"Mbak, anak Saya cantik. Kalau ada casting mau dong dikabari biar bisa jadi artis". Cukup banyak orang yang minta kesempatan casting. Berharap bisa jadi bintang besar, terkenal dan iming-iming menjadi kaya raya. Wajar saja manusia ingin hidupnya kebih baik dan punya mimpi. Sayapun pernah mencoba jadi artis dengan ikut casting-casting. Sampai suatu hari Saya sadar, bakat Saya ga cukup baik untuk jadi artis. Dan Saya cukup tahu diri karena wajah Saya tidak secantik Mikha Tambayong.
Sunday, January 13, 2019
Jadi Artis Ga Cukup Modal Cantik
"Mbak, anak Saya cantik. Kalau ada casting mau dong dikabari biar bisa jadi artis". Cukup banyak orang yang minta kesempatan casting. Berharap bisa jadi bintang besar, terkenal dan iming-iming menjadi kaya raya. Wajar saja manusia ingin hidupnya kebih baik dan punya mimpi. Sayapun pernah mencoba jadi artis dengan ikut casting-casting. Sampai suatu hari Saya sadar, bakat Saya ga cukup baik untuk jadi artis. Dan Saya cukup tahu diri karena wajah Saya tidak secantik Mikha Tambayong.
Saturday, July 28, 2018
Syuting Di Indonesia Tidak Murah
![]() |
| Blackhat at Jakarta |
Indonesia sudah cukup banyak dilirik sineas luar negeri sebagai salah satu lokasi syuting. Bahkan beberapanya adalah film Hollywood blockbuster. Sebut saja "Eat, Pray, Love", "Blackhat", dan "King Kong". Selain itu masih banyak project lain seperti TVC dan Series, bahkan film indie. Sebelum menjelaskan lebih jauh, Saya ingin memperkenalkan kepada masyarakat yang bukan bekerja di bidang film. Mereka yang berjasa membawa Indonesia lewat layar perak adalah Gary Hayes dan Tino Saroengallo. Ditangan mereka tercipta kualitas film dan iklan yang grand, disertai para kru yang sangat terampil. Baru saja mereka menutup usia. Dasar sahabat sejati, mati saja jaraknya masih dekat. Pak Tino memang sudah sakit kanker beberapa tahun terakhir. Dan Pak Gary sempat jatuh sakit sebelum menghadap Sang Kuasa. Jasa dan dedikasi mereka akan terus Saya kenang.
Indonesia diberkahi pesona alam yang eksotik. Hutan tropis yang belum terjamah bahkan virgin beach. Tak jarang setiap project pasti menemukan lokasi baru yang bahkan kita sebagai orang lokalpun belum tahu. Selain lokasi, Indonesia juga memiliki cukup sineas yang mampu memenuhi standard kerja International. Seharusnya dengan 2 aset utama ini, Indonesia bisa menjadi salah satu Film Friendly. Untuk syuting di Indonesia masih banyak kendala yang perlu dihadapi.
Syuting di Indonesia tidaklah murah, seperti yang digembar-gemborkan para jajaran pemerintah di Indonesia. Tidak adanya tarif yang jelas dan birokrasi yang berbelit seringkali menyurutkan sineas asing untuk syuting di Indonesia. Sebagai contoh untuk perbandingan, syuting di kota New York hanya diperlukan $750 untuk perizinan lokasi. Sedangkan harga syuting di Kota Tua Jakarta, diperlukan 60 juta. Syuting di Jakarta dalam studio pun bisa mencapai 12-15 juta sehari dengan rata-rata tarif studio 6 juta per-8 jam.
Baca juga: Susah Sinyal lebih mahal dari Critical Eleven
Saat ini digadang-gadang untuk perizinan syuting, dimanapun di wilayah Indonesia bisa dilakukan 1 pintu, melalui Pusbang Film. Pada kenyataannya, Kami tetap harus mengurus izin dari RT/RW, Polsek, Pemda dan preman setempat. Tentunya disetiap tahap tersebut Kami harus menyediakan amplop untuk melancarkan terbitnya surat izin syuting. Itupun tidak bisa menjamin mereka akan 100% bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang mengakibatkan proses produksi terganggu karena faktor eksternal.
Yang membuat biaya syuting di daerah Indonesia mahal juga disebabkan karena infrastuktur yang belum baik. Kami harus mengakali dengan menambah jumlah personil atau menyewa alat khusus yang akhirnya akan muncul cost baru. Biasanya jika syuting di daerah, Kami harus merekrut warga sekitar yang seringkali harga permintaan awal bisa berbeda saat sudah melakukan pekerjaan. Yang bikin kesal terkadang mereka tidak bisa mengikuti pace kerja Kami yang serba cepat.
Baca juga: Tentang Perfilman Indonesia
Beberapa waktu lalu Saya membaca buku "Film Marketing Into The 21st Century". Di dalamnya ada bab yang membahas Marketing Location, salah satunya membahas tentang Film Friendly yang sudah dilakukan New Zealand, dan negara / kota lainnya dibelahan dunia.
Berikut rangkumannya:
1. Di Michigan ada sebuah agency yang menawarkan pelatihan kepada warga lokal, perusahaan dan penyedia jasa fixer untuk memudahkan proses pembuatan film dilokasi tersebut dan memudahkan warga yang ingin bergabung sebagai filmmaker.
Di Indonesia sendiri, Badan Perfilman Indonesia, juga sedang memberikan pelatihan-pelatihan serupa di daerah guna mempersiapkan mereka sebagai lokasi baru untuk syuting film. Kota-kota di Indonesia yang pemerintah daerahnya sudah siap sebagai lokasi syuting antara lain Bandung, Bayuwangi, Siak, dan Yogya. Di Bali pun tak ada kendala berarti karena kesigapan warganya yang juga sudah terbiasa sebagai daerah wisata.
Banyak pula komunitas film di daerah yang menelurkan sineas baru. Bagaimanapun sineas juga perlu regenerasi.
2. Film friendliness sangat penting untuk tempat yang tak memiliki atau sedikit track record sebagai lokasi syuting. Kualitas dan pelayanan yang buruk bisa merusak reputasi tempat tersebut.
Kami sebagai filmmaker lokal pun terkadang kapok syuting di tempat tertentu dan pastinya akan kami blacklist dan tak akan pernah masuk rekomendasi Kami. Pembuatan film itu secara tak langsung turut meningkatkan perekonomian. Karena pastinya Kami akan mempekerjakan warga lokal sebagai porter dan membayar sewa / hotel selama proses syuting berlangsung. Belum lagi Kami akan membutuhkan penyedia konsumsi. Coba bayangkan berapa banyak uang yang harus Kami keluarkan untuk syuting film.
3. Location Marketing tidak sama dengan promosi pariwisata, walaupun bisa saja itu akan menjadi salah satu tujuannya. Lebih dari itu, dengan adanya film friendliness, akan memicu pertumbuhan infrastuktur, baik untuk pariwisata maupun keperluan pembuatan film dikemudian hari.
Jadi tolong kepada jajaran pemerintah, jangan promosikan Indonesia murah untuk syuting film. Selain perizinan yang mahal, upah Kami sebagai pekerjapun tidak bisa dikatakan murah. Ga mungkin Kami mempekerjakan kru yang kemampuannya belum memenuhi standard demi harga murah. Karena Kami bawa nama negara saat bekerja dengan sineas asing.
Walau banyak yang masih awam terhadap pekerja film, secara tak langsung Kami turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Kami bayar pajak penghasilan, dimana pajak itu akan digunakan untuk pembanguan negara. Berkat industri yang semakin maju, tentunya tercipta lapangan kerja baru. Dalam proses produksi film kurang lebih ada 150 orang yang terlibat. Belum lagi dari sisi distribusi, munculnya bioskop atau channel distribusi baru, tentunya perlu pekerja baru. Berkat film juga berhasil muncul budaya atau trend baru yang lagi-lagi akan meningkatkan dan memperluas pasar.
Saturday, April 15, 2017
Behind The Scene Webseries PDKT
Sesuai janji Saya di postingan bulan lalu, Saya bakalan cerita proses produksi webseries PDKT by Alfamart. PDKT ini adalah project pertama Saya di tahun 2017. Walau media tayangnya untuk youtube bukan berarti proses kerjanya lebih mudah dan murah. Karena yang namanya produksi film akan melibatkan banyak orang dan peralatan. Kali ini Saya bekerja dibawah bendera Nation Pictures. Salah satu production house di Jakarta yang sudah membuat film-film terbaik, diantaranya Rumah Dara, Claudia Jasmine dan Mari Lari. Saya selalu berkomitmen akan selalu membuat film yang bagus secara production value. Dan Saya bersyukur sekali team Nation Pictures juga memiliki komitmen yang sama. Walau ini 'hanya buat youtube' , tapi orang-orang yang terlibat didalamnya sudah memiliki pengalaman di film.
PDKT ini ide ceritanya dari Paul Agusta, salah satu filmmaker hits di Indonesia. Scriptnya di tulis oleh Monji Atmodjo. Proses kreatif ini cukup singkat yakni kurang dari 1 minggu dapat approval dari pihak Alfamart, Kami sudah mulai bergerak untuk masuk ke Pra Produksi. Proses ini berjalan hanya 1 minggu sebelum syuting day. Kebayang dong gimana ribetnya. Mulai dari susahnya ngajak talent casting supaya datang langsung sampai orang sound yang tiba-tiba ga bisa ikut syuting karena pendarahan gigi. By the way, untuk proses casting ini cukup unik. Ternyata anak-anak jaman sekarang maunya cuma kirim video. Ga kayak waktu jaman Saya masih suka ikut casting, pasti antrian akan mengular di perkarang kantor. Dan.... Talent itu baru lock di H minus 2 syuting day. Terpilihnya pemain-pemain itu: Alya Putri, Ajun Perwira, Cindy Nirmala, Mike Ethan, Endy Arfian, Niken Ayu dan Stella Cornelia. Saya angkat topi untuk dept. casting, Mbak Nuni dan asistennya, Jojo. Berkat mereka kita bisa dapat pemain yang glam.
Yang namanya kericuhan saat Pra Produksi bahkan sepanjang produksi adalah hal yang sangat wajar. Saya sih ga mau dibawa stress dan memilih diam sejenak untuk mencari solusi. Jadi Saya tidak merasa terbebani, nikmati saja prosesnya. Akhirnya tiba hari syuting. Syuting interior kita ada di kafe Bangi Kelapa Gading Boulevard. Tempatnya cantik, instagramgenic deh. Seharin kita disana. Pada malam hari kita pindah ke Alfamart yang ada di sebelahnya lalu beranjak ke Ancol.
Ada drama saat kita syuting di Ancol. Kita disamperin sama pihak keamanan Ancol lengkap dengan mobil patrolinya. Padahal kita sudah bayar dan punya izin. Haduh....Kapan ya bisa syuting dengan nyaman di Jakarta tanpa mesti di palakin dan di kerecokin. Kita bayar ga murah lhooo. Ini diantaranya foto-foto behind the scene.
Foto diatas adalah take pertama dihari itu.Diperankan oleh Endy Arfian dan Alya Putri untuk Episode ke-3. Saya pertama kali ketemu Endy waktu dia masih umur 9 tahun kalau ga salah, waktu itu dia main di film layar lebar The Perfect House. Anak ini memang jago banget actingnya. Untuk PDKT kali ini, dia berhasil bermain 1x take untuk satu scene dengan pengambilan gambar sekitar 10 menit tanpa cut. Gila banget ini anak. He will be the big star. Semoga terus konsisten ya, Dek.... Bagus banget kamu tuh actingnya. Alya Putri juga oke actingnya. She's so adorable dan nyantai banget anaknya. Stella Cornelia dan Mike Ethan juga bagus actingnya. They are so quick to transform for the characters. Padahal Endy dan Stella ga sempat ikutan workshop karena jadwal yang padat banget.
Monday, December 12, 2016
[Filmmaking] Beda Konsep, Beda Tantangan
Bekerja di industri film, kita dituntut untuk terus belajar hal baru. Industri film tidak semewah yang banyak orang pikirkan. Industri ini dinamis. Maka para pekerjanya juga harus dinamis. Disini kita tidak peduli apa latar belakang kamu, selama kamu bisa membuat kita nyaman bekerja sebagai team, dengan tangan terbuka kita akan menerima kamu. Beda konsep, beda pula penanganannya. Beda ritme kerjanya. Tapi yang pasti kita bersama-sama untuk menghasilkan karya yang bagus.
Saya mau sedikit cerita tentang pengalaman Saya. Saya bukan pekerja film yang namanya terdengar dimana-mana. Saya juga hitungannya masih anak baru. Dari tahun ketahun Saya mendapat tantangan untuk mengurus sebuah konsep dari awal sampai siap tonton. By the way, film disini definisinya lebih luas ya, yakni gambar bergerak. Bukan hanya yang ada di layar lebar. Tapi bisa berupa video klip, TV Commersial atau yang lagi hits saat ini, webseries.
Pertama kali terjun sebagai orang produksi alias kru, Saya masuk ke iklan. Iklan ini pekerjaannya paling enak. Fee paling besar karena dihitung harian, kerjanya juga paling cuma 2 hari. Yah persiapan sekitar 2 minggu, lalu setelah syuting ada proses pasca produksi kira-kira 2 minggu sampai 1 bulan. Hampir tidak ada kesulitan yang berarti kecuali berhadapan dengan agency dan client yang kadang banyak minta dijajanin 😋
Untuk video klip. Waktu kerja sebentar sekitar 1 - 2 hari. Tapi fee kecil. Karena saat ini rata-rata produksi 1 video klip sekitar 35 juta - 50 juta. Itu dari pra produksi sampai pasca produksi.
Untuk film pendek. Kurang lebih sama seperti iklan tapi biaya produksinya tidak sebesar iklan. Biaya pembuatan 1 film pendek sekitar 20 juta - 150 juta. Tentu disesuaikan dengan konsep ceritanya. Enaknya bikin film pendek, kita bisa mengasah skill kita yang mungkin tidak bisa diaplikasikan saat kita bekerja dengan client.
Sinetron atau TV Series atau Komedi Situasi. Siapa sih yang ga tau dan suka sinetron? Walau dari jaman nonton Lika Liku Laki Laki sampai Serigala Ganteng, ga sedikit orang yang mencibir sinetron. Ritme kerja sinetron memang cepat karena dihitung per hari per episode. Walau fee untuk kru bisa dibilang kecil, tapi kalau dikali 200 episode, banyak juga kan? Bisa dibilang, kerja jadi kru sinetron ibarat investasi jangka panjang. Walau fisik diforsir abis-abisan.
FTV. Ritme kerja cepat, biasanya untuk 1 judul maksimal dikerjakan dalam waktu 3 hari. Bayaran murah, karena dihitung per judul. Saat ini budget produksi untuk FTV adalah 90 juta. *glekkk mureeee.
Film. Ini ritmenya lumayan asyik, tergantung dapet produser dan sutradaranya juga sih. Untuk bayaran kru ya lumayan lah. Syuting days nya rata-rata 2 minggu. Yang lama itu dipersiapannya, bisa 3 bulanan.
Webseries. Kurang lebih sama seperti iklan karena sekarang brand sudah mulai melirik webseries dibanding TVC. Budget untuk webseries bisa dibilang kecil, tapi dihitung per episode. Ngerjain project webseries ritmenya masih enak lah dibanding kerja untuk FTV atau series.
Tahun ini Saya dapat kesempatan menjajal di webseries. Agak kagok juga. Biasa bikin budget untuk iklan, sekarang mesti adaptasi dengan budget, kru, dan peralatan yang lebih kecil.
Lalu yang mau jalan (mudah-mudahan ON) adalah untuk mini series. Ini kali pertamanya Saya tahu kerja bikin konten untuk stasiun TV. Cukup menantang, karena budget yang minimalis, tapi treatment seperti film. Ibaratnya Saya biasa bikin anggaran 2 M untuk dihabiskan 1 hari untuk TVC, kali ini dengan dana yang sama disiapkan untuk 1 bulan. Bahkan untuk film dengan 2 M hanya untuk 2 minggu.
But I love challenge. Karena bikin kita tambah mahir dari hari-kehari. Jadi kalau kalian mau terjun di industri film, harus siap dengan pekerjaan yang sangat dinamis, yang mungkin tidak akan didapatkan kalau kamu bekerja kantoran.
Tuesday, September 27, 2016
Faktor Penentu Film Box Office
Tahun ini film "Warkop DKI" berhasil menjadi Film Indonesia Terlaris sepanjang masa dengan total 5juta penonton. Posisi sebelumnya diraih oleh film "Laskar Pelangi" (2008) yang mendapat 4 juta penonton. Saat film Laskar Pelangi rilis, Saya masih bekerja di 21 cineplex untuk divisi film Indonesia (fyi, dulu yang urus cuma 2 orang). Begitu mendapat laporan data harian penonton untuk Saya proses pembayarannya, Saya sempat tercengang melihat begitu banyaknya jumlah penonton untuk film Laskar Pelangi. Saya pun ikutan bersemangat menghitung sharing profit untuk produser. Hal yang sama Saya rasakan saat menghitung profit sharing film Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.
Masuk 2010, perolehan penonton film Indonesia tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Terlebih saat itu didominasi film Plus-Plus yang menjual sensualitas. Dan masanya juga sudah berbeda. Tahun-tahun sebelumnya film Indonesia yang tayang setiap minggunya hanya 1 film. Di 2010 karena banyak yang mulai produksi film, penayangan film Indonesia berubah menjadi 2 film setiap minggunya. Lalu berubah lagi menjadi 3 film/minggu hingga hari ini terkadang 4 film/minggu. Sebelum tahun 2010 untuk mencapai 200.000 penonton bukan hal yang sulit. Memasuki 2010 sampai hari ini untuk mendapat 150.000 penonton adalah hal yang patut disyukuri. Seiring berjalannya waktu, tantangan dan trend terus berubah. Terbatasnya jumlah layar membuat produser harus memikirkan strategi dengan cermat bagaimana caranya agar filmnya mendapat untung.
Di tahun 2016 ini geliat penonton Film Indonesia mulai meningkat lagi. Pastinya para produser sudah menemukan formula baru untuk mendapat penonton yang banyak dengan lebih jeli membaca pasar. Kualitas film-film Indonesia juga sudah memiliki production value yang bagus. Walau masih ada beberapa film Indonesia yang kualitasnya dibawah standar dan biasanya dibuat oleh produser karbitan. Ada 2 faktor utama yang menentukan sebuah film mendapat jumlah penonton yang massive.
2. Promo Tepat Sasaran
Promo adalah faktor penentu kesuksesan sebuah film bahkan untuk film yang kualitas ceritanya tidak terlalu bagus. Sama seperti produk, tanpa marketing maka akan minim pembeli. Strategi promo harus sudah dirancang saat penggodokan cerita. Karena dari cerita kita bisa tahu demographic yang akan menjadi target market film yang kita buat. Beda demographic tentu beda pula treatment promonya. Salah satu strategi promo adalah dengan menggandeng brand yang sesuai dengan target market kita. Karena brand sudah pasti memiliki strategi marketing yang juga bekerja sama dengan agency advertising.
Promo tidak bisa hanya mengandalkan sosial media. Karena tidak semua orang digital savvy. Jika melihat contoh promo yang dilakukan Warkop Reborn, mereka bahkan melakukan promo eksklusif di salah satu station tv swasta. Bahkan setiap hari diputar di infotainment di tv tersebut. Selain itu mereka juga memasang reklame besar di gedung daerah Semanggi. Falcon Pictures, selaku production house film Warkop Reborn memang ahli dalam promosi. Promo untuk film-filmnya selalu berbeda.
Promo besar sekalipun tidak akan menghasilkan banyak penonton jika tidak dilakukan dengan tepat sasaran. Maka dari itu penting berkolaborasi dengan banyak pihak agar film bisa sukses secara komersial.
Lalu apakah film bagus itu sudah pasti laris? Tidak juga. Ada film bagus dan laris, ada pula film bagus tapi sayang tidak laris dan banyak pula film yang biasa-biasa saja tapi laris. Bagus tidaknya sebuah film itu tergantung selera masing-masing. Sebenarnya banyak pula film bagus yang tidak diputar di bioskop tapi diputar lewat penayangan alternatif yang banyak dilakukan oleh komunitas film. Lagipula masyarakat Indonesia masih banyak yang belum terbiasa dengan film arthouse.
Perfilman Indonesia semakin dinamis walau masih banyak kekurangan namun hal ini tidak menyurutkan semangat untuk berkarya. Semoga trend film box office ini bisa meningkatkan kepercayaan para investor untuk berinvestasi di industri film.
Friday, April 22, 2016
Tutorial Screenshot Full Web
Jadi kemarin itu Saya bingung gimana caranya kalau mau bikin rekaman dari layar komputer. Karena footage ini diperlukan untuk bahan editing webseries para beauty blogger. Saya masih pakai laptop versi windows 7 starter. Hehehe jadul banget ya... Setelah Saya cari tahu gimana sih bikin rekaman layar gitu? Ternyata bisa pakai VLC dan dilaptop juga sudah ter-instal. Tapi sayang sekali, hasilnya malah ga smooth dan agak pecah, ga sebagus kalau ngerekam dengan Quicktime Player di Mac. Saya kurang paham apa ini karena processor laptopnya yang belum bisa ngerjain file multimedia atau emang ada trick yang Saya ga tahu. Setelah Saya coba dan gagal, Saya coba install aplikasi lain dan.... Aplikasinya ga bisa jalan dilaptop Saya. Sementara itu data-data foto harus dikirim secepatnya. Tiba-tiba muncul pemikiran kenapa ga screenshot full web? Kan nanti bisa dikasih effect scrolling pake Final Cut Pro pas dimeja editing. Kalau sekedar screencap biasa sih pakai tombol printscr lalu paste ke program paint juga bisa. Saya browsing lagi cara untuk full web screenshot. Oh, ternyata bisa online, salah satunya di web-capture.net. Jadi tinggal copy saja link web yang mau kamu screenshot, lalu download hasilnya. Gampang sih... Tapi hasilnya masih kurang sempurna walau sudah pakai format PNG (lebih bagus dari jpg). Masa Saya mau kasih footage jelek ke editor? Nanti kalau hasil editannya ga bagus Saya juga yang salah. Saya terus coba cari alternatif lainnya. Lalu ketemulah cara yang sangat amat gampang dan memuaskan. Yaitu dengan memakai aplikasi Screengrab yang tersedia di Adds-on Firefox (kebetulan browser Saya firefox). Ini cara membuka menu Adds-on di browser
Setelah itu cari Screengrab lalu install. Ga perlu tunggu lama, Screengrab sudah terpasang di browser kamu dan otomatis juga terinstall di komputer kamu.
Nah kamu buka website yang mau discreenshot, lalu klik Screengrab dan pilih fullpage. Hasilnya akan tersimpan otomatis di komputer dengan format PNG dan terlihat seperti ini
Foto blognya Alodita
Memang kecil, tapi jangan khawatir, kita bisa zoom in image nya dan hasilnya ga pecah! Yay! 🙌. Ibaratnya kayak syuting pakai format 4k, trus pas di edit bisa di zoom in tanpa harus gambarnya kelihatan pecah. Ini contohnya
Dari blognya Alodita
Saya juga baru baca. Ternyata ada cara lain untuk screenshot full web dengan Inspect Element. Tutorialnya bisa dibaca disini . Namun karena belum pernah coba, Saya belum tahu apakah hasilnya bisa sebagus Screengrab.
Semoga membantu ya infonya. Doakan supaya Saya bisa cepat ganti laptop dengan Macbook 😸.
Monday, March 14, 2016
How to Make Your First Short Film
Selamat hari Senin! Ayo ayo semangat jangan misuh-misuh. Si Senin ga pernah salah, situ aja kali yang kurang happy . Sabtu minggu lalu Saya hadir di acara Viddsee Juree Indonesia 2016 walau film Saya "Surprised" hanya sampai di Out of Competition, Saya senang karena film Saya terpilih menjadi salah satu 60 the best short film. Acara awarding night dan kumpul-kumpul diselengarakan di IFI Jakarta. Sayang Saya tidak bisa mengikuti sampai acara selesai.
Nah, tiba-tiba Saya dihampiri oleh seorang cowok (Saya lupa namanya ). Dia salah satu penikmat film-film Indonesia. Dia pengen banget bisa bikin film. Dia tanya dulu proses pembuatan film "Surprised" seperti apa. Jadi sekalian aja Saya jabarkan disini supaya bisa belajar sama-sama. Oke sip
1. Get an idea
Ide bisa darimana aja. Biar lebih gampang dan lebih ada 'rasa' , pilih dari kejadian yang dekat dengan hidup kita. Misalnya kamu punya teman yang ngocolnya minta ampun, dimana ada dia, pasti bawaannya pengen ketawa sampe rahang pegel dan. Nah kamu bisa bikin cerita tentang dia. Bisa karakter utamanya dia atau ambil dari becandaan dia yang paling menarik menurut kamu.
2. Write it down
Tulis ide yang sudah ada kedalam script. Bagi yang belum tau format script film kayak apa, bisa lihat di www.script-o-rama.com . Kalo kamu ga bisa nulis, hire penulis. Bisa teman, saudara, atau mantan (yekali).
3. Make a plan proposal
Ini harus banget. Karena ini dasar kamu film kamu mau dibuat seperti apa, mau didistribusikan kemana saja dan berapa budget yang diperlukan.
4. Hire a team
Kamu sudah punya script dan proposal, saatnya kamu hire team. Mulai dari sutradara, art dept, camera dept, runner, location manager, talent dept. Idealnya untuk film pendek sekitar 20 orang.
5. Developt everythings
Setelah meeting dengan team, segera developt film kamu. Proses developt ini adalah dasar sebelum film kamu masuk ke tahap pra produksi. You have to developt creativity dan plan. Biasanya diproses ini budget yang diperlukan sudah kelihatan dan team juga sudah punya konsep kreatif. Kita sudah bisa ambil langkah selanjutnya bagaimana untuk memenuhi kebutuhan produksi agar filmnya jadi.
Itulah 5 steps pertama. Lalu bagaimana dapat uangnya? Ini pasti pertanyaan setiap orang yaaa . Dulu Saya sih pakai uang sendiri. Ada sumbangan sedikit dari Hamba Allah. Kamu bisa patungan sama teman-teman atau meminta seseorang yang mau menyumbangkan uangnya dan catat dia sebagai executive producer. Perlu diingat, film pendek adalah portofolio, kamu belum bisa mengharapkan uang balik. Kecuali kalau film kamu dapat festival atau rutin diikutkan screening berbayar.
Kamu juga bisa meminta bantuan sponsor untuk alat-alat syuting atau post. Ini lumayan banget lho. Kalau Saya waktu itu ga mau ribet. Dan syukurnya cukup.
Intinya kalau mau bikin film, just go ahead. Jangan kebanyakan mikir. Yakin aja filmnya pasti jadi dan segala kesulitan akan teratasi. Saya dulu hanya punya budget 10 juta dari total produksi yang sekitar 25 juta. Syukurnya begitu banyak keajaiban terjadi, dalam waktu satu bulan Saya bisa menutupi kekurangannnya. Dan kalau memungkinkan, syuting dengan alat-alat profesional. Hasilnya akan worth kok. Kualitas film kamu juga jadi lebih bagus.
Dan tugas kita ga hanya selesai saat filmnya jadi. Film itu harus dipertemukan oleh penontonnya. Terserah kamu mau upload di youtube atau vimeo. Saran Saya sih silahkan upload ke Viddsee , Kineria , Id Film Center , atau Button Ijo . Kalau mau lebih naik kelas ya bisa didaftarkan ke festival film. Bisa juga dengan bikin screening. Sekarang kan sudah banyak screening room yang jadi tongkrongan orang-orang pecinta film.
Dibawah ini Saya buat gambar step-by-step nya.
So, just write it, plan it, and go ahead. Impossible is nothing. Be ready for next opportunity. Dan kalau sudah masuk industri film, you have to have thick skin and an elastic heart. Good luck!

*design by me
Posted via Blogaway
Saturday, January 3, 2015
Rajkumar Hirani
Pada suatu sore teman Saya salah satu penulis film Indonesia, Kang Deddy, mengajak nonton. Pilihan film jatuh pada PK. PK adalah film India yang diperankan oleh Amir Khan. Di Jakarta film ini hanya diputar di Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan Gading XXI. Sejak hari itu Saya jatuh cinta dengan Rajkumar Hirani, sang sutradara dan penulisnya. Setelah itu beberapa hari kemudian Saya cari dvd 3 Idiots. Lagi-lagi Saya suka. Rajkumar Hirani berhasil membuat Saya senang. Karena dia membuat film-film yang sangat bagus. Rajkumar memiliki kemampuan storytelling yang sangat kuat. Saya harus mendapatkan dvd film-film beliau lainnya.
Rajkumar Hirani mengangkat isu-isu sosial. Dalam film 3 Idiots tema yang disinggung adalah soal pendidikan dan PK tentang agama. Dalam film 3 Idiots kita disuguhkan dengan kenyataan sistem pendidikan di India yang hampir mirip dengan negara kita. Beberapa hal yang disinggung diantaranya sistem pengajaran yang text book. Seorang murid baru dikatakan excelent jika dapat menjabarkan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dalam buku. Pendapat lain tidak diterima walau memiliki maksud yang sama. Selain itu adanya kenyataan bahwa banyak orang belajar hanya untuk mendapatkan gelar. Padahal studi yang diambil belum tentu sesuai dengan minat dan kemampuannya. Atau lebih parah sebenanrnya dia tidak benar-benar belajar. Ditambah lagi banyak orang mengambil pilihan studi karena keinginan dari orang tua, bukan dari diri sendiri.
Dalam film PK, Rajkumar mengangkat isu agama. Tapi dikemas dengan cerita komedi. Sangat cerdas. Kita dapat menarik pelajaran apa esensi dari beragama itu. Sesungguhnya rasa spiritual jauh lebih penting daripada rasa religius. Karena terkadang religius merupakan label. Spiritual penjabarannya lebih luas. Tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Dan saat menonton film PK, seakan ada sedikit tamparan. Dalam setiap agama pasti ada “Orang Gila” yang hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi mengatasnamakan Tuhan. Seakan mereka adalah malaikat yang dikirim Tuhan. Bagi mereka halal untuk melakukan kekerasan asalkan memakai nama Tuhan.
Penulis yang bagus pastinya mereka memiliki tingkat spiritual yang tinggi dan pengalaman hidup yang banyak. Seperti itulah Rajkumar Hirani. Seperti mantra “All is Well” yang disisipkan dalam film 3 Idiots. Rajkumar selalu menciptakan karakter-karakter yang begitu kuat dan selalu diberikan penjelasan dalam filmnya. Sebab musabab juga dijelaskan dengan cara yang sangat rapi dan tetap menarik. Tapi yang paling menonjol dari karya Rajkumar adalah dialog-dialog yang begitu cerdas.
Saturday, October 12, 2013
Short Movie Ternyata
Alhamdulillah, kita sudah selesai syuting dua minggu yang lalu di Yogya. Tepatnya di Awor Gallery, Lensa Jogya. Saat ini film Ternyata sudah sampai tahap online editing. Nerveous juga, karena Tropfest akan menjadi International Film Festival pertama yang akan kita submit, Selain bawa nama negara, ini juga sebenarnya bagian dari strategi gue untuk mendapatkan networking dan market untuk film gue selanjutnya. Jadi deg-degan parah. Tapi karena gue kerja sama team yang hebat, Pabrik Film, dengan design produksi yang ga amatir, equiptment juga yg ga amatir, gue yakin project ini akan spectacular.
Tapi satu hal yang bikin gue agak ngerasa ditampar. Gimana coba gue bisa dapat uang 25 juta dalam waktu 2 minggu? Pertolongan Tuhan luar biasa disini. Gue ga akan dapat uang sebanyak itu , tapi untuk film ini tiba-tiba uang itu bermunculan. Segala sesuatu gue serahkan ke team Pabrik Film. Di Jakarta otak gue ga berhenti mikir. Itulah, jika Tuhan memang sudah mengizinkan, maka hal itu akan terjadi.Gue jadi ingat, dulu pernah pegang project film yang ber- M M , tapi memang Tuhan belum mengizinkan, akhirnya gue ga ikut. Tuhan Maha Baik. Coba kalo gue ikut project itu, nama gue juga ikut-ikutan diomongin. Hahaha!!
Proses syuting Alhamdulillah lancar dan fun, acting Pipit sama Harry oke banget. Gue akan merekomendasikan mereka berdua jika ada kesempatan. Proses syuting sekitar 11 jam. Sudah cenat-cenut takut over time, becos i dont have money anymore. Dan gue berhutang sama Pabrik Film. Lewat film ini, gue harus kasih timbal balik ke mereka.
Gue senang, akhirnya gie bisa benar-benar melahirkan karya gue walau baru project kecil, Insya Allah tahun 2014 akan menjadi awal tahun kebangkitan for my better life.I still have another babies
Ini beberapa foto-foto behind the scene. Kalo mau tahu lebih banyak bisa lihat twitternya @deramaromantika atau sutradaranya @sociohipster dan @pabrikfilm



















Tuesday, September 17, 2013
My Baby

Lama ga posting.Lagi super duber sibuk bolak-balik Jakarta-Yogya. Insya Allah mau bikin film pendek, bareng teman2 Pabrik Film. So, film ini ditulis dan diproduseri dan didanai oleh gue sendiri. Sutradara Padhu. Makanya lagi pusing2-nya cari uang. Rencananya film ini mau di submit Festival Film International. Buat pancingan juga semoga gue bisa merealisasikan anak-anak gue yang lain seperti "Cafe UrbaNista" dan "8 Weeks"
Mohon doa semoga projek ini lancar dan sukses. Sementara gue lagi mules cari uang dan mikir strategi selanjutnya. So far, gue suka banget kerja bareng Pabrik Film Yogyakarta. Makanya anak kami yang kecil ini harus jadi sesuatu untuk memberikan 'timbal balik' untuk team.













