Senin, 27 Agustus 2012

Merindukan Hujan

Hujan, bumiku panas sekali belakangan ini. Tapi kamu tak kunjung datang. Barang mampir sekejap untuk melepas dahaga tanah yang mulai kehausan.

Hujan, apa kamu sedang ngambek karena kehadiranmu selalu dikeluhkan? Becek, banjir. Jangan lah kau dengarkan mereka, Hujan. Panas pun mereka mengeluh. Tak pernah benar. Hati mereka yang tidak bersyukur.

Hujan, aku rindu kehadiranmu, yang meninggalkan aroma khas, kesejukan terkadang pelangi dilangit. Tak perlu kau sungkan, jika kau datang aku sudah siapkan sepatu karet agar sepatuku tak cepat rusak karena harus berjalan dijalan yang basah.

Bukan berarti aku benci matahari. Dia berjasa besar membantu para tukang cuci untuk mengeringkan cucian. Dia sangat berjasa dikehidupan muka bumi. Daun-daun dapat berfotosintesis. Memberikan kehangatan. Walau dia terkadang seperti marah, menciptakan udara yang kering.

Hujan atau terik.
Aku suka keduanya.
Kami membutuhkan keduanya.
Tapi kali ini, mampirlah barang sebentar hujan. Aku sudah siapkan selendang, dan susu panas untuk menghangatkan tubuhku jika kamu datang


Sent from BlackBerry® on 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar