Tuesday, July 14, 2015

Tentang Bisnis



" Business is not always about money. But also charity, empathy, how to make people who work with us happy.





Business is not always use left brain, but also need right brain.





Thats why, businessman is not only profession but also character. "




Saya mengamati beberapa orang disekeliling Saya. Mana yang pengusaha sejati atau pengusaha musiman, Bisnisman bukan sekedar profesi, bukan sekedar menjadi bos. Bisnisman adalah karakter. Karena dalam berbisnis itu tidak melulu soal profit. Memang tujuan orang membuat usaha pasti mendapatkan untung. Tapi banyak yang tak paham bagaimana menghasilkan profit itu. 


Saya belajar dari para orang-orang besar. Mereka memiliki strategi agar perusahaannya besar. Terkadang strategi itu tidak melulu sesuatu yang rumit. Banyak pengusaha besar yang beramal. Karena itu dia mendapatkan simpati. Karena sudah mendapat simpati, maka orang tak segan memakai jasa atau produknya. Ya, semakin banyak memberi, semakin banyak pula yang kamu terima. Permah kita lihat pengusaha yang rajin beramal hidupnya menjadi miskin? Coba perhatikan lagi pengusaha yang usahanya cenderung stagnan, mereka terlalu pelit untuk membantu. Mereka hanya berpikir "Untuk apa kita menyumbang? Kita saja dapat profit susah".


Saya punya contoh nyata. Ada seorang editor. Dia termasuk senior di industri film. Dia begitu royal memberikan bantuan filmmaker-filmmaker yang punya budget terbatas untuk mengedit ditempatnya. Pokoknya dia royal sekali. Apakah usahanya rugi? Tidak sama sekali. Job nya ada terus. Walau tak besar tapi stabil. 


Dalam bisnis itu diperlukan pula cara berpikir dengan otak kanan. Harus kreatif dan mampu berpikir untuk kedepannya. 


Creativity = $ales


Bisnisman yang baik tahu bagaimana menyenangkan orang. Contohnya dia mau memberikan sebuah hadiah walau tak harus mewah untuk relasinya. Dia memberikan reward kepada pegawainnya yang sudah bekerja dengan baik. Hal-hal seperti ini akan menghasilkan loyalitas dari orang-orang sekitarnya. Dan itu baik untuk bisnisnya.


Banyak sekali  karakter seorang bisnisman sukses yang bisa kita bahas. Coba sesekali amati karakter dan kebiasaan mereka. Itulah yang membesarkan mereka. 


Tuesday, June 16, 2015

Hidup Sederhana Untuk Masa Depan Bahagia

Terkadang kita suka iri melihat hidup orang lain. Kita selalu berpikir kalau hidup si Anu lebih enak dari kita. Traveling terus, punya barang bagus-bagus and sooo on. Tapi mungkin saat kita ajak orang itu ngobrol dari hati ke hati, dari situ kita bisa sadar kalau hidup orang itu juga punya problem. Sama seperti kita. Bisa lebih berat. 


Jadi apa harus kita selalu berpikir hidup orang lain lebih enak dari hidup kita?


Ada beberapa orang disekeliling Saya yang menjalani hidup terlalu konsumtif. Mengedepankan keinginan daripada kebutuhan. Dulu waktu Saya masih berpikir 'Wah hidupnya enak ya. Saya mah boro-boro beli tas  harga 30 juta. Pake yang harga 1 juta aja udah happy banget'. Tapi ternyata siapa yang tahu kalau hidup orang itu ternyata banyak hutang yang ga tahu kapan lunasnya. Tak punya tabungan. Tak punya tempat tinggal sendiri padahal usia tak lagi muda. Saat ini hidupnya masih bergantung sama orang tuanya. 


Saya langsung  sadar. Saya harus rajin bekerja supaya hari tua Saya tidak merepotkan anak cucu. Saya harus punya tabungan, aset dan investasi. Memang semua itu tak dibawa mati. Tapi dari kita hidup sampai kita mati ada banyak hal yang harus dibiayai. Lagipula kalau kita ada uang, kita akan merasa lebih kuat. Akan banyak orang yang bisa kita bantu. Hidup jadi lebih tenang. Beli barang sesuai kebutuhan saja. Atau jika ingin sesuatu yang lumayan mahal, buat diri kita melakukan sesuatu yang besar dulu sehingga hal yang kita inginkan itu kita jadikan hadiah untuk diri sendiri.


Saya mau mengingatkan teman-teman sekeliling Saya agar tak lupa menabung. Karena ternyata banyak orang-orang yang usianya jauh diatas Saya tapi mereka masih belum punya aset karena hidup terlalu konsumtif. Jangan malas bekerja. Apalagi di era modern ini banyak profesi yang bisa ditekuni asal kita mau berjuang dan terus kreatif.


