Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Saturday, January 18, 2020

[Review] Natur Hair Mask With Olive Oil & Vitamin E Untuk Rambut Diwarnai

naturhairmaskoliveoil

Kurang lebih sudah 2 tahun belakangan ini Saya mewarnai rambut. Warna yang Saya pilih masih tergolong warna natural, yaitu coklat. This is a right decision to elevate my look instead of stay with basic color. Untuk Saya penampilan adalah hal yang penting karena pekerjaaan Saya menuntut untuk bertemu banyak orang.

Bagaimana kondisi rambut Saya setelah diwarnai? Saat ini kondisi rambut Saya baik-baik saja. Tipe rambut Saya cenderung agak kering tapi agak licin. Jadi agak susah kalau mau di styling, perlu banyak hairspray dan jepitan.

Nah, buat yang mau mencoba mewarnai rambut, penting banget untuk memilih warna yang sesuai dengan kepribadian Kamu. Selain itu buat yang mau mewarnai rambut sendiri, pilih brand cat rambut yang bagus agar hasilnya juga bagus dan tidak merusak rambut. Jangan beli cat rambut karena harganya yang murah. Cat rambut itu warnanya permanen, jangan sampai Kamu menyesal karena salah memilih cat rambut.


Sunday, September 15, 2019

Produk Untuk Perawatan Rambut Diwarnai

perawatanrambutdiwarnai

Kurang lebih sudah 1 tahun lebih Saya mewarnai rambut. Awalnya sempat terbesit dipikiran kalau perawatan rambut diwarnai pasti bikin repot. Apalagi rambut Saya hampir setiap hari kena catokan. Sudah diwarnai, kena panas setiap hari juga, khawatir rambut akan kering kerontang dan bercabang. Ternyata perawatannya ga seribet yang dibayangkan. Saya hanya mengganti jenis shampo yang khusus rambut diwarnai. Berikut produk-produk yang Saya pakai untuk merawat rambut diwarnai. Dijamin rambut ga akan rusak


Sunday, March 3, 2019

Haul Dan Review Februari

reviewolayageprotect


Tahun ini goal Saya memang ingin lebih menikmati dan mencintai diri Saya lebih baik lagi. Sebagai langkah untuk mewujudkannya, Saya memutuskan untuk membeli sesuatu bukan karena murah, tapi karena bagus dan Saya suka.

Saturday, November 17, 2018

[Review] dan Haul Wardah Aloe Hydramild Face Wash

wardahaloest.ives


Kalau di postingan ini judulnya Haul dan Review, kali ini, dibalik. Kenapa dibalik? Karena sebenarnya cuma mau review si Wardah Aloe Hydramild face wash, tapi demi estetika gambar, si St.Ives ikutan difoto. Biar si Apricot ga ngiri sama si Lidah buaya, lebih efisien judulnya saja agak di modif dikit. Hehe

Saturday, September 29, 2018

[Haul] Dan Review Biokos 30's Vital Nutrition

bikos30'svitalnutrition


Sebenarnya Saya kurang cocok bikin judul Haul, karena Saya jarang sekali belanja produk-produk baru. Karena Saya orangnya hemat alias medit. Kali ini bikin judul haul karena kebetulan lagi coba produk baru yang belum Saya coba sebelumnya. Produk-produk itu adalah skincare dari Biokos, face scrub Himalaya, kuteks Beauty Story, Cologne Belia dan Biore Pore pack.

Saturday, July 14, 2018

Mewarnai Rambut Di rumah Dengan Revlon Colorsilk 46

Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown


Setiap 3 bulan, Saya selalu re-touch tampilan rambut. Biasanya standard banget hanya trim rambut. Berhubung sejak tahun lalu Saya sedang berambut bob pendek, jadinya re-touch 6 bulan. Terakhir potong rambut waktu liburan akhir tahun lalu. Jadinya sekarang bisa dikatakan rambut Saya masih cukup pendek untuk dipotong lagi. Tapi kan bosen juga yaaa masa gitu-gitu aja. Akhirnya Saya memutuskan untuk mewarnai rambut. 

Ini bukan pertama kalinya Saya mewarnai rambut. Pertama kali mewarnai rambut itu ditahun 2009, Saya masih ABG (19 jalan 20) hehe. Dulu diwarnai oleh teman Saya. Jadi ceritanya Saya lagi nginap dirumah dia dan dia iseng banget pengen ngewarnain rambut Saya yang saat itu masih virgin. Dulu diwarnai pakai Loreal, ga tau shade apa. Karena Saya tinggal terima jadi.


Pertama kali rambut diwarnai tahun 2009


Dari pengalaman terdahulu, sebenarnya warna itu kurang cocok untuk kulit Saya. Wajah Saya jadi terlihat agak kusam. Kali ini Saya memutuskan mewarnai dengan shade lebih gelap untuk hasil yang natural. Karena Saya lagi suka banget sama tampilan Princess Meghan Markle, Saya ingin warna rambut Saya seperti foto dibawah ini. Walau diwarnai, masih terlihat sangat natural. Sungguh lah Meghan Markle junjungankuw. Sampai-sampai Saya jadi ikutan suka tampilan no makeup makeup gara-gara Incesss ini. Yang biasanya Saya menghindari lipstick nude, sekarang jadi suka lipstick nude.

meghan markle red hair
Meghan Markle 

Lalu Saya pergi ke Watson PIM 2. Disana Watsonnya besar dan cukup lengkap. Berharap Saya menemukan banyak option untuk beli cat rambut. Akhirnya pilihan Saya jatuh ke Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown. Tadinya mau beli yang warna coklat, tapi kata embak-embaknya, karena rambut Saya hitam banget, lebih baik beli yang warnanya terang. Kalau beli warna gelap, hasilnya ga kelihatan. Menurut Saya sih warna ini sudah cukup terang karena ada tulisan mediumnya. Kalau pilih yang light, takut hasilnya jadi kayak anak kecil kebanyakan main layangan.

Saya langsung eksekusi begitu sampai di rumah. Isi boxnya Revlon Colorsilk ada cream developer, cairan pewarna, after color conditioner, sarung tangan dan petunjuk pemakaian. Saya ga pakai sisir semir karena lupa beli. Akhirnya Saya aplikasikan dengan tangan saja. Sebelumnya, Saya oleskan wajah, kuping dan leher dengan krim, supaya jika ada cat yang mengenai kulit, lebih mudah untuk dibilas. Saya bagi rambut menjadi beberapa bagian agar aplikasinya merata. Saya mulai dari rambut bagian bawah belakang kepala. Setiap selesai satu bagian, Saya sisir dengan sisir biasa untuk meratakan cream-nya. Setelah semua bagian selesai, diamkan min. 25 menit. Karena hitungannya rambut Saya masih virgin, Saya diamkan sampai 1 jam. Setelah itu bilas dan tak lupa pakai after color conditioner.

Hasilnya tak terlihat signifikan, malah masih hitam. Moon maap saudara sekalian, Saya ga ada foto after-nya. Dibawah ini foto 2 hari setelah pewarnaan. Saya pikir ini gagal. Dan berencana cat ulang setelah 3 bulan nanti.


2 hari setelah pewarnaan, outdoor


Saya masih penasaran, kenapa rambut Saya masih terkihat hitam, ternyata menurut beberapa review, cat rambut rumahan memang tidak memberikan hasil langsung. Tapi baru akan terlihat setelah 1 minggu sampai 1 bulan. Jadi mari kita lihat progress-nya.


Ini warna setelah 1 minggu pewarnaan. Sudah terlihat agak terang jika berada dibawah cahaya.


Oke, jadi ga gagal-gagal banget lah ya. Perlahan warnanya makin kelihatan. Memang sesuai klaim di box nya, "3D Color Technology For Natural Rich Color". Waktu di Watson pun Mbak-mbaknya bilang, biasanya warna akan terlihat dibawah cahaya, kalau didalam ruangan, ga akan terlalu kelihatan.


Benar saja, setelah 1 bulan, warna semakin terlihat. Walau jika diruangan dengan pencahayaan standard masih tidak terlalu kelihatan warna coklatnya.



Warna dibawah lampu dalam ruangan.


Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown


Mewarnai Rambut Sendiri



Warna didalam ruangan dengan pencahayaan standard




Warna diluar ruangan dengan cahaya matahari




Kesimpulannya Saya cukup puas dengan hasil Revlon Colorsilk ini. Produk ini juga membuat rambut Saya terlihat bercahaya. Yang Saya suka, sifat catnya yang mudah hilang jika mengenai kulit. Dan conditioner-nya wangi floral yang enak banget, bisa tahan 3 harian. Persoalan kenapa warnanya ga keluar mungkin karena developer cream-nya kurang kuat. Saya baru ingat, waktu dulu Saya cat rambut pertama kali, teman Saya mencampur cream developer yang lebih tinggi persentasenya. Karena Saya masih mau hasil yang lebih signifikan, Saya akan melakukan pewarnaan lagi dengan warna yang sama 3-6 bulan kedepan.

Baca juga : Perawatan Untuk Rambut Diwarnai

Untuk harga Revlon Colorsilk ini adalah Rp 75.000,-. Tapi berhubung dengan diskon di Watson waktu Saya beli in harganya jadi Rp 45.000,- jika disertai pembelanjaan minimal 50.000 selain produk. Kalau Saya lihat di Tokopedia sih lebih murah, bisa sekitar Rp 50.000,-. Kalau mau lihat warna lain bisa cek ke colorsilk.com

Ga usah takut rambut rusak setelah diwarnai. Lakukan masker rambut seminggu sekali untuk menjaga kesehatan rambut.


Sunday, November 12, 2017

[HAUL] Review Wardah Exclusive Liquid Foundation, Creme 21 dan Palm Olive

wardahexclusiveliquidfoundation

Biasanya kalau beuaty blogger kenamaan, bakal posting haul rutin setiap bulannya. Tapi Saya kan blogger yang orientasinya ga jelas, (sebenarnya malas aja sih), jadi boleh lah semua produk yang Saya beli dirangkum saja setelah beberapa bulan. Dan lagi pula Saya juga ga belanja beauty product banyak-banyak seperti kelen-kelen yang budget buat kecantikannya mungkin lebih besar dari Saya. *medit modeon*

1. Creme 21

Jadi beberapa bulan lalu Saya sempat bosan dengan natural beauty product. Saya lagi pengen sesuatu yang wangi. Sudah beberapa tahun ini Saya memakai EVOO atau VCO untuk skincare from head to toe. Saya sempat kembali ke krim kesayangan Saya dari kecil, Vaseline Petroleum Jelly. Setelah habisa sempat beli Viva skin food dan Nivea cream yang warna biru. Saya suka banget sama semua krim tersebut untuk hal melembabkan kulit. Tapi terlalu thick dan jadinya agak susah diblend. Akhirnya Saya ditawari Creme 21 oleh Mbak-mbak Century. Saya tanya, "Ini bisa buat muka dan badan kan?". Kata Mbaknya bisa. Kalau mau body lotionnya, juga ada. Tapi akhirnya Saya ambil Creme 21 ini.

Pemakaian pertama, Saya langsung jatuh cinta. Pertama, karena teksturnya sedikit lebih cair dari Nivea jadi lebih gampang diblend. Kedua, wanginya enak banget dan lembut. Kalau kalian pernah coba produk The Body Shop yang almond, Creme 21 ini wanginya mirip (dan jelas jauh lebih murah ;D). Ketiga, kemampuan untuk melembabkannya juara, tanpa harus berasa berminyak. Ini pembelian Saya yang kedua. Kali ini Saya pakai sebelum memakai foundation. Dan Saya sudah kembali ke EVOO untuk skin care harian Saya. Creme 21 ini versatile deh. Waktu beberapa waktu lalu location hunting dengan filmmaker dari Korea, Saya juga bawa krim ini. Jauh lebih simple daripada bawa-bawa botol minyak dan aplikasinya juga gampang. Secara waktu kerja sama team Korea, mereka cepat gerak banget. Kalau Saya harus pakai body oil, yang ada bisa ditinggal rombongan.


Teksture Creme 21






2. Wardah Exclusive Liquid Foundation

Saya lagi bosan pakai BB cream. Saya lagi pengen pakai foundation. Tapi takut hasilnya lenong banget karena agak susah nyari warnanya untuk kulit Saya. Kalaupun ada harganya pasti muahal. Dan Saya suka dengan tampilan makeup yang dewy. Selama ini Saya cocok dengan BB cream dari Revlon. Selain hasilnya dewy, warnanya juga mengikuti warna asli kulit Saya. Saya gugling dari para beauty blogger dan vlogger kenamaan tentang foundation dengan hasil dewy dan banyak yang merekomendasikan Wardah Exclusive Liquid Foundation. Akhirnya Saya coba ke counter Wardah. Kebetulan Saya suka dengan lipstick mereka, jadi Saya mau coba produk lainnya. 

