America adalah pusat informasi tentang Amerika.

4. Paviliun 28
 Paviliun 28 terletak di jalan Petogogan, Jakarta Selatan. Biasa anak tongkrongan menyebutnya Pav 28. Pav 28 adalah kafe berkonsep culinary cinema. Pav 28 bersebrangan dengan kafe Suwe Ora Jamu yang terkenal dengan minuman jamunya. Di Pav 28 kita juga bisa minum jamu kok. Screening room di Pav 28 tidak terlalu besar. Kapasitasnya cukup untuk 30 orang. Tapi sayang sekali kualitas sound systemnya kurang bagus. Paviliun 28 adalah salah satu ruang sinema alternatif yang memiliki banyak program. Salah satunya adalah Sinema Rabu dan Inafed (Indonesian Film Editor) juga rutin bikin screening disini.

5. Kinosaurus
Kinosaurus terletak di belakang Aksara Kemang. Kinosaurus baru beroperasi akhir tahun 2015. Untuk screening roomnya sendiri tidak besar. Karena space ini dibagi juga untuk kedai kopi Ruang Seduh dan Ganara Art Space. Program-program film di Kinosaurus sangat beragam. Dan biasanya pemutaran film diadakan diatas jam 5 sore. Disiang atau sore hari, tempat ini sering diadakan untuk diskusi.

Selain itu, ada beberapa Kedutaan besar di Jakarta yang juga rutin mengadakan pemutaran film di screening room mereka. IFI Jakarta memiliki screening room terbaik saat ini. Tempat duduk yang sangat nyaman, kualitas audio visualnya juga sangat bagus. Di Goethe Institute juga rutin mengadakan pemutaran film yang kebanyakan film Jerman.

Itulah beberapa tempat seru untuk nonton film. Enaknya nonton film di bioskop alternatif adalah kita bisa bertemu dengan para pecinta film dan ngobrol seru bareng mereka. Dan di bioskop alternatif kita bisa bertemu langsung dengan para filmmaker jika ada program diskusi setelah pemutaran film. Dengan menonton film yang beragam, kita bisa mempelajari banyak hal karena film adalah salah satu sarana pembelajaran.


Tuesday, December 1, 2015

Tentang Perfilman Indonesia

tentangperfilamindonesia
Add caption


Jumlah film submission di 21 Cineplex sebagai exibitor terbesar di Indonesia sudah terlalu banyak. Dalam 1 tahun mereka menerima 300 film yang minta tanggal penayangan. Karena keadaan ini waktu penayangan film Indonesia sangat singkat. Sudah saatnya sebuah film tidak ditayangkan serentak sekaligus seluruh Indonesia. Ada 4 judul film Indonesia baru setiap minggunya. Pembagian daerah untuk waktu tayang harus dilakukan. Itu cara agar waktu penayangan bisa stabil dan bisa lebih bertahan lama. Dibandingkan jika ditayangkan serentak, mungkin saat minggu berganti, film itu sudah tidak bisa dinikmati.


Kita tidak bisa menyalahkan film Hollywood. Karena pada kenyataannya memang mereka mampu menciptakan sesuatu yang menarik. Secara teknologi mereka nomor wahid. Dan saat proses awal pembuatannya memang sudah dirancang dengan sangat baik, hal yang jarang dilakukan oleh produser film lokal. Pembuatan film sudah seharusnya memiliki tahap development sebelum masuk ke tahap pre-produksi. Development ini mulai ditentukan proses kreatif dan bisnis plan.


Film Indonesia perlu dibuat pemetaan. Yaitu, Film Indonesia untuk pasar international, film Indonesia untuk pasar Indonesia dan Arthouse Film. Jika ini dilakukan, maka industri perfilman akan semakin dinamis. Kita tak hanya membuat film komersil tapi juga film art. Berdasarkan pembagian tersebut, maka exibitor (bioskop) juga harus memetakan cabang bioskopnya lebih cocok untuk pasar yang mana. Cara ini sangat efektif sehingga produser, bioskop dan penonton sama-sama senang. Bagaimana dengan exibitor lainnya seperti CGV Blitz dan Cinemaxx? Mengapa mereka tidak membuat slot penayangan sendiri untuk film Indonesia? Selama ini penayangan film Indonesia mengikuti penayangan di 21. Sistem pembayaran dari bioskop-bioskop masih sangat manual. Alangkah baiknya juga dibuat sistem input dari tiketing yang langsung terhubung ke pusat seperti sistem perbankan. Dengan begitu data penjualan tiket akan lebih akurat. Dan setiap produser diberi semacam keypad untuk bisa mengakses langsung dan mengetahui berapa total penjualan tiket filmnya.


Pembangunan bioskop-bioskop sudah harus masuk ke kota-kota kecil. Karena saat ini bioskop menumpuk di kota-kota besar. Sudah saatnya kita bisa menggandeng investor untuk membuat bioskop. Pemda juga harusnya mempunyai bioskop rakyat seperti yang sudah dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta. Sehingga semua lapisan golongan masyarakat memiliki kesempatan untuk menonton film layar lebar dan untuk pelaku industri hal ini sangat bagus untuk mendistribusikan karya mereka ke berbagai pelosok.



Industri film di Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Tak jarang beberapa kru mendapat panggilan job diluar negeri. Skill filmmaker Indonesia sudah diakui oleh dunia international. Namun sayang sekali di Indonesia masih ada gap kru. Mereka terpecah menjadi kru film, kru iklan, kru sinetron, kru FTV dan kru video klip. Kru film dan iklan pun dipecah lagi menjadi kru kelas A-B dan kru kelas C-D. Seharusnya ada suatu wadah yang menyatukan mereka sehingga akan terjadi harmonisasi dan tidak ada gap skill. Semua kru berhak mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas karya mereka.


Industri perfilman kita jauh lebih besar dari pada Malaysia dan Singapura. Tetapi equipment yang mereka punya lebih memadai dari yang kita punya. Seringkali kita harus sewa dari luar negeri jika kita perlu kamera phantom atau lensa zoom. Jika ada team film luar negeri syuting di Indonesia terkadang kita dibuat kelabakan karena terbatasnya equipment disini. Terlebih jika dari Amerika, mereka terbiasa memakai merk-merk tertentu. Sedangkan equipment di Indonesia kebanyakan merk dari Jerman dan dibeli dengan kondisi bekas. Disini belum ada penyewaan grip dengan sistem paket. Di luar negeri mereka biasa dengan paket 1 Ton, 2 Ton dst. Jika ada, ini akan sangat mempermudah sistem penyewaan tak perlu lagi harus pesan satu persatu.


Kebutuhan akan studio juga perlu diperhatikan. Studio besar hanya ada di Batam. Di Jakarta ukurannya termasuk tanggung dan pasti sudah di booking penuh oleh stasiun tv. Industri film terpusat di Jakarta, tetapi harga tanah di Jakarta sangat mahal. Kebutuhan akan studio akan semakin tinggi diikuti dengan pesatnya perkembangan animasi di Indonesia. Indonesia belum memiliki green screen studio yang proper.


Era digital juga sangat mempengaruhi perkembangan industri film. Saat ini semua film sudah syuting dengan kamera digital. Bahkan diluar negeri mereka sudah mulai syuting dengan format 8K. Di Indonesia kita cukup puas dengan syuting format 4K karena kendala di post production. Di Indonesia baru ada 1 post production yang bisa langsung mengerjakan RAW file 4K.  Jadi walau sudah syuting dengan format 4K, untuk pengerjaan post production file film harus di downgrade dulu ke 2K. Tentu ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi pemilik post production karena teknologi terus meningkat. Bahkan untuk syuting iklan di Indonesia, format 5K dan 6K sudah banyak digunakan.


Studio suara juga sangat penting. Suara berfungsi untuk memainkan emosi saat kita menonton film. Di Indonesia belum ada sound studio yang berlisensi dolby. Karena untuk mendapatkan license tersebut banyak persyaratan yang harus dipenuhi terutama besarnya studio dan harganya cukup mahal. Sistem suara dolby sangat dibutuhkan film-film Indonesia sebagai persyaratan untuk screening di festival-festival film International dan pasar film International. Saat ini jika ingin membuat sistem suara dolby, kita harus pergi ke Bangkok.


Industri film dan fasilitasnya hanya terpusat di Jakarta. Padahal Yogya, Bali dan Makasar adalah kota-kota yang sangat potensial untuk membangun industri film. Banyak filmmaker-filmmaker hebat berasal dari kota-kota tersebut. Di Yogya tidak ada RED kamera. Padahal ini adalah salah satu kamera yang paling sering digunakan untuk pembuatan film profesional. Equipment dan post production studio pun tidak memadai. Para penyewa alat-alat syuting hanya seperti menjalankan bisnis rumahan. Sudah saatnya kota Yogya dibangun sebagai pusat industri film setelah Jakarta. Karena sumber daya manusia disana sangat bagus. Banyak pekerja film di Yogya yang film-filmnya langganan masuk festival film international. Jika ini dijalankan maka pemerataan kesejahteraan ekonomi kreatif akan merata di kota-kota besar di Indonesia, tak hanya Jakarta.


Untuk membangun industri film yang sehat sehingga tercipta profesionalisme dan terus menghasilkan karya berkualitas diperlukan standarisasi industri. Standard-standard itu antara lain: Standard jam kerja, Standard upah pekerja film, Standard teknis untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan Standard harga sehingga tak ada penekanan harga bagi penyedia jasa rental. Jika standard-standard itu dibuat maka pekerja film akan menjadi mandiri secara ekonomi.



Bagaimana untuk memasarkan film-film Indonesia ke pasar Internasional? Perfilman Indonesia perlu Agen Film. Agen film ini akan mencarikan distributor-distributor diseluruh negara. Untuk setiap teritori, regulasi dan sensorship akan berbeda. Inilah tugas Agen film, mempertemukan pembuat film dan penjual film. Inilah sistem yang benar. Sehingga keberhasilan sebuah film tidak hanya dinikmati oleh satu pihak. Bisnis film bisa dinikmati oleh banyak pihak. Perlu adanya inisiatif dari pihak swasta untuk menjadi Agen Film.


Hubungan bilateral antar negara juga perlu dijalankan. Dengan adanya hubungan bilateral, bisa saja terbentuk pertukaran distribusi film. Workshop juga perlu diadakan sebagai sarana pertukaran ilmu dan pengalaman antar negara. Kita dapat membahas film dari hal teknis sampai bisnis oleh para expertise-expertise.


Dan ini adalah tugas besar pemerintah dan kita semua. Untuk membangun budaya nonton film, diperlukan pula perbaikan ekonomi nasional. Karena menonton film saat ini bukan menjadi kebutuhan utama. Kita memiliki lebih dari 200 juta penduduk. Tapi yang mampu dan memiliki kesempatan untuk nonton film mungkin hanya 20 juta jiwa. Industri film merupakan potensi ekonomi kreatif yang besar bagi Indonesia, baik berdampak langsung maupun tidak langsung. Jika sistem industri film berjalan dengan baik, maka akan tercipta lapangan pekerjaan yang baru.

Saturday, January 3, 2015

Rajkumar Hirani

Pada suatu sore teman Saya salah satu penulis film Indonesia, Kang Deddy, mengajak nonton. Pilihan film jatuh pada PK. PK adalah film India yang diperankan oleh Amir Khan. Di Jakarta film ini hanya diputar di Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan Gading XXI. Sejak hari itu Saya jatuh cinta dengan Rajkumar Hirani, sang sutradara dan penulisnya. Setelah itu beberapa hari kemudian Saya cari dvd 3 Idiots. Lagi-lagi Saya suka. Rajkumar Hirani berhasil membuat Saya senang. Karena dia membuat film-film yang sangat bagus. Rajkumar memiliki kemampuan storytelling yang sangat kuat. Saya harus mendapatkan dvd film-film beliau lainnya.


Rajkumar Hirani mengangkat isu-isu sosial. Dalam film 3 Idiots tema yang disinggung adalah soal pendidikan dan PK tentang agama. Dalam film 3 Idiots kita disuguhkan dengan kenyataan sistem pendidikan di India yang hampir mirip dengan negara kita. Beberapa hal yang disinggung diantaranya sistem pengajaran yang text book. Seorang murid baru dikatakan excelent  jika dapat menjabarkan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dalam buku. Pendapat lain tidak diterima walau memiliki maksud yang sama. Selain itu adanya kenyataan bahwa banyak orang belajar hanya untuk mendapatkan gelar. Padahal studi yang diambil belum tentu sesuai dengan minat dan kemampuannya. Atau lebih parah sebenanrnya dia tidak benar-benar belajar.  Ditambah lagi banyak orang mengambil pilihan studi karena keinginan dari orang tua, bukan dari diri sendiri.


Dalam film PK, Rajkumar mengangkat isu agama. Tapi dikemas dengan cerita komedi. Sangat cerdas. Kita dapat menarik pelajaran apa esensi dari beragama itu. Sesungguhnya rasa spiritual jauh lebih penting daripada rasa religius. Karena terkadang religius merupakan label. Spiritual penjabarannya lebih luas. Tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Dan saat menonton film PK, seakan ada sedikit tamparan. Dalam setiap agama pasti ada “Orang Gila” yang hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi mengatasnamakan Tuhan. Seakan mereka adalah malaikat yang dikirim Tuhan. Bagi mereka halal untuk melakukan kekerasan asalkan memakai nama Tuhan.



Penulis yang bagus pastinya mereka memiliki tingkat spiritual yang tinggi dan pengalaman hidup yang banyak. Seperti itulah Rajkumar Hirani. Seperti mantra “All is Well” yang disisipkan dalam film 3 Idiots. Rajkumar selalu menciptakan karakter-karakter yang begitu kuat dan selalu diberikan penjelasan dalam filmnya. Sebab musabab juga dijelaskan dengan cara yang sangat rapi dan tetap menarik. Tapi yang paling menonjol dari karya Rajkumar adalah dialog-dialog yang begitu cerdas.


Sunday, December 14, 2014

Kreatifitas Tak Terbatas Pada Keadaan Yang Terbatas

Filmmaker Indonesia terbiasa dengan proyek film dengan budget yang tak terlalu besar, terutama para filmmaker indie yang cenderung membuat film dengan budget yang sangat kecil. Sebenarnya keadaan inilah yang merangsang kreatifitas para filmmaker bagaimana meramu keterbatasan itu menjadi sesuatu yang bagus.  Bulan ini Saya menonton film 7 hari 24 Jam dan The Sun, The Moon 
and The Hurricane.

Dalam film 7 Hari 24 Jam, budget bukanlah kendala untuk perusahaan sebesar MNC pictures. Tapi Saya suka kreatifitas penulisnya, Nataya, yang mampu memperluas cerita dengan setting dan aktor yang tak banyak. Film ini 80% setting nya berada di ruang rawat rumah sakit. Tapi penonton tak dibuat bosan. Ada saja hal-hal menarik yang tercipta.


Poster film 7/24

Lalu film The Sun, The Moon and The Hurricane. Film indie yang sempat screening dan sutradaranya menjadi nominasi untuk The Best Director untuk Vancouver Film Festival ini diproduksi dengan budget yang sangat minim. Tapi Andri Cung, sebagai penulis dan sutradaranya, mampu menyelesaikan filmnya dengan sangat baik. Terasa sentuhan hati saat menontonnya.


Poster film The Sun, The Moon and The Hurricane

Film minimalis seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi pembuatnya. Lihat saja Carnage by Roman Polanski dan Some Velvet Morning by Neil LaBute. Mereka mampu menyajikan film yang brilliant. Skenario yang kuat dan tidak membuat bosan walau pemain dan latar tempatnya itu-itu saja.  Untuk membuat suatu film yang bagus tak melulu harus dengan budget yang fantastis



Sunday, July 13, 2014

New Hollywood Darling

Ada beberapa aktris baru yang siap meramaikan perfilman Hollywood. Pada umumnya karir mereka bermula dari film-film Indie yang tayang di festival international. Contohnya Jennifer Lawrence. Peraih Oscar 2013 for the best actrees tersebut, pertama kali Saya lihat di film Like Crazy (2011) besutan sutradara Drake Doremus. JenLaw pada waktu itu hanya mendapatkan peran kecil dan sangat minim dialog. Pada umumnya aktris-aktris baru ini sangat berkarakter. Itu salah satu faktor mencuri perhatian para pelaku perfilman Hollywood. 

Dibawah ini beberapa aktris versi Saya yang akan menjadi New Darling Hollywood.

1. Emily Browning


Pertama kali Saya melihat akting aktris Australia ini di film Sleeping Beauty (2011). Dia sangat berani di film ini. Emily tampil tanpa busana sehelai benang pun. Kulit pucat menjadi ciri khasnya. Mengingatkan kita pada Mia Wasikowska. Lalu dia muncul pada film Summer In February (2013). Mungkin film komersil terbesarnya adalah Pompei. Sayang filmnya tidak laris.

2. Katie Chang

Tak dapat dipungkiri wajah-wajah Chinesse juga sedang diincar di industri Hollywood. Katie Chang pertama kali Saya lihat aktingnya dalam film The Bling Ring karya Sophia Copolla yang premier di Cannes tahun 2013. Lalu film dia selanjutnya A Birder's Guide To Everything. Menurut Saya akting dia tidak terlalu menonjol. Tapi dia memiliki wajah yang berkarakter. Harus memoles keahlian aktingnya lagi.

3. Felicity Jones


Dia menyabet award The Best Actrees di Sundance Film Festival tahun 2011 dalam film Like Crazy. Lalu ditahun 2013 dia bermain dalam film Breath In. Sepertinya dia aktris kesayangan Drake Doremus. Felicity sepertinya agak pilih-pilih peran. Film terbarunya adala The Invisible Woman. Akting Felicity memang bagus. Dia perlu agent agar mampu menjualnya sehingga bisa menyusul Jennifer Lawrence untuk mendapatkan Oscar.

4. Shailene Woodley


Shailene sedang berkibar karirnya. Pertama kali Saya lihat acting dia dalam film The Spectacular Now film indie karya James Ponsoldt. Lalu tak lama dia muncul di Divergent sebagai pemeran utama. Ditahun ini dia juga mendapatkan peran utama di film The Fault In Our Stars. Wajah yang cantik, akting memukau (dan agent yang pandai menjual) benar-benar perpaduan sempurna. Saya rasa dia yang karirnya paling cepat menanjak dibanding 3 aktris lainnya yang Saya sebut diatas.

Sunday, May 18, 2014

Europe On Screen 2014




Europe On Screen 2014 hadir pada tanggal 2-11 May 2014. Festival film yang menanyangkan film-film berkualitas dari Eropa sebanyak 71 film dari 28 negara Eropa. Kategori film-film tersebut adalah drama, dokumenter dan film anak-anak. Tidak hanya di Jakarta, Europe on Screen juga hadir di Aceh, Bali, Bandung, Makasar, Medan, Padang, Surabaya dan Yogyakarta.  Untuk di Jakarta lokasi pemutaran berada di Erasmus Huis, Goethe Institut, Institut Francais Indonesia, Istituto Italiano di Cultura, Universitas Tarumanegara, dan Taman Kodok.  Selain pemutaran film, Europe On Screen juga mengadakan forum terbuka dengan para fimmaker Eropa yang khusus di undang untuk menjadi pembicara. Seluruh pemutaran dan forum diskusi ini gratis.

Ada pula Short Film Competition yang diadakan oleh Europe On Screen.  Dari 152 pendaftar, dipilih 10 finalis.

Dihari terakhir festival Saya menyempatkan diri untuk datang. Saya tidak ingin melewatkan film-film bermutu yang beberapa menjadi watchlist Saya. Hari itu Saya ingin menonton Ernest and Celestine dan Wadja. Kedua film ini diputar di Goethe Institute. Saya datang pukul 11:00 langsung mengambil tiket untuk pemutaran Ernest and Celestine pukul 12:00.

Tepat pukul 12:00 pintu ruang pemutaran dibuka. Cukup banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka menonton film ini. Baik WNI maupun WNA. Menandakan antusiasme masyarakat bagus sekali atas Europe On Screen.  Ernest and Celestine adalah film dari Prancis karya Stephane Aubier, Vincent Patar, dan Benyamin Renner. 


Film ini menjadi salah satu nominasi untuk The Best Animated Feature untuk Oscar 2014. Ernest and Celestine menceritakan tentang persahabatan seekor tikus yatim piatu bernama Celestine dengan seekor beruang penyair bernama Ernest. Untuk dapat tetap bersama mereka harus menghadapi tentangan dari kubu tikus dan kubu beruang yang menganggap mereka melanggar kodrat.  Ernest and Celestine adalah kartun 2 dimensi. Film ini sangat menghibur. Tingkah laku Ernest dan Celestine selalu mengundang tawa. Selain ini film ini juga meninggalkan pesan untuk anak-anak, bahwa dalam hidup kita harus saling tolong menolong seperti sifat Ernest dan Celestine.


Selesai dihibur oleh Ernest and Celestine, Saya segera antri untuk film selanjutanya, Wadja. 


Wadja adalah film Jerman karya sutradara wanita Haifaa Al-Mansour. Wadja seorang gadis kecil tomboy yang tinggal di pinggir kota Riyadh. Karena sifatnya ini sangat bertolak belakang dengan budaya arab yang mengharuskan seorang wanita berperilaku hati-hati dan harus bersikap layaknya wanita pada umumnya, Wadja sering dimarahi oleh guru-guru di sekolahnya. Wadja sangat ingin memiliki sepeda. Tetapi ibunya yang cantik jelita tidak mau membelikan lantaran ada larangan wanita mengendarai sepeda karena sepeda itu mainan laki-laki.
Haifaa Al-Mansour tidak fokus menceritakan konflik ini seperti layaknya film-film anak dari Timur Tengah, antara lain Children From Heaven dan The Kite Runner. Wadja lebih menerangkan tentang posisi wanita di Timur Tengah. Mereka harus  berpakaian tertutup, harus menjaga sikap dengan lawan jenis dan kita bisa melihat betapa puitisnya orang-orang Arab. Karakter favorit Saya lainnya adalah Ibunya Wadja. Dia begitu tegar dan suka cita walaupun suaminya sedang dijodohkan dengan orang tuanya karena di Arab dalam keluarga harus memiliki anak laki-laki. Ibunya Wadja tidak dapat punya anak lagi karena kelainan pada rahimnya saat mengandung Wadja.
Sepanjang film ini penonton dibuat tertawa. Tingkah laku Wadja yang tomboi dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang karena dia ingin membeli sepeda. Dialog-dialognya pun lucu. Wadja ini film yang bagus sekali.

Senang sekali bisa menonton film-film yang berkualitas dan menghibur. Europe On Screen pastinya menjadi salah satu festival film yang ditunggu. Antusiasme masyarakat begitu besar. Saat Saya hendak pulang, antrian untuk film-film selanjutanya masih terus berlangsung. Sampai bertemu lagi di Europe On Screen tahun depan.

Tuesday, September 17, 2013

My Baby






Lama ga posting.Lagi super duber sibuk bolak-balik Jakarta-Yogya. Insya Allah mau bikin film pendek, bareng teman2 Pabrik Film. So, film ini ditulis dan diproduseri dan didanai oleh gue sendiri. Sutradara Padhu. Makanya lagi pusing2-nya cari uang. Rencananya film ini mau di submit Festival Film International. Buat pancingan juga semoga gue bisa merealisasikan anak-anak gue yang lain seperti "Cafe UrbaNista" dan "8 Weeks"

Mohon doa semoga projek ini lancar dan sukses. Sementara gue lagi mules cari uang dan mikir strategi selanjutnya. So far, gue suka banget kerja bareng Pabrik Film Yogyakarta. Makanya anak kami yang kecil ini harus jadi sesuatu untuk memberikan 'timbal balik' untuk team.