Wednesday, June 3, 2015

6 Months Go Natural



Jadi tahun ini Saya memutuskan untuk memakai bahan-bahan alami untuk perawatan tubuh. Ga keseluruhan, tapi paling tidak sudah mengurangi konsumsi produk. Gerakan ini diawali karena Saya udah gerah dengan begitu banyak produk ini itu yang menjanjikan ini itu pula. Ya gitulah pokoknya. Ga habis-habis. Dan yang paling ribet, kok step by step nya makin lama makin nambah. Misalnya habis cuci muka harus pake toner, lalu pakai pelembab, lalu pake serum, trus ditimpa lagi dengan sun screen, jangan lupa krim khusus untuk mata. Jadi intinya produk-produk yang dipasaran itu ya pintar-pintar brand manager dan orang-orang iklan aja.


Pertama. Sejak awal tahun Saya memutuskan untuk stop penggunaan shampoo untuk keramas. Waktu akhir tahun Saya potong rambut pendek. Alasannya karena biar kelihatan fresh dan rambut Saya lagi rontok parah. Setelah potong pendek, rontoknya ga berkurang. Bahkan makin menyeramkan. Saya cuma usap rambut aja bisa dapat 5 rambut yang rontok. 
Setelah googling bagaimana mengatasi rambut rontok, Saya tertarik mencoba metode No Poo. Alias no shampo. Jadi Saya totally stop penggunaan produk perawatan rambut apapun. Saya bikin shampo dari 1 sendok makan baking soda yang dicampur segelas air. Terus, rambut jadi ga ternutrisi dong? Kan biasanya shampoo atau conditioner itu mengandung bahan-bahan yang menutrisi rambut. Jadi sebagai perawatan extra, 1 minggu sekali Saya pakai Extra Virgin Olive Oil atau Virgin Coconut Oil yang dibaluri keseluruh rambut dan kulit kepala. Lalu didiamkan kurang lebih 1 jam. Apa dengan cuci rambut dengan baking soda minyaknya bisa bersih? Bisa banget. Jadi saat keramas dan baking soda sudah dibasuh ke kepala, kita pijat-pijat rambut dan kulit kepala. Baking soda ini terasa agak licin kok di kepala jadi mijitnya juga enak. Setelah itu bilas rambut. Kalau mau pake 'conditioner' bisa pake apple vinegar atau cuka biasa yang putih itu. Kira-kira 1 sendok makan dicampur segelas air. Tapi bau cuka ini asem, kalau ga suka, step ini dilewati juga bisa. Baking soda cukup membuat rambut lembut kok, walau ga selembut setelah pakai shampoo (karena shampoo ada bahan silikonnya). Biasanya tengah-tengah minggu Saya cukup keramas dengan air saja. Untuk menghilangkan debu dan keringat. Karena pemakaian baking soda sebagai shampoo, maximal 2x seminggu. Tapi sejak No Poo, kulit kepala ga gatel sama sekali kok. Dan rambut jadi gampang diatur aja. Rambut Saya itu licin banget. Kalau nge-blow (walau udah yang mahal treatmentnya) kena angin sedikit juga bakal turun lagi. Sejak No Poo, Saya bisa curly rambut, hal yang mustahil Saya lakukan waktu masih pake shampoo. Hahaha. Dan yang terpenting, rontok Saya berkurang drastis. Memang tetap rontok karena sepertinya faktor genetic dari mama. No Poo gitu, rambut jadi nggak wangi dong? Iya, tapi ga perlu takut rambut jadi bau. Kalian bisa tambahkan beberapa tetes essential oil saat memakai minyak untuk masker rambut atau kedalam cairan baking soda. Saya suka beli di Batik Keris (harga sekitar 80 ribu), atau merk Bali Alus (harga sekitar 30 ribu). Yang paling bagus itu merk Young Living, tapi agak mahal, diatas 200ribu.

Kedua. Saya menggunakan minyak-minyak alami untuk wajah dan tubuh. No more krim muka, no more body lotion. Dan yang Saya rasakan adalah kulit Saya jadi sangat halus, warna lebih merata dan cerah. Muka juga terlihat lebih fresh. Saat ini favorit Saya adalah EVOO dan Virgin Coconut Oil. Biasanya minyak-minyak ini dipakai untuk dressing salad. Tapi karena sifatnya yang Virgin itu, dikulit jadi enak. Memang kalau yang ga terbiasa, akan berasa sumuk. Solusinya bisa dipakai malam hari sebelum tidur. EVOO dan VCO ini ga bakal ngotorin kain kok. Saya sih pakai siang hari ga masalah. Karena minyak ini kan akan menyerap ke kulit, walau daya serapnya ga secepat lotion.


Memang kedengarnnya aneh. Tapi cara ini sangat murah dan ramah lingkungan. Kebetulan Saya sedang mau menerapkan prinsip consume less atau frugal living. Cara ini juga menyadarkan Saya kalau sebenarnya kebutuhan kita itu sedikit kok. Tapi karena sejak lahir otak kita sudah didoktrin untuk memakai bermacam-macam produk.

Bahkan untuk bersih-bersih rumah, Saya hanya memakai satu produk sabun yang multi fungsi. Bisa buat cuci piring, cuci baju dan lain-lain.

Semoga makin banyak orang yang menerapkan konsep consume less sehingga kita tak lagi menjadi budak produk dan menjadi konsumen yang lebih cerdas.


Saturday, January 3, 2015

Rajkumar Hirani

Pada suatu sore teman Saya salah satu penulis film Indonesia, Kang Deddy, mengajak nonton. Pilihan film jatuh pada PK. PK adalah film India yang diperankan oleh Amir Khan. Di Jakarta film ini hanya diputar di Plaza Senayan, Plaza Indonesia dan Gading XXI. Sejak hari itu Saya jatuh cinta dengan Rajkumar Hirani, sang sutradara dan penulisnya. Setelah itu beberapa hari kemudian Saya cari dvd 3 Idiots. Lagi-lagi Saya suka. Rajkumar Hirani berhasil membuat Saya senang. Karena dia membuat film-film yang sangat bagus. Rajkumar memiliki kemampuan storytelling yang sangat kuat. Saya harus mendapatkan dvd film-film beliau lainnya.


Rajkumar Hirani mengangkat isu-isu sosial. Dalam film 3 Idiots tema yang disinggung adalah soal pendidikan dan PK tentang agama. Dalam film 3 Idiots kita disuguhkan dengan kenyataan sistem pendidikan di India yang hampir mirip dengan negara kita. Beberapa hal yang disinggung diantaranya sistem pengajaran yang text book. Seorang murid baru dikatakan excelent  jika dapat menjabarkan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dalam buku. Pendapat lain tidak diterima walau memiliki maksud yang sama. Selain itu adanya kenyataan bahwa banyak orang belajar hanya untuk mendapatkan gelar. Padahal studi yang diambil belum tentu sesuai dengan minat dan kemampuannya. Atau lebih parah sebenanrnya dia tidak benar-benar belajar.  Ditambah lagi banyak orang mengambil pilihan studi karena keinginan dari orang tua, bukan dari diri sendiri.


Dalam film PK, Rajkumar mengangkat isu agama. Tapi dikemas dengan cerita komedi. Sangat cerdas. Kita dapat menarik pelajaran apa esensi dari beragama itu. Sesungguhnya rasa spiritual jauh lebih penting daripada rasa religius. Karena terkadang religius merupakan label. Spiritual penjabarannya lebih luas. Tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Dan saat menonton film PK, seakan ada sedikit tamparan. Dalam setiap agama pasti ada “Orang Gila” yang hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi mengatasnamakan Tuhan. Seakan mereka adalah malaikat yang dikirim Tuhan. Bagi mereka halal untuk melakukan kekerasan asalkan memakai nama Tuhan.



Penulis yang bagus pastinya mereka memiliki tingkat spiritual yang tinggi dan pengalaman hidup yang banyak. Seperti itulah Rajkumar Hirani. Seperti mantra “All is Well” yang disisipkan dalam film 3 Idiots. Rajkumar selalu menciptakan karakter-karakter yang begitu kuat dan selalu diberikan penjelasan dalam filmnya. Sebab musabab juga dijelaskan dengan cara yang sangat rapi dan tetap menarik. Tapi yang paling menonjol dari karya Rajkumar adalah dialog-dialog yang begitu cerdas.


Freelance vs Inhouse



Sebuah dilema bagi anak muda masa kini. Anggapan menjadi pekerja lepas itu lebih keren daripada kerja kantoran. Mereka pikir menjadi pekerja lepas akan membuat mereka lebih memiliki banyak waktu untuk menikmati hidup. Untuk soal pendapatan, mungkin beberapa pekerja lepas memiliki penghasilan lebih besar daripada orang kantoran.  Tapi ada beberapa resiko yang tidak terpikirikan orang banyak saat akan memutuskan menjadi pekerja lepas terutama soal cashflow. Karena pendapatan yang diterima tidak tetap.


Bagaimana dengan pekerja kantoran? Mereka harus setiap hari datang ke kantor dan kerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore selama 5 hari dalam seminggu. Bertemu orang yang sama setiap harinya. Terdengar membosankan. Memang benar. Walau dalam urusan pendapatan para pekerja kantoran memiliki pendapatan tetap setiap bulannya. Apalagi ditambah fasilitas dana pensiun dari perusahaan.

Segala sesuatu itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebenarnya untuk menjadi freelancer itu diperlukan pengalaman yang banyak agar orang-orang memberikan kepercayaannya kepada kita bahwa kita mampu mengerjakan project yang mereka berikan.  Menjadi pekerja tetap kita akan mendapat banyak pelajaran yang akan sangat berguna saat kita nanti memutuskan menjadi freelancer. Anak muda harus menemukan karakter dan passion nya terlebih dahulu. Jadi sebaiknya sebelum memutuskan menjadi pekerja lepas, lebih baik kita menjadi pekerja tetap terlebih dahulu untuk menggali pengalaman dan mempelajari banