Wednesday, December 14, 2011
About Management
Pertama, tentukan terlebih dahulu tujuannya. Kedua bikin plannya. ini namanya management, menurut Saya. Dan tentu saja, tujuan itu dibuat lebih spesifik lagi, supaya lebih terarah lagi kita melangkah.
Banyak artis yang tenarnya cuma sebentar, kenapa? Managementnya salah. Bisnis flop, rumah tangga berantakan dan lain sebagainya. Unutk jadi artis, banyak cara instan untuk terkenal, tapi jika salah jalan, percuma, berapa bulan kemudian juga hilang. Inilah yang harus di maintance.
Bikin film. Tujuannya apa? Cuma buang uang, atau memang mau menjadi industri atau yang lain? Kalau cuma mau buag uang ya gamoang saja, yang penting film jadi. Kualitas dan keuntungan ga jadi soal. But, we dont got any pride at all!
Faktor yang tidak kalah penting adalah, partner. Kita harus jeli membaca karakter orang. Apalagi di zaman millenium ini, saudara sendiri aja bisa ditipu.
So,,,, Banyak baca dan bertanya supaya diri kita menjadi lebih berkualitas. Cheers :)
Thursday, December 8, 2011
"Proyek Idealis?" My Ass!
Kemarin memang gue discuss sama para film maker tentang penurunan jumlah penonton Film Nasional. Dan sempat dibahas juga masalah harga. You know what I mean, karena menurut gue dan juga teman2 lainnya, ada harga ada kualitas. Bikin film itu ga asal jadi. Kebanyakan orang sekarang pada banting harga. Dampaknya? Kualitas itu sendiri. Hal ini sangat berpengaruh terhadap industri kreatif Indonesia.
So para producer, bayar lah dengan layak para kru. Sekarang jika kita bicara soal "Proyek Idealis" dengan beranggapan berapapun bayarannya, yg penting berkarya, ITS TOTALLY WRONG! Sekarang kita gimana mau mengajak para penonton, ya dibalikin aja, kenapa ga sekalian kita kasih mereka nonton gratis? Got the point! Karya tetap harus dihargai! Jangan berlindung pada kata-kata idealis.
Penonton makin sedikit yg ke bioskop, membuat kita para film maker bingung untuk approaching ke investor. Banyak orang yg punya konsep bagus, but bussiness is bussiness. Gimana kita mau buat projection dengan keadaan seperti ini? Para film maker juga sedang bingung, mau gimana lagi memajukan film Indonesia. Harapan kita ya cuma penonton. Makanya sampai ada gerakan #kamiskebioskop.
So, please... Jangan rusak perjuangan kita. bayar karya kita dengan layak. Banyak yg harus dipikirkan seorang producer untuk membuat sebuah film.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Thursday, November 24, 2011
Union Plaza Senayan


Setelah kunjungan yang kesekian, akhirnya bisa juga reviewe yaaa sedikit ya tentang Union Cafe Plaza Senayan.
Over all Union ga beda jauh sama Loewy di Oakwood. Tapi berhubung kalo ke Union siang terus, ga tau deh apakah kalo malam akan seramai Loewy. Ini tempat oke buat sekedar duduk-duduk cantik sambil makan kue atau nge-bir atau pun dine in. Lumayan banyak juga expat yang bertebaran di tempat ini, buat cuci mata eiyymm... :D. Untuk harga makanan ya ga jauh beda lah sama resto0resto semacam yang menyediakan makanan western. Tapi favorit disini adalah Red Velvet untuk cake-nya. Yang bisa dinikmati sambil menikmati semilir angin dan melihat orang-orang kantoran sentral senayan yang wara-wiri didepan Cafe ini.
Makanan beratnya hot dog Italia not bad. Dan smooties blueberrynya juga mantab. What I love at Union especially Plaza Senayan Branch, is the design. Its so simple and bright. Bagus banget kalo buat foto-foto karena didominasi warna putih dan natural lighting yang banyak.
Thursday, October 27, 2011
The Perfect House
Btw, even I had read the script, gue tetap penasaran sama hasil visualisasi The Perfect House. Film ini ditulis sama Koh Alim dan Affandi Rachaman sebagai sutradaranya.
Menurut gue film ini ada sedikit perpaduan antara Rumah Dara dan Pintu Terlarang. Sesuai namanya, film ini Perfect. Gambar oke, akting casts juga sangat oke. Alurnya pelan2 tapi menggigit. Mungkin Anda tidak akan menyangka akhir ending film ini walaupun di 30 menit awal Anda sudah bisa menebak, siapa yang 'sakit'. Film suspense ini tidak seperti Rumah Dara yang setiap menitnya bikin kita teriak. Seperti yang Saya bilang, pelan tapi menggigit.
Sangat layak ditonton, sekalian dukung terus perfilman Indonesia.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Monday, October 10, 2011
Intermezo in The Afternoon
Didepan gue sekarang ini ada cowok seumuran 38-an gitu atau 40 awal mungkin. Keren. Pake kacamata. Gue rasa dia lagi semacam interview. Atau I don't know what kind of bussiness. Yg pasti saat ini sudah 2 wanita bergantian datang menemui dia. Dweeeeng!!!! Iya emang gue iseng banget :D :D
Yg menarik perhatian gue adalah, saat ini kan lagi musim yang namanya selingkuh. Oke. Gue bukan suudzon sama cowok ini. I don't fucking care because I don't know him :) tapi.... Perilakunya itu. Cowok mana kita tau yaa... Sebelum dia ketemu sama kita ditempat itu, sebelumnya dia ketemu siapa lagi? Hihihihi!!! Iseng banget kan gue!
Jadi, pas cewek pertama pergi, dia menyuruh waitrees membereskan sisa-sisa pertemuannya dengan wanita sebelumnya. Lalu sekitar 30 menit kemudian, datang lah wanita ke-2. Yaa... Eeaaa!!! Eeeaa!!!
So you, galz!! Be careful :D :P
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Saturday, September 24, 2011
try it out for yourself...
hey there... |
Tuesday, August 9, 2011
Socmed Bukti Eksistensi
Di era yang serba digital, munculnya berbagai alat komunikasi mobile dengan fasilitas akses internet dengan mudah seperti blackberry, tablet, laptop dsb selain memudahkan komunikasi juga bisa dijadikan ajang eksistensi diri. Siapa sih saat ini yang ga punya Facebook? Atau yang lebih hits lagi Twitter. Kebanyakan orang menggunakan social network atau bahasa bekennya Social Media disingkat jadi Socmed, sebagai tempat untuk mengungkapkan perasaan. Kesal, sedih atau galau.
Apa kaitannya Socmed dengan eksistensi diri? Oke mari kita bedah. Dari sebuah account social network yang kita miliki akan terlihat siapa aja sih networking kita? Selain teman-teman lama, dengan siapa sih kita berinteraksi.
Tentu saja seorang "Miss Persahabatan" tidak masuk kategori eksis karena semua orang mau kenal mau nggak dijadikan teman. Sehingga kita tidak bisa membedakan mana yang benar2 teman atau hanya asal "add". Kecuali kalau Anda artis yang punya banyak fans, itu masih wajar. Dan pastinya artis itu juga punya private account yang temannya benar-benar dia kenal.
Oke lanjut. Yang paling mudah untuk melihat karakter kita dan tingkat intelejensi kita ya dari microblogging bernama Twitter. Banyak orang yang memiliki account twitter dengan motivasi memberi hiburan semata dengan men-tweet hal-hal lucu. Yang pasti twitter inilah pembuka jendela dunia. Lebih cepat berita yang kita dapat dibandingkan jika kita membukanya pada web news.
Saya pribadi, suka mau tau juga, dia tuh networknya siapa saja sih? Apalagi kalau ada yang mengaku Management artis, atau Artis, pasti saya akan lihat siapa saja sih temannya di account Facebooknya. Kalau didaftar temannya itu ga ada orang yang memang kita kategorikan eksis pada bidangnya, its Big Zero! Sorry to say.
Ya memang tidak bisa dijadikan patokan. Bisa jadi orang hebat atau eksis yang dia kenal itu tidak punya account social network. Ow ya, paling tidak jumlah teman ikut berpengaruh lho kalo dia artis. Saya pernah liat, account management artis kok teman-temannya sedikit sekali. Hanya sekitar 150 orang. Bagaimana bisa dia tidak memanfaatkan socmed itu sebagai sarana promo? Jadi harusnya management artis itu me-maintance accountnya supaya bisa lebih eksis lagi. Untuk apa dia punya account socmed? Sedangkan sudah banyak product yang memanfaatkan socmed dan meng-hire para buzzer (sebutan orang yang dibayar untuk promosi pada socmed) untuk promosi.
Ayo kawan, perluaslah networking mu di dunia nyata.