Jumat, 22 Juli 2016

8 Pelajaran Dari Film The Intern Untuk Para Profesional



I'm sorry if I am just 1 year too late to watch this movie. Saya sedang mencari referensi film tentang fashion industry. Saya pikir film The Intern ini adalah film semacam Devil Wears Prada yang lebih fokus pada fashionnya, Ternyata The Intern bukan film yang fokus pada fashion stuff tapi tentang kehidupan profesional masa kini. And I'm totally in love with it!! Nancy Meyers adalah salah satu scriptwriter brilliant di planet ini. Sejak menit pertama, Saya langsung jatuh cinta pada narasinya. Dan Saya juga jatuh cinta pada 2 karakter utama dalam film ini, Jules Ostin (Anne Hathaway) dan Ben Whittaker (Robert De Niro).  Karakter Jules mencerminkan sifat para CEO muda, bagaimana mereka meeting marathon, memimpin dengan gaya one man show, dan berusaha multitasking tentunya dengan bantuan gadget mereka. Disini kita juga melihat suasana open office yang menjadi ciri khas startup era digital, sebuah perusahaan yang mayoritasnya generasi millenial bergaya hipster (yes, those beard, wool outter and love with vintage stuff!).


Susana kantor Jules sangat kontras dengan Ben Whittaker, seorang pensiunan yang sedang magang di startup digital fashion retail. Kehadiran Ben seperti penyeimbang kehidupan para millenial yang dituntut serba cepat. Ben memang sudah memiliki 40 tahun pengalaman dalam bisnis. Tapi dia tidak berhenti belajar untuk mengisi hari tuanya.

Saya tidak akan menulis review tentang film ini. Tapi Saya ingin berbagi pelajaran yang sangat bagus setelah nonton film The Intern. 8 hal ini akan sangat berguna untuk para profesional.

1. Cara Perkenalan Diri
Diawal film The Intern, Ben membuat sebuah cover letter berupa video. Penyampaian dalam cover letter konvesional dan video tak ada bedanya, hanya medianya saja yang berbeda. Dalam cover letter, CV atau proses interview, kita wajib 'menjual' diri dengan menceritakan hal-hal menarik tentang diri kita sehingga perusahaan tersebut mau mempekerjakan kita. Dalam video tersebut, Ben menceritakan nilai jualnya "I want excitement, I want to be needed. I am loyal, I am trustworthy and I am good in a crisis".

2. Selalu Berkata Positif
Ben yang selalu positif ini memberi warna di kantor Jules Ostin. Semua orang suka pada Ben. Bahkan Jules yang awalnya tak terlalu bersemangat dengan Ben, merasa justru Ben yang menjadikan Jules menjadi pemimpin yang lebih baik untuk perusahannya dan dirinya sendiri. Ada satu scene saat Ben sedang mengantar anak Jules ke acara sekolah. Sekelompok Ibu-ibu bilang, "Jules kind of tough (bitch)". Ben tahu terkadang Jules menyebalkan (tipikal boss kan :p). Apa Ben juga ikutan menjelekkan Jules? Nggak sama sekali. Bahkan dia bilang Jules adalah boss yang keren. Karena sifatnya yang tough itu, perusahaan Jules bisa sangat maju.

3. Mindfulness
Profesional masa kini harus bisa multitasking karena tuntutan yang serba cepat. Tak jarang saat sedang makan siangpun kita masih harus sambil mengetik e-mail atau menjawab telpon. Akibatnya kita kurang bisa menikmati dan fokus pada satu aktifitas. Mulai saat ini coba biasakan untuk fokus pada 1 aktifitas sebelum mengerjakan aktifitas lainnya.  Nikmati makan siangmu tanpa main gadget atau melanjutkan kerjaan. Saat bekerja, hindari bermain handphone atau sambil mengecek social media. Beri jadwal kapan waktu untuk menjawab e-mail, refreshing dengan main internet atau menelpon orang tersayang. Mindfulness ampuh untuk menghindari stress dan membuat kita lebih fokus.

4. Bicara Sesuai Porsi
Biasanya karena merasa tahu akan banyak hal, muncul penyakit pengen show off supaya dapat pengakuan kalau dirinya hebat. Ya kan? Pernah bertemu orang seperti ini? Atau jangan-jangan kita sendiri :P. Ben sudah 40 tahun tahun memiliki pengalaman bisnis. Dia tahu banyak hal. Tapi apa karena dia senior dan tahu banyak hal dia berusaha mengajari Jules dan pekerja lainnya? Nggak sama sekali. Dia hanya jadi pengamat. Dia baru mau mengeluarkan pendapat jika itu memang diperlukan. Itulah orang cerdas yang sebenarnya.

5. Dalam Bekerja, Setiap Generasi Harus Saling Melengkapi.
Dalam satu perusahaan kita akan bertemu dengan orang-orang dari beberapa generasi. Tidak ada generasi yang paling hebat. Generasi millenial memang lebih up to date dan berani daripada generasi baby boomer. Tapi generasi baby boomer memiliki pengalaman jauh lebih banyak daripada generasi millenial.

6. Detail
Jules sebagai CEO yang one man show, dia sangat detail. Bahkan untuk urusan layout web harus approval dia dulu. Gambar harus terlihat jelas dihalaman web. Dia bahkan turun tangan langsung untuk mengecek inventory dan bahan-bahan di gudang. Untuk hasil yang sempurna memang dibutuhkan ketelitian.

7. Terus Belajar Hal Baru.
Walau sudah tua, semangat belajar Ben sangat tinggi. Dia bahkan kursus bahasa Jepang. Dia tak malu bertanya pada cucunya apa itu USB connector. Dan dia banyak belajar dari Jules, mengapa perusahaan itu bisa berkembang pesat dalam waktu singkat. Jules pun demikian. Setelah dia mau membuka hati untuk menerima kehadiran Ben, Jules belajar banyak hal dari pria itu. Bukan hanya soal bisnis, tapi juga pandangan hidup. Berapapun usia kita, terus lah mempelajari hal baru. Dengan belajar, hidup akan lebih berarti dan kita tak akan tumbuh tua menjadi orang yang membosankan karena tahu banyak hal. Kita bisa belajar dari membaca buku, menonton film atau sekedar berbagi pengalaman.

8. Work Smart, Not Work Hard
Masih banyak dari kita yang diperbudak oleh pekerjaan. Sehingga muncul masalah personal yang berdampak tidak baik untuk kehidupan kita sendiri. Hidup ini tak harus dihabiskan dengan bekerja 18 jam sehari. Kita harus sesekali have fun dengan teman-teman dan keluarga atau sekedar meluangkan waktu untuk hobi. Buatlah management waktu agar hidup lebih seimbang. Dan terapkan prinsip mindfulness.


Mungkin bagi yang sudah nonton The Intern sempat berpikir sosok Jules ini boss yang terlihat keren tapi sebenarnya agak nyebelin.  Yaaah... boss kan juga manusia yang tidak sempurna. Tapi coba deh kalau kita jadi boss, belum tentu kita tidak menyebalkan lho. Boss itu bebannya besar, dia mau semuanya berjalan dengan baik. Untuk siapa? Untuk perusahaannya agar bisa gaji kalian-kalian yang bekerja ini.  Dan dalam kehidupan nyata, daripada kita mikirin kelakuan boss yang kadang menyebalkan, lebih baik kita fokus untuk memberikan yang terbaik saja. Cara ini tak hanya bermanfaat untuk menarik perhatian boss tapi juga untuk diri kita sendiri. Mungkin saja dikemudian hari usaha kita ini didengar kolega dari perusahaan lain yang akan mengajak kita bergabung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar