Wednesday, March 12, 2025
Coffee Time Story #17 Pentingnya Menjadi Pribadi Yang Authentic
Monday, March 11, 2024
Coffee Time Story #15 Coldplay Concert Is More Than Just A Concert
Sudah lewat sebulan setelah saya akhirnya bisa mewujudkan salah satu bucket list saya, yaitu nonton konser Coldplay. Tapi rasanya masih seperti dalam mimpi. Antara percaya ga percaya kalau saya akhirnya bisa menyaksikan langsung konser yang spectacular tersebut. Tentunya semua ini terjadi berkat izin Tuhan. Omong-omong tentang ijin Tuhan, ini benar-benar kejadian. Perjalanan nonton konser kali ini akan menjadi salah satu pengalaman spiritual saya yang akan terus diingat.
Friday, October 20, 2023
Coffee Time Story #14 Tentang Menjadi Biasa-Biasa Saja
Hidup saat ini seringkali ditandai oleh kegilaan akan ambisi dan obsesi untuk mencapai kesempurnaan. Di media sosial, kita sering melihat orang-orang yang hidup dengan penuh ambisi dan menggapai kesuksesan yang luar biasa. Namun, apa yang terjadi dengan kehidupan yang biasa saja? Mengapa menjadi seseorang yang biasa saja tanpa ambisi sering dianggap sebagai hal yang buruk? Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak kamu semua untuk melihat sisi lain dalam kehidupan yang sederhana dan menghargai momen-momen kecil yang membawa kebahagiaan sejati.
Wednesday, April 20, 2022
Coffee Time Story #13 Thoughts That You Will Agree As You Get Older
Saat tulisan ini dibuat, saya belum tidur selama 2 malam. Another season of anxiety and insomnia. My mind just can't stop thinking this or that, could be necessary or not. Somehow, saya justru merefleksikan banyak hal. Hal-hal yang pernah saya alami. Hal-hal yang seiring berjalannya waktu akan berubah. Menyenangkan atau tidak but c'est la vie.
Monday, March 22, 2021
The Price That I have To Pay
You might will not believe it. I just had a miserable week. Malam itu, tepat sehari sebelum syuting untuk video iklan ramadhan, I tried to take own my life. Sampai sekarang saya juga ga percaya saya bisa seperti itu. Sudah 1 minggu saya sulit tidur, hanya tidur 1 atau 2 jam. Lalu bangun karena saya harus bekerja. Sampai akhirnya malam itu, badan saya sudah mulai kejang karena stress. Saya hanya ingin tidur dan istrirahat. Entah ada pikiran apa, saya akhirnya ambil sisa obat tidur saya yang tersisa 3 tablet dan saya telan semua dengan harapan saya akan mati saat itu.
Thursday, February 18, 2021
Coffee Time Story #11 I Want My Life Back
Saya sedang melalui hari-hari yang cukup sulit untuk hati dan pikiran. Beberapa bulan sejak terapi pertama, kesehatan mentalnya Saya masih belum pulih. Belakangan justru Saya merasakan berada dikebingungan, apa yang sebenarnya terjadi pada diri Saya.
Sunday, September 13, 2020
Coffee Time Story #10 Dealing With Anxiety
Sejak bulan Juli Saya mengalami insomnia. Dalam satu minggu ada hari-hari dimana Saya kurang tidur. Mungkin karena kelamaan main handphone saat mau tidur, maka sekarang setiap jam 9 atau 10 malam, Saya mematikan handphone. Cara ini cukup berhasil tapi tak lama. Memasuki bulan Agustus, insomnia Saya lebih parah. Saya baru bisa tertidur menjelang subuh. Dan intensitasnya lebih sering, hampir setiap hari. Hingga puncaknya, Saya sampai tidak bisa tidur sama sekali. Keadaan ini sangat mengganggu dan mengurangi konsentrasi Saya saat bekerja disiang hari. Saya pun mulai khawatir akan kesehatan fisik Saya jika dibiarkan.
Sunday, May 31, 2020
Coffee Time Story #9 Catatan Akhir Mei, Bersiap Untuk Back To Normal
Bulan Mei ini hari-hari Saya sangat produktif. Tentunya selain tetap bekerja dengan metode WFH, Saya punya kesibukan lain, yaitu menggalang donasi untuk pekerja film dan seni yang kemudian gerakan tersebut diberi nama Kawan Sinema. Saya dibantu teman-teman dari Infoscreening dan beberapa teman dari industri film lainnya berhasil mengumpulkan dana Rp 3.408.250,- yang kemudian dibagikan kepada 26 orang pekerja film dan seni.
Sunday, May 10, 2020
Coffee Time Story #8 Generous People In My Life
Beberapa waktu ini Saya sedang menggalang donasi untuk teman-teman pekerja seni dan film. Gerakan tersebut Saya beri nama #KawanSinema. Yang kemudian Saya mengajak teman-teman dari Infoscreening untuk membantu Saya. Bedasarkan press release yang Saya tulis, gerakan ini terbentuk karena melihat peluang maraknya live streaming lewat media sosial yang bisa dimanfaatkan untuk mengajak para penonton untuk berdonasi. Namun, ada alasan personal kenapa Saya menginisiasi gerakan ini.
Saya pernah beberapa kali berada di titik terendah dalam hidup Saya karena.... kebodohan dan kecerobohan Saya. Saya pernah merasakan tidak bisa beli makan bahkan diusir dari tempat kost Saya. Saat Saya terpuruk, Saya banyak dibantu oleh teman-teman dan kerabat. Tak sungkan mereka membantu Saya bahkan dalam nominal yang cukup besar. Tak hanya berupa uang, namun juga bantuan dalam bentuk lainnya. Bantuan dari mereka adalah tulus, agar Saya bisa melanjutkan hidup. Keadaan Saya yang sangat buruk waktu itu mungkin memang sudah direncanakan oleh semesta, bahwa beberapa tahun kedepan, justru Saya yang diberi kekuatan untuk membantu teman-teman yang sedang kesulitan. Maka dari itu saat kondisi Saya yang bisa dibilang cukup baik saat ini, Saya ingin membalas apa yang sudah Saya terima, yaitu membantu orang lain. Saya berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu Saya dulu.
Jika kalian saat ini berada dititik terendah, percayalah, kalian tidak sendiri. Orang lain pun mungkin pernah merasakannya. Dititik ini mungkin kita bisa lebih merendahkan diri, menurunkan ego. Bahwasanya kita saling membutuhkan satu sama lain.
Tetap semangat. Sehat-sehat selalu.
Jika kalian sedang berada dititik terendah karena pademi ini, percayalah, orang lain pun pernah merasakan tidak enaknya keadaan itu.
Saturday, April 18, 2020
Catatan Masa Pembatasan Sosial
Hari tepat 36 hari Saya menjalani pembatasan sosial yang dihimbau pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Kurang paham pastinya program pemerintah pusat atau daerah yang Saya ikuti. Yang jelas kantor termpat Saya bekerja sudah menerapkan WFH alias Work From Home yang artinya kerja dari rumah sejak 16 Maret 2020.
Sunday, December 29, 2019
Coffee Time Story #7 Tentang Doa Yang Terkabul
Akhir 2019 ini ditutup dengan liburan akhir tahun yang tidak benar-benar liburan. Biasanya tiap liburan Saya melakukan detox digital agar lebih menikmati moment. Tahun ini sebelum libur, Saya masih ada pekerjaan yang harus tetap dikontrol sepanjang liburan. It is a good problem. Semoga ini bisa menjadi pertanda kalau 2020 mendatang akan menjadi tahun yang baik untuk urusan pekerjaan.
Memasuki tahun 2019, Saya tidak membuat resolusi apapun. Tapi ada 1 doa yang Saya ingat saat menjelang pergantian tahun. Saya ingin bisa lebih dekat dengan papa. Dan... doa itu terkabul, walau harus melewati proses yang tidak menyenangkan.
Sunday, November 24, 2019
Coffee Time Story #6 Melajang Diusia 30 Tahun
![]() |
Saturday, April 6, 2019
Coffee Time Story #5 Tentang Niat Dan Rezeki
![]() |
Photo from rawpixel |
Belakangan ini kondisi badan Saya sedang agak ringkih. Saya yang biasanya jarang sakit walau hanya flu, awal tahun kemarin sempat kena radang. Saat tenggorokan mulai terasa sakit, Saya langsung pergi ke dokter dan minta anti biotik. Selama beberapa hari badan Saya terasa agak hangat walau masih sangat bisa beraktivitas seperti biasa.
Tuesday, December 4, 2018
Coffee Time Story #4, Happy 29!
Tanggal 30 November lalu, Saya berulang tahun yang ke 29. Umur terakhir kepala 2. Tahun depan Saya akan berusia 30 tahun. Saya jadi ingat saat Saya berulang tahun yang ke 19.
10 tahun yang lalu, Saya deg-deggan, seperti apa sih saat Saya sudah kepala 2 nanti. Ternyata setelah dijalani, wow! My life is a rolller coaster!
Thursday, November 1, 2018
Coffee Time Story #3 Bonus Salaman Dengan Presiden Jokowi
![]() |
Photo By Jamey Ekins free photo |
Weekend lalu mulai dari Jum'at adalah hari-hari yang akan Saya kenang. Dari judulnya sudah jelas, iya, Saya berkesempatan berada di 1 ruang dengan Pak Jokowi, bahkan sempat bersalaman. Pengalaman yang ga tau kapan akan terulang lagi. Saya memang sering ketemu dan kenal beberapa public figure. Dan Saya tidak pernah star struck. Syuting atau ngopi dengan artis pun Saya ga pernah minta foto bareng. Kecuali orang tersebut memang berteman dengan Saya. Tapi ketemu Pak Jokowi, rasanya tuh beda. Berada di jarak kurang dari 3 meter saja Saya sudah deg-deggan.
Sunday, August 5, 2018
Coffee Time Story #2
Minggu ini tiba-tiba merasa kehilangan energi. Bawaannya pengen menyendiri terus ga mau mikirin apa-apa. Mungkin bisa dikatakan Burnout. Penyebabnya Saya sendiri tidak tahu. Hingga disuatu tengah malam Saya terbangun dan ibarat menemukan ilham, ada hal yang harus Saya perbaiki.
Saya sedang jenuh dengan pekerjaan. Sebenarnya perasaan jenuh itu sudah mulai muncul beberapa bulan lalu tapi selalu Saya ignore. Saya masih memiliki semangat untuk mencapai tujuan kehidupan profesional Saya. Ternyata hal yang selama ini Saya perjuangkan bisa menjadi hal buruk untuk diri Saya. Wajar Saya merasa jenuh. Saya bekerja sejak umur 18 tahun dimana biasanya orang lain sedang menikmati fase perubahan dari remaja ke dewasa. Karena bekerja sejak muda, Saya memiliki keterbatasan menikmati masa muda. Bukan berarti masa muda Saya tak menyenangkan. Justru Saya sangat bersyukur Saya memiliki pengalaman yang cukup diawal 20-an dulu.
Sejak usia 14 atau 15 tahun, Saya memang sudah merancang mau jadi apa dalam urusan pekerjaan dan sampai saat ini Saya masih menjalani apa yang sudah Saya rancang itu. Ternyata ada kesalahan dalam setiap perjalanan itu. Dan 1 yang paling jelas adalah Saya terlalu keras pada diri Saya sendiri. Saya melupakan bagian kecil untuk kehidupan personal Saya.
Jadi sejak malam itu, Saya memutuskan untuk mulai fokus ke kehidupan personal. Sudah cukup Saya fokus di profesional selama 10 tahun. Bukan waktu yang singkat. Tak lama lagi Saya akan menginjak usia 30 tahun. Mungkin ini waktunya Saya rehat sejenak. Toh suatu saat akan ada keluarga kecil yang harus Saya urus. Jadi daripada menyesal nantinya karena kurang memperhatikan diri sendiri, lebih baik dimulai dari sekarang. Saya yakin setiap orang memang ada waktunya untuk rehat sejenak dari kehidupan profesionalnya untuk membangun kehidupan personalnya. Bukan artinya Saya ingin berhenti bekerja sama sekali, hanya saja saat ini prioritas utama Saya adalah untuk kehidupan personal.
Semoga saat Saya kembali ingin menata karir lagi, Saya sudah jauh lebih baik dari hari ini.
Monday, July 9, 2018
Coffee Time Story #1
![]() |
Photo from Pexels |
Hari ini seperti biasa rutinitas Senin, membuat plan untuk seminggu kedepan dan melihat kembali progress beberapa hal yang sudah dilakukan minggu lalu. Tiba-tiba kepikiran sesuatu dan ga sabar untuk segera dibagikan melalui tulisan ini.
Seringkali kita merasa orang yang paling malang dan paling susah. Sayapun terkadang merasa demikian. Sudah kerja keras tapi hidup masih gini-gini aja. Orang-orang sudah bisa beli gadget terkini tanpa memusingkan harga. Banyak pula yang sudah bisa liburan semudah jalan dari HI ke Blok M. Where am I? Apa salah Saya? Ilustrasi ini mungkin dirasakan sebagian besar orang.
Tuhan itu terkadang memberi ilhamnya melalui orang-orang disekeliling kita. Beberapa waktu ini seakan Saya dibukakan mata dan kuping lebar-lebar, untuk mendengar kisah-kisah dan melihat kehidupan orang disekitar Saya.
Tepat seminggu lalu, kabar duka datang dari tempat Saya bekerja. Seorang anak magang meninggal akibat kecelakaan tunggal. Jadi dia nyambi jadi driver ojol kalau sedang libur atau selepas pulang dari kantor. Menurut cerita dari atasannya, dia ingin sekali membiayai adiknya agar bisa kuliah dan jadi orang sukses. Makanya dia kerja keras sampai kelelahan yang mengakibatkan dirinya celaka. Saya pun merenung, Saya tidak pernah bekerja sekeras itu. Selepas kerja Saya masih bisa santai sekedar baca buku atau nonton film di bioskop. Tapi ada orang yang benar-benar harus bekerja sekeras itu untuk bertahan hidup.
Cerita lainnya, saat Saya beli makan, ada bapak-bapak yang beli makan hanya dengan tahu, tempe dan sambal. Saya pikir, budget makan Saya sudah irit, tapi ternyata masih ada orang yang harus lebih irit lagi. Selama makan Saya jadi kepikiran. Betapa masih beruntungnya Saya masih bisa beli ikan sebagai lauk.
Dan banyak cerita-cerita lainnya, jika dikupas satu persatu, hidup Saya masih jauh lebih beruntung daripada mereka. Tapi selama ini seringkali Saya kurang bersyukur atas pemberian Tuhan.
Saya tidak mengidap penyakit parah, Saya punya pekerjaan, Saya punya pacar yang baik, Saya diberikan kekuatan agar bisa hidup mandiri. Harusnya Saya bisa mensyukuri semua itu disetiap hembusan nafas.
Saya berdoa dan berharap, agar diberikan kehidupan yang baik agar bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Semoga dengan bantuan Tuhan, Saya bisa mewujudkannya. Karena esensi dari hidup ini bukan sekedar bisa memenuhi hasrat hidup, tapi memberi dampak untuk kehidupan sosial.
Tuesday, February 13, 2018
Me and My Dad
Papa adalah satu-satunya orang tua kandung yang masih Saya miliki sampai hari ini. Mama Saya meninggal saat Saya berusia 8 tahun. Sejak itu, Saya tidak tumbuh atau diasuh oleh Papa. Saya berpindah-pindah dan hanya berjumpa dengan Papa sesekali. Setahun setelah Mama meninggal, Papa menikah lagi dan setahun kemudian Kami tinggal bersama. Sayang, harapan Saya untuk tinggal bahagia bersama orang tua kandung tidak terwujud. Kecemburuan orang baru yang hadir dalam hidup Kami, membuat hubungan Saya dan Papa berjarak tanpa kita sengaja. Sampai pada akhirnya, hubungan Kami benar-benar berjarak.
Saya dan Papa hampir tidak pernah akur. Kami tidak saling memahami. Kami berbeda pandangan hidup. Dan Papa memang orang yang unik, dia bukanlah seseorang yang perasaannya peka. Terkadang Saya membatin, "Mungkin ini yang dulu dirasakan mama". Seiring berjalannya waktu, saat Kami semakin tua, hati Kami melunak. Kami tetap menjalani hidup Kami masing-masing, namun saat ini Kami lebih menerima keadaan, menerima masa lalu tanpa menyalahkan apapun. Kami sadar Kami sama-sama butuh. Saya perlu Papa sekedar mendengarkan walau kadang tak menghasilkan solusi. Dan bagaimanapun, mungkin hanya Saya harapan Papa satu-satunya untuk merawatnya saat dia tua nanti.
Setelah keabsenan kehadiran hubungan ayah dan anak, Saya menyadari, Papa Saya begitu sayang sama Saya. Dia ingin memberikan yang terbaik walau terhalang oleh sesuatu. Dan Saya pun tidak boleh jumawa, bagaimanapun Saya bisa punya pekerjaan bagus karena Papa yang memasukkan kerja saat Saya baru lulus SMK. Saya baru menyadari keberuntungan itu setelah 1 dekade. Apa jadinya jika Papa tidak merekomendasikan Saya pada waktu itu, Saya cuma lulusan SMK. Saya tidak akan ada dititik ini.
Sebesar apapun amarah Saya, Saya tak bisa memungkiri, I have his DNA. Bahkan Kami punya kebiasaan yang sama. I'm not a perfect daughter. Saya rasa walau Saya tidak menceritakan perjalanan hidup Saya diluar, dia tahu dengan sendirinya tanpa harus ikut campur. I believe, parents have a good instinct to their children.
So guys, bersyukurlah jika kalian masih punya orang tua lengkap. Jangan menyembunyikan apapun, karena marahnya orang tua hanya sementara. Dan percuma saja kalian menutup-nutupi, ingat, mereka punya pengalaman hidup dan mereka tidak sebodoh yang kita pikir. Apa kalian tega membohongi orang tua kalian yang sudah bekerja keras supaya kamu bisa memiliki hidup yang lebih baik, yang sudah menyekolahkan kamu sehingga kamu bangga akan gelarmu itu. We are nothing without them.
![]() |
Me and My Dad |
Saturday, January 20, 2018
28 Life Lesson In 28 Years
![]() |
28 Life Lesson in 28 years. |
Sebelum bulan Januari habis, selamat tahun baru 2018 yaaa semuanyaa. Semoga segala harapan terkabul dan hidup menjadi lebih baik lagi. Saya ga sabar ingin cicilan segera lunas. Hahahaha!!
Diakhir Desember kemarin, pas lagi liburan, Saya pakai sisa waktu 2017 untuk merenung dan evaluasi apa-apa saja yang harus Saya perbaiki. Jadi di 2018, diusia Saya yang sudah 28 tahun, Saya ingin seolah-olah me-reset hidup Saya. Ga ada lagi mbatin "hidup gue gini-gini aja". Apa yang works and didn't works. 2017 adalah tahun Saya merangkak lagi setelah Saya terjun bebas di tahun 2016. Yes, it was exhausted. Saya ingin di 2018 Saya bisa berdiri tegak dengan sempurna.
Maka itu, kali ini Saya mau nulis 28 hal yang Saya pelajari selama Saya hidup 28 tahun. List ini juga menjadi daftar hal-hal yang patut Saya syukuri.
1. Bermimpilah.
2. Always positive thinking.
3. Impossible is nothing.
4. Act as a lady/Have a good manner.
Saturday, December 2, 2017
Things That Made Me Happy This November
November is my favorite month. Jaman dahulu kala dewa Zeus meminta diambilkan ember oleh salah satu dewinya yang bernama Novy. "Nov, ember...". Ga jelas juga buat apa. Mungkin saat itu istananya bocor dan budak-budak Zeus sedang cuti akhir tahun sehingga ga ada yang bisa dimintain tolong buat ambil ember.
Tahun ini Saya menginjak usia 28 tahun. There are sooo many lesson a year ago. Dan ditahun ini, hidup Saya sudah agak chill alias santai. Maksudnya jauh lebih asyik daripada tahun lalu. That's why I want to make a list things that make me happy this November.
1. Ketemu Teman-teman
Teman-teman Saya banyak yang sudah menikah, pindah keluar kota atau negeri atau sibuk masing-masing. Tapi hampir tiap weekend dibulan November ini, Saya bisa bertemu dan melepas kangen. Dari ngobrol-ngobrol di lesehan Blok M Square sampai menghabiskan waktu di cafe baru paling hits di Jakarta, Henshin.2. So Many Opportunity Suddenly Come
Yep. I feel exciting and nervous at the same time. Dan juga sakit kepala. Yang mengejutkan kesempatan-kesempatan ini datang bersamaan di minggu ini. So I will be the part of collaboration film project with China, Thailand and Singapore. This is my dream. I really want to make a film for international market. I almost get it 2 years ago, tapi apa mau dikata, belum rezeki. So I am very grateful for all of this. I have been passed hard time last year. Tuhan memang Maha Baik.3. Of Course, My Birthday!
At least Saya ga masuk club 27. I am alive!! 28 will be another story. I feel optimist this time. Wish all the best for everything. For my professional life, for my personal life, get a great earn. I want everything goes smoothly.So, what things that made you happy last month?