Saya pilih warna natural no. 4. Begitu coba testernya, warnanya berhasil nge-blend dengan baik dengan kulit Saya. Walau keterangan dibotolnya foundation ini menghasilkan tampilan dewy, Saya masih merasa perlu menambah sedikit foundation untuk membuatnya nge-blend lebih baik lagi dan terlihat lebih 'basah' lagi. Akhirnya karena Saya sudah punya Creme 21 sebagai krim kesayangan, Saya beli foundation Wardah ini.


Wardah Exclusive Liquid Foundation Natural
Masih terlihat natural kan?

Ini hasil akhirnya. Benar-benar sempurna. Hasilnya bagus banget. Aku syukaaa foundation ini!

Beli Wardah Exclusive Liquid Foundation 04 disini

3. Palm Olive Shower Gel

Saya lagi kerajingan sesuatu yang wangi. Mungkin karena belakangan Saya suka merasa agak stress dan tegang, Saya perlu sesuatu untuk membuat Saya merasa tenang dan relax. Sampai-sampai Saya stock beberapa dupa untuk Saya bakar saat stress melanda.
Awalnya Saya pikir sabun Palm Olive ini cuma sekedar wangi. Ternyata Palm Olive ini juara banget untuk melembabkan kulit kering. Jadi dapat dua manfaat, wangi yang enak dan kulit yang lembut. Palm Olive wangi bisa tahan sekitar 2 jam-an dikulit setelah mandi dan yang paling seru, wangi sabun ini bisa merebak keseluruh ruangan. Lain kali Saya mau coba varian yang lain.

Beli Palm Olive Shower Gel disini

Ada produk rekomen ga dari kalian yang bisa aku coba? Share yuk!


Saturday, May 27, 2017

[Freebies] Wardah Intense Matte Lipstick & Lightening Foam

 I love May 2017 so far. Banyak banget hal-hal seru dan manis dibulan ini. I'm so grateful. Terima kasih Tuhan atas segalanya. Bulan ini lagi sibuk banget, meeting hampir setiap hari dan mesti curi-curi waktu untuk fokus duduk depan laptop dan mikir. Kantor Saya sedang fokus untuk membuat digital content. Saat ini kita masih pitching kesana kemari.

Akhir April lalu Saya diundang ke Resonation 2017, women conference pertama di Indonesia dengan menghadirkan Sophia Amoruso sebagai keynote speakersnya. Karena Saya undangan platinum, mereka kasih Saya goodie bag. Diantaranya yang bikin Saya sumringah, Saya dapat lipstick nya Wardah. Walau lagi ngincer yang warnanya nude kecoklatan, Saya cukup senang kok dapet yang warna Retro Red. Selain lipstick, Saya juga dapat sabun muka dari Wardah. Wah... Lumayan yaa... Ada bahan buat nge-review di blog. Hehehe.

1. Wardah Intense Matte Lipstick Retro Red

Untuk lipstick hari-hari, Saya memang sudah lama pakai lipsticknya Wardah. Karena koleksi warnanya yang cocok dengan skin tone dan harganya yang murah dengan kualitas yang bagus. Saya setiap hari pakai matte lipstick Wardah no. 16, Summer Pink. Nah, bedanya matte lipstick dengan yang Saya punya dan yang baru ini apa? Kalau matte lipstick Wardah, teksturnya ga 100% matte, tapi lebih ke creamy. Sedangkan Intense Matte ini totally matte.

Wardah Intense Matte ini kemasannya bulat kecil. Mengingatkan Saya sama lipstick Mirabella. Sayang sekali bentuknya kurang kokoh, bahkan lipstick Saya sudah patah bagian atasnya. Tekstur lipstick ini lembut saat dipulas dibibir. Walau totally matte, lipstick ini ga bikin bibir Saya retak-retak setelah pemakain beberapa jam, tidak seperti saat Saya pakai lipstick lipcream dari Anastasia Beverly Hills. Memang sepertinya Saya kurang cocok pake lipcream. Retro Red ini shade nya cocok banget di skintone Saya. Merahnya ada hint kecoklatan. Dan si Retro Red ini jadi lipstick kesayangan Saya sekarang, apalagi kalau mau keluar rumah sebentar dan lagi males dandan, udah bisa bikin muka kelihatan fresh. Kebetulan Saya udah bosan dengan lipstick merah Saya yang MAC Cremesheen Brave Red. Untuk lipstick merah, Saya lebih cocok pakai yang matte dibanding yang creamy karena bibir Saya sudah tebal.





2. Wardah Lightening Creamy Foam

 

Ini adalah pertama kalinya Saya coba produk Wardah selain make up. Dan... Lagi-lagi Saya jatuh cinta. Sabun muka Wardah ini lembut banget di muka, ga seperti sabun lainnya yang bikin kulit terasa kayak ketarik setelah cuci muka. Selain itu, kemampuan membersihkannya hebat banget. Saya coba untuk cuci muka dengan wajah full make up, setelah itu Saya coba bersihkan dengan Pond's shake and clear, sama sekali ga ada sisa make up. Tapi sabun ini ga bisa membersihkan makeup yang waterproof seperti maskara. Lumayan banget buat ngirit kapas dan cleanser. Hehehehe. 

Tekstur sabun dan busanya lembut creamy gitu dan wanginya lembut menenangkan. Bikin betah sambil mijit-mijit muka. Jempol banget deh untuk Wardah.


Kalau kalian, apa produk favorit dari Wardah? Share yuk disini :)

Friday, April 14, 2017

[Review] Lipstick Matte Anastasia Beverly Hills Dolce




 Teman Saya, Chevy, lagi ada di Indonesia bulan ini. Dia bawain Saya oleh-oleh diantaranya lipstick Anastasia Beverly Hills. Brand ini jarang ada di Indonesia, tahu gitu nitip banyak trus dijualin lagi ya. Hehehehe. Saya waktu itu memang request untuk warna nude. Karena Saya lagi bosan pakai lipstick dengan nuansa pink. Belakangan Saya memang lagi agak males dandan. Kadang cuma pake pelembab dan lipstick kalau mau keluar rumah. Saya juga lagi tergila-gila dengan no makeup make up. Pengen lebih natural aja sih.

Lipstick Anastasia Beverly Hills ini bentuknya lipcream dan ini pertama kalinya Saya  pakai lipcream. Agak-agak katro sih. Soalnya kalau salah pulas, bibir malah kelihatan jontor banget. Jatuhnya jadi ga seksi kayak Kendal Jenner. Apalagi bibir Saya memang tebal. Akhirnya Saya belajar cara pakai lipcream supaya tangan lebih luwes saat memulasnya ke bibir. Jadi kuasnya Saya peperkan dulu di leher botolnya supaya lipstick yang terambil lebih sedikit, jadi lebih gampang dipulas dibibir. Lipcream Anastasia Beverly Hills lumayan cepat kering. Dan untungnya lipcream ini sekali pulas sudah langsung bisa menutup warna asli bibir. Jadi lipstick ini cocok buat orang yang bibirnya gelap seperti Saya.

Untuk warnanya gimana? Karena pigmented banget, lipstick Anastasia Beverly Hills ga akan nyampur warnanya dengan warna bibir. Dan untuk shade Dolce ini, warnanya lebih ke coral. Kalau kalian kulitnya putih, jatuhnya masih bisa nude. Tapi kalau di Saya yang berkulit olive, warnanya jadi agak pink walau masih natural jatuhnya. Ini perbandingannya dengan warna-warna lipstick Saya.



 Tapi Saya sepertinya kurang cocok pakai lipstick matte seperti ini. Karena bibir Saya teksturnya banyak garis-garis halus. Jadi terkadang setelah beberapa jam lipsticknya seperti terlihat retak. Padahal Saya sudah pakai lipbalm. Dan karena matte, kalau mau touch up, harus dihapus sempurna dulu lipsticknya. Ga bisa langsung timpa. Anastasia Beverly Hills ga bikin bibir kering. Staying power nya lumayan tapi kalau makan makanan berminyak bisa langsung hilang. Harga lipstick Anastasia Beverly Hills ini $20.


Saya suka sih sama lipstick ini. Walau warnanya ga beda jauh sama lipstick-lipstick Saya yang lain. Saya sebenarnya pengen lipstick yang agak berwarna coklat dengan sedikit pink. Saya pernah coba Wardah Lipcream no. 11 dan cocok warnanya dengan kulit Saya. Warna nude tapi ga bikin kelihatan kayak lagi sakit. Mungkin lain waktu Saya mau beli Wardah lipcream no. 11


Tuesday, March 28, 2017

Vitamin Herbal Untuk Menigkatkan Daya Tahan Tubuh




Akhirnya udah agak chill nih setelah sebulan lebih fokus untuk webseries #PDKT . Jadi yaa... jangan dikira ngerjain webseries untuk konten Youtube doang, bakal gampang. Padahal ribetnya sama kayak ngerjain syutingan lain. Nanti Saya bakal cerita Behind The Scene webseries PDKT ya. Seru lah pokoknya. Ini aja masih deg-deggan gimana reaksi public terlebih temen-temen yang suka ngereview film. Setiap project pasti memiliki tantangan yang berbeda. Walau sudah berusaha sebaik mungkin kadang ada saja hal yang tidak bisa kita kontrol. Kuncinya satu, kudu pasrah. Hehehe.

Beberapa hari setelah syuting PDKT, Saya sempat sakit. Awalnya demam lumayan tinggi lanjut muntah-muntah. Padahal Saya harus selalu ready untuk urusan post production PDKT yang ga kalah ribetnya kayak waktu preps. Dan... Ini adalah sakit pertama Saya sejak 2014. Yess, Saya ga salah ketik. 2014 Saya kena DBD dan hampir die karena dehidrasi dan pendarahan akut. Makanya waktu sakit kemarin Saya sempat panik takut kena DBD lagi karena gejalanya kurang lebih sama. Tapi syukurlah... Sakit ini hanya karena virus. Sistem imun Saya cukup bagus. Flu aja Saya ga pernah walau cuaca kadang panas kadang hujan ditambah pressure kerjaan yang lagi menggila. Saya orang yang sangat peduli sama kesehatan. Tidak mau makan sembarangan, selalu menyempatkan olahraga paling tidak 1 minggu sekali adalah cara Saya menjaga kesehatan tubuh. Makanya sempat heran kenapa bisa sakit perasaan ga ada yang salah. Dugaan Saya sakit kemarin karena catering waktu syuting kurang higienis. Iya sih, waktu syuting Saya sempat bete sama kateringnya, perasaan budget kateringnya sudah mahal tapi kok rasa makanannya ya gitu deh. Janjinya ada buah tapi ini ga ada buah sama sekali.

Akhirnya setelah selesai pengobatan dari dokter, Saya langsung ke apotek beli vitamin untuk daya tahan tubuh. Saya tuh ga suka vitamin yang dipasaran sebenarnya. Karena pasti ada zat tambahan. Saya sukanya yang natural aja. Akhirnya sama Mbak-mbak Apoteker direkomen Stimuno Forte
Apa benar Stimuno ini dari bahan herbal? Review nya gimana? Saya ga mau langsung beli. Sayang aja kalo Saya ga suka trus akhirnya kebuang. Akhirnya nemu beberapa artikel di http://www.serbaherba.com/daya-tahan soal Stimuno ini. Lengkap dengan review nya. Akhirnya Saya beli deh karena reviewnya bagus-bagus.


Begitu sampai rumah, Saya baca lebih detail lagi komposisi Stimuno Forte ini. Stimuno Forte hanya mengandung ektrak Phylanthus niruri. Niruri ini berkhasiat untuk mencegah baju ginjal, hepatitis, flu dan TBC. Wow, multifungsi juga ya. Kalau diperhatikan dari foto ini, kelihatan banget daun Niruri yang sudah jadi bubuk. Yang Saya suka dari Stimuno Forte ini adalah bentuk kapsulnya yang kecil. Tidak seperti kapsul vitamin pada umumnya yang harus dipotek 2 dulu baru bisa ditelan.



Setelah selesai project PDKT ini, masih ada project lain yang menunggu untuk dieksekusi. Saya sudah kecolongan sekali kemarin karena sistem imunnya kurang mantab. Saya ga boleh lalai lagi menjaga kesehatan tubuh. Bayar dokter mahal, Sis. Untung kemarin cuma karena salah makan dan ga perlu dirawat. Saya harus lebih perhatikan lagi makanan yang masuk ke tubuh dan tak lupa minum Stimuno setiap hari. Btw, Saya mau ikutan challenge ah. Pokoknya tahun 2017 ini harus #sehat365hari. Supaya bisa lebih maksimal dalam berkarya. Ga ada lagi lah yang namanya filmmaker langganan sakit tipus. Masak setiap habis project trus sakit. Kapan kaya nya :p. 
 

Monday, December 12, 2016

[Review] Makarizo Fibertheraphy Shampoo & Vienna Body Scrub


Belakangan ini Saya lagi kurang merawat diri. Saya yang biasanya rajin bikin shampoo dari baking soda, tiba-tiba bosan saja. Lagi pengen yang praktis. Tapi rasa-rasanya Saya jadi agak ga tega kasih rambut dan kulit kepala Saya shampo-shampo komersial yang pasti sekarang banyak bahan kimianya. Mau beli yang organic, agak mahal. Soalnya lagi ngirit dulu nih 😂. Ya at least Saya mau beli shampo yang masih ada kandungan bahan alaminya. Akhirnya Saya iseng ke Ranch Market Dharmawangsa. Karena biasanya supermarket high class gini yang menjual produk-produk organic. Sempat mau ambil Petal Fresh, Organic care atau Ogx. Ketiga produk import tersebut diklaim bebas sls dan dibuat dari bahan alami. Tapi,,,, harganya.... Nggak dulu. Sebenarnya ga terlalu mahal sih, sekitar Rp 120.000,- untuk ukuran 300 - 400 ml.

Akhirnya pandangan Saya tertuju ke shampoo Makarizo Fibertheraphy. Ada beberapa varian. Tapi Saya pilih yang melon and aloe vera for hair fall ini. Harganya Rp 37.000,- untuk 330ml. Shampo ini memang mengandung SLS. Tapi kandungan bahan alami juga lumayan banyak, seperti ekstrak lidah buaya, beberapa seed oil, rice bran oil dan ekstrak melon. Saya suka wanginya yang segar, tapi tidak tahan lama dirambut. Selain itu walau mengandung SLS, busa shampo ini sedikit. Namun mampu membersihan minyak dengan sempurna. Karena setiap seminggu sekali Saya melakukan deep conditioning dengan EVOO.
Saya tidak terlalu merasakan hasil istimewa. Selain rambut yang jatuhnya agak bagus. Ga terlalu turun gitu. Karena Saya sudah terbiasa dengan produk yang busanya sedikit, Saya sih suka-suka aja.




Selesai milih shampoo, Saya pengen cari body scrub yang mengandung bahan alami. Di Ranch Market itu pilihannya ga sebanyak body scrub yang ada di Hypermart atau Carefure. Akhirnya Saya pilih Vienna Body Scrub yang harganya Rp 22.000,- untuk 250gram. Katanya sih scrub ini mengandung lumpur Laut Mati. Tapi Saya sih kurang yakin yah. Hehehehe... Mungkin dimasukkan bahan-bahan yang kandungan manfaatnya serupa dengan lumpur Laut Mati.



Kandungan alaminya antara lain bubuk biji apricot dan bubuk kulit kacang kenari. Butiran scrub Vienna ini pas tidak terlalu kasar atau halus. Dan yang paling Saya suka, wax nya sedikit jadi gampang dibaur ke kulit. Daki juga cepat terangkat tanpa harus menggosok terlalu lama. Kelamaan gosok-gosok dikamar mandi mah ga asyik, dingin dan bikin kisut. Hahaha. Wanginya juga seperti scrub mahal. Segar tapi ga terlalu fruity. Saya sih ngerasanya lipatan-lipatan kulit jadi lebih bersih dan cerah. Kalau efek putih, wah, itu bukan tujuan Saya beli scrub ini sih. Scrub itu fungsinya membantu merontokkan sel kulit mati.

Memang pampering body itu bikin mood meningkat drastis. Jadi merasa bersih dan segar. Ah,,, semoga Saya ga keterusan malas merawat diri. Kelihatan banget dekilnya kalo kurang perawatan. Apalagi pola makan Saya juga lagi kurang bagus. Olahraga juga lagi kurang. Makanya sekarang Saya suka paksakan untuk jogging disekitaran Dharmawangsa. Karena banyak pohon pasti kualitas udaranya juga bagus.


Friday, September 23, 2016

[Review] A Simple Life By Desi Anwar


Banyak cara untuk menikmati 'Me Time'. Beruntung Saya tinggal sendiri dan masih single jadi punya 'me time' yang lumayan banyak. Biasanya Saya menonton DVD atau membaca buku. Membaca buku bagi Saya memberikan nutrisi untuk otak. Hampir setiap hari sebelum tidur Saya menyempatkan diri untuk membaca buku walau sekedar 2 halaman. Dengan membaca, Saya mendapat inspirasi dan merasa lebih percaya diri jika berhadapan dengan orang lain karena merasa punya cukup pengetahuan sebagai bahan obrolan. Film dan buku adalah 2 hal yang tidak dipisahkan dari Saya. 

Tahun lalu Saya membeli buku "A Simple Life" yang ditulis oleh Desi Anwar. Judulnya yang sederhana, justru membuatnya paling menonjol diantara deretan buku-buku lainnya di toko buku. Kita mengenal Desi Anwar sebagai pembaca berita senior di Indonesia. Saya masih ingat ketika masih kecil, Desi Anwar setiap hari muncul di Seputar Indonesia. Mama Saya juga penggemar beliau karena pembawaanya yang cerdas. Bahkan Mama Saya pernah berpesan, "Nanti kalau sudah besar, Kamu harus pintar seperti dia yah, Nak". Karirnya dibidang jurnalis terus menanjak hingga hari ini dia bertahan di posisi puncak.


A Simple Life berisi 53 catatan tentang bagaimana menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Buku ini juga disisipi foto-foto karya Desi Anwar hasil dari perjalanannya keliling dunia. Saat membaca catatan pertama, Saya langsung hanyut karena rasa damai menyelimuti hati dan pikiran. Banyak sekali hal kecil dalam hidup kita yang dapat membuat hidup lebih bahagia. Seperti yang tertulis dibagian "Enjoy A Lie-In", sesekali kita berhak untuk bermalas-malasan ditempat tidur untuk mengisi kembali pikiran dan tenaga yang sudah bekerja keras untuk beberapa waktu. Nikmati waktu istirahat sampai tubuh berkata 'bangun'. Dijamin kita akan merasa lebih segar dari sebelumnya. 

Semua prinsip spiritual seperti Mindfulness dan Gratitude ada di buku ini. Dengan membaca A Simple Life dijamin akan membuat kita kembali menapak bumi setelah berinteraksi dengan hiruk pikuk kehidupan. Cara bertutur Desi Anwar begitu ringan membuat kesan tidak berjarak antara penulis dan pembaca. Walau hampir tidak ditemukan kalimat-kalimat ala pujangga, buku ini tetap berhasil membuat kita jatuh cinta. Salah satu bagian favorit Saya di bab "Carpe Diem". Desi bercerita tentang seorang temannya yang selalu menikmati  hari ini sehingga membuat dia lebih mudah mendapatkan apa yang diinginkan karena tidak pernah mengkhawatirkan masa depan.

Sampai hari ini Saya masih membaca-baca ulang A Simple Life. Saat Saya membutuhkan suntikan semangat baru, Saya langsung ambil buku ini dan membaca bab-bab nya secara acak. Buku ini mengajarkan kita untuk lebih mencintai diri sendiri, menikmati waktu yang ada dan lebih produktif dalam menjalani hari. Tulisan Desi Anwar bagaikan candu. Dia berhasil mentransfer energi positif kepada pembacanya. Hidupnya yang kaya akan pengalaman membuat tulisannya ditunggu orang banyak. Saya pun berniat untuk membeli buku-bukunya yang lain.


Thursday, September 8, 2016

Krim Untuk Kulit Sehat


 Sekali-kali pasang foto selfie untuk gambar pembuka. Sekalian mau pamer kulit sehat. Hehehe.... Itu Saya hanya pakai lipstick, tanpa bb cream atau bedak. Saya jarang upload foto selfie ke social media karena Saya lebih suka pamer soal buah pikiran Saya. Sekalinya upload foto selfie, banyak yang tanya ke Saya tentang perawatan untuk kulit karena menurut teman-teman kulit Saya terlihat sehat. Mereka selalu mengira Saya ikut perawatan ke derma atau pakai krim mahal. Ampun, Cyiiin.... Entahlah Saya masih merasa Sayang sediain budget untuk ke derma karena.... Mahal. Hahahaha!!! Dan Saya merasa belum perlu juga. Tapi kulit Saya ini bukan hasil perawatan instant. My mom did it. Yess.... Sudah dibiasakan dari kecil untuk pakai pelembab, minum air putih yang cukup dan perhatikan pola makan. Dan untungnya Saya tipe orang yang sangat memperhatikan penampilan. Jadi setiap harinya Saya selalu menyempatkan diri untuk perawatan.

Saya orangnya simple. Dan sebisa mungkin selalu beli produk yang bisa dipakai from head to toe. Memang beberapa tahun ini untuk pelembab kulit, Saya lebih suka pakai body oil. Tapi kan ga semua orang suka pake body oil dan ga mungkin juga kalo traveling bawa-bawa body oil karena takut tumpah-tumpah. Saya mau review 2 krim perawatan kulit favorit Saya.

1. Petroleoum Jelly


Nah.... Ini nih krim andalan aku dari kecil. Saya dari bayi sudah dipakein petroleum jelly. Setiap habis mandi, pake minyak telon trus dipakein petroleum jelly dari muka sampai badan. Dulu di Indonesia belum ada. Mama selalu nitip sama sepupu yang dulu tinggal di Amerika. Petroleum Jelly ada banyak merk nya. Untuk anak-anak biasanya tempatnya ada gambar sapi atau teddy bear. Baru setelah Saya SD, petroleum jelly masuk ke Indonesia. Dulu bisa didapat di Century dan hanya ada 1 merk, Vaseline. Sampai sekarang Saya selalu sedia petroleum jelly. Karena harganya murah dan bagus untuk kulit. 

Teksturnya thick. Tidak disarankan dipakai kalau cuaca sedang panas karena bikin kulit terasa agak lengket walau petroleum jelly sangat bisa melembabkan kulit. Aman ga untuk kulit wajah? Sangat aman. Tapi Saya hanya pakai diwajah untuk night cream, karena kalau siang kan Saya selalu makeup. Berat aja kalau petroleum jelly dipakai sebelum makeup. Jennifer Anniston saja pakai petroleum jelly untuk anti aging. 


2. Viva Skin Food



Saya pertama kali coba Viva Skin Food waktu SMP. Jadi dulu waktu masa penjajahan ikut Mak tiri, telapak kaki Saya jelek banget gara-gara kebanyakan mengerjakan pekerjaan rumah tapi ga dirawat kulitnya. Diam-diam Saya beli ini dan rutin setiap malam dipakaikan ke telapak kaki. Dalam seminggu kulit kaki Saya langsung sembuh bahkan kutu air ga terasa gatal. Baru sadar ternyata penyebab kutu air karena keringnya kulit kaki sehingga jamur betah nempel.

Lalu Saya coba pakai ke wajah. Wajah Saya jadi halus banget. Makanya setelah dewasa, Saya juga selalu sedia ini. Karena agak susah beli petroleum jelly, Saya harus nitip teman yang diluar negeri atau beli kalau lagi di Changi. Hahaha. Viva Skin Food gampang banget dicari dari Indomaret sampai Hypermart. Tekstur Viva skin food juga lebih 'ramah'. Kalau sedang cuaca panas banget, Saya pakai Viva Skin Food. Soalnya kalau pakai body oil berasa sumuk.

Invest on Healthy Skin

Tips tambahan. Kalau mau pakai pelembab, lebih enak dipakai setelah mandi tanpa handukan dulu. Karena bikin krim atau body oil gampang dibaurkan dan pemakaian juga lebih irit. Perawatan kulit tidak harus mahal. Yang penting konsisten. Lebih baik rawat dulu kulit sebelum menutupnya dengan makeup yang super tebal dan membuatmu terlihat seperti drag queen. Memiliki kulit sehat juga bisa meningkatkan percaya diri. Perempuan akan terlihat lebih menarik jika memiliki kulit yang sehat. Jangan terlalu terobsesi dengan kulit putih. Kulit gelap pun jika dirawat akan terlihat glowing dan cantik. Sebelum terlambat, rawat kulit sejak usia muda.


Saturday, August 6, 2016

Pale Pink Lipstick Hack


Rezeki itu bentuknya banyak banget. Salah satunya dikasih lipstick sama sahabat Saya, Chevy, yang lagi pulang ke Jakarta. Sahabat Saya ini sekarang tinggal di Los Angles karena ingin mengembangkan karir dan ikut suaminya di Amerika sana. Hari Kamis lalu kita makan siang di Remboelan PIM Street Gallery. Senang banget bisa kumpul-kumpul sambil kangen-kangenan. Kita sempat-sempatin ketemuan sebelum kita sibuk sama kerjaan yang sudah menanti dibulan ini. Nah Chevy kasih Saya oleh-oleh lipstick Make Up For Ever Rouge Artist Intense #51. Emang Chevy tuh seneng banget kasih Saya lipstick. Dia seperti supplier lipstick Saya. Langsung kepikiran untuk Saya review sekalian. Lumayan buat nambah-nambahin bahan postingan blog, kaan... Hihihi.

Pas coba MUFE Rouge Artist Intense #51 ini, Saya agak kecewa sama warnanya yang ga cocok untuk Saya. Karena kulit Saya yang berwarna olive dan bibir Saya yang gelap, ga cocok kalau pakai lipstick pale pink gini. Tapi masa lipsticknya mau dibuang atau dikasih orang? Sayang banget. Lagipula dari kecil Saya dibiasakan jangan buang-buang pemberian dari orang. Sebisa mungkin akan tetap Saya pakai karena Saya ingin menghormati dan berterima kasih pada pemberinya.




Tuh, kan. Saya kayak abis ciuman sama tembok. Jatuhnya jadi cenderung putih di bibir Saya. Saya aja serem ngeliatnya. Mungkin kalau untuk pemotretan atau pesta kostum, lipstick ini bisa dipakai. Memang sih MUFE Rouge Artist Intense #51 ini kurang cocok dipakai untuk warna kulit orang Indonesia. Lalu Saya bereksperimen dengan beberapa warna lipstick yang Saya punya. Yaiyalah! Boong banget hari gini cuma punya 1 lipstick :P. Pertama, Saya coba campurkan dengan lipstick Wardah Golden Coral. Hasilnya dibawah ini:


Saya suka sama hasilnya. Memang warnanya tetap nude. Tapi sedikit lebih pink. Dan cukup cocok untuk kulit Saya. Sebenarnya Saya kurang suka lipstick warna nude karena kelihatan kurang fresh. Makanya Saya suka gemas lihat lipsticknya Jlo yang hampir selalu pucat.

Eksperimen kedua, Saya coba campur MUFE ini dengan MAC Cremesheen Brave Red.



Hasilnya jadseperti ini:


Warnanya ga beda jauh sama warna asli Wardah Golden Coral, warna yang biasa Saya pakai untuk sehari-hari. Nothing special sih.

Jadi dari kedua eksperimen, favorite Saya adalah eksperimen dengan Wardah Golden Coral. Karena Saya sekali-kali ingin mencoba lipstick nude. Biar ga terlalu monoton saja karena Saya selalu memakai lipstick berwarna pink hangat. Yay! Jadi punya lipstick shade baru deh :))



Menurut Saya jika ingin memakai lipstick berwarna nude, baiknya dikombinasikan dengan riasan mata yang tegas. Bisa dengan permainan eyeliner atau riasan smokey eyes. Jadi wajah terlihat lebih hidup dan segar. Make Up For Ever Rouge Artist Intense ini warnanya memang sangat intense. Teksturnya creamy. Daya tahannya cukup lama dan tidak membuat bibir kering. Wanginya mengingatkan Saya pada lipstick jaman emak kita dulu. Rouge Artist Intense #51 ini juga bisa dipakai untuk melembutkan warna lipstick yang berani. Mungkin untuk yang berkulit cerah atau gelap, akan cocok memakai lipstick ini tanpa campuran warna apapun. Dan untuk yang kulitnya berwarna Olive, bisa dicampur dengan warna-warna coral.

Tuesday, July 26, 2016

[Review] Pureit



Saya ini dari kecil emang ga dibiasakan minum air galonan komersil. Saya minum air yang dimasak. Hehehe.... Kuno banget yaaa.... Dan ini jadi kebiasaan sampai sekarang. Saya ga terlalu pusing harus minum air komersil. Air yang Saya minum ya air yang berasal dari tempat tinggal Saya. Pasti kalian ada yang bertanya, "Emang bersih?". Nah, ini buktinya Saya sehat-sehat saja. Dan Saya punya kepercayaan kalau kita minum dari air yang berasal di tempat kita tinggal, akan membuat kita merasa lebih menyatu dengan lingkungan. Saya juga ga tinggal dilingkungan yang kumuh kok. Syukurnya dari dulu Saya selalu dapat tempat tinggal yang banyak pohonnya dan sumber airnya bersih.

Sejak  kost, untuk kebutuhan air minum, Saya selalu masak air. Sampai pada akhirnya merasa nggak praktis aja. Apa beli dispenser saja? Tapi atas nama pengiritan dan mikir nanti bakalan ribet mesti angkat-angkat galon dan narik-narik colokkan, Saya mengurungkan niat. Saya kepikiran untuk beli Pureit. Tagline minum langsung dari air keran terus mengiang-ngiang ditelinga Saya. Dan pakai Pureit juga sesuai dengan Frugal Lifestyle. Irit dan Go Green karena mengurangi pemakaian listrik dan pemanas air. Langsung Saya pergi ke Hypermarket dan beli satu yang tipe Classic 9liter warna merah marun, biar matching sama color ambiance kamar Saya. Hehehe. Pada tahun 2014 Saya beli 600 ribu lebih.


Sampai hari ini berarti sudah hampir 2 tahun Saya menggunakan Pureit. Jadi kalau mau bikin minuman panas, Saya mengandalkan ketel listrik. Jadi ga ada tuh drama-drama kehabisan air galon di warung. Hahahaha. Selama 2 tahun itu Saya baru sekali mengganti Germkill Kit. Germkill Kit bawaan dari Pureit waktu beli untuk pemakaian Saya yang tinggal sendiri ini cukup untuk 1,5 tahun. Pemakaian air Saya setiap harinya sekitar 10 gelas.

Nah, kali ini Saya mau cerita saat Saya mengganti Germkill Kit. Saya beli waktu itu harganya satu paket 180 ribuan. Terus Saya juga beli saringannya seharga 20 ribu (saringan dijual terpisah). Saat mengganti germkill kit ini, Saya juga harus membersihkan bagian dalam Pureit. Tapi tidak boleh menggunakan sabun. Saya menggunakan lap basah dan lap kering. Cara ganti germkill kit ada terlampir lengkap didalam kardusnya.


Tapi Saya sempat merasa kesulitan saat mengganti Germkill Kit ini. Saya perlu mengeluarkan tenaga yang cukup besar untuk mengganti setiap bagian germkill kit. Tapi bukanya juga mesti hati-hati sekali karena body Pureit yang agak ringkih. Pantas saja hampir disetiap halaman petunjuk ditulis "Anda harus menggunakan sedikit tenaga". Saya sampai curhat di facebook. Hehehe.



Untuk Saya yang tinggal sendiri, hemat pemakaian Pureit tidak terlalu terasa ya... Mungkin berguna sekali untuk yang berkeluarga. Saya hanya perlu menyiapkan budget tahunan untuk memberi Germkill Kit. Terakhir Saya cek harganya sudah 200 ribu lebih. Yasudahlah yaaa.... Kita kalo ke mall bisa habis lebih dari itu :P.
So far Saya happy dengan Pureit dan akan terus memakainya :)

Tuesday, July 12, 2016

Keramas Pakai Sabun Dove Batangan


Selamat Idul Fitri. Mohon nafkah lahir batin. #eh

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin. Minggu ini sepertinya masih banyak yang belum mulai aktif kerja. Apalagi yang kerja di industri kreatif, minggu depan baru aktif. Enak sih libur panjang, lebih enak kalo punya budget cukup buat liburan. Hehehe....

Kali ini Saya mau review Dove Beauty Bar a.k.a Dove sabun batangan. (Bytheway, sabun bukan sih?). Judulnya sensasional banget ya sama kayak judul artikel-artikel dotcom. Gapapa, biar banyak yang penasaran trus nge-klik. Lumayan buat naikin traffic reader. :P. Saya sudah mengenal dan pernah mencoba Dove Beauty Bar sejak pertama kali keluar waktu Saya masih SMP sekitar tahun 2000-an awal. Pada waktu itu Dove meng-klaim mengandung 1/4 moisturizer dan diperkenalkan sebagai sabun muka. Dan memang setelah pemakaian pertama kulit wajah terasa sangat halus. Fast forward kita ke tahun 2016...

Belakangan cuaca Jakarta lagi panas pengap. Saya jadi males pakai EVOO untuk perawatan tubuh sehari-hari. Rasanya sumuk gitu. Panas-panas pakai minyak. Bawaannya gerah dan lengket seharian. Hasilnya kulit Saya jadi kering dan ga enak. Saya memikirkan solusinya adalah ganti sabun mandi yang mampu melembabkan kulit dengan sangat baik. Tapi sabun-sabun seperti itu biasanya harganya lumayan mahal. Sedangkan tahun ini Saya lagi pengiritan. Nah, teringatlah dengan Dove Beauty Bar ini. Tanpa pikir lama-lama, Saya langsung meluncur ke supermarket dan beli 1 seharga +/- Rp 7.000,- . Setelah pemakaian pertama, kulit Saya belum terlalu lembab tapi merasa lebih baik dari sebelumnya. Sensasinya ga seperti pertama kali coba Dove jaman dulu. Karena mengandung banyak moisturizer, Dove Beauty Bar ini busanya sangat lembut dan tidak meninggalkan kesan kesat dikulit setelah mandi. Makanya tidak membuat kulit kering. Setelah beberapa hari pemakaian, kulit Saya sudah kembali sehat. Yay!

Masuk bulan puasa kemarin, udara Jakarta agak sejuk karena intesitas hujan yang cukup sering. Akhirnya Saya kembali melakukan perawatan dengan Evoo from head to toe. Hasilnya bisa ditebak.

Evoo + Dove Beauty Bar = Kulit ekstra sehat dan lembab

Perawatan tubuh adalah salah satu cara untuk membuat suasana hati jadi bagus. Bikin kita merasa cantik dan terawat. Percobaan Saya dengan Dove Beauty Bar juga Saya lakukan untuk keramas. Serius? Keramas pake sabun batangan? YES!! Sejak 2015, Saya sudah tidak menggunakan shampoo lagi untuk keramas dan menggantinya dengan Baking Soda. Suatu hari Saya kehabisan baking soda. Sedangkan rambut sudah telanjur pakai Evoo. Akhirnya Saya nekat keramas pakai Dove Beauty Bar. Awalnya sedikit ragu. Tapi kan Dove ini bisa untuk muka juga, pasti bisa buat rambut lah. (Hahaha ilmu sotoy). Cara pemakaiannya Saya usapkan Dove langsung ke rambut lalu keramas seperti biasa. Dan.... Voila!! Hasilnya Saya suka sekali. Walau Dove menghasilkan sedikit busa, tapi tidak membuat tekstur rambut Saya selicin kalau keramas dengan shampo. Dove juga mampu membersihkan Evoo di rambut Saya walau hanya 1 kali keramas. Kulit kepala juga tidak terasa gatal walau belum keramas 2 hari, tidak seperti kalau keramas dengan shampo. Ini hasilnya setelah 2 hari keramas:


Kenapa ga keramas pakai shampo Dove aja? Pertama, Saya ga suka wanginya yang terlalu menyengat dan ga fresh. Kedua, rambut Saya ga cocok pakai shampo Dove.

Apakah Dove body shower juga memiliki hasil yang bagus untuk kulit? Ga tau, belum pernah coba.

Tapi Dove Beauty Bar sudah cukup untuk Saya sebagai produk perawatan all in one. Karena Saya ga suka pakai banyak produk untuk perawatan. Untuk muka, badan dan rambut satu batang itu, apa ga takut terkontaminasi kuman? Aduh.... Saya orangnya ga seribet itu. Lagipula kuman ada dimana-mana, kok. Takut amat sih sama kuman. Paling Saya simpan di wadah khusus aja. Dan kalau untuk traveling, Dove Beauty Bar ini sangat praktis. Saya juga mau coba bikin versi cairnya. Biar lebih praktis lagi. Nanti lain waktu Saya post lagi untuk DIY Dove Shower Cream. :)