Sunday, October 7, 2018

Crazy Rich Asian, Lebih Dari Sekedar Romcom

crazyrichasians
Crazy Rich Asians,


 Awal mula tertarik nonton film Crazy Rich Asians karena pacar yang merekomendasikan. "You have to watch it! You absolutely gonna love it!". Awalnya tidak kepikiran akan nonton, karena Saya sendiri belum pernah baca bukunya. I know some people are crazy about it, tapi masih belum segitunya penasaran sampai pada akhirnya pacar begitu menggebu-gebu rela nonton 2 kali demi nemenin Saya nonton. Saya nonton show pertama dan studio hampir penuh. Sisanya, sold out! Apakah the real crazy rich asians bought the the tickets? Yang pasti, hype is REAL, pemirsa.

Dalam waktu 5 menit pertama, Saya langsung jatuh cinta. I know this is gonna be a great story movie. My heart just pumping. Kuddos to Adele Lim yang sukses mengadaptasi novel kedalam screenplay! Selesai nonton film ini, Saya menangis karena saking bagusnya. Bagus disini adalah dari segi cerita. Bukan sekedar megah. Jika bicara megah, film Hollywood mana yang ga megah? Dan Saya paham kenapa pacar suka sekali film ini. We are just falling in love with the strong characters.

crazyrichasians

Menurut point of view Saya, kenapa Crazy Rich Asians bisa menjadi hype adalah mereka berhasil menciptakan likable character dan hampir related dengan cerita orang kebanyakan. Apalagi karakter utama, Rachel Chu.  Rachel Chu adalah gambaran perempuan di dunia nyata. Kamu bisa saja sukses dan cantik, tapi bukan berarti akan mudah mendapatkan restu dari ibu pasangan. Tak heran ada jargon mertua dan menantu ga akan pernah akur. Karena kita dibesarkan oleh budaya Asia, dimana anak akan dikontrol oleh orang tua sampai kapanpun. Sayapun pernah ada diposisi Rachel. Pada waktu itu kata mantan Saya, ibunya tak suka sama Saya karena Saya tinggal sendiri pasti anak nakal dan Saya tidak kuliah. Namun pada akhirnya mantan Saya menikahi perempuan yang tak lebih baik dari Saya dan ibu mantan Saya awalnya juga tidak setuju. Akhirnya Saya merasa beruntung karena kita tak berjodoh, mana enak menjalin rumah tangga dengan anak mami. I find much much much someone better, baik dari karakternya maupun keluarganya.

Karakter Rachel Chu ini sangat perlu dicontoh oleh wanita muda modern. Konflik politik tidak hanya berlaku diurusan pribadi, tapi juga akan ditemukan dalam kehidupan profesional. Biasanya kita lebih memilih mengalah saat ada seseorang yang ingin merebut apa yang kita punya. Ternyata ini alasan orang culas makin merajarela, karena yang benar-benar waras memilih untuk pergi. Sebaiknya kita tidak bersikap seperti itu, tapi kita harus ikut 'bermain' dalam permainannya. "Bak Bak Bitch!", tunjukkan power kita, jangan biarkan mereka mengolok-olok tiada henti.

Film Crazy Rich Asians ini adalah film women empowerment. Karakter-karakter didalamnya adalah sekumpulan wanita classy dan kuat. Salah satunya adalah Astrid Young, yang diperankan oleh Gemma Chan. Astrid adalah wanita super kaya yang menikahi laki-laki biasa. Suaminya berselingkuh karena merasa rendah diri dari keluarga Astrid. Astrid tidak mengemis-ngemis seperti perempuan kebanyakan. Dengan sangat elegan, dia tak membiarkan dirinya tidak dihargai.

astridyoung


Ada 1 scene favorite Saya, simple namun mempunyai makna yang begitu dalam. Mahjong Scene. Sebelum Rachel kembali ke New York, dia ingin menunjukkan kepada Eleanor bahwa dirinya tak serendah yang dipikir. Rachel menjadi perempuan yang begitu dicintai Nick karena hasil didikan ibunya yang bukan siapa-siapa hanya punya intregitas hidup. Inilah scene dimana Saya meneteskan air mata, kata-kata yang begitu dalam diucapkan oleh Rachel dengan jelas tanpa gamang tanpa emosi.

mahjongscenecrazyrichasians

"a poor, raised by a single mother, low class, immigrant nobody".


Menjadi perempuan tak cukup hanya sekedar cantik. Jika kita hanya mengandalkan kecantikan, akan ada banyak perempuan yang jauh lebih cantik. Perempuan berkualitas adalah perempuan yang bisa menempatkan dirinya dimanapun dia berada, perempuan yang tidak menggantungkan hidup dan kebahagiannya kepada orang lain. Crazy Rich Asians bukanlah sekedar film romantic comedy garapan Hollywood yang extravagant. Ini adalah film tentang pelajaran untuk semua perempuan. Pelajaran bagaimana menghadapi konflik. Kehidupan ini bagaikan mahjong, harus dijalani dengan penuh strategi. Karena jika wajib memperjuangkan prinsip selama itu adalah hal yang benar. Bukan zamannya lagi mengalah untuk menang, tapi berjuang untk kemenangan.






Saturday, September 29, 2018

[Haul] Dan Review Biokos 30's Vital Nutrition

bikos30'svitalnutrition


Sebenarnya Saya kurang cocok bikin judul Haul, karena Saya jarang sekali belanja produk-produk baru. Karena Saya orangnya hemat alias medit. Kali ini bikin judul haul karena kebetulan lagi coba produk baru yang belum Saya coba sebelumnya. Produk-produk itu adalah skincare dari Biokos, face scrub Himalaya, kuteks Beauty Story, Cologne Belia dan Biore Pore pack.

Kulit Saya sedang mengalami kekeringan karena cuaca panas, yang kurang bisa diatasi oleh VCO. Ditambah komedo disekitar hidung dan pori-pori tampak agak besar. Untuk masalah komedo, sebenarnya Saya sudah rutin melakukan exfoliating 2 kali seminggu dengan face scrub. Terakhir kali sebelum beli Himalaya, Saya pakai Wardah Peeling. Wardah peeling ini menurut Saya kurang oke untuk mengangkat komedo. Setelah habis, Saya beli Himalaya Neem Scrub. Sebelumnya Saya ingin beli face scrub favorite wanita planet bumi, St. Ives. Tapi waktu Saya ke Watson, barangnya sedang kosong.


1. Himalaya Neem Scrub

Himalaya Neem scrub ini sebenarnya untuk kulit normal berminyak. Sedangkan kulit Saya normal kering. Saya ga lihat-lihat lagi karena Saya pikir Himalaya hanya ada 1 varian. Ditambah puyeng lihat banyak kemasan antara face scrub dan fash wash yang sangat sulit dibedakan


Tekstur Himalaya Face Scrub
Himalaya ini mengandung Neem yang berkhasiat meredakan jerawat (padahal Saya ga punya jerawat). Untuk butiran scrubnya, itu berasal dari kulit apricot, mirip scrub St. Ives. Himalaya Neem Scrub ada butiran hijaunya. Kurang tahu itu kulit apricot atau neem. Untuk kemampuan membersihkan komedo, produk ini masih kurang. Dan Saya kurang cocok karena sempat terasa agak perih.

Harga : RP 25.000,- sampai RP 28.000,- / 50ml
Repurchase: No. Pengen coba Ristra aja

2. Biokos 30'S Vital Nutrition Nutri Toner

Saya itu belum pernah melakukan perawatan skin care lengkap karena merasa tak punya masalah kulit yang berarti. Dari zaman SMA, pelembab Saya hanya pakai Pon'd. Sejak 2015, Saya beralih menggunakan minyak natural, EVOO atau VCO. Sampai akhirnya belakangan menyadari kondisi kulit tidak seprima dulu karena faktor usia, stress dan polusi. Sehari-hari Saya hanya pakai Creme 21 saat sebelum mengaplikasikan foundation. Malamnya Saya pakai VCO.


Sayapun mulai cari informasi produk skin care apa yang harus Saya pakai. Ternyata toner itu cukup penting. Saya tidak pernah pakai toner sepanjang hidup Saya. Untuk membersihkan make up. Saya hanya pakai Pond's Shake and Clean yang Saya pakai sejak usia 14 tahun dan tidak pernah ganti sampai sekarang. Saya masih ingat dulu Saya terpesona sama wajahnya Sigi Wimala saat jadi model Pond's, bareng dengan Samuel Rizal yang pada waktu itu adalah hot rising star. 

Tadinya Saya mau beli Ristra. Tapi lagi-lagi Saya tidak menemukannya. Dan Saya sedang ga ada waktu untuk ke Ristra PIM 2. Daritadi ngomingin Ristra terus gara-gara Racun Warna Warni. Sungguhlah blog itu berhasil meracuni banyak kaum hawa untuk jajan produk perlenjehan. Akhirnya Saya masuk ke counter Martha Tilaar. Ada 1 jam Saya ngobrol-ngobrol sama Mbaknya. Nyobain produknya satu-satu. Saya sempat tanya soal kondisi kulit Saya, dia bilang bintik sekitar hidung itu adalah komedo. Jadi yang harus dilakukan adalah membersihkan komedo, meringkas pori-pori karena pori-pori besar akan memicu komedo. Lalu pilihan Saya jatuh kepada Biokos. 

Toner Biokos Vital Nutrition ini mengandung lidah buaya yang berfungsi untuk melembabkan. Dan varian Vital Nutrition ini bisa untuk mencegah penuaan dini yang sering dialami orang berusia 30-an. Saya suka sekali toner ini setelah 1 bulan pemakaian. Saya pakai setiap sebelum pakai pelembab.

Saya suka sensasi sejuknya dan tidak perih dimata. Karena Saya usapkan juga ke kelopak mata. Kulit Saya terlihat agak glowing setelah pakai toner ini. Glowing yang terlihat sehat, bukannya glowing yang extra glowing kayak kalau pakai produk Korea. 

Harga : Rp 51.000,- / 150ml
Repurchase : YASS!!

3. Biokos 30's Vital Nutrition Daily Moisturizer

Pelembab adalah produk yang paling penting untuk perawatan kulit. Belilah pelembab yang bagus sebagai investasi kesehatan kulit. Saya langsung jatuh hati saat mencoba pelembab Biokos ini. Teksturnya agak cair, mudah menyerap tapi tak terasa kering setelahnya. Sebenarnya Saya lebih dulu jatuh cinta pada pelembab ini sehingga memutuskan sekalian beli tonernya Biokos.

biokosvitalnutritionmoisturizer
Biokos Vital Nutrition Moisturizer


Biokos moisturizer ini Saya pakai juga sebagai krim malam. Saya sangat suka hasilnya, kulit Saya terlihat lembab dan sehat. 



Harga : Rp 40.000,- / 35ml
Repurchase : YASS!!

4. Biore Pore Pack

Karena face scrub Saya kurang bisa membersihkan komedo, karena gemas, untuk pertama kalinya Saya pakai Biore Pore Pack. Produk ini mengandung charcoal. Biore Pore Pack cukup kuat menarik komedo. 

Harga : Rp 12.000,- / 1 pack 4 lembar
Repurchase : kalau komedo lagi panen aja.

5. Belia Cologne

Saya beli ini karena ingin nostalgia zaman SD dulu pake Belia. Zaman Saya mulai baca majalah Gadis, saat Astrid Tiar baru hits, MTV sedang berjaya dan radio SK masih mengudara. Zaman dulu Belia wanginya khas anak gaul Jakarta yang baru gede. Zaman Saya SMA, wanginya rada ga enak. Sekarang kayaknya udah mulai mendingan. Saya pake wewangian mini market ini kalo lagi dirumah, mau tidur atau pas turun dari Ojek buat menghilangkan bau knalpot.

astridtiaruntukbelia
Cleanser 2 in 1 Belia

Saya cari foto kemasan Belia splash cologne jadul tapi ga ketemu. Ketemunya malah foto diatas. Lumayan lah buat nostalgia. Dari foto itu kelihatan banget, Belia itu kemasannya ceria khas anak abg. Saya kalau ga salah belum pernah pake, kan waktu SD belum kena make up. Tapi sepertinya produk ini kurang laris. 

Harga: Rp 15.000 - Rp 17.000
Repurchase : Boleh juga



 6. Kuteks Beauty Story

Gara-gara Meghan Markle, Saya jadi pecinta nude. Jadi kepengen juga pakai kuteks yang nude. Ketemu kuteks murah meriah ini di toko kosmetik Ambassador lantai dasar. Iseng pas lewat, ada kuteks banyak banget dan ada warna nude. Kutek ini teksturnya agak cair dan lama keringnya. Trus bau alkoholnya kenceng banget.

Harga : Rp 15.000,- / 15ml
Repurchase : NO. Mending beli Catrice

7. SariAyu Masker Ketan Hitam


sariayumaskerketanhitam
Sari Ayu Masker


 Ada 1 produk lagi yang ga terfoto. Masker Sariayu ini sebenarnya sudah lama Saya cari. Jujur saja, Saya juga ga pernah maskeran. Ternyata masker itu penting jika sehari-hari kita pakai make up. Masker berfungsi menenangkan kulit. Karena concern Saya meringkas pori, masker Ketan Hitam ini cocok untuk Saya. Saya pakai setiap Minggu sekalian saat masker rambut. Wanginya segar walau hanya dicampur air putih. Soal keampuhan meringkas pori, saat ini belum signifikan. 1 bungkus ini bisa untuk 3x pemakaian

Harga : Rp 10.700,-
Repurchase: Iya.


Yang paling favorite tentu saja Biokos. Tapi belum banyak review Biokos, mungkin tenggelam sama produk Korea dan import yang sering di rekomen para beauty enthusiast. Coba dong teman-teman sharing soal per-skin care-an berikut produk favoritnya.



Friday, September 14, 2018

Mana Yang Harus Didahulukan, Pasangan Atau Karir

pasanganataumimpi
Photo by bruce mars from Pexels


Sebulan terakhir ini, Saya sedang mengerjakan project kantor untuk distribusi film import dari Thailand berjudul "7 Days". Film ini sudah rilis hari Rabu lalu, 12 September 2018 di bioskop Indonesia. Yah, walaupun judulnya 7 Days, tapi project ini cukup bikin hidup Saya tambah intense selama 30 days. Rasanya tuh kepengen ambil liburan 2 minggu, tapi Saya tau diri, pertama tanggal gajian masih lama dan dollar lagi mahal. Kedua, film rilis bukan berarti pekerjaannya selesai. Tetap harus check promo berjalan dan dag dig dug saban pihak bioskop e-mail laporan penonton. Lelah akutu, Kak....

Saat file film 7 Days diterima dikantor, langsung nonton rame-rame dulu di private theater kantor Kami. Jujur ya, saat nonton film ini, teringat kisah hidup (caileee) beberapa tahun yang lalu. 2 karakter utama di film ini, Tan dan Meen, adalah pasangan yang sama-sama punya passion. Tan (Kan Kanthatavorn) adalah chef terkenal yang sangat kreatif menciptakan menu. Meen (Mew Nittha) adalah food critic yang dijuluki lidah emas, hanya mencicipnya sekali, dia bisa tau bagaimana makanan itu diolah dan darimana bahan-bahannya. Sebenarnya Meen adalah seorang chef juga, tapi karena pernah dikritik habis-habisan, dia bantik setir jadi food critic. Dalam hubungan mereka, Meen ingin hubungan yang lebih settle sedangkan Tan masih berambisi mengembangkan karirnya. Sampai suatu hari mereka bertengkar.

7days
Tan dan Meen di film 7 Days



Konflik Meen dan Tan ini sangat familiar dengan apa yang pernah kita hadapi. Dimana kita harus memilih, pasangan atau karir.

Pasangan dan karir adalah 2 hal yang tak dapat dipisahkan dari hidup kita. Tanpa karir, kita tak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup ataupun passion. Tanpa pasangan, kita tak akan bisa bersandar, walau sekedar a shoulder to cry on. Ehe :D.

2 hal ini adalah bahan bakar. Lalu, apakah keduanya bisa jalan beringingan? Jelas bisa. Asal mau ada effort lebih. Ada 2 hal utama yang perlu dilakukan:


Yang paling penting adalah KOMUNIKASI. Iya, ini harga mati. Ada baiknya sebelum memulai hubungan, kedua belah pihak harus tahu apa yang diinginkan pasangannya. Konflik muncul dan akan mencapai puncaknya saat salah satu pihak dianggap tak diacuhkan. Menjalin hubungan itu ibarat investasi waktu. Hidup itu terlalu singkat jika hanya untuk dihabiskan merasakan hal yang menyesakkan hati. Bicara dari hati-ke hati. Jika pasangan maunya kamu biasa-biasa saja agar ada waktu lebih banyak untuk dia, sedangkan kamu tidak bisa memenuhi ekspetasi itu, lama-lama akan menjadi toxic dalam hubungan. Lebih baik sakit diawal daripada memendam emosi atau hasrat yang perlahan akan menghancurkan diri kita sendiri.

Kalau dalam relationship Saya, pada waktu Kami lebih muda dulu, Kami sama-sama keras kepala dan masih sangat berambisi untuk punya karir bagus. Tidak ada solusi selain memutuskan hubungan. Terlebih saat itu dia di Amerika, Saya di Jakarta. Pada saat itu, Kami punya prinsip, merusak mimpi berarti merusak hidup. Iya, sekeras itu.

Hal kedua yang penting setelah komunikasi adalah, support. Keputusan untuk memilih pasangan tetap ada ditangan kita sendiri. Pasangan yang baik adalah pasangan yang supportif. Diluar sana kita sudah dihadapkan pada kerasnya kenyataan untuk menjalani passion. Jika dia tak supportif bisa dibayangkan lelahnya akan seperti apa. Contoh, saat deadline atau menghadapi klien demanding, tiba-tiba pasangan kamu komplain karena kurang waktu. Akhirnya dengan pasangan timbul pertengkaran, saat bekerja pun jadi kurang maksimal karena adanya gesekan dengan persoalan pribadi yang pastinya akan membuat pikiran bercabang.

Dalam hidup sangat penting untuk bekerja dengan passion. Tanpa itu, kita hanya bagaikan robot. Pergi pulang kerja menunggu gaji. Betapa membosankannya. Orang yang punya passion akan jauh lebih berwarna hidupnya, jadi jauh-jauh deh dicap orang yang membosankan.

Ada 2 hal penting yang jangan sampai salah pilih, yaitu pasangan dan pekerjaan. Dimana sebagian besar hidup kita akan dihabiskan untuk 2 hal tersebut


Sunday, August 5, 2018

Coffee Time Story #2

coffee time story



Minggu ini tiba-tiba merasa kehilangan energi. Bawaannya pengen menyendiri terus ga mau mikirin apa-apa. Mungkin bisa dikatakan Burnout. Penyebabnya Saya sendiri tidak tahu. Hingga disuatu tengah malam Saya terbangun dan ibarat menemukan ilham, ada hal yang harus Saya perbaiki.

Saya sedang jenuh dengan pekerjaan. Sebenarnya perasaan jenuh itu sudah mulai muncul beberapa bulan lalu tapi selalu Saya ignore. Saya masih memiliki semangat untuk mencapai tujuan kehidupan profesional Saya. Ternyata hal yang selama ini Saya perjuangkan bisa menjadi hal buruk untuk diri Saya. Wajar Saya merasa jenuh. Saya bekerja sejak umur 18 tahun dimana biasanya orang lain sedang menikmati fase perubahan dari remaja ke dewasa. Karena bekerja sejak muda, Saya memiliki keterbatasan menikmati masa muda. Bukan berarti masa muda Saya tak menyenangkan. Justru Saya sangat bersyukur Saya memiliki pengalaman yang cukup diawal 20-an dulu.

Sejak usia 14 atau 15 tahun, Saya memang sudah merancang mau jadi apa dalam urusan pekerjaan dan sampai saat ini Saya masih menjalani apa yang sudah Saya rancang itu. Ternyata ada kesalahan dalam setiap perjalanan itu. Dan 1 yang paling jelas adalah Saya terlalu keras pada diri Saya sendiri. Saya melupakan bagian kecil untuk kehidupan personal Saya.

Jadi sejak malam itu, Saya memutuskan untuk mulai fokus ke kehidupan personal. Sudah cukup Saya fokus di profesional selama 10 tahun. Bukan waktu yang singkat. Tak lama lagi Saya akan menginjak usia 30 tahun. Mungkin ini waktunya Saya rehat sejenak. Toh suatu saat akan ada keluarga kecil yang harus Saya urus. Jadi daripada menyesal nantinya karena kurang memperhatikan diri sendiri, lebih baik dimulai dari sekarang. Saya yakin setiap orang memang ada waktunya untuk rehat sejenak dari kehidupan profesionalnya untuk membangun kehidupan personalnya. Bukan artinya Saya ingin berhenti bekerja sama sekali, hanya saja saat ini prioritas utama Saya adalah untuk kehidupan personal.

Semoga saat Saya kembali ingin menata karir lagi, Saya sudah jauh lebih baik dari hari ini.



Saturday, July 28, 2018

Syuting Di Indonesia Tidak Murah

https://novyastria.blogspot.com/2018/07/indonesia-sebagai-lokasi-syuting.html
Blackhat at Jakarta


Indonesia sudah cukup banyak dilirik sineas luar negeri sebagai salah satu lokasi syuting. Bahkan beberapanya adalah film Hollywood blockbuster. Sebut saja "Eat, Pray, Love", "Blackhat", dan "King Kong". Selain itu masih banyak project lain seperti TVC dan Series, bahkan film indie. Sebelum menjelaskan lebih jauh, Saya ingin memperkenalkan kepada masyarakat yang bukan bekerja di bidang film. Mereka yang berjasa membawa Indonesia lewat layar perak adalah Gary Hayes dan Tino Saroengallo. Ditangan mereka tercipta kualitas film dan iklan yang grand, disertai para kru yang sangat terampil. Baru saja mereka menutup usia. Dasar sahabat sejati, mati saja jaraknya masih dekat. Pak Tino memang sudah sakit kanker beberapa tahun terakhir. Dan Pak Gary sempat jatuh sakit sebelum menghadap Sang Kuasa. Jasa dan dedikasi mereka akan terus Saya kenang.

Indonesia diberkahi pesona alam yang eksotik. Hutan tropis yang belum terjamah bahkan virgin beach. Tak jarang setiap project pasti menemukan lokasi baru yang bahkan kita sebagai orang lokalpun belum tahu. Selain lokasi, Indonesia juga memiliki cukup sineas yang mampu memenuhi standard kerja International. Seharusnya dengan 2 aset utama ini, Indonesia bisa menjadi salah satu Film Friendly. Untuk syuting di Indonesia masih banyak kendala yang perlu dihadapi.

Syuting di Indonesia tidaklah murah, seperti yang digembar-gemborkan para jajaran pemerintah di Indonesia. Tidak adanya tarif yang jelas dan birokrasi yang berbelit seringkali menyurutkan sineas asing untuk syuting di Indonesia. Sebagai contoh untuk perbandingan, syuting di kota New York hanya diperlukan $750 untuk perizinan lokasi. Sedangkan harga syuting di Kota Tua Jakarta, diperlukan 60 juta. Syuting di Jakarta dalam studio pun bisa mencapai 12-15 juta sehari dengan rata-rata tarif studio 6 juta per-8 jam.

https://novyastria.blogspot.com/2018/07/syuting-di-indonesia-tidak-murah.html


Baca juga: Susah Sinyal lebih mahal dari Critical Eleven

Saat ini digadang-gadang untuk perizinan syuting, dimanapun di wilayah Indonesia bisa dilakukan 1 pintu, melalui Pusbang Film. Pada kenyataannya, Kami tetap harus mengurus izin dari RT/RW, Polsek, Pemda dan preman setempat. Tentunya disetiap tahap tersebut Kami harus menyediakan amplop untuk melancarkan terbitnya surat izin syuting. Itupun tidak bisa menjamin mereka akan 100% bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang mengakibatkan proses produksi terganggu karena faktor eksternal.

Yang membuat biaya syuting di daerah Indonesia mahal juga disebabkan karena infrastuktur yang belum baik. Kami harus mengakali dengan menambah jumlah personil atau menyewa alat khusus yang akhirnya akan muncul cost baru. Biasanya jika syuting di daerah, Kami harus merekrut warga sekitar yang seringkali harga permintaan awal bisa berbeda saat sudah melakukan pekerjaan. Yang bikin kesal terkadang mereka tidak bisa mengikuti pace kerja Kami yang serba cepat.

Baca juga: Tentang Perfilman Indonesia

Beberapa waktu lalu Saya membaca buku "Film Marketing Into The 21st Century". Di dalamnya ada bab yang membahas Marketing Location, salah satunya membahas tentang Film Friendly yang sudah dilakukan New Zealand, dan negara / kota lainnya dibelahan dunia.


https://novyastria.blogspot.com/2018/07/syuting-di-indonesia-tidak-murah.html




Berikut rangkumannya:

1. Di Michigan ada sebuah agency yang menawarkan pelatihan kepada warga lokal, perusahaan dan penyedia jasa fixer untuk memudahkan proses pembuatan film dilokasi tersebut dan memudahkan warga yang ingin bergabung sebagai filmmaker.

Di Indonesia sendiri, Badan Perfilman Indonesia, juga sedang memberikan pelatihan-pelatihan serupa di daerah guna mempersiapkan mereka sebagai lokasi baru untuk syuting film. Kota-kota di Indonesia yang pemerintah daerahnya sudah siap sebagai lokasi syuting antara lain Bandung, Bayuwangi, Siak, dan Yogya. Di Bali pun tak ada kendala berarti karena kesigapan warganya yang juga sudah terbiasa sebagai daerah wisata.

Banyak pula komunitas film di daerah yang menelurkan sineas baru. Bagaimanapun sineas juga perlu regenerasi.

2. Film friendliness sangat penting untuk tempat yang tak memiliki atau sedikit track record sebagai lokasi syuting. Kualitas dan pelayanan yang buruk bisa merusak reputasi tempat tersebut.

Kami sebagai filmmaker lokal pun terkadang kapok syuting di tempat tertentu dan pastinya akan kami blacklist dan tak akan pernah masuk rekomendasi Kami. Pembuatan film itu secara tak langsung turut meningkatkan perekonomian. Karena pastinya Kami akan mempekerjakan warga lokal sebagai porter dan membayar sewa / hotel selama proses syuting berlangsung. Belum lagi Kami akan membutuhkan penyedia konsumsi. Coba bayangkan berapa banyak uang yang harus Kami keluarkan untuk syuting film.

3. Location Marketing tidak sama dengan promosi pariwisata, walaupun bisa saja itu akan menjadi salah satu tujuannya. Lebih dari itu, dengan adanya film friendliness, akan memicu pertumbuhan infrastuktur, baik untuk pariwisata maupun keperluan pembuatan film dikemudian hari.


Jadi tolong kepada jajaran pemerintah, jangan promosikan Indonesia murah untuk syuting film. Selain perizinan yang mahal, upah Kami sebagai pekerjapun tidak bisa dikatakan murah. Ga mungkin Kami mempekerjakan kru yang kemampuannya belum memenuhi standard demi harga murah. Karena Kami bawa nama negara saat bekerja dengan sineas asing.

Walau banyak yang masih awam terhadap pekerja film, secara tak langsung Kami turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Kami bayar pajak penghasilan, dimana pajak itu akan digunakan untuk pembanguan negara. Berkat industri yang semakin maju, tentunya tercipta lapangan kerja baru. Dalam proses produksi film kurang lebih ada 150 orang yang terlibat. Belum lagi dari sisi distribusi, munculnya bioskop atau channel distribusi baru, tentunya perlu pekerja baru. Berkat film juga berhasil muncul budaya atau trend baru yang lagi-lagi akan meningkatkan dan memperluas pasar.




Saturday, July 14, 2018

Mewarnai Rambut Di rumah Dengan Revlon Colorsilk 46

Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown


Setiap 3 bulan, Saya selalu re-touch tampilan rambut. Biasanya standard banget hanya trim rambut. Berhubung sejak tahun lalu Saya sedang berambut bob pendek, jadinya re-touch 6 bulan. Terakhir potong rambut waktu liburan akhir tahun lalu. Jadinya sekarang bisa dikatakan rambut Saya masih cukup pendek untuk dipotong lagi. Tapi kan bosen juga yaaa masa gitu-gitu aja. Akhirnya Saya memutuskan untuk mewarnai rambut. 

Ini bukan pertama kalinya Saya mewarnai rambut. Pertama kali mewarnai rambut itu ditahun 2009, Saya masih ABG (19 jalan 20) hehe. Dulu diwarnai oleh teman Saya. Jadi ceritanya Saya lagi nginap dirumah dia dan dia iseng banget pengen ngewarnain rambut Saya yang saat itu masih virgin. Dulu diwarnai pakai Loreal, ga tau shade apa. Karena Saya tinggal terima jadi.


Pertama kali rambut diwarnai tahun 2009


Dari pengalaman terdahulu, sebenarnya warna itu kurang cocok untuk kulit Saya. Wajah Saya jadi terlihat agak kusam. Kali ini Saya memutuskan mewarnai dengan shade lebih gelap untuk hasil yang natural. Karena Saya lagi suka banget sama tampilan Princess Meghan Markle, Saya ingin warna rambut Saya seperti foto dibawah ini. Walau diwarnai, masih terlihat sangat natural. Sungguh lah Meghan Markle junjungankuw. Sampai-sampai Saya jadi ikutan suka tampilan no makeup makeup gara-gara Incesss ini. Yang biasanya Saya menghindari lipstick nude, sekarang jadi suka lipstick nude.

meghan markle red hair
Meghan Markle 

Lalu Saya pergi ke Watson PIM 2. Disana Watsonnya besar dan cukup lengkap. Berharap Saya menemukan banyak option untuk beli cat rambut. Akhirnya pilihan Saya jatuh ke Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown. Tadinya mau beli yang warna coklat, tapi kata embak-embaknya, karena rambut Saya hitam banget, lebih baik beli yang warnanya terang. Kalau beli warna gelap, hasilnya ga kelihatan. Menurut Saya sih warna ini sudah cukup terang karena ada tulisan mediumnya. Kalau pilih yang light, takut hasilnya jadi kayak anak kecil kebanyakan main layangan.

Saya langsung eksekusi begitu sampai di rumah. Isi boxnya Revlon Colorsilk ada cream developer, cairan pewarna, after color conditioner, sarung tangan dan petunjuk pemakaian. Saya ga pakai sisir semir karena lupa beli. Akhirnya Saya aplikasikan dengan tangan saja. Sebelumnya, Saya oleskan wajah, kuping dan leher dengan krim, supaya jika ada cat yang mengenai kulit, lebih mudah untuk dibilas. Saya bagi rambut menjadi beberapa bagian agar aplikasinya merata. Saya mulai dari rambut bagian bawah belakang kepala. Setiap selesai satu bagian, Saya sisir dengan sisir biasa untuk meratakan cream-nya. Setelah semua bagian selesai, diamkan min. 25 menit. Karena hitungannya rambut Saya masih virgin, Saya diamkan sampai 1 jam. Setelah itu bilas dan tak lupa pakai after color conditioner.

Hasilnya tak terlihat signifikan, malah masih hitam. Moon maap saudara sekalian, Saya ga ada foto after-nya. Dibawah ini foto 2 hari setelah pewarnaan. Saya pikir ini gagal. Dan berencana cat ulang setelah 3 bulan nanti.


2 hari setelah pewarnaan, outdoor


Saya masih penasaran, kenapa rambut Saya masih terkihat hitam, ternyata menurut beberapa review, cat rambut rumahan memang tidak memberikan hasil langsung. Tapi baru akan terlihat setelah 1 minggu sampai 1 bulan. Jadi mari kita lihat progress-nya.


Ini warna setelah 1 minggu pewarnaan. Sudah terlihat agak terang jika berada dibawah cahaya.


Oke, jadi ga gagal-gagal banget lah ya. Perlahan warnanya makin kelihatan. Memang sesuai klaim di box nya, "3D Color Technology For Natural Rich Color". Waktu di Watson pun Mbak-mbaknya bilang, biasanya warna akan terlihat dibawah cahaya, kalau didalam ruangan, ga akan terlalu kelihatan.


Benar saja, setelah 1 bulan, warna semakin terlihat. Walau jika diruangan dengan pencahayaan standard masih tidak terlalu kelihatan warna coklatnya.



Warna dibawah lampu dalam ruangan.


Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown


Mewarnai Rambut Sendiri



Warna didalam ruangan dengan pencahayaan standard




Warna diluar ruangan dengan cahaya matahari




Kesimpulannya Saya cukup puas dengan hasil Revlon Colorsilk ini. Produk ini juga membuat rambut Saya terlihat bercahaya. Yang Saya suka, sifat catnya yang mudah hilang jika mengenai kulit. Dan conditioner-nya wangi floral yang enak banget, bisa tahan 3 harian. Persoalan kenapa warnanya ga keluar mungkin karena developer cream-nya kurang kuat. Saya baru ingat, waktu dulu Saya cat rambut pertama kali, teman Saya mencampur cream developer yang lebih tinggi persentasenya. Karena Saya masih mau hasil yang lebih signifikan, Saya akan melakukan pewarnaan lagi dengan warna yang sama 3-6 bulan kedepan. 

Untuk harga Revlon Colorsilk ini adalah Rp 75.000,-. Tapi berhubung dengan diskon di Watson waktu Saya beli in harganya jadi Rp 45.000,- jika disertai pembelanjaan minimal 50.000 selain produk. Kalau Saya lihat di Tokopedia sih lebih murah, bisa sekitar Rp 50.000,-. Kalau mau lihat warna lain bisa cek ke colorsilk.com

Ga usah takut rambut rusak setelah diwarnai. Lakukan masker rambut seminggu sekali untuk menjaga kesehatan rambut.





Monday, July 9, 2018

Coffee Time Story #1

Photo from Pexels


Hari ini seperti biasa rutinitas Senin, membuat plan untuk seminggu kedepan dan melihat kembali progress beberapa hal yang sudah dilakukan minggu lalu. Tiba-tiba kepikiran sesuatu dan ga sabar untuk segera dibagikan melalui tulisan ini.

Seringkali kita merasa orang yang paling malang dan paling susah. Sayapun terkadang merasa demikian. Sudah kerja keras tapi hidup masih gini-gini aja. Orang-orang sudah bisa beli gadget terkini tanpa memusingkan harga. Banyak pula yang sudah bisa liburan semudah jalan dari HI ke Blok M. Where am I? Apa salah Saya? Ilustrasi ini mungkin dirasakan sebagian besar orang.

Tuhan itu terkadang memberi ilhamnya melalui orang-orang disekeliling kita. Beberapa waktu ini seakan Saya dibukakan mata dan kuping lebar-lebar, untuk mendengar kisah-kisah dan melihat kehidupan orang disekitar Saya.

Tepat seminggu lalu, kabar duka datang dari tempat Saya bekerja. Seorang anak magang meninggal akibat kecelakaan tunggal. Jadi dia nyambi jadi driver ojol kalau sedang libur atau selepas pulang dari kantor. Menurut cerita dari atasannya, dia ingin sekali membiayai adiknya agar bisa kuliah dan jadi orang sukses. Makanya dia kerja keras sampai kelelahan yang mengakibatkan dirinya celaka. Saya pun merenung, Saya tidak pernah bekerja sekeras itu. Selepas kerja Saya masih bisa santai sekedar baca buku atau nonton film di bioskop. Tapi ada orang yang benar-benar harus bekerja sekeras itu untuk bertahan hidup.

Cerita lainnya, saat Saya beli makan, ada bapak-bapak yang beli makan hanya dengan tahu, tempe dan sambal. Saya pikir, budget makan Saya sudah irit, tapi ternyata masih ada orang yang harus lebih irit lagi. Selama makan Saya jadi kepikiran. Betapa masih beruntungnya Saya masih bisa beli ikan sebagai lauk.

Dan banyak cerita-cerita lainnya, jika dikupas satu persatu, hidup Saya masih jauh lebih beruntung daripada mereka. Tapi selama ini seringkali Saya kurang bersyukur atas pemberian Tuhan.

Saya tidak mengidap penyakit parah, Saya punya pekerjaan, Saya punya pacar yang baik, Saya diberikan kekuatan agar bisa hidup mandiri. Harusnya Saya bisa mensyukuri semua itu disetiap hembusan nafas.

Saya berdoa dan berharap, agar diberikan kehidupan yang baik agar bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Semoga dengan bantuan Tuhan, Saya bisa mewujudkannya. Karena esensi dari hidup ini bukan sekedar bisa memenuhi hasrat hidup, tapi memberi dampak untuk kehidupan sosial.