Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Tuesday, May 6, 2025

Interpretasi Usang Karakter Jeng Yah Pada Serial Gadis Kretek



Serial "Gadis Kretek" tayang perdana secara eksklusif di Netflix beberapa tahun lalu. Saya baru sempat menontonnya beberapa bulan lalu. Serial ini cukup sukses menarik atensi dunia international terbukti dengan dinobatkan sebagai top 10 series di Netflix secara global pada tahun 2024. Secara production design, karya ini memang sangat patut diapresiasi.

Monday, February 20, 2023

Pelajaran Dari Film Seri WeCrashed Tentang Toxic Leader

 

WeCrashed


Premis yang sangat menarik membuat saya tertarik nonton series ini di Apple TV. Wecrashed adalah cerita tentang perjalanan Adam Neumann dan istrinya Rebecca saat mereka mendirikan startup dari Co-Working Space bernama WeWork. 

Sunday, November 24, 2019

Coffee Time Story #6 Melajang Diusia 30 Tahun

melajangdiusia30

Kurang dari 1 minggu lagi Saya akan meninggalkan usia kepala 2 dan memasuki usia 30 tahun. Tadinya Saya ingin buat tulisan ini pas dihari ulang tahun Saya. Namun jadwal pekerjaan sedang lucu-lucunya, terlalu banyak hal-hal yang tidak bisa diprediksi terjadi. Jadi mumpung ada waktu santai sejenak, Saya mau berbagi tentang pengalaman pribadi, masih melajang di usia 30.


Saturday, July 28, 2018

Syuting Di Indonesia Tidak Murah

https://novyastria.blogspot.com/2018/07/indonesia-sebagai-lokasi-syuting.html
Blackhat at Jakarta


Indonesia sudah cukup banyak dilirik sineas luar negeri sebagai salah satu lokasi syuting. Bahkan beberapanya adalah film Hollywood blockbuster. Sebut saja "Eat, Pray, Love", "Blackhat", dan "King Kong". Selain itu masih banyak project lain seperti TVC dan Series, bahkan film indie. Sebelum menjelaskan lebih jauh, Saya ingin memperkenalkan kepada masyarakat yang bukan bekerja di bidang film. Mereka yang berjasa membawa Indonesia lewat layar perak adalah Gary Hayes dan Tino Saroengallo. Ditangan mereka tercipta kualitas film dan iklan yang grand, disertai para kru yang sangat terampil. Baru saja mereka menutup usia. Dasar sahabat sejati, mati saja jaraknya masih dekat. Pak Tino memang sudah sakit kanker beberapa tahun terakhir. Dan Pak Gary sempat jatuh sakit sebelum menghadap Sang Kuasa. Jasa dan dedikasi mereka akan terus Saya kenang.

Indonesia diberkahi pesona alam yang eksotik. Hutan tropis yang belum terjamah bahkan virgin beach. Tak jarang setiap project pasti menemukan lokasi baru yang bahkan kita sebagai orang lokalpun belum tahu. Selain lokasi, Indonesia juga memiliki cukup sineas yang mampu memenuhi standard kerja International. Seharusnya dengan 2 aset utama ini, Indonesia bisa menjadi salah satu Film Friendly. Untuk syuting di Indonesia masih banyak kendala yang perlu dihadapi.

Syuting di Indonesia tidaklah murah, seperti yang digembar-gemborkan para jajaran pemerintah di Indonesia. Tidak adanya tarif yang jelas dan birokrasi yang berbelit seringkali menyurutkan sineas asing untuk syuting di Indonesia. Sebagai contoh untuk perbandingan, syuting di kota New York hanya diperlukan $750 untuk perizinan lokasi. Sedangkan harga syuting di Kota Tua Jakarta, diperlukan 60 juta. Syuting di Jakarta dalam studio pun bisa mencapai 12-15 juta sehari dengan rata-rata tarif studio 6 juta per-8 jam.

https://novyastria.blogspot.com/2018/07/syuting-di-indonesia-tidak-murah.html


Baca juga: Susah Sinyal lebih mahal dari Critical Eleven

Saat ini digadang-gadang untuk perizinan syuting, dimanapun di wilayah Indonesia bisa dilakukan 1 pintu, melalui Pusbang Film. Pada kenyataannya, Kami tetap harus mengurus izin dari RT/RW, Polsek, Pemda dan preman setempat. Tentunya disetiap tahap tersebut Kami harus menyediakan amplop untuk melancarkan terbitnya surat izin syuting. Itupun tidak bisa menjamin mereka akan 100% bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang mengakibatkan proses produksi terganggu karena faktor eksternal.

Yang membuat biaya syuting di daerah Indonesia mahal juga disebabkan karena infrastuktur yang belum baik. Kami harus mengakali dengan menambah jumlah personil atau menyewa alat khusus yang akhirnya akan muncul cost baru. Biasanya jika syuting di daerah, Kami harus merekrut warga sekitar yang seringkali harga permintaan awal bisa berbeda saat sudah melakukan pekerjaan. Yang bikin kesal terkadang mereka tidak bisa mengikuti pace kerja Kami yang serba cepat.

Baca juga: Tentang Perfilman Indonesia

Beberapa waktu lalu Saya membaca buku "Film Marketing Into The 21st Century". Di dalamnya ada bab yang membahas Marketing Location, salah satunya membahas tentang Film Friendly yang sudah dilakukan New Zealand, dan negara / kota lainnya dibelahan dunia.


https://novyastria.blogspot.com/2018/07/syuting-di-indonesia-tidak-murah.html




Berikut rangkumannya:

1. Di Michigan ada sebuah agency yang menawarkan pelatihan kepada warga lokal, perusahaan dan penyedia jasa fixer untuk memudahkan proses pembuatan film dilokasi tersebut dan memudahkan warga yang ingin bergabung sebagai filmmaker.

Di Indonesia sendiri, Badan Perfilman Indonesia, juga sedang memberikan pelatihan-pelatihan serupa di daerah guna mempersiapkan mereka sebagai lokasi baru untuk syuting film. Kota-kota di Indonesia yang pemerintah daerahnya sudah siap sebagai lokasi syuting antara lain Bandung, Bayuwangi, Siak, dan Yogya. Di Bali pun tak ada kendala berarti karena kesigapan warganya yang juga sudah terbiasa sebagai daerah wisata.

Banyak pula komunitas film di daerah yang menelurkan sineas baru. Bagaimanapun sineas juga perlu regenerasi.

2. Film friendliness sangat penting untuk tempat yang tak memiliki atau sedikit track record sebagai lokasi syuting. Kualitas dan pelayanan yang buruk bisa merusak reputasi tempat tersebut.

Kami sebagai filmmaker lokal pun terkadang kapok syuting di tempat tertentu dan pastinya akan kami blacklist dan tak akan pernah masuk rekomendasi Kami. Pembuatan film itu secara tak langsung turut meningkatkan perekonomian. Karena pastinya Kami akan mempekerjakan warga lokal sebagai porter dan membayar sewa / hotel selama proses syuting berlangsung. Belum lagi Kami akan membutuhkan penyedia konsumsi. Coba bayangkan berapa banyak uang yang harus Kami keluarkan untuk syuting film.

3. Location Marketing tidak sama dengan promosi pariwisata, walaupun bisa saja itu akan menjadi salah satu tujuannya. Lebih dari itu, dengan adanya film friendliness, akan memicu pertumbuhan infrastuktur, baik untuk pariwisata maupun keperluan pembuatan film dikemudian hari.


Jadi tolong kepada jajaran pemerintah, jangan promosikan Indonesia murah untuk syuting film. Selain perizinan yang mahal, upah Kami sebagai pekerjapun tidak bisa dikatakan murah. Ga mungkin Kami mempekerjakan kru yang kemampuannya belum memenuhi standard demi harga murah. Karena Kami bawa nama negara saat bekerja dengan sineas asing.

Walau banyak yang masih awam terhadap pekerja film, secara tak langsung Kami turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Kami bayar pajak penghasilan, dimana pajak itu akan digunakan untuk pembanguan negara. Berkat industri yang semakin maju, tentunya tercipta lapangan kerja baru. Dalam proses produksi film kurang lebih ada 150 orang yang terlibat. Belum lagi dari sisi distribusi, munculnya bioskop atau channel distribusi baru, tentunya perlu pekerja baru. Berkat film juga berhasil muncul budaya atau trend baru yang lagi-lagi akan meningkatkan dan memperluas pasar.




Sunday, May 6, 2018

Generasi Millenial Tak Punya Attitude ?

Photo by Helena Lopes from Pexels


Beberapa waktu lalu, ada salah satu friendlist di Linkedin yang mengeluh etika email / komunikasi anak-anak zaman now alias the Millenials. Tanpa menulis subject dan memperkenalkan diri terlebih dahulu, langsung bertanya dengan susunan kalimat yang amburadul. Ini bukan pertama kalinya Millenial di cap menyebalkan dan tak tahu aturan. Apakah generasi ini benar seperti itu?

Coba deh kalian ingat-ingat, pernahkan kakekmu menceritakan betapa menyebalkannya bapakmu dan dibilang tidak bisa diatur waktu jaman mudanya? Lalu pernahkan bapakmu bilang kalo anak sekarang itu tidak punya sopan santun? Kalimat saktinya yang juga sering muncul disinetron era Didi Petet "Dasar anak jaman sekarang!". Kalo ditelaah, ini adalah keadaan yang berulang disetiap zaman. Sangat mungkin jika kita sudah punya anak nanti, kita akan mengatakan hal yang sama. Sekarang aja sudah mulai menghardik adik-adik junior kita, "Huh! Dulu gue ga gitu deh!".

Jadi apakah ketidaksopanan itu sifat asli generasi? Jelas bukan! Itu karena salah didikan dan salah lingkungan. Kenapa? Di generasi kita pun ada kok tipe-tipe orang yang tidak tahu etika. Ketika mereka tidak mendapat didikkan yang bagus baik di sekolah terutama dari rumah, tentunya mereka tidak akan menjadi anggota generasi yang cemerlang. Ditambah jika mereka tak pandai memilih pergaulan, akan semakin tak punya arah. Orang yang memiliki pergaulan yang bagus pastinya tutur kata dan perilakunya juga baik.

Saya sendiri pernah punya pengalaman yang serupa dengan friendlist di Linkedin. Beberapa tahun lalu, kantor Saya pernah membuka kesempatan untuk penulis cerita FTV bisa mengirimkan idenya. Entah berapa puluh email yang langsung Saya hapus karena kelakuan ajaib mereka. Ada yang menulis tanpa subject dan perkenalan, ada yang malah menulis kalimat di subject, bukan di body email. Mereka memang amatir, karena yang namanya ide bukan sekedar 1 kalimat, tapi sudah harus berupa sinopsis. Dan sebagian besar bukanlah generasi millenial.

Jadi menurut Saya, sangat tidak bijak jika menyalahkan satu generasi karena etika mereka yang buruk. Yang benar adalah perbaiki pendidikannya. Pendidikan itu bukan hanya fokus pada nilai akademis. Pendidikan harus menyesuaikan perubahan zaman. Dan pendidikan harusnya menyiapkan generasi agar lebih terampil dimasa depan. Pendidikan masa kini harus sudah fokus mengajarkan soft skill, salah satu yang utama adalah skill komunikasi.



Saturday, April 28, 2018

Pentingnya Storytelling Skill

Photo by Tim Gouw from Pexels


Berawal dari tulisan Saya soal cara mengetahui ciri cowok yang pantang digeser kanan pada dating apps, lalu profile seperti apa yang akan membuatmu geser kanan, chatting dan ngajak ketemuan? Pasti bagaimana cara kalian berkomunikasi, kan? Karena apalah arti sayang-sayangan tanpa obrolan yang ga membosankan.

Atau kalau mau contoh lain, buat para Brand Manager, apa sih yang membuat mereka memutuskan memakai sebuah konsep yang ditawarkan? Pasti bagaimana konsep tersebut dapat bercerita tentang image brand yang dikelola. 

Dari kedua contoh diatas, salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki seseorang adalah storytelling yang bagus. Karena storytelling adalah cara berkomunikasi.

Storytelling


Kemampuan bercerita dijaman digital ini sangat diperlukan dalam marketing. Cerita menjadi strategi marketing yang paling halus dan ampuh untuk menarik pasar. Cerita juga menjadi PR tools untuk personal branding para public figure. Contohnya, kenapa kita suka sama Steve Jobs, Jack Ma, atau Merry Riana? Karena mereka punya cerita yang bisa diceritakan oleh public, dimana cerita itu sangat relate dengan kehidupan orang banyak yang berhasil membuat mereka termotivasi.

Sayangnya, storytelling skill ini masih belum banyak dimiliki anak muda Indonesia. Masih banyak orang tidak percaya diri, gemetaran jika harus presentasi atau berbicara didepan umum. Apa sebabnya? Faktor utama adalah karena didikan rumah. Indonesia masih sangat kental menjalankan norma. Di dalam rumah, Orang tua adalah pemimpin tertinggi. Kemampuan kita berargumen seringkali terbentur dengan norma ini.

"Pokoknya anak harus ikut kata orang tua".

"Orang tua tau yang terbaik untuk anaknya".

"Tau apa kamu? Masih kecil kamu, ga paham apa-apa".

Kata-kata diatas tentu tak asing kita dengar, kan? Akibatnya setelah dewasa hanya bisa menjadi pribadi pasif, manut menuruti pendapat banyak orang walau tak sejalan dengan pemikirannya. Boro-boro mengutarakan pendapat, baru memulai saja sudah dibilang tak tau sopan santun. Ketiadaan kesempatan mengutarakan argumentasi dan pendapat berakibat dimasa depan anak tak memiliki kemampuan untuk mempertahankan gagasannya. Hubungan anak dan orang tua juga turut andil dalam hal ini. Anak yang terbiasa bercerita tentang apa yang dialaminya kepada orang tua, pasti juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Sedari dini anak akan terbiasa dengan komunikasi dua arah.

Faktor lainnya adalah kurangnya eksplorasi. Hidup itu tak melulu soal kerja, sekolah dan rumah. Dengan mengekplor banyak hal pastinya akan menambah kreatifitas, pengalaman dan pergaulan. Orang yang rajin berekplorasi cenderung lebih percaya diri, dimana rasa percaya diri ini diperlukan untuk menyampaikan sebuah cerita. 

Bagaimana caranya mengasah storytelling skill? Pertama, terus berlatih. Sebelum presentasi, latihan berbicara didepan cermin dan perhatikan susunan kalimat. Kedua, kuasai topik yang ingin diceritakan. Ketiga, banyak baca. Terakhir, percaya diri. Ucapankan atau tulis saja apa yang kalian ingin utarakan. 

Banyak manfaat yang didapat jika kita mampu bercerita dengan baik. Secara profesional tentunya dapat meningkatkan jenjang karir karena kemampuan berpendapat dan komunikasi yang baik dan secara personal tentunya akan membuat orang lain senang berinteraksi dengan kita. 

Orang-orang sukses pada umumnya adalah pencerita yang baik. Jadi tak ada salahnya untuk terus membangun dan memperbaiki kemampuan storytelling kita. 


Monday, April 23, 2018

Blogger Is A Real Job

Blogging. Photo from Pixabay


Buat Saya blogging itu sebagai cara untuk mengisi waktu luang dan menuliskan apa yang Saya pikirkan dan ingin menyampaikannya kepada khalayak. Ada pepatah dari Pramoedya, penulis legendaris Indonesia, "Setinggi dan sepandai apapun seseorang, jika ia tidak menulis maka akan hilang ditelan zaman". Memang dari zaman sekolah, Saya suka menulis. Awalnya suka nulis cerpen atau fiksi. Tapi beberapa tahun belakangan ini, imaginasi Saya tidak sebagus dulu, ga tau kenapa. Makanya lebih banyak menulis berupa opini. Kalian juga bisa membaca beberapa karya Saya yang dimuat dimedia di section "Portofolio".

Di era digital, cari nafkah bisa dari mana saja dan semakin banyak source nya. Salah satunya adalah menjadi blogger. Saat ini nge-blog bukan hanya sekedar nulis kegiatan sehari-hari atau curhatan, tapi bisa berupa review atau tulisan berbayar. Dan... Cukup banyak blogger yang sukses menjadikan nge-blog sebagai pekerjaan utamanya contohnya Alodita dan Racun Warna Warni. Yes, It is a real job.

"Ah blogger kan kerjanya cuma nulis-nulis doang". No, honey. Coba baca tulisan Saya Tentang Content Creator. Sebelum kita menuliskan opini atau review di blog, we spend some times to read, to research, or to try. Dan kadang kala segala kesimpulan yang akan menjadi postingan baru bisa dibuat paling tidak 3 hari setelah kita memutuskan mau menulis apa. Kenapa? Karena blogger yang baik, akan memberikan informasi yang akurat. Followers atau pembaca blog Kami adalah tanggung jawab Kami. Masa kita mau kasih info asal-asalan. Kami ini content creator, bukan penyebar hoax.

Karena blog masa kini beda dengan blog 10 tahun yang lalu, blog yang punya foto atau gambar tentu akan lebih menarik. Dan percayalah, it really take times. Ga bisa asal foto tanpa memikirkan estetika. Ada juga yang rajin sampai bikin design karena foto aja ga cukup. Apalagi sekarang sosial media semakin interaktif. Kita juga jadi harus memikirkan berbagai format image yang bagus untuk di share di Instagram, Instagram Stories, Facebook, Twitter dan Pinterest. Bahkan ada pula blogger yang harus meng-hire fotografer, belum lagi membeli peralatan foto yang harganya tidak murah.

Konten bagus apalah guna kalau ga rajin-rajin promo. Set time untuk mempromosikan postingan lama juga perlu waktu. Ini adalah cara agar traffic blog kita stabil. Traffic adalah hal yang penting untuk laporan ke klien atau sekedar pasang Adsense.

Dari penjelasan diatas, tahukan kenapa wajar banget kalo para blogger mematok harga untuk tulisan berbayar. Namun yang paling penting, tujuan blogging itu bukan untuk jadi kaya atau terkenal. Saya yakin blogger-blogger nge-top masa kini ga pernah memikirkan kalo blogging jadi penghasilan utama mereka. Awalnya mereka hanya ingin menulis apa yang mereka mau tulis,

Lalu beberapa akhir ini Saya kok kangen banget blog sebelum masuk 2014, dimana isinya organic semua. Cuma kumpulan curhat-curhat remeh. Salah satu favorite Saya dulu blognya Woro Pradono, sayang, Mbaknya ga nge-blog lagi karena drama haters. I was really enjoy read it, selain melihat stylenya Mbak Woro yang chick banget. Ibaratnya Mbak Woro itu punya hidup impian wanita muda Jakarta lah. Anyway, zaman kan terus berjalan dan berubah ya. Saya sih belum kepikiran jadi fulltime blogger. Karena Saya masih suka nulis yang remeh temeh disini. Karena receh is #lyfe. Haha.



Sunday, February 18, 2018

Mencintai Dengan Naif

Poster Cutie and The Boxer

Menikahi seseorang tidak cukup hanya dengan alasan dia keren atau memiliki minat yang sama. Itulah point of view Saya setelah menonton film dokumenter yang berjudul Cutie and The Boxer. Dimana ada korelasi kisah romansa yang dialami tokoh dalam film ini dengan kisah romansa Generasi Y.


(Spoiler alert)
Film ini menampilkan kehidupan pernikahan sepasang suami istri berasal dari Jepang yang berprofesi sebagai seniman dan hidup di New York. Mereka adalah Ushio Shinohara (Bullie) dan Noriko (Cutie). Saat film ini dibuat, Ushio telah berusia 80 tahun dan Noriko berusia 60 tahun. Mereka telah menikah selama 40 tahun. Noriko pertama kali menginjakkan kaki di New York saat berusia 19 tahun. Dia adalah art student. Bertemulah dia dengan Ushio yang saat itu berusia 40 tahun. Ushio sudah memiliki reputasi di New York sebagai salah satu seniman jenius. Tak butuh waktu lama mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah. Saat itu Noriko sedang 6 bulan mengandung anak pertama mereka. Orang tua Noriko yang mengetahui pernikahan mereka, menghentikan support financialnya. Sejak itu perjuangan hidup Ushio dan Nuriko dimulai. Mereka kesulitan menjual karya-karya mereka.

Kehidupan Ushio yang tidak stabil terlihat saat pertama kali bertemu dengan Noriko. Namun Noriko pada saat itu masih terlalu muda untuk berpikir jauh kedepan. Noriko mencintai Ushio dengan naive. Dipenghujung usianya, mereka masih harus memutar otak demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Noriko selain masih aktif melukis, dia juga membuat karikatur semi-autobiografi yang menceritakan kehidupan pernikahannya. Karakter dirinya diberi nama Cutie dan Ushio bernama Bullie. 

Noriko dalam hati kecilnya mungkin menyesali keputusannya menikahi pria yang tidak stabil secara keuangan. She always struggle since that day. Tapi dia mengakui, dari situlah inspirasinya berdatangan. Dan dia memilih untuk mencintai Ushio dengan tulus dan menerima takdirnya. 

Sedangkan Ushio pria yang memiliki prinsip "Live For The Moment". Segala publikasi tentang dirinya sebagai salah satu seniman terbaik di New York, berbanding terbalik dengan apa yang dia miliki secara materi. Dia sangat mencintai Noriko dan walau hidup dalam kesulitan, dia selalu ingin memberikan yang terbaik dan bertanggung jawab  untuk keluarganya. Hal ini terlihat saat dia bersikeras untuk mencoba peruntungan dengan menjual karyanya ke Jepang saat mereka harus membayar sewa rumah tinggalnya. 

Dalam suatu wawancara, Ushio sedikit mengeluh karena sebenarnya film Cutie And The Boxer ini lebih banyak bercerita tentang istrinya, bukan tentang karya Ushiro. Egonya sebagai seorang seniman yang genius terusik. Bagaimanapun, kita memang harus mengangkat topi untuk Noriko karena memilih tetap menghabiskan hidup dengan Ushio. Tidak mudah menjadi Noriko, bahkan saat berkaryapun terkadang suaminya sedikit mengintimidasi. 

Nilai positifnya, mereka sangat produktif untuk berkarya bahkan sampai usia lanjut. Mereka mampu berusaha bahagia disegala keterbatasan. Hitam putih adalah kehidupan pernikahan mereka dan warna-warni adalah karya mereka. Kehidupan pernikahan memang tidak selamanya bahagia. Bahkan pasangan yang secara materi stabil juga mempunyai permasalahan lain. 

Mencintai dengan naif ini banyak terjadi di sekitar kita terutama di Generasi Y. Mereka terlena dengan slogan mencintai dengan tulus. Ada yang kuat menjalaninya, banyak pula yang memilih balik kanan. Tidak ada yang salah dengan pilihan itu dan apapun pilihannya pasti ada konsukensinya. Memilih pasangan hidup memang harus bijak, teliti, penuh pertimbangan dan butuh keberanian atas segala resiko. Saran ini Saya dapatkan dari teman-teman yang sudah menikah. Love is not enough. 

Ada 1 tugas penting untuk kita saat mengarungi kehidupan berumah tangga, yaitu membesarkan generasi selanjutnya yang brilliant dan lebih baik lagi. Mencintailah dengan logika. Karena kondisi keluarga yang stabil akan menghasilkan anak-anak emas.

Cutie and The Boxer adalah bukan sebuah film dokumenter tentang 2 seniman, tapi film tentang kehidupan pernikahan.






Sunday, November 5, 2017

Budaya Patriarki Merugikan Wanita




Mengejutkan! Tak lama setelah Saya menulis pengalaman street harassment, ada beberapa teman Saya yang menceritakan pengalaman serupa. Sekali lagi, sexual harassament dialami oleh sebagian besar wanita di planet ini. Dan biasanya yang melakukan adalah lelaki yang kadar kecerdasannya dibawah rata-rata . Teman-teman Saya ini awalnya memilih diam. Mereka bingung kemana harus mengadu, karena pada akhirnya perempuan yang disalahkan. Ketika Saya memilih untuk speak up dan menceritakan secara gamblang, mereka seakan punya teman senasib. Selama ini korban sexual harassment lebih meilih diam.

Saya akan sharing sedikit pengalaman teman Saya. Sebut saja mrs. A dan ms. B.

"Sabar-sabar aja, Jeung, tinggal di Indonesia mah", kata mrs. A mengawali percakapan Kami. Mrs. A ini sudah pindah ke Australia ikut suaminya yang asli Perth.

"Gue waktu ke kantor polisi minta surat SKCK aja masih digodain polisi. 'Neng, mau kemana? Pake celana ketat banget'."
Padahal ya Mrs. A ini emang bentuk badannya semok. Jadi dia mau dipakein baju kurung pun, tonjolan-tonjolan ditubuhnya akan masih terlihat jelas. Kenapa ya masih banyak orang yang menyalahkan pakaian? Kenapa mereka ga paham karena ya emang bentuk tubuh kita yang begitu.

"Trus ya, kalo perempuan Indonesia pacaran atau kawin sama bule, pasti deh kita dibilang muka babu makanya laku sama bule"
Saya sampai saat ini masih mengalami dicemooh orang karena pacar Saya orang kaukasian. Dari dibilang kayak perek sampai dibilang...muka kampung. Saya kasih alasan sedikit ya kenapa Saya lebih memilih pacaran sama bule. Pertama, ya emang dapetnya dia dan kita sama-sama suka. Kedua, beneran deh, menjalani hubungan dengan pria yang open minded lebih enak daripada dengan pria yang penganut budaya patriarki garis keras. Ketiga, kulit Saya coklat dan badan Saya kurus. Bukan selera cowok Indonesia banget lah yang lebih suka perempuan kulit putih dan badan bohay. Ya sebagai orang waras jelas Saya lebih memilih pria yang mengagumi Saya dooong...
Jadi  kesimpulan Saya, orang-orang yang mencemooh orang Indonesia yang punya pasangan dari bangsa lain, ya karena mereka ngiri aja karena kalah keren atau ngiri pengen punya pasangan kayak pasangan kita tapi ga kesampaian. Hahaha.


Beralih ke cerita Ms. B. Dia hampir diserang sama cowok yang sempat dekat, bahkan cowok ini berani masuk ke kontrakannya Ms. B, yang sialnya saat itu Ms. B lupa kunci pintu. Mereka berdua ribut, Ms. B mengancam akan lapor polisi jika dia berani masuk kerumah tanpa izin. Tahu apa yang dijawab pria itu? Dia bilang karena Ms. B yang memberi dia kesempatan untuk berbuat itu. WTF!
Saya penasaran tanya bagaimana ketemunya dan siapa namanya. Pria ini sama-sama pekerja kreatif tepatnya fotografer freelance yang sialnya dia adalah salah satu follower Saya di twitter. Ms. B cerita awal pertemuan mereka berasal dari dating apps.

Dalam cerita diatas, apakah Ms. B salah? Tidak. Memang kalo cari pasangan dari dating apps kenapa? Cowok itu aja yang niatnya ga bener. Sebagian besar orang kita beranggapan cewek yang punya profile di dating apps adalah cewek rantangan. Mrs. A cerita salah satu teman dia bilang, "Kalo ketemuan sama cowok lokal mah pada belagu. Bayarin makan kagak tapi minta ML".

Contoh diatas diakibatkan budaya patriarki yang sudah mendarah daging. Para penganut ini beranggapan perempuan itu haram menolak keinginan laki-laki walaupun si perempuan tak suka akan tindakan itu. Lantas para pria minder itu men-cap perempuan yang berani bersuara adalah perempuan sombong. Lalu muncul lah sumpah serapah terhadap perempuan.

Bagi para penganut patriarki, perempuan itu hanya dapur dan kasur. Mereka juga menganggap perempuan yang memiliki karir adalah perempuan sombong yang tidak akan menghargai suami. Kenapa ya mereka tidak berpikir untuk berusaha lebih keras jika takut egonya dilangkahi perempuan? Kenapa mereka sibuk menyalahkan kemampuan perempuan daripada mencari cara bagaimana agar Kami, perempuan yang mereka anggap sombong bisa menghargai mereka? Dalam banyak kasus, jelas perempuan kuat ini jadi tidak menghargai mereka karena akhirnya mereka hanya numpang hidup dari kerja keras perempuan.

Budaya patriarki di Indonesia memang sudah mengkhawatirkan. Sialnya mereka beranggapan itu adalah ajaran agama dan norma,  dan mereka berlindung dibalik itu. Padahal sih memang mental dia aja yang jongkok. Saya pribadi sebagai perempuan, tidak meminta posisi perempuan lebih tinggi dari pria. Kami punya suara seperti kalian para pria. Kami ingin dihormati sebagaimana pria juga ingin dihormati. Saya bersyukur pria di lingkungan Saya adalah pria-pria cerdas yang tidak memandang sebelah mata terhadap perempuan. Dan Saya berterima kasih kepada kalian, para pria open minded yang berhasil memutuskan mata rantai budaya patriarki. Karena kami, pria dan perempuan punya tanggung jawab bersama, yaitu menciptkan generasi selanjutnya yang lebih baik lagi dimasa depan.

Sunday, October 15, 2017

Pengalaman Street Harassment

Street Harassment Di Jakarta

Saya mau menceritakan pengalaman pelecehan atau bahasa bulenya Street Harassment yang baru saja Saya alami tadi malam. Ini bukan pertama kalinya Saya mengalami kejadian yang dilakukan orang-orang dangkal, tapi sangat sering. Dan kejadian ini pasti dialami oleh banyak wanita lain. Saya tidak pernah tinggal diam, tapi pelaku pasti akan Saya tegur. Saking seringnya mengalami street harassment, Saya sampai hapal gerak-gerik orang yang kira-kira bakal godain, sebelum mereka melancarkan aksinya, Saya liatin dari atas sampai bawah, biasanya mereka akan jiper sendiri.

Semalam sekitar jam 18:30 Saya sedang jalan kaki habis beli makanan. Tiba-tiba mobil Vios lama warna hitam (Saya hapal nomor polisinya, nomor gank terkenal ituh :P) berjalan mendekati Saya sampai Saya hampir masuk selokan (jalanannya sempit banget, cuma buat 1 mobil tapinya 2 arah. Maksa emang :D). 2 orang pria didalamnya, sekitar umur late 20's atau early 30's. Mereka membuka kaca mobil dan bilang, "Ikut yuk. Masuk kedalam". Saya cuekin. Eh, dia katain Saya "Huuh, LONTE!!". Saya jelas ga terima. Saya pukul mobilnya pakai sikut. Mereka ga terima. Disinilah drama dimulai.

Saya pancing mereka ke tempat terang dan ada banyak orang lagi pada nonton bola di pos. Eh, bener aja mereka berhenti dan keluar dari mobil.

Pengemudi: "Elo kok gebrak mobil gue?!! HARGA DIRI gue lo remehin, bangsat!"
Saya: "Elo yang ga sopan godain perempuan dijalan, Bangsat!!"

Tanpa sadar jalanan sekitar udah macet saat kita lagi asik adu bacot. Ya iyalah jalanan kecil gitu, mereka malah berhenti seenaknya.

Terdengar dari mobil Rush, Ibu-ibu berkerudung sama suaminya, "Eh, ini mobilnya ngalangin!", tapi ga digubris sama si pengemudi Vios.

Lalu teman si pengemudi dengan perawakan agak gemuk memakai kemeja putih dan celana hitam, balik ke mobil dan Saya lihat dia memakai KALUNG LENCANA POLISI sodara-sodara!!. Asli lawak banget. Dia lalu nyamperin Saya.

Saya: "Apa lo pake-pake beginian. Ga takut gue! Lanjut aja ke Polres kalo mau!" (Tempat kejadian deket banget sama Polres JakSel btw). Pantes ga lo godain perempuan dijalanan! Pelecehan itu namanya!".

Si polisi abal-abal jadi jiper juga gue teriakin gitu. Apalagi kondisi jalanan makin rame dari kedua arah. Kita makin asik adu bacot dan gue sambil nunjuk-nunjuk muka mereka dan teriak KALIAN PELECEHAN.

Akhirnya mereka balik ke mobil, si pengemudi masih teriak. "GA CANTIK AJA BELAGU!". Saya masih sempat balikin "Kalo gue ga cantik, ngapain lo godain, tolol!".

Drama selesai. Tak lupa dia bunyiin klakson yang suaranya tulit tulit mirip mobil polisi.


Dari kejadian ini, Saya sih gemas aja sama mereka. Sok jago, merasa punya backingan tapi sebenarnya bukan siapa-siapa. Saya yakin banget kalung lencana polisi itu palsu, karena Saya pernah lihat di online shop yang menjualnya. Lalu plat mobil mereka yang nomor gank terkenal itu, Saya yakin mereka bukan anggota resmi. Saya kenal beberapa orang yang tergabung di gank itu dan mereka ga ada yang sok jago gitu dijalan. Dan ga pake Vios jadoel juga. Hahaha! Oh, satu lagi. Mobil mereka pakai klakson patroli. Biar bisa menghindari macet dan gaya-gayaan mungkin. Setahu Saya ini ada aturannya http://multimedianews.polri.go.id/content/humas/id/LaluLintas/polisi-gandeng-tni-dan-dishub-untuk-tindak-penyalahgunaan-rotato.html

Entahnya. Suka heran sama orang yang pengen banget 'dianggap'. Saking ga pedenya kurasa. Teman Saya anak jendral, tapi ga ada tuh dia yang sok-sok pasang plat TNI atau mobilnya dipasangin sirine. Kalem-kalem aja. Tetangga Saya polisi, gayanya santai saja dan sangat sopan.Ga pernah pamer-pamer lencana.

Saya pikir, kejadian ini harus Saya share karena banyak perempuan yang mengalami street harassment tapi ga berani melawan. Terlebih hukum kita masih blur soal ini. Syukurnya sudah banyak lembaga yang peduli tentang street harassment salah satunya Hollaback Jakarta. Seperti kejadian ini, Saya tidak merasa salah. Mereka yang goda Saya, wajar kalau Saya merasa ga suka. Tapi kenapa galakan mereka. Jangan sampe deh kita salah milih laki untuk pasangan kita model begitu. Mereka sih pecundang dan ga menghargai perempuan banget. Bukan siapa-siapa aja belagu dengan modal lencana polisi. Dikira semua perempuan bakal klepek-klepek kali sama mereka. Jangan-jangan kambing dilipstickin aja bakal dikira naksir mereka juga. But I'm thankful dikasih lihat kejadian ini, buat pelajaran juga buat Saya. Mungkin lain kali Saya juga harus kontrol emosi.

So, please ladies. Speak up. Perempuan itu bukan objek.

Friday, January 20, 2017

Parenting Lesson From Dear Zindagi



Saya baru saja nonton film India Dear Zindagi (Dear Life). Film ini bercerita tentang seorang Cameraman wanita bernama Kaira. Karakter Kaira ini sempurna. Cantik, muda, punya karir yang cemerlang, dikelilingi pria-pria keren. Typical cool girl. Tapi dibalik kesempurnaan itu, dia menyimpan luka yang dia pendam sejak kecil.

Saya perhatikan rata-rata orang pencapaian hidupnya bagus, pasti latar belakang keluarganya harmonis. Mereka tumbuh dari orang tua yang selalu men-support apapun pilihan anaknya. Bukan orang tua yang memaksakan kehendaknya. Pelajaran yang relate dengan kehidupan nyata dari film Dear Zindagi adalah seringkali orang tua lupa untuk memahami perasaan anak. Orang tua seringkali lupa melibatkan anak dalam setiap pengambilan keputusan. Jargon orang tua selalu benar dan merasa tahu yang terbaik untuk anaknya berlaku pula di India sana. Mungkin banyak dari kita yang mengalaminya, termasuk Saya sendiri. Saya bukan datang dari keluarga yang sempurna. Dampaknya terasa sekali saat memasuki usia dewasa.

Lalu bagaimana jika kita mengalami apa yang dialami Kiara? Berdamai dengan masa lalu. Tak perlu naif untuk berusaha memaafkan. Cara yang terbaik adalah menerimanya bahwa itu bagian dari hidup kita. Luka itu memang tidak akan bisa hilang. Tapi jangan biarkan luka itu terus mengatur perasaan dan pikiran sepanjang hidup.

Sekarang tugas kita agar menghasilkan generasi yang lebih tangguh adalah berkomitmen bahwa kita akan berusaha menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita. Berikan support agar anak bisa fokus menggapai tujuan hidupnya. Berikan pendidikan akal dan hati agar tak hanya cerdas akademik tapi juga emosionalnya. Jangan pernah mengeluh menjadi orang tua. Karena seorang anak tak pernah minta dilahirkan. Dan ketika 2 orang dewasa sudah memutuskan untuk memiliki anak, maka dia harus bertanggung jawab penuh. Menjadi orang tua bukanlah sebuah pekerjaan, dimana jika kita lelah atau bosan kita bisa meninggalkan pekerjaan itu.

Orang tua dan anak adalah manusia. Tak ada yang lebih tinggi atau rendah. Tugas sebuah keluarga adalah mencipatakan kedamaian di dalam rumah. Biasakan ada percakapan antara orang tua dan anak agar bisa saling memahami satu sama lain. Orang tua dan anak harus saling menerima ketidak sempurnaan. Saya memang belum menjadi orang tua. Tapi tulisan ini adalah perspektif Saya sebagai seorang anak.



Wednesday, January 18, 2017

My Life Full Of Experiment



How' s your 2017 so far? Mine is there are some new challenge a head. Kali ini Saya mau cerita personal yang akan menjadi acuan Saya untuk menjalani 2017 dengan lebih baik dari sebelumnya.

Dari judulnya mungkin terdengar agak bodoh ya. Hidup kok coba-coba. But anyway, kalo kita ga coba kita ga akan tahu dan hidup kita akan mentok disitu aja. Memang ada beberapa orang yang memilih untuk 'santai'. Tapi tidak dengan Saya. Sejak 2011 Saya memutuskan resign dari 21 Cineplex headoffice, disitu percobaan hidup Saya dimulai. Saya ga tau pasti plan Saya apa (which is it very bad example). Pokoknya Saya mencoba cari kerja lewat upaya Saya sendiri. Saya bisa masuk headoffice bioskop terbesar karena latar belakang keluarga Saya. I leave my comfort zone dengan hidup yang stabil (cenderung stagnan) untuk berenang bebas di Samudra Kehidupan.

Saya punya harapan pokoknya begitu lepas dari perusahaan besar, hidup Saya harus jauh lebih baik. Kenyataannya, sangat jauh dari itu. Oke, Saya belum mendapatkannya. A lot of pain, tears and sweat. Di hari-hari berat Saya sepanjang 2016, Saya menyadari semua ini adalah proses perjalanan menuju apa yang Saya inginkan. Saya coba menjalaninya walau 'berdarah-darah'.

So what you gonna do in 2017? Well, honestly, I dont know exactly what I'm doing. I mean, I have plans, now I get some partner for collaboration, but I dont know this is will be success or not. Fokus Saya saat ini hanya menjalankan kesempatan yang ada di depan mata. Yah.... Namanya juga percobaan. Saya percaya setiap tindakan sekecil apapun pasti akan berdampak untuk kedepannya. And... Here I am. Entah ini percobaan yang keberapa kali, Saya mulai dari apa yang ada dulu. Dari investor yang ada walau ga banyak yang bisa dikasih, dari teman-teman seperjuangan yang ada, dari sisa-sisa uang dan tenaga yang ada. Mungkin teman bahkan keluarga Saya akan mengeritkan dahi atas percobaan ini. Mau ga mau Saya harus coba. Lebih baik bokek tapi ada usaha dari pada bokek tapi diam aja. 

Beberapa hari yang lalu Saya sempat merasa ini tanggung jawab yang terlalu besar untuk Saya. Tapi setelah Saya telaah lagi, I'm blessed. Tidak banyak orang diusia Saya yang ga punya ijazah dan gelar bisa mendapat tantangan seperti itu. Dan apa yang Saya alami dan pelajari sepanjang 2016, mungkin untuk menjalankan tantangan baru ini. 
Saya harus mencari client untuk investor Saya supaya ada yang bisa kita kerjakan. Sekarang apa bedanya dengan upaya Saya mendapatkan investor untuk konsep film layar lebar? Cuma beda produk kok.

Saya melakukan ini bukan untuk adu keren. Tapi untuk bertahan hidup. Saya mau setiap orang yang berkolaborasi dan membantu Saya bisa punya kehidupan yang layak supaya bisa membantu orang lain lebih banyak lagi. Hati Saya sedih kalau melihat orang yang hidupnya kurang beruntung. Terakhir Saya lihat bapak tua di bus, pakaian dia sudah tak layak pakai, jahit sana sini dan dia masih mau bekerja sekedar untuk makan. Saya mau apa yang Saya lakukan bisa berdampak besar untuk sesama.


I faced so many rejection. Dari mulai kerjaan karena ga punya ijazah sampai urusan personal karena dianggap kurang keren. Ga mudah. Tapi coba kita lihat sama-sama, Steve Jobs, JK Rowling, Jewel, Stallone, mereka pernah ada dititik terbawah. Dan lihat mereka sekarang. Tidak semua orang bisa mendapat kejayaan karena tidak semua orang kuat mengalami hari-hari yang pahit. 

2017 ini masih cukup panjang. Saya coba jalani semuanya sebaik mungkin, untuk hasil Saya serahkan pada semesta. A new journey just begin.


Wednesday, December 21, 2016

Prasangka



Siang ini Saya meeting dengan seorang teman. Dari ngobrol serius sampai membahas beberapa aktor Indonesia yang gay. Teman Saya ini berkomentar "Emangnya di dunia ini kekurangan perempuan cakep apa? Mereka mah mau cewek yang mana juga tinggal milih". Saya hanya tersenyum. Memikirkan jawaban yang enak.

"Itu emang dari sananya lagi, Mas".
"Bukan karena pergaulan atau patah hati?".
"Nggak lah. Mungkin kita kurang peka aja baca bahasa tubuh dan perilaku keseharian orang-orang sekitar kita".
Teman Saya mencoba memahami sambil menerawang.
"Mungkin Tuhan menciptakan gay juga untuk ujian di keluarganya. Apakah mereka bisa bersabar dan menerima takdir Tuhan? Apakah mereka tetap bisa berlaku baik dan adil?", Saya menimpali.

****

Manusia begitu lihai berprasangka. Menilai orang hanya sebatas kulitnya. 

Jangan pernah merasa jijik sama gay. Bisa jadi dia satu-satunya orang yang mau membantumu dengan suka rela saat kamu benar-benar butuh bantuan.

Jangan pernah menganggap wanita tuna susila adalah wanita hina. Belum tentu jika kita jadi dia akan kuat menanggung beban hidupnya.

Jangan pernah menganggap orang yang berbeda keyakinan adalah orang yang berdosa. Bisa jadi justru dia imannya kepada Tuhan jauh lebih kuat.

Sekarang ini marak sekali hakim dadakan yang hobinya memojokkan sana sini seakan dirinya bebas dari dosa. Biasanya orang yang ketakwaannya tinggi, dia akan berhati-hati sekali memberi penilaian kepada orang lain. Tutur katanya juga pasti santun, bukan penuh amarah dan kebencian. Orang yang bertakwa lebih suka meningkatkan ibadah untuk dirinya sendiri bukannya sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Karena yang akan dihitung oleh Tuhan adalah amalan pribadi, bukan sekelompok.

Jangan sampai belajar agama justru membuat pikiran menjadi kerdil. Belajar agama harus diaplikasikan dalam kehidupan nyata agar tercipta kedamaian. Tak perlu memaksa keyakinan diri kepada orang lain. Setiap orang punya pemikirannya sendiri. 

Kunci menjalani hidup ini agar dekat dengan Tuhan adalah pasrah, ikhlas dan sabar. Ada blog bagus yang memberikan pelajaran 3 hal tersebut. Coba klik www.innuri.blogspot.com . Saya menemukan blog ini secara tidak sengaja beberapa bulan yang lalu saat Saya sedang butuh sandaran untuk menenangkan hati Saya. 

Mari mulai dari sekarang untuk mereset hati agar tidak terjerumus ke prasangka-prasangka aneh hasil pikiran kita sendiri. Sertakan Tuhan dalam setiap hembusan nafas.


Tuesday, November 29, 2016

#KapanMapan





Baru saja Saya buka twitter dan membaca ada sebuah kuis dari OJK gerakkan #AyoNabung. Kontra isu banget ya sama gerakkan rush money beberapa hari yang lalu. Tapi, sebelum ikut gerakkan rush money, pertanyaan Saya cuma satu. Emang situ punya duit berapa banyak sih di bank? Kok pede banget kalo ikutan rush money bakal bikin perekonomian dan perbankan kacau. 😋. Daripada ikutan rush money, mending ikut #AyoNabung biar mapan. Hahahaha.

*Disclaimer: postingan ini tidak diikutkan dalam partisipasi lomba OJK dan tidak mendapat imbalan apapun. Tulisan ini murni inisiatif dari penulis.


Kata kuis tersebut, "Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk investasi dan apa alasannya?"

So this is my answer based on my experience. Disini Saya membedakan menabung dan berinvestasi. Kalau menabung, bisa dimulai sejak usia sekolah. Kalau adik-adik yang uang jajannya bulanan, bisa sisihkan 10%. Tapi jika bicara investasi, biasanya ini bisa dilakukan saat kita sudah mulai bekerja. Karena pendapatan dan kesiapan mental juga lebih stabil (walau ada beberapa yang bekerja sebagai freelancer dan dapat bayaran per-project). Kapan mulainya? Dari 6 bulan - 1 tahun pertama kerja. Jadi namanya baru kerja, baru megang duit sendiri, ga ada salahnya kasih waktu untuk 'foya-foya'. Hitung-hitung sebagai reward atas hasil kuliah atau sekolah kamu. Tapi foya-foyanya jangan kelamaan.
 
Langkah pertama, bikin investasi dana darurat dulu. Saya bikin 1 rekening khusus yang akan auto debet setiap bulannya 10% dari gaji bulanan. Coba tanya bank masing-masing, ada yang menyediakan layanan ini? Dan biasanya ada jangka waktu minumum yaitu 2 tahun. Ambil saja platform yang paling pendek dulu. Beneran ga akan berasa. Tau-tau pas jatuh tempo, lumayan banget hasil tabungan kita selama 2 tahun itu.
 
Selanjutnya, uang itu mau dilanjutkan investasinya atau mau dipakai untuk apa harus jelas tujuannya. Mau buat DP kuliah lagi, liburan, atau ditabung lagi, bebas. Nah, karena sudah lebih mapan secara pendapatan karena usia kerja sudah masuk tahun ke 3, coba beranikan untuk investasi di Reksadana. Coba tanya bank lagi supaya lebih praktis, apakah mereka ada layanan tabungan reksadana. Kenapa reksadana? Karena modalnya tidak sebesar saham dan resikonya tidak sebesar saham. Return dari reksadana juga lumayan. Dan biasanya investasi reksadana dipakai untuk investasi jangka pendek-menengah. Jadi kalian harus punya tujuan jelas dulu uangnya mau dipakai untuk apa nantinya.

Sebenarnya produk investasi yang bisa kita coba untuk pemula itu ada Obligasi dan emas mulia. Tapi kedua produk ini modal awalnya cukup besar. Kalau punya uang lebih, bisa dicoba untuk investasi disini. Silahkan kalian pilih mana yang lebih cocok untuk kondisi keuangan kalian. Pokoknya penting untuk mengatur keuangan pribadi. Karena jangan sampai hidup kita malah menjadi beban untuk orang lain karena ga punya kemampuan mengelola uang sendiri. Jangan sampai diusia setengah abad nanti, hasil kerja keras kita malah tidak terlihat. 




Friday, September 30, 2016

Problem Dunia Kerja Generasi Millenial


Tulisan ini sekedar curhat. Jadi beberapa bulan ini Saya beberapa kali di approach untuk bekerja sebagai team kreatif dibeberapa perusahaan baru. Dan diantara mereka adalah perusahaan media digital yang buka cabang di Indonesia. Sayang, beberapa kali Saya harus menolak karena tidak sesuai dengan standard industri. Sebagai contoh, ada satu perusahaan mereka menawarkan pekerjaan sebagai Digital Content Producer. Dalam pikiran Saya pasti ini soal produksi video. Saya yang memang bagian dari industri film dan posisi terakhir sebagai Associate Producer tentunya tidak asing dengan produksi video. Tapi begitu Saya temui, Saya sungguh terkejut dan.... merasa sedikit tidak terima. Yang mereka harapkan dari Saya adalah Saya mahir SEO, mengerti bahasa HTML, dan beberapa skill yang sebenarnya lebih cocok dikerjakan oleh orang yang mahir IT. Bukan orang yang paham produksi film / content video. Jadi sebenarnya Digital Producer itu, orang IT yang paham industri showbiz, atau memang orang dengan latar belakang industri showbiz yang bisa pemograman? Beberapa hari Saya terus bertanya-tanya. Apa Saya yang salah paham atau mereka yang tidak paham industri?

Cerita kedua. Saya membaca sebuah perusahaan digital media besar, mereka mencari seorang Video Producer. Saya baca skill-skill yang harus dimiliki. Orang tersebut selain bisa membuat video, dia juga harus bisa editing dan motion graphic. Lagi-lagi Saya menyeritkan dahi. Okelah kalo editing Saya masih bisa terima, walau sebenarnya ada orang yang berprofesi sebagai editor. Tapi ini harus bisa motion graphic? Doh!! Producer itu adalah orang yang meng-hire editor dan motion graphic. Producer adalah leader sebuah project. Producer memang harus paham soal teknis, tapi bukan harus menjadi expertise di editing, design produksi atau departement lainnya.

Saya yang gagal paham atau HRD yang sebenarnya tidak paham soal pekerja kreatif? Disini masih blur soal sistem ini. Jika dibiarkan bisa-bisa merusak industri itu sendiri. Jika semua orang bisa mengerjakan semua pekerjaan, pasti akan banyak orang yang menganggur.

Kembali ke tema awal. Jelas ini sebuah problem dunia kerja masa kini. Generasi Millenial dituntut harus memiliki beberapa skill. Bagusnya hal ini akan merangsang keinginan untuk terus mempelajari hal baru dan bisa lebih paham banyak hal. Sisi buruknya, hal ini bisa membuat kita kurang expert di satu skill, jadi seperti setengah-setengah. Sedangkan untuk menghadapi persaingan global, kita wajib memiliki keahlian yang mendalam agar bisa maju. Dan memang dengan menumbuhkan expertise, akan membuat iklim dunia kerja lebih dinamis. Masa kalau ada Account Executive yang bisa design, dia juga yang harus menyiapkan dummy bahan presentasi untuk client? Yang ada makin banyak Graphic Designer yang nganggur dong :P

Sebenarnya banyaknya perusahaan baru baik dari asing maupun dalam negeri, harusnya mampu menyerap tenaga kerja. Tapi jika terus menerus 1 orang diharuskan memiliki banyak skill bahkan yang sebenarnya ada beberapa skill yang kurang cocok untuk pekerjaan tersebut, maka akan semakin sedikit tenaga kerja yang dapat diserap. Terus kalau sudah begini, kita akan berkoar "Lebih baik bikin usaha sendiri" ? Hallooo bikin usaha itu tidak mudah dan perlu mental yang kuat. Mau sekedar jadi pengusaha karbitan?

Kapan negara ini bisa punya sistem yang lebih bagus?

 

Thursday, September 22, 2016

Someone's Personal Business Is Not Yours


Saya suka ga habis pikir kenapa banyak banget orang yang terlalu ikut campur atau sibuk mengomentari urusan orang lain. Padahal dia ga ada kontribusinya sama sekali pada kehidupan orang tersebut. Hal ini tidak hanya dilakukan pada orang-orang sekitar, bahkan sampai artis yang tidak dikenalnya pun tak luput dari komentarnya. Menurut Saya ini salah satu penyakit masyarakat. Jika ditegur, mereka akan beralasan "Demi kebaikan". Oh, come on! Mereka selalu memaksakan pemikirannya kepada orang lain. Padahal setiap orang pasti punya pemikiran yang beda. Kenapa mereka lebih peduli pada hidup orang lain padahal sebenarnya mereka itulah yang perlu memperbaiki sifat dan hidupnya.

Baru saja kejadian sama Saya. Ada seorang teman sekolah, bukan teman sekelas tapi seangkatan waktu SMA dulu. Saya sama teman ini memang tidak pernah komunikasi secara intens. Kita tahu kabar masing-masing lewat Facebook. Saat ini si teman sudah punya 2 anak. Dan setiap kali dia mengirim pesan selalu menanyakan "Kapan kawin?". Saya memang jarang sekali mem-posting sesuatu yang terlalu personal. Social media Saya ya sebagai media networking dengan kolega dan teman lama. Biasanya Saya mem-posting soal pemikiran Saya, kegiatan yang berkaitan dengan profesi Saya sebagai filmmaker, foto saat sedang kumpul dengan teman atau hal-hal lucu. Seharusnya si teman ini punya bahan pertanyaan lain karena update tentang Saya hampir selalu ada social media. Saya juga sudah cukup sabar rasanya setiap pertanyaan "Kapan Kawin?" dilontarkan, selalu Saya jawab "Doain ajah". Kali ini ide iseng Saya bekerja. Berikut kira-kira percakapan Saya dengan  si Teman.

Teman: "Nov. Apa kabar? Kapan kawin? Jangan karier terus ah...."
Saya: "Alhamdulillah, Baik. Iya nih. Desember gue nikah"
Teman: "Asiiik! Siapa calonnya? Ga pernah diposting pacarnya. Undang-undang yaa"
Saya: (Disini udah merasa terganggu. Tapi sabarrr ini baru awal) "Gue kawinnya di Singapore. Ga rame-rame".
Teman: "Lho kenapa? Emang bisa?"
Saya: "Ya bisa doong... Cuma modal passport, mau nikah gampang. Soalnya calon gue beda agama. Kan kalo di Indonesia ga bisa. Makanya di Singapore aja".
Teman: "Lho beda agama? Dosa doong"
Saya: (Doh! Rempong amat sih)
Teman: "Sekarang ribet persiapan dong?"
Saya: "Oh nggak nyiapin apa-apa. Pendaftaran sudah sejak Juli. Cuma pesan gaun aja kok".
Teman: "Iya deh. Semoga nanti cepet dikasih momongan yaah"
Saya: "Oh ini udah, kok. Mau jalan 6 minggu". (Saya ga tahan buat ngakak pas ngetik)
Teman: "Hah!! Hamil duluan!! YA AMPUN!!"
Saya: "Lho emang kenapa? Daripada ntar abis kawin ditanyain kapan hamil kan"
Teman: SIGN OUT

See? Pengen tau banget urusan orang. Padahal apa urusannya sama dia coba? Saya saja sangat berhati-hati untuk menanyakan hal personal walaupun kepada sahabat. Karena Saya ga perlu tahu detail - sedetailnya. Saya sangat menghormati privacy orang lain. Jika dia tidak cerita, berarti dia ingin menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri.

Itu baru contoh kecil saja soal orang yang selalu ikut campur urusan orang lain. Sekarang ini orang-orang sedang sibuk mengomentari drama Raffi, Nagita dan Ayu Tingting. Saya sih sebagai orang yang bekerja di showbiz akan berpikir, "Bisa aja settingan atau kerjaan wartawan yang kehabisan bahan berita". Karena memang sudah jadi rahasia umum, untuk bikin berita di infotaiment, mereka menawarkan paket. Untuk muncul terus selama 3 bulan harganya sekian, muncul 6 bulan harganya sekian. Tapi jika seandainya Saya tidak tahu bahwa berita bisa dibuat, Saya juga ga akan mau mengomentari. Karena itu sama sekali bukan urusan Saya dan ga akan berdampak apapun untuk hidup Saya. Bahkan drama cinta segitiga ini dijadikan bahan postingan blog oleh beberapa blogger dan mereka mengomentari drama itu yang belum tentu benar juga. Ya, ampun #DemiKonten, cyiin?

Lalu untuk urusan selebgram. Beberapa nama seperti Karin, Anya dan Rachel dianggap postingannya vulgar. Karena penasaran Saya coba lihat-lihat ke Instagram mereka. Dan.... in my opinion, biasa-biasa aja tuh. Wajar dong kalau pakai bikini saat berenang atau dipantai. Saya ga tau kalau konten mereka selain di Instagram seperti Snapchat itu vulgar atau nggak. Kalaupun vulgar, tugas orang tua yang memberikan pengertian tentang self development untuk anak-anaknya bahwa hal itu tak perlu diikuti. Karena semakin banyak yang membicarakan dan membenci akan membuat mereka semakin terkenal. Selebgram-selebgram diatas bisa terkenal seperti sekarang juga karena sifat followers mereka yang memiliki rasa keingintahuan yang besar tentang hidup orang lain. Buktinya banyak selebgram yang fotonya lebih artistik dan tidak self center tapi followersnya tidak sebanyak selebgram yang lebih suka memposting social life-nya. Karena bagi followers, melihat foto kumpul-kumpul dengan teman lebih menarik ketimbang foto milkyway di langit Sumba.

Menurut Saya rasa ingin tahu urusan orang lain disebabkan karena tidak puas terhadap diri sendiri sehingga mereka sibuk membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Tidak ada hidup yang terlalu sempurna. Setiap orang punya masalah dan urusannya masing-masing. Lebih baik syukuri apa yang ada, Jika menginginkan sesuatu, bergeraklah. Jadi energi dan waktu kita tidak terbuang sia-sia. Hormati setiap pilihan hidup orang lain. Peduli yang sesungguhnya adalah membuat orang lain bahagia bukan memaksaka untuk menyamai persepsi.


Wednesday, August 17, 2016

Berkah Kemerdekaan



Hari ini Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke 71. Sudah cukup tua. Bagi yang lahir sebelum tahun 2000, kita adalah saksi sejarah. Begitu banyak perubahan yang sudah terjadi selama 71 tahun ini. Kita beruntung karena sempat merasakan dipimpin 6 Presiden yang berbeda. Bahkan diantara kita sempat menjadi aktivis. Semua Presiden yang pernah memimpin pasti bekerja untuk Indonesia yang lebih baik. Hari ini, kita evaluasi sejenak. Apakah Indonesia sudah lebih baik? Ya! Sangat! Walau belum sempurna. Dan ini adalah berkat pribadi warga Indonesia yang semakin hari semakin baik. Kita tak gentar menghadapi persaingan. Negara kita ini besar dan kompleks. Dan kita harus membantu pemerintah (walau kadang pemerintah ga membantu) untuk meratakan kesejahteraan penduduk di seluruh Indonesia dengan menggunakan kemampuan yang kita miliki.

Beberapa hari ini Saya berpikir. Apa sih berkah Tuhan yang paling penting untuk kita? Apakah uang? Ketenaran? Keluarga? Kesehatan? Akhirnya Saya mampu merangkum semua ini menjadi satu kata, yaitu Kemerdekaan. Menjadi pribadi yang merdeka adalah rezeki yang tiada tandingannya. Kita bisa melakukan apapun yang kita mau dan mengambil keputusan berdasarkan kata hati. Kemerdekaan mahal harganya. Coba bayangkan orang yang sedang berada dibalik jeruji. Mereka tidak bisa kemana-mana. Makan seadanya. Tak bisa bebas berkegiatan seperti banyak orang.

Saya pernah mengalami kemerdekaan Saya direnggut. Rasanya sangat sangat menyedihkan. Setiap hari ketakutan. Tak boleh ini itu. Saya tidak tahu salah apa. Jadi penjajah itu bukan hanya orang yang mengokang senjata seperti yang kita lihat di film-film perang. Penjajah adalah orang yang dengan sengaja merampas kemerdekaan seseorang karena ingin menguasai hak milik. Jadi setiap Saya merasa sedih, Saya ingat-ingat kembali fase hidup Saya disaat itu. Sungguh keadaan kali ini jauh lebih baik karena Saya sudah merdeka. Saya bebas melakukan apapun yang Saya mau. Bebas memilih pekerjaan. Bebas untuk memilih seorang kekasih bahkan bebas memilih jalan hidup Saya sendiri tanpa diatur siapapun.

Kemerdekaan adalah kebahagiaan. Dan itu pantas untuk diperjuangkan. Jadi perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan pada masa penjajahan dan oleh para pahlawan. Tapi harus terus dilakukan dan jadilah pahlawan paling tidak untuk diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, kita harus membuat diri kita kuat dulu. Salam merdeka!

Tuesday, August 9, 2016

Kenapa Punya Blog?



Sekarang ini banyak banget orang yang jadi terkenal karena blog. Dan sebutan blogger menjadi hype bahkan profesi. Saya sendiri mulai nge-blog sejak SMA sekitar tahun 2005-an. Saat itu blog tampilannya belum se-visual blog-blog masa kini. Diwaktu itu blog hanya berupa rangkaian kalimat. Jika ada yang memasang foto, fotonya pun tidak sekeren blog-blog saat ini. Ah.... Rindu rasanya membaca sebuah blog seperti itu. Dan pada saat itu sepertinya para blogger tidak terlalu peduli pada traffic visitors. Kalau sekarang para blogger seperti berlomba-lomba mendapat banyak visitors agar bisa dapat pemasukkan tambahan dari brand yang meng-endorse mereka. Sebutannya pun bermacam-macam, ada beauty blogger, lifestyle blogger, traveling blogger, dan masih banyak lagi.

Lalu, penting ga sih punya blog? Ya.... Tergantung. Saya tidak bisa menjawab penting atau tidak. Karena tak banyak orang yang bisa membuat konten blog yang menarik dan konsisten untuk nulis di blog. Saya mau berbagi 3 alasan paling dasar kenapa sih sebaiknya kita punya blog di era digital ini berdasarkan pendapat pribadi.

