Saturday, July 28, 2018

Syuting Di Indonesia Tidak Murah

https://novyastria.blogspot.com/2018/07/indonesia-sebagai-lokasi-syuting.html
Blackhat at Jakarta


Indonesia sudah cukup banyak dilirik sineas luar negeri sebagai salah satu lokasi syuting. Bahkan beberapanya adalah film Hollywood blockbuster. Sebut saja "Eat, Pray, Love", "Blackhat", dan "King Kong". Selain itu masih banyak project lain seperti TVC dan Series, bahkan film indie. Sebelum menjelaskan lebih jauh, Saya ingin memperkenalkan kepada masyarakat yang bukan bekerja di bidang film. Mereka yang berjasa membawa Indonesia lewat layar perak adalah Gary Hayes dan Tino Saroengallo. Ditangan mereka tercipta kualitas film dan iklan yang grand, disertai para kru yang sangat terampil. Baru saja mereka menutup usia. Dasar sahabat sejati, mati saja jaraknya masih dekat. Pak Tino memang sudah sakit kanker beberapa tahun terakhir. Dan Pak Gary sempat jatuh sakit sebelum menghadap Sang Kuasa. Jasa dan dedikasi mereka akan terus Saya kenang.

Indonesia diberkahi pesona alam yang eksotik. Hutan tropis yang belum terjamah bahkan virgin beach. Tak jarang setiap project pasti menemukan lokasi baru yang bahkan kita sebagai orang lokalpun belum tahu. Selain lokasi, Indonesia juga memiliki cukup sineas yang mampu memenuhi standard kerja International. Seharusnya dengan 2 aset utama ini, Indonesia bisa menjadi salah satu Film Friendly. Untuk syuting di Indonesia masih banyak kendala yang perlu dihadapi.

Syuting di Indonesia tidaklah murah, seperti yang digembar-gemborkan para jajaran pemerintah di Indonesia. Tidak adanya tarif yang jelas dan birokrasi yang berbelit seringkali menyurutkan sineas asing untuk syuting di Indonesia. Sebagai contoh untuk perbandingan, syuting di kota New York hanya diperlukan $750 untuk perizinan lokasi. Sedangkan harga syuting di Kota Tua Jakarta, diperlukan 60 juta. Syuting di Jakarta dalam studio pun bisa mencapai 12-15 juta sehari dengan rata-rata tarif studio 6 juta per-8 jam.

https://novyastria.blogspot.com/2018/07/syuting-di-indonesia-tidak-murah.html


Baca juga: Susah Sinyal lebih mahal dari Critical Eleven

Saat ini digadang-gadang untuk perizinan syuting, dimanapun di wilayah Indonesia bisa dilakukan 1 pintu, melalui Pusbang Film. Pada kenyataannya, Kami tetap harus mengurus izin dari RT/RW, Polsek, Pemda dan preman setempat. Tentunya disetiap tahap tersebut Kami harus menyediakan amplop untuk melancarkan terbitnya surat izin syuting. Itupun tidak bisa menjamin mereka akan 100% bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang mengakibatkan proses produksi terganggu karena faktor eksternal.

Yang membuat biaya syuting di daerah Indonesia mahal juga disebabkan karena infrastuktur yang belum baik. Kami harus mengakali dengan menambah jumlah personil atau menyewa alat khusus yang akhirnya akan muncul cost baru. Biasanya jika syuting di daerah, Kami harus merekrut warga sekitar yang seringkali harga permintaan awal bisa berbeda saat sudah melakukan pekerjaan. Yang bikin kesal terkadang mereka tidak bisa mengikuti pace kerja Kami yang serba cepat.

Baca juga: Tentang Perfilman Indonesia

Beberapa waktu lalu Saya membaca buku "Film Marketing Into The 21st Century". Di dalamnya ada bab yang membahas Marketing Location, salah satunya membahas tentang Film Friendly yang sudah dilakukan New Zealand, dan negara / kota lainnya dibelahan dunia.


https://novyastria.blogspot.com/2018/07/syuting-di-indonesia-tidak-murah.html




Berikut rangkumannya:

1. Di Michigan ada sebuah agency yang menawarkan pelatihan kepada warga lokal, perusahaan dan penyedia jasa fixer untuk memudahkan proses pembuatan film dilokasi tersebut dan memudahkan warga yang ingin bergabung sebagai filmmaker.

Di Indonesia sendiri, Badan Perfilman Indonesia, juga sedang memberikan pelatihan-pelatihan serupa di daerah guna mempersiapkan mereka sebagai lokasi baru untuk syuting film. Kota-kota di Indonesia yang pemerintah daerahnya sudah siap sebagai lokasi syuting antara lain Bandung, Bayuwangi, Siak, dan Yogya. Di Bali pun tak ada kendala berarti karena kesigapan warganya yang juga sudah terbiasa sebagai daerah wisata.

Banyak pula komunitas film di daerah yang menelurkan sineas baru. Bagaimanapun sineas juga perlu regenerasi.

2. Film friendliness sangat penting untuk tempat yang tak memiliki atau sedikit track record sebagai lokasi syuting. Kualitas dan pelayanan yang buruk bisa merusak reputasi tempat tersebut.

Kami sebagai filmmaker lokal pun terkadang kapok syuting di tempat tertentu dan pastinya akan kami blacklist dan tak akan pernah masuk rekomendasi Kami. Pembuatan film itu secara tak langsung turut meningkatkan perekonomian. Karena pastinya Kami akan mempekerjakan warga lokal sebagai porter dan membayar sewa / hotel selama proses syuting berlangsung. Belum lagi Kami akan membutuhkan penyedia konsumsi. Coba bayangkan berapa banyak uang yang harus Kami keluarkan untuk syuting film.

3. Location Marketing tidak sama dengan promosi pariwisata, walaupun bisa saja itu akan menjadi salah satu tujuannya. Lebih dari itu, dengan adanya film friendliness, akan memicu pertumbuhan infrastuktur, baik untuk pariwisata maupun keperluan pembuatan film dikemudian hari.


Jadi tolong kepada jajaran pemerintah, jangan promosikan Indonesia murah untuk syuting film. Selain perizinan yang mahal, upah Kami sebagai pekerjapun tidak bisa dikatakan murah. Ga mungkin Kami mempekerjakan kru yang kemampuannya belum memenuhi standard demi harga murah. Karena Kami bawa nama negara saat bekerja dengan sineas asing.

Walau banyak yang masih awam terhadap pekerja film, secara tak langsung Kami turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Kami bayar pajak penghasilan, dimana pajak itu akan digunakan untuk pembanguan negara. Berkat industri yang semakin maju, tentunya tercipta lapangan kerja baru. Dalam proses produksi film kurang lebih ada 150 orang yang terlibat. Belum lagi dari sisi distribusi, munculnya bioskop atau channel distribusi baru, tentunya perlu pekerja baru. Berkat film juga berhasil muncul budaya atau trend baru yang lagi-lagi akan meningkatkan dan memperluas pasar.




Saturday, July 14, 2018

Mewarnai Rambut Di rumah Dengan Revlon Colorsilk 46

Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown


Setiap 3 bulan, Saya selalu re-touch tampilan rambut. Biasanya standard banget hanya trim rambut. Berhubung sejak tahun lalu Saya sedang berambut bob pendek, jadinya re-touch 6 bulan. Terakhir potong rambut waktu liburan akhir tahun lalu. Jadinya sekarang bisa dikatakan rambut Saya masih cukup pendek untuk dipotong lagi. Tapi kan bosen juga yaaa masa gitu-gitu aja. Akhirnya Saya memutuskan untuk mewarnai rambut. 

Ini bukan pertama kalinya Saya mewarnai rambut. Pertama kali mewarnai rambut itu ditahun 2009, Saya masih ABG (19 jalan 20) hehe. Dulu diwarnai oleh teman Saya. Jadi ceritanya Saya lagi nginap dirumah dia dan dia iseng banget pengen ngewarnain rambut Saya yang saat itu masih virgin. Dulu diwarnai pakai Loreal, ga tau shade apa. Karena Saya tinggal terima jadi.


Pertama kali rambut diwarnai tahun 2009


Dari pengalaman terdahulu, sebenarnya warna itu kurang cocok untuk kulit Saya. Wajah Saya jadi terlihat agak kusam. Kali ini Saya memutuskan mewarnai dengan shade lebih gelap untuk hasil yang natural. Karena Saya lagi suka banget sama tampilan Princess Meghan Markle, Saya ingin warna rambut Saya seperti foto dibawah ini. Walau diwarnai, masih terlihat sangat natural. Sungguh lah Meghan Markle junjungankuw. Sampai-sampai Saya jadi ikutan suka tampilan no makeup makeup gara-gara Incesss ini. Yang biasanya Saya menghindari lipstick nude, sekarang jadi suka lipstick nude.

meghan markle red hair
Meghan Markle 

Lalu Saya pergi ke Watson PIM 2. Disana Watsonnya besar dan cukup lengkap. Berharap Saya menemukan banyak option untuk beli cat rambut. Akhirnya pilihan Saya jatuh ke Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown. Tadinya mau beli yang warna coklat, tapi kata embak-embaknya, karena rambut Saya hitam banget, lebih baik beli yang warnanya terang. Kalau beli warna gelap, hasilnya ga kelihatan. Menurut Saya sih warna ini sudah cukup terang karena ada tulisan mediumnya. Kalau pilih yang light, takut hasilnya jadi kayak anak kecil kebanyakan main layangan.

Saya langsung eksekusi begitu sampai di rumah. Isi boxnya Revlon Colorsilk ada cream developer, cairan pewarna, after color conditioner, sarung tangan dan petunjuk pemakaian. Saya ga pakai sisir semir karena lupa beli. Akhirnya Saya aplikasikan dengan tangan saja. Sebelumnya, Saya oleskan wajah, kuping dan leher dengan krim, supaya jika ada cat yang mengenai kulit, lebih mudah untuk dibilas. Saya bagi rambut menjadi beberapa bagian agar aplikasinya merata. Saya mulai dari rambut bagian bawah belakang kepala. Setiap selesai satu bagian, Saya sisir dengan sisir biasa untuk meratakan cream-nya. Setelah semua bagian selesai, diamkan min. 25 menit. Karena hitungannya rambut Saya masih virgin, Saya diamkan sampai 1 jam. Setelah itu bilas dan tak lupa pakai after color conditioner.

Hasilnya tak terlihat signifikan, malah masih hitam. Moon maap saudara sekalian, Saya ga ada foto after-nya. Dibawah ini foto 2 hari setelah pewarnaan. Saya pikir ini gagal. Dan berencana cat ulang setelah 3 bulan nanti.


2 hari setelah pewarnaan, outdoor


Saya masih penasaran, kenapa rambut Saya masih terkihat hitam, ternyata menurut beberapa review, cat rambut rumahan memang tidak memberikan hasil langsung. Tapi baru akan terlihat setelah 1 minggu sampai 1 bulan. Jadi mari kita lihat progress-nya.


Ini warna setelah 1 minggu pewarnaan. Sudah terlihat agak terang jika berada dibawah cahaya.


Oke, jadi ga gagal-gagal banget lah ya. Perlahan warnanya makin kelihatan. Memang sesuai klaim di box nya, "3D Color Technology For Natural Rich Color". Waktu di Watson pun Mbak-mbaknya bilang, biasanya warna akan terlihat dibawah cahaya, kalau didalam ruangan, ga akan terlalu kelihatan.


Benar saja, setelah 1 bulan, warna semakin terlihat. Walau jika diruangan dengan pencahayaan standard masih tidak terlalu kelihatan warna coklatnya.



Warna dibawah lampu dalam ruangan.


Revlon Colorsilk 46 Medium Golden Chestnut Brown


Mewarnai Rambut Sendiri



Warna didalam ruangan dengan pencahayaan standard




Warna diluar ruangan dengan cahaya matahari




Kesimpulannya Saya cukup puas dengan hasil Revlon Colorsilk ini. Produk ini juga membuat rambut Saya terlihat bercahaya. Yang Saya suka, sifat catnya yang mudah hilang jika mengenai kulit. Dan conditioner-nya wangi floral yang enak banget, bisa tahan 3 harian. Persoalan kenapa warnanya ga keluar mungkin karena developer cream-nya kurang kuat. Saya baru ingat, waktu dulu Saya cat rambut pertama kali, teman Saya mencampur cream developer yang lebih tinggi persentasenya. Karena Saya masih mau hasil yang lebih signifikan, Saya akan melakukan pewarnaan lagi dengan warna yang sama 3-6 bulan kedepan. 

Untuk harga Revlon Colorsilk ini adalah Rp 75.000,-. Tapi berhubung dengan diskon di Watson waktu Saya beli in harganya jadi Rp 45.000,- jika disertai pembelanjaan minimal 50.000 selain produk. Kalau Saya lihat di Tokopedia sih lebih murah, bisa sekitar Rp 50.000,-. Kalau mau lihat warna lain bisa cek ke colorsilk.com

Ga usah takut rambut rusak setelah diwarnai. Lakukan masker rambut seminggu sekali untuk menjaga kesehatan rambut.





Monday, July 9, 2018

Coffee Time Story #1

Photo from Pexels


Hari ini seperti biasa rutinitas Senin, membuat plan untuk seminggu kedepan dan melihat kembali progress beberapa hal yang sudah dilakukan minggu lalu. Tiba-tiba kepikiran sesuatu dan ga sabar untuk segera dibagikan melalui tulisan ini.

Seringkali kita merasa orang yang paling malang dan paling susah. Sayapun terkadang merasa demikian. Sudah kerja keras tapi hidup masih gini-gini aja. Orang-orang sudah bisa beli gadget terkini tanpa memusingkan harga. Banyak pula yang sudah bisa liburan semudah jalan dari HI ke Blok M. Where am I? Apa salah Saya? Ilustrasi ini mungkin dirasakan sebagian besar orang.

Tuhan itu terkadang memberi ilhamnya melalui orang-orang disekeliling kita. Beberapa waktu ini seakan Saya dibukakan mata dan kuping lebar-lebar, untuk mendengar kisah-kisah dan melihat kehidupan orang disekitar Saya.

Tepat seminggu lalu, kabar duka datang dari tempat Saya bekerja. Seorang anak magang meninggal akibat kecelakaan tunggal. Jadi dia nyambi jadi driver ojol kalau sedang libur atau selepas pulang dari kantor. Menurut cerita dari atasannya, dia ingin sekali membiayai adiknya agar bisa kuliah dan jadi orang sukses. Makanya dia kerja keras sampai kelelahan yang mengakibatkan dirinya celaka. Saya pun merenung, Saya tidak pernah bekerja sekeras itu. Selepas kerja Saya masih bisa santai sekedar baca buku atau nonton film di bioskop. Tapi ada orang yang benar-benar harus bekerja sekeras itu untuk bertahan hidup.

Cerita lainnya, saat Saya beli makan, ada bapak-bapak yang beli makan hanya dengan tahu, tempe dan sambal. Saya pikir, budget makan Saya sudah irit, tapi ternyata masih ada orang yang harus lebih irit lagi. Selama makan Saya jadi kepikiran. Betapa masih beruntungnya Saya masih bisa beli ikan sebagai lauk.

Dan banyak cerita-cerita lainnya, jika dikupas satu persatu, hidup Saya masih jauh lebih beruntung daripada mereka. Tapi selama ini seringkali Saya kurang bersyukur atas pemberian Tuhan.

Saya tidak mengidap penyakit parah, Saya punya pekerjaan, Saya punya pacar yang baik, Saya diberikan kekuatan agar bisa hidup mandiri. Harusnya Saya bisa mensyukuri semua itu disetiap hembusan nafas.

Saya berdoa dan berharap, agar diberikan kehidupan yang baik agar bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Semoga dengan bantuan Tuhan, Saya bisa mewujudkannya. Karena esensi dari hidup ini bukan sekedar bisa memenuhi hasrat hidup, tapi memberi dampak untuk kehidupan sosial.