Jumat, 18 Desember 2015

Kejar Setoran atau Kejar Ego?



Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan oleh berita kecelakaan metromini dan kereta api di daerah Angke, Jakarta. Jumlah korban meninggal dalam kecelakaan itu berjumlah 18 orang. Berarti hampir semua penumpang metromini tewas dalam kecelakaan itu. Berdasarkan saksi mata, kecelakaan itu terjadi karena metromini tak mengindahkan sirine kereta lewat. Metromini tetap menerobos dan kecelakaan tak bisa dihindarkan. 18 nyawa melayang sia-sia karena kesembronoan 1 orang. Miris.


Kejadian ini bukan kali pertama di Jakarta. Kesadaran akan disiplin berlalu lintas semakin pudar. Semua mau cepat-cepat. Saya sebagai pengguna angkutan umum tentu sangat menyayangkan hal ini. Jakarta sudah terlalu macet, pemerintah pun sudah berusaha agar masyarakat lebih memilih angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Tapi niat baik pemerintah kurang ditanggapi baik oleh masyarakat. Dengan berbagai alasan. Ada yang bilang kegiatan mereka memang butuh kendaraan pribadi atau mungkin saja karena gengsi kalau bepergian dengan kendaraan umum. Dan memang angkutan umum yang nyaman jumlahnya masih sedikit. Itupun hanya yang dibawah naungan Trans Jakarta. Tapi jika rush hour, tetap saja kita harus rela berdesak-desakan.


Kecelakaan kopaja dan metromini seringkali akibat ulah pengemudi. Mereka menyetir ugal-ugalan. Kejar setoran dijadikan alasan. Padahal mereka itu bermain balapan dengan sesama sopir kopaja atau metromini lainnya. Diikuti pula dengan para kenek yang bersorai dan melambaikan badannya dipintu bus. Salah sedikit dia bisa jatuh dan terlindas kendaraan dari belakang. Mereka tidak peduli pada keselamatan penumpang yang dibawanya. Terkadang mereka menyetir dengan penuh emosi dan ambisi. Penumpang tentu tidak nyaman tapi mau bagaimana lagi. Menegurnya pun percuma. Bisa saja kita dipaksa turun kalau sang sopir tak suka hati kita tegur. Sedangkan kita bekejaran dengan waktu atau mungkin sayang untuk mengeluarkan ongkos taksi.  


Tapi Saya pikir keadaan ini sudah bukan karena urusan cari makan. Ini persoalan pola pikir. Ya, sangat disayangkan sekali, pola pikir mereka sama buruknya seperti badan bus yang mereka kemudikan. Mereka hanya mementingkan ego semata agar dibilang jantan oleh para pengemudi lainnya tanpa memikirkan keselamatan penumpang. Sesekali Saya mendengar beberapa penumpang berteriak, “Bang, nyetir yang bener dong. Kita ini manusia bukan kambing”.


Bahkan Kopaja AC yang diharapkan bisa lebih tertib dan nyaman, mereka juga tidak disiplin dalam berkendara. Kopaja AC sering kali menaik turunkan penumpang disisi kanan jalan. Sungguh sangat membahayakan. Kopaja AC juga sering memaksa penumpang untuk naik padahal kondisi bus sudah sesak sampai-sampai bernapas pun sulit.


Pemerintah Daerah dan kepolisian sudah harus bertindak tegas. Tangkap dan beri hukuman sopir-sopir kendaraan umum yang tidak tertib. Memang akan banyak perlawanan. Tapi tindakan ini sangat perlu dilakukan demi kenyamanan dan keselamatan masyarakat pengguna jasa angkutan umum. Kita sebagai masyarakat juga bisa membantu pemerintah dan polisi dengan cara berani menegur tindakan pengemudi angkutan umum yang tidak tertib. Pola pikir mereka harus dibenahi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar