Sunday, December 14, 2014

Kreatifitas Tak Terbatas Pada Keadaan Yang Terbatas

Filmmaker Indonesia terbiasa dengan proyek film dengan budget yang tak terlalu besar, terutama para filmmaker indie yang cenderung membuat film dengan budget yang sangat kecil. Sebenarnya keadaan inilah yang merangsang kreatifitas para filmmaker bagaimana meramu keterbatasan itu menjadi sesuatu yang bagus.  Bulan ini Saya menonton film 7 hari 24 Jam dan The Sun, The Moon 
and The Hurricane.

Dalam film 7 Hari 24 Jam, budget bukanlah kendala untuk perusahaan sebesar MNC pictures. Tapi Saya suka kreatifitas penulisnya, Nataya, yang mampu memperluas cerita dengan setting dan aktor yang tak banyak. Film ini 80% setting nya berada di ruang rawat rumah sakit. Tapi penonton tak dibuat bosan. Ada saja hal-hal menarik yang tercipta.


Poster film 7/24

Lalu film The Sun, The Moon and The Hurricane. Film indie yang sempat screening dan sutradaranya menjadi nominasi untuk The Best Director untuk Vancouver Film Festival ini diproduksi dengan budget yang sangat minim. Tapi Andri Cung, sebagai penulis dan sutradaranya, mampu menyelesaikan filmnya dengan sangat baik. Terasa sentuhan hati saat menontonnya.


Poster film The Sun, The Moon and The Hurricane

Film minimalis seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi pembuatnya. Lihat saja Carnage by Roman Polanski dan Some Velvet Morning by Neil LaBute. Mereka mampu menyajikan film yang brilliant. Skenario yang kuat dan tidak membuat bosan walau pemain dan latar tempatnya itu-itu saja.  Untuk membuat suatu film yang bagus tak melulu harus dengan budget yang fantastis



Wednesday, September 10, 2014

Go Green Real Action




Alam memberikan  berjuta kekayaan untuk kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.  Namun sayang sekali manusia banyak yang tidak berterima kasih kepada alam. Seiring bertambahnya populasi alam semakin rusak. Memang sudah menjadi hukum alam. Lantas, apa kita diam saja? Sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada alam yang telah memberi kita kehidupan. Jangan menambah kerusakan alam. Sebisa mungkin kita menjalani hidup ramah lingkungan.


Tulisan ini Saya buat karena terinspirasi dari Nadia Hutagalung. Dia menjalani hidup Go Green. Rumahnya di Bali dibangun dengan prinsip ramah lingkungan. Dia tidak memasang AC. Katanya, “AC selain pemicu pemanasan global juga membuat kulit kering. Jadi kalau panas ya buka jendela dan pasang kipas angin saja”. Selain itu dihalaman rumahnya juga ditanami bahan pangan. Mulai dari bumbu, buah dan sayuran. Menyenangkan sekali ya. Nadia selain cantik juga down to earth. Dia tidak memposting barang-barang mewah, tidak melulu posting foto selfie nya tapi dia menggunakan social media untuk menginspirasi orang banyak. Jika shopping dia memilih model yang everlasting jadi membuatnya tak melulu belanja menghabiskan uang. Benar-benar menginspirasi kita untuk hidup sederhana dan ramah lingkungan ya.


Sejak tahun 2005 saat isu global warming sudah mulai disosialisasikan diberbagai media, Saya perlahan juga mencoba untuk hidup go green. Walau tak seratus persen back to nature tapi paling tidak tindakan Saya tidak menambah kerusakan alam yang sudah dilakukan milyaran manusia dibumi ini. Apa saja itu?


1.       Say no to plastic bag

Saya punya beberapa tas kain yang bisa menampung belanjaan. Saat belanja bulanan Saya menolak tas plastik dan menyuruh kasir untuk langsung memasukan belanjaan Saya ke tas kain yang sudah Saya bawa. Memang terkadang Saya lupa membawa tas kain jika belanja tanpa rencana. Sebagai penghapus doa, plastik itu Saya simpan untuk menampung sampah dirumah.


2.       Mematikan semua listrik di kamar saat hendak pergi

Saya pakai saklar pararel. Jika mau pergi , Saya tinggal cabut kabel dari colokannya dan tak lupa mematikan lampu.


3.       Mencuci tanpa pengering

Kebetulan karena tinggal sendiri  Saya mencuci sendiri pakaian Saya dengan tangan. Kalau anak kost lainnya lebih suka laundry kiloan, Saya lebih suka manual. Selain lebih ramah lingkungan juga lebih hemat. Selain itu menghindari drama baju hilang ditempat laundry. Saya hanya laundry selimut karena besar dan tebl harus dicuci dengan penanganan khusus.


4.       No AC or Heater

Ya, saat orang-orang mengejar gengsi dengan pasang AC dikamarnya, Saya lebih suka pakai kipas angin. Kebetulan sirkulasi udara dan pencahayaan kamar Saya sangat bagus. Ini juga menjadi pertimbangan Saya untuk mencari tempat kos. Jika membangun rumah nanti, Saya akan bikin langit-langitnya tinggi supaya rumah menjadi sejuk. Dan akan menanam banyak pohon. Saya juga tidak menggunakan dispenser. Jadi Saya beli alat khusus untuk air minum tanpa harus dimasak. Saya minum dari air sumur tempat tinggal Saya. Jika ingin minum yang panas, Saya punya ketel listrik. Saya memang tidak dibiasakan minum-minuman dingin dari kecil. Jika menggunakan dispener, berapa banyak karbon yang dilepaskan dan berapa besar energi listrik yang terus terpakai tanpa henti. Walau demikian memiliki kulkas adalah hal yang wajar. Karena sangat berguna untuk menyimpan sayur dan buah agar lebih tahan lama. Saya juga tidak memiliki water heater. Memang mandi dengan air panas itu enak sekali. Tapi coba pikir lagi. Kita ini tinggal dinegara tropis, tak perlu-perlu amat mandi dengan air panas.


5.       Bepergian dengan angkutan umum

Sebenarnya ini karena Saya belum ada kendaraan pribadi. Lagipula dengan menggunakan angkutan umum kita turut mengurangi kepadatan jalanan. Saya pergi dengan taksi jika memang diperlukan. Saya berpikir bagaimana nanti jika Saya sudah memiliki kendaraan pribadi? Saya simpulkan, kendaraan pribadi hanya boleh dipakai jika memang diperlukan saja. Harapan Saya semoga sistem transportasi massal di Indonesia bisa jauh lebih baik sehingga kita tak selalu bergantung pada kendaraan pribadi.


Kira-kira itu yang sudah Saya lakukan untuk mengurangi kerusakan alam. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi dan Saya bisa benar-benar membangun rumah ramah lingkungan. Saat ini Saya berpikir untuk mengganti semua bahan perawatan tubuh dengan menggunakan bahan-bahan alami. Saya merasa cocok dengan Extra Virgin Olive Oil. Evoo ini Saya pakai untuk krim malam dan dioleskan ke bagian tubuh yang kasar. Jadi setelah stock lotion, krim wajah dan kondisioner Saya habis, Saya mau beralih ke all in natural moisturizer, yaitu Evoo. Terima kasih Nadia Hutagalung yang menginspirasi Saya untuk menjalani gaya hidup ramah lingkungan J


                                


Sunday, August 31, 2014

Dedikasi

2 Man on Construction Site during Daytime
Dedication. photo: Pexels.com


Ada hal yang Saya sesali saat menjalani pekerjaan selama ini. Saya merasa kurang berdedikasi. Oke, Saya datang tepat waktu. Dalam satu Tahun paling hanya 2 hari izin, bahkan pernah selalu masuk kantor. Saya tidak menipu tempat Saya bekerja. Semuanya memang tidak ada masalah.
Tapi Saya menyesal Saya kurang memberikan hati Saya untuk pekerjaan Saya. Karena berpikir Saya bekerja untuk membayar bill. Saya berpikir pekerjaan itu tidak akan membawa Saya kemana-mana, tidak bisa membawa Saya ke mimpi besar Saya.

Saya menyesal.

Saat ini Saya berpikir. Pekerjaan apapun itu hendaknya dilakukan dengan hati yang tulus. Setiap orang memang mempunyai mimpi. Setiap orang mungkin merasa berada ditempat yang salah. Tapi jika kita memberikan dedikasi kita ke pekerjaan itu dan terus bergerak meraih mimpi, kita akan mendapatkan kepuasan yang luar biasa. Jika kita bisa berpikir positif, mungkin banyak hal yang harus kita pelajari dulu sebelum kita menggapai mimpi. Jalan pasti akan terbuka jika kita ikhlas menjalani hidup ini.
Saya meyakinkan diri dengan membaca profil orang-orang yang sukses memiliki karir cemerlang. Kuncinya satu, dedikasi. Mereka memberikan yang terbaik. Karena itulah keikhlasan berhasil membawa mereka ke posisi puncak.
Saya berjanji. Bulan September nanti adalah babak baru dalam karir Saya. Saya ingin memberikan yang terbaik, bekerja dengan hati ikhlas. Karena mimpi besar tak akan tercapai tanpa kebesaran hati

Wednesday, July 23, 2014

Wardah Exclusive Lipstick










Berhubung lagi campaign gerakan cinta produk Indonesia, kali ini Saya mau review sedikit lipstick Wardah. 

Lipstick favorite Saya adalah Sari Ayu Geulis 3. Karena warnanya pas banget untuk kulit Saya yang tingkat gelap terangnya nanggung :D. Selain itu harganya juga sangat bersahabat. Sekitar Rp 35.000,-. Tapi beberapa waktu yang lalu Saya kesulitan mendapatkan si Geulis ini. Sudah ke Pasaraya Blok M dan Sarinah tapi nihil karena stock sedang habis.


Akhirnya Saya lihat-lihat lipstick koleksi Wardah. Wah.. Ternyata warnyanya lucu-lucu. Saya coba dibibir, warnanya mampu menutupi lapisan bibir dengan sempurna. Akhirya pilihan Saya jatuh ke Exclusive Lipstick warna Golden Coral. Harganya bersahabat, Saya lupa harga persisnya yang pasti dibawah Rp 50.000,-. 


Foto paling atas, lipstick yang rata itu Sari Ayu Geulis 3. Yang baru tentu saja Wardah Exclusive Lipstick Golden Coral. Sama persis kan warnanya.

Foto Saya dengan baju pink, Saya pakai Wardah. Foto dibawahnya Saya pakai Sari Ayu.


Wardah ini enak banget. Selain warnanya awet, dibibir juga lembut. Pernah coba tanpa pakai lipbalm dulu, bibir tetap lembab. Recommended banget Wardah ini. Produk Indonesia dengan harga murah dan kualitas bagus.


Monday, July 14, 2014

Pemilu 2014


Sumber foto: Liputan6.com


Sepertinya pemilu 2014 ini lebih meriah daripada pemilu-pemilu sebelumnya. Mungkin karena pengaruh menjamurnya pengguna social media juga, sehingga menjadikan ini sebagai salah satu cara promosi para calon presiden. Tambah seru lagi, Capres tahun ini hanya 2 kandidat. Prabowo dan Jokowi. Seakan-akan soal pilihan ganda, hanya 1 jawaban yang benar, yang 1 lagi salah.

Pemilu 2014 ini pertama kali Saya ikut nyoblos. Seharusnya ditahun 2009 lalu Saya sudah bisa ikut nyoblos tapi Saya memilih Golput. Begitu juga pemilu legislatis April 2014 lalu, Saya memilih golput.

Saya hampir tidak pernah memposting di social media tentang pemilihan Capres kali ini. Semua orang begitu ramai, tak jarang menjatuhkan kandidat Capres lainnya. Kenapa Saya memilih diam? Saya sudah punya pilihan. Dan Saya memilih Jokowi. Saya mempunyai alasan sendiri kenapa memilih Jokowi, karena Saya pikir Indonesia perlu dipimpin oleh orang baru. Prabowo memang sudah berpengalaman di dunia politik. Tapi Saya tidak mau ikut-ikutan para pendukung lainnya yang begitu fanatik pada para kandidat Capres.

Saya tidak mau terlalu mengelu-elukan Jokowi walaupun Saya memilih beliau. Karena Saya tidak mau kecewa nantinya jika ternyata Jokowi tidak sesuai dengan harapan Saya lalu Saya berbalik menghujat beliau. Cukup pengalaman pemilu tahun 2009 lalu, dimana semua rakyat begitu besar mendukung SBY. Ternyata beliau tidak seperti yang kita harapkan pada waktu itu, lalu rakyat menghujat beliau.
Jokowi memiliki program-program yang bagus. Dan dimata masyarakat dia begitu sempurna. Tapi bagi Saya tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti bisa melakukan suatu kekhilafan sebaik apapun orang itu.

Saya juga tidak pernah menjelek-jelekan Prabowo. Walaupun mungkin dia memiliki sejarah yang kelam. Tapi tak adil rasanya jika kita menghakimi beliau tanpa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dan bukan berarti jika masa lalu Prabowo kelam, dia tidak memiliki sisi baik.

Masyarakat berasumsi jika Prabowo menang, maka era Orde Baru akan terulang. Apa benar? Menurut Saya intelektualitas masyarakat Indonesia saat ini sudah lebih baik daripada masa itu. Jika Prabowo berbuat demikian, tak mungkin rakyat akan diam, justru dia yang harus takut dengan rakyat. Jadi ketakutan masyarakat jika Prabowo menang maka Orde Baru akan terulang, itu bukan suatu alasan yang kuat menurut Saya.

Sebagai masyarakat yang bermatabat, janganlah kita berlebihan dalam mengagumi seseorang. Dukunglah sewajarnya. Dan siapapun yang menjadi presiden Indonesia selajutnya nanti, Saya hanya bisa ikut membantu memantau jalannya pemerintahan dengan berkontribusi sesuai dengan kemampuan yang Saya miliki. Siapapun presidennya, Saya terima. Siapapun presidennya, Semoga dia bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik.

-Salam Damai-

Sunday, July 13, 2014

New Hollywood Darling

Ada beberapa aktris baru yang siap meramaikan perfilman Hollywood. Pada umumnya karir mereka bermula dari film-film Indie yang tayang di festival international. Contohnya Jennifer Lawrence. Peraih Oscar 2013 for the best actrees tersebut, pertama kali Saya lihat di film Like Crazy (2011) besutan sutradara Drake Doremus. JenLaw pada waktu itu hanya mendapatkan peran kecil dan sangat minim dialog. Pada umumnya aktris-aktris baru ini sangat berkarakter. Itu salah satu faktor mencuri perhatian para pelaku perfilman Hollywood. 

Dibawah ini beberapa aktris versi Saya yang akan menjadi New Darling Hollywood.

1. Emily Browning


Pertama kali Saya melihat akting aktris Australia ini di film Sleeping Beauty (2011). Dia sangat berani di film ini. Emily tampil tanpa busana sehelai benang pun. Kulit pucat menjadi ciri khasnya. Mengingatkan kita pada Mia Wasikowska. Lalu dia muncul pada film Summer In February (2013). Mungkin film komersil terbesarnya adalah Pompei. Sayang filmnya tidak laris.

2. Katie Chang

Tak dapat dipungkiri wajah-wajah Chinesse juga sedang diincar di industri Hollywood. Katie Chang pertama kali Saya lihat aktingnya dalam film The Bling Ring karya Sophia Copolla yang premier di Cannes tahun 2013. Lalu film dia selanjutnya A Birder's Guide To Everything. Menurut Saya akting dia tidak terlalu menonjol. Tapi dia memiliki wajah yang berkarakter. Harus memoles keahlian aktingnya lagi.

3. Felicity Jones


Dia menyabet award The Best Actrees di Sundance Film Festival tahun 2011 dalam film Like Crazy. Lalu ditahun 2013 dia bermain dalam film Breath In. Sepertinya dia aktris kesayangan Drake Doremus. Felicity sepertinya agak pilih-pilih peran. Film terbarunya adala The Invisible Woman. Akting Felicity memang bagus. Dia perlu agent agar mampu menjualnya sehingga bisa menyusul Jennifer Lawrence untuk mendapatkan Oscar.

4. Shailene Woodley


Shailene sedang berkibar karirnya. Pertama kali Saya lihat acting dia dalam film The Spectacular Now film indie karya James Ponsoldt. Lalu tak lama dia muncul di Divergent sebagai pemeran utama. Ditahun ini dia juga mendapatkan peran utama di film The Fault In Our Stars. Wajah yang cantik, akting memukau (dan agent yang pandai menjual) benar-benar perpaduan sempurna. Saya rasa dia yang karirnya paling cepat menanjak dibanding 3 aktris lainnya yang Saya sebut diatas.

Sunday, May 18, 2014

Europe On Screen 2014




Europe On Screen 2014 hadir pada tanggal 2-11 May 2014. Festival film yang menanyangkan film-film berkualitas dari Eropa sebanyak 71 film dari 28 negara Eropa. Kategori film-film tersebut adalah drama, dokumenter dan film anak-anak. Tidak hanya di Jakarta, Europe on Screen juga hadir di Aceh, Bali, Bandung, Makasar, Medan, Padang, Surabaya dan Yogyakarta.  Untuk di Jakarta lokasi pemutaran berada di Erasmus Huis, Goethe Institut, Institut Francais Indonesia, Istituto Italiano di Cultura, Universitas Tarumanegara, dan Taman Kodok.  Selain pemutaran film, Europe On Screen juga mengadakan forum terbuka dengan para fimmaker Eropa yang khusus di undang untuk menjadi pembicara. Seluruh pemutaran dan forum diskusi ini gratis.

Ada pula Short Film Competition yang diadakan oleh Europe On Screen.  Dari 152 pendaftar, dipilih 10 finalis.

Dihari terakhir festival Saya menyempatkan diri untuk datang. Saya tidak ingin melewatkan film-film bermutu yang beberapa menjadi watchlist Saya. Hari itu Saya ingin menonton Ernest and Celestine dan Wadja. Kedua film ini diputar di Goethe Institute. Saya datang pukul 11:00 langsung mengambil tiket untuk pemutaran Ernest and Celestine pukul 12:00.

Tepat pukul 12:00 pintu ruang pemutaran dibuka. Cukup banyak orang tua yang membawa anak-anak mereka menonton film ini. Baik WNI maupun WNA. Menandakan antusiasme masyarakat bagus sekali atas Europe On Screen.  Ernest and Celestine adalah film dari Prancis karya Stephane Aubier, Vincent Patar, dan Benyamin Renner. 


Film ini menjadi salah satu nominasi untuk The Best Animated Feature untuk Oscar 2014. Ernest and Celestine menceritakan tentang persahabatan seekor tikus yatim piatu bernama Celestine dengan seekor beruang penyair bernama Ernest. Untuk dapat tetap bersama mereka harus menghadapi tentangan dari kubu tikus dan kubu beruang yang menganggap mereka melanggar kodrat.  Ernest and Celestine adalah kartun 2 dimensi. Film ini sangat menghibur. Tingkah laku Ernest dan Celestine selalu mengundang tawa. Selain ini film ini juga meninggalkan pesan untuk anak-anak, bahwa dalam hidup kita harus saling tolong menolong seperti sifat Ernest dan Celestine.


Selesai dihibur oleh Ernest and Celestine, Saya segera antri untuk film selanjutanya, Wadja. 


Wadja adalah film Jerman karya sutradara wanita Haifaa Al-Mansour. Wadja seorang gadis kecil tomboy yang tinggal di pinggir kota Riyadh. Karena sifatnya ini sangat bertolak belakang dengan budaya arab yang mengharuskan seorang wanita berperilaku hati-hati dan harus bersikap layaknya wanita pada umumnya, Wadja sering dimarahi oleh guru-guru di sekolahnya. Wadja sangat ingin memiliki sepeda. Tetapi ibunya yang cantik jelita tidak mau membelikan lantaran ada larangan wanita mengendarai sepeda karena sepeda itu mainan laki-laki.
Haifaa Al-Mansour tidak fokus menceritakan konflik ini seperti layaknya film-film anak dari Timur Tengah, antara lain Children From Heaven dan The Kite Runner. Wadja lebih menerangkan tentang posisi wanita di Timur Tengah. Mereka harus  berpakaian tertutup, harus menjaga sikap dengan lawan jenis dan kita bisa melihat betapa puitisnya orang-orang Arab. Karakter favorit Saya lainnya adalah Ibunya Wadja. Dia begitu tegar dan suka cita walaupun suaminya sedang dijodohkan dengan orang tuanya karena di Arab dalam keluarga harus memiliki anak laki-laki. Ibunya Wadja tidak dapat punya anak lagi karena kelainan pada rahimnya saat mengandung Wadja.
Sepanjang film ini penonton dibuat tertawa. Tingkah laku Wadja yang tomboi dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang karena dia ingin membeli sepeda. Dialog-dialognya pun lucu. Wadja ini film yang bagus sekali.

Senang sekali bisa menonton film-film yang berkualitas dan menghibur. Europe On Screen pastinya menjadi salah satu festival film yang ditunggu. Antusiasme masyarakat begitu besar. Saat Saya hendak pulang, antrian untuk film-film selanjutanya masih terus berlangsung. Sampai bertemu lagi di Europe On Screen tahun depan.