1. Menulis Itu Abadi
Sebenarnya bukan hanya menulis tapi berkarya akan membuat nama kita lebih panjang dari umur kita. Dan menulis adalah cara berkarya yang paling mudah dan murah. Karena menulis adalah skill dasar manusia. Apalagi di era digital saat ini, sangat mudah untuk meninggalkan rekam jejak tulisan kita. Dengan membuat blog, kita bisa berbagi informasi dan ilmu kepada banyak orang. Dan ini adalah kebiasaan yang bagus. Tahu gak kenapa bangsa Indonesia tidak banyak memiliki bukti sejarah? Karena bangsa kita tidak dibiasakan menulis, tidak seperti bangsa lainnya. Ditambah dengan sistem pengarsippan yang buruk. Seperti yang terjadi pada arsip film Indonesia jaman dulu. Untung saja ada yang berinisiatif untuk merestorasi film-film Indonesia tanpa bantuan pemerintah agar generasi selanjutnya tidak kehilangan bukti sejarah. Dengan membuat blog, kita seperti punya arsip digital yang bisa diakses dimanapun dan kapanpun. Jangan lagi diulangi kesalahan para pendahulu kita yang tak punya rekam jejak.

2. Portofolio
Dengan memiliki blog, kita punya portofolio yang mudah diakses. Selain itu kita jadi punya nilai kreditbilitas yang tentunya sangat baik untuk dunia profesional. Di blog ini, Saya pasang link film Saya jika ada yang mau menontonnya, jika ingin melihat hasil foto Saya cukup klik link instagram Saya atau tinggal klik label "Portofolio" untuk beberapa tulisan Saya yang dimuat dimedia. Bahkan konten blog ini juga portofolio untuk Saya, dimana tak hanya tulisan, tapi juga beberapa gambar infographic yang Saya buat sebagai element pelengkap konten. Dinda, salah satu ilustrator muda, sering dapat client keren karena dia memasang beberapa karyanya di blog.

3. Milestone
Seperti yang Saya bilang diatas. Blog adalah rekam jejak kita. Kita bisa membaca isi pikiran kita dimasa lalu hanya tinggal klik. Waktu pertama kali nge-blog, tulisan Saya masih berantakkan, ga jelas apa yang mau disampaikan. Makanya cukup banyak post-post awal untuk blog ini yang Saya hapus. Dan gaya penulisan Saya saat ini juga sudah berubah dibandingkan 3 tahun yang lalu. Walaupun bertujuan untuk meninggalkan rekam jejak, sebaiknya pilih-pilih topik yang mau disampaikan, lebih pantas ditulis dalam diary atau di blog. Karena mengikuti perkembangan jaman, sekarang kalau mau posting blog juga Saya sertakan foto. Kalau dulu kan cuma berupa text saja.


Jika ada yang bilang blog bisa dijadikan sumber penghasilan, ya silahkan saja. Kalau Saya sendiri tidak terlalu berambisi untuk hal itu makanya Saya belum monetize blog ini. Saya mau konten di blog ini bersifat organic. Saya tak terlalu peduli dengan SEO method, Alexa Rank dan sebagainya. Karena tujuan Saya menulis blog hanya ingin berbagi. Jika Saya bisa menghasilkan uang dari blog ini, Saya anggap itu bonus saja.

Saturday, August 6, 2016

Let's Enjoy Other's Success



Semalam Saya merasa mata Saya berdarah-darah melihat komentar instagram beberapa artis yang terlihat glamour seperti Syahrini atau Awkarin (well, Karin selebgram sih belum jadi seleb beneran). Saya orang yang juga suka barang-barang bagus pasti akan sangat menikmati foto-foto para artis itu. Yang ga habis pikir, kenapa sih banyak orang yang bilang itu pamer, hasil dari kerjaan ga bener dan komen negatif lainnya?

Saya rasa banyak orang yang mengalami mental block. Apa itu mental block? Pola pikir yang menganggap uang, ketenaran dan kesuksesan adalah pemicu sifat buruk. Padahal yang sifatnya buruk, ya orang-orang mental block itu. Ga heran hidup mereka ga maju-maju karena sibuk nyinyirim rezeki orang lain yang lebih sukses dari dia, sedangkan dia sendiri terua menggerutu sepanjang hidupnya karena kesalahannya sendiri.

Semakin kita nyinyirin rezeki orang lain, rezeki kita akan semakin sulit. Makanya hindari deh komen-komen semacam, "Uangnya mending buat nyumbang la la la", " Pake yang murah bisa kali", atau yang lebih parah "Belinya hasil jual diri".

Kita ga pernah tahu lho, bisa jadi orang itu menyumbang diam-diam. Dan menurut Saya, kalau dia mampu ya wajar saja dia beli barang mahal. Masa sudah capek kerja hasilnya ga dinikmati. Atau sesederhana, ya memang Tuhan kasih dia rezeki bagus sekali.

-- How someone spend their money is not my business at all --

Saya ga mau menanamkan dengki dalam hati Saya. Karena penyakit hati yang paling berbahaya adalah dengki. Rasa iri yang berlebihan itu akan mematikan dan merusak hidup kita perlahan-lahan. Sifat dengki adalah dosa yang tidak terlihat.

Belajar lah untuk turut senang atas kesenangan orang lain. Beri selamat dan doa. Ga usah ikut-ikutan selebtwit yang suka nyinyir 😜. Percaya deh nyinyir itu sama sekali ga keren. Jadilah orang yang sweetheart, maka kamu akan terlihat jauh lebih syaaantiiek. ;)


Tuesday, August 2, 2016

God Is Good



Ga terasa sudah masuk bulan Agustus. Tahun 2016 tersisa 4 bulan lagi. Waktu cepat banget berlalu yaa... Perasaan baru sebulan lalu nulis wishlist. By the way, apa wishlist kalian untuk tahun ini sudah banyak yang terwujud? Atau belum sama sekali? Kalau Saya sendiri.... Masih proses,kok. Hahahahaha!! Padahal wishlist Saya cuma 3. Tapi memang 3 hal besar yang mungkin bisa merubah hidup Saya. Dan yang bisa Saya lakukan saat ini hanya ikhlas dan pasrah. Saya memang bukan orang yang religius. Sholat kadang masih bolong-bolong. Namun Saya ingin berbagi persepsi Saya tentang Tuhan.

Belakangan ini banyak orang yang mengagung-agungkan agama, tapi tindak tanduk dan perkataannya sangat jauh dengan apa yang diajarkan agama. Agama tidak hanya mengajarkan tentang ibadah kepada Tuhan, tapi juga mengajarkan bagaimana seharusnya manusia bersikap. Ada yang rajin sholat atau ibadah ke gereja, tapi sifatnya selalu pesimis. Seakan tidak percaya akan kebesaran Tuhan. Beragama tapi tidak memiliki iman. Sebenarnya, apa sih iman itu? Iman adalah sebuah kata dari bahasa arab yang artinya percaya. Ya, sederhana sekali, iman itu percaya.

Jika bicara soal Tuhan, kebanyakan orang akan fokus bicara soal pahala dan dosa. Apakah kita segitu pamrihnya beribadah tapi mengharapkan pahala? Apakah Tuhan sangat bergantung pada kita, saat kita malas ibadah kita akan berdosa? Ibadah adalah bentuk komunikasi seorang hamba pada Tuhannya. Dan sesungguhnya kita yang butuh Tuhan sehingga kita harus beribadah. Jika kita memiliki rasa "Percaya" yang besar, Tuhan itu selalu ada untuk kita. Tuhan itu Maha Baik. Tapi sayang sekali masih banyak orang yang berpikiran bahwa Tuhan suka menghukum. Sehingga terkadang kita beribadah karena takut dihukum Tuhan, bukan karena keinginan untuk dekat pada Tuhan. Tuhan sudah memberikan kita banyak nikmat, diantaranya kesehatan, pekerjaan, dan kerabat. Jika kita merasa kurang bahagia, mungkin karena kita tidak pandai mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

Berdo'a adalah bentuk komunikasi kita kepada Tuhan. Saat berdoa kita mencurahkan segala isi hati, menyampaikan keinginan atau berterima kasih atas segala nikmat. Ada orang yang mengeluh, kenapa do'anya tidak dikabulkan Tuhan? Salah apa? Mungkin saat berdoa dia tidak memiliki keyakinan penuh bahwa Tuhan akan mengabulkan do'anya. Disini kita harus ikhlas dan pasrah menyerahkan urusan pada Tuhan dan biarkan Tuhan bekerja dengan caranya. Tak heran banyak orang yang mendatangi 'orang pintar' atau meminta baca-bacaan tertentu agar keinginannya terkabul. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki "Rasa Percaya". Tuhan mengerti bahasa apapun karena Tuhan itu universal. Tuhan itu satu. Berdoa bisa dilakukan oleh siapapun dan kapan pun.

Tuhan itu Maha Baik. Dia akan memenuhi permintaan kita berdasarkan pikiran dan usaha kita. Maka biasakanlah berpikir positif agar hal baik memenuhi diri kita. Manusia diciptakan untuk memberi kebaikan terhadap sesama. Kita tidak bisa menilai kebaikan seseorang hanya dari pakaian atau frekuensi ibadahnya. Karena "Rasa Percaya" kepada Tuhan akan terpancar dari setiap tindakkan dan ucapannya.