Senin, 22 Februari 2016

You Are Amazing, Age Doesn't Matter



Banyak orang berkata, "Perempuan yang sudah berusia 25 tahun, habis sudah pamornya". Tentu kalimat itu akan membuat para perempuan yang usianya lewat dari 25 tahun, termasuk Saya, akan sedikit berang. Apalagi jika belum juga menikah. Panas rasanya hati ini. Cap perawan tua dan tak laku siap-siap diletakkan diatas jidat kita. Yang sudah menikah, akan muncul rasa takut dan pertanyaan dalam hati, "Apa Saya tetap menarik dimata suami walau usia sudah tak lagi muda?". Jaman memang sudah modern, tapi banyak pula orang yang masih berpikiran sempit. Saya adalah salah satu yang akan lantang berkata, "Itu tidak benar!".


Banyak orang berusaha memanipulasi seorang perempuan. Karena kelemahan perempuan ada dipendengaran. Apa yang didengar, langsung dirasa oleh hati. Untuk itu pandai-pandailah kita menyaring kata-kata yang orang lain suarakan agar hati tak tersakiti. Sebagai perempuan, kita harus kuat, walau otot ini memang tak besar. Jiwa pikiran kita harus kuat. Jika kita kuat, tak akan ada seorangpun yang mampu memanipulasi kita. 


Usia bukanlah penghalang untuk tetap menarik. Perempuan diberi anugrah diciptakan sebagai makhluk paling indah di semesta ini. Perempuan harus pandai menggunakan anugrah itu. Diusia berapapun perempuan akan tetap menarik jika dia pandai merawat diri. Jika pernah membaca buku Bumi Manusia, ada bagian menarik di dialog Nyai Ontosoroh dengan anak perempuannya. "Cantik menarik sungguh lebih baik daripada kusut. Dan setiap yang buruk tak pernah menarik. Perempuan yang tak dapat merawat kecantikan sendiri, kalau aku lelaki, akan kukatakan pada teman-temanku: jangan kawini perempuan semacam itu; dia tak bisa apa-apa, merawat kulitnya sendiripun tak kuasa". Jangan dengarkan mitos-mitos tentang usia yang semakin hari semakin tua semakin tak menarik. Ingat, itu adalah manipulasi.


Tapi ternyata penampilan saja tidak cukup. Sebagai seorang perempuan kita wajib memperkaya jiwa dan pikiran kita dengan pengetahuan. Banyak cara dijaman modern ini untuk meng-upgrade isi otak. Membaca buku dan artikel, menghadiri seminar atau meminta seseorang untuk dijadikan mentor. Teruslah belajar selama masih hidup karena kehidupan tak pernah berhenti memberikan pembelajaran. Penampilan yang bagus ditunjang isi otak yang briliant, perempuan itu akan sangat menarik dimata semua orang.


Lalu bagaimana dengan para perempuan lajang yang usianya sudah menginjak 25 tahun? Usia ini bukanlah akhir dari pamor, tapi justru awal dari pamor. Kenapa? Kita memiliki kebebasan untuk berkencan dengan pria direntang usia berapapun. Semakin banyak kesempatan terbuka, bukan? Secara pengalaman kita jauh lebih pandai. Secara emosional juga lebih matang. Kita sudah menjadi pribadi yang lebih bijak. Karir juga lebih baik dimana ini akan meningkatkan kepercayaan diri kita. Karena seorang lelaki yang berkualitas, mereka tak cukup dipuaskan dengan kulit yang halus dan rambut yang tergerai indah. Secara emosi mereka harus dipuaskan. Dan perempuan yang usianya sudah 25 tahun, pasti akan lebih siap menghadapi pria-pria itu.


Jadi untuk para perempuan lajang, tetap tebarkan pesonamu dan biarkan dunia tahu. Jadilah perempuan yang berdaya.


Sabtu, 13 Februari 2016

Kenapa Pengguna Aktif Twitter Menurun?



Sejak tahun 2014, Saya sudah menyadari sepertinya Facebook saat ini lebih rame ketimbang Twitter. Terlihat dari interaksi beberapa teman yang kini lebih aktif komen dan posting di Facebook. Facebook sempat ditinggalkan saat Twitter booming disekitar tahun 2009-2012. Beberapa waktu yang lalu, Mas Seseq @sheque memberikan data bahwa pengguna Facebook sekitar 70%. Jika sudah bicara data, maka kita melihat fakta. 


Kenapa twitter ditinggalkan dan orang beralih ke Facebook? Ada beberapa alasan, diantaranya:


1. Tidak semua orang bisa main Twitter

Ya, tak mudah membuat sebuah posting yang menarik di twitter. Membuat posting di Twitter bagaikan menulis sebuah headline di surat kabar. Posting yang menarik akan membentuk interaksi. Hal ini bisa dilihat dari jumlah followers. Maka muncul lah yang disebut Selebtweet


Di Facebook, apapun yang kita post dan siapapun kita, berpotensi untuk minimal dapat jempol. Kita bisa lihat disitu ada interaksi. Interaksi inilah yang membentuk semacam adiksi bagi pembuat posting. Interface Facebook memang lebih ramah untuk semua golongan.


2. Saat ini orang lebih suka melihat gambar daripada text

Di Facebook, kita bisa melihat posting gambar dengan jelas tanpa harus kita klik dulu gambarnya. 


3. Facebook punya fitur group untuk membentuk engagment audience

Ya, beberapa komunitas, brand, pasti memiliki group di Facebook. Setiap ada postingan baru di group, semua member akan menerima notifikasi. Sehingga apa yang ingin disampaikan akan langsung diterima oleh audience.


Jadi saat ini jika ingin membuat promosi atau campaign, genjot dulu member group di Facebook. Karena datanya sudah jelas, Facebook penggunanya jauh lebih banyak daripada Twitter. Trend sudah berubah.


Sent from Yahoo Mail on Android


Selasa, 09 Februari 2016

Kerja Berdasarkan Passion Atau Gaji



Tulisan ini dibuat berdasarkan pertanyaan yang sangat ingin Saya tanyakan ke teman-teman entrepreneur, Apa yang mereka lakukan saat mereka berusia 25 tahun? Apa saja achievment mereka? Pertanyaan itu muncul karena Saya sedang galau maksimal melebihi galaunya dicuekin gebetan karena di usia 26 tahun ini Saya merasa belum melakukan atau menghasilkan maha karya yang maha wowsome! 


Lalu Saya berpikir, pasti mereka punya passion. Namun kenyataan tak selalu seindah kata-kata Mario Teguh. Dan muncullah pertanyaan lain, jadi lebih baik kerja berdasarkan passion atau gaji? Kalo punya gaji besar, Saya kan juga mau bisa lebih sering mimik mimik centil di Plaza Senayan sambil ngecengin eksmud bule. 


Setelah merenung sambil nonton sinetron India, Saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan terakhir. So... Here we go:


Tidak semua orang memiliki passion bahkan tidak paham apa passion itu. Passion itu semacam bahan bakar. Passion yang membuat hidup kita terasa bermakna. Passion ditemukan setelah melewati proses. Beruntunglah orang-orang yang mengetahui apa passionnya diusia muda sehingga mereka bisa lebih fokus dalam hidup, apa yang mau mereka raih.


Saya mulai bekerja dan bayar bill sendiri sejak usia 18 tahun. Beruntung Saya bisa bekerja diperusahaan dibidang film yang punya nama besar. Posisi Saya waktu itu sebagai staff accounting, sesuai dengan jurusan sekolah kejuruan Saya. Sejak umur 15 tahun Saya bercita-cita bisa jadi business woman. Bisnisnya apa belum tahu. Motivasinya simple, biar bisa punya duit banyak :D. Nah, karena dikerjaan Saya sering bertemu orang-orang film dan ngobrol-ngobrol dengan mereka, diusia 19 Saya sudah tahu apa yang menjadi passion Saya, yaitu bisnis film. Mulai dari situ Saya pelajari semua hal yang berkaitan dengan industri film. And I was really enjoy my work. Selalu semangat buat ngantor. Peningkatan gaji pun paling cepat diantara teman-teman lain yang jauh lebih senior.


Lalu jika dihadapkan pada pertanyaan pilih kerja berdasarkan gaji atau passion, Saya jawab, keduanya bisa didapatkan bersamaan kok. Kita bisa bekerja lebih baik jika kita bekerja sesuai passion. Soal besarnya gaji, pasti akan mengikuti dari waktu kewaktu berdasarkan pengalaman dan kerja keras. Dan yang pasti bekerja sesuai passion akan membuat kita lebih happy karena passion itu sudah mengalir dalam jiwa kita. 


"Saat ini Saya bekerja sesuai passion tapi gajinya kecil. Aku kudu piye?" Setiap manusia diberi kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ya realistis aja kalau memang gaji ga terlalu besar, gaya hidup jangan ketinggian. Banyak sedikitnya uang yang kita punya, tergantung bagaimana kita mengelola keuangan sendiri, kok. Walau gaji besar tapi ga bisa ngaturnya, tetap aja tongpes. Lagipula percaya saja, setiap usaha pasti akan ada hasilnya. Pada umumnya orang-orang yang memiliki passion, mereka sudah bisa menakar berapa besar bayaran yang sepantasnya mereka. Jadi gaji besar pun bisa didapatkan.


"Ah, tapi kerja berdasarkan passion kesannya idealis banget. Saya mending pilih yang penting gaji besar". Yowes, silahkan. Ga ada yang salah kok. Setiap orang kan punya pilihan hidup masing-masing. Saya bukan those hipster kids yang akan men-cap kamu ga keren hanya karena ga bekerja sesuai passion. Yang penting kerjanya tetap ikhlas :)

Sent from Yahoo Mail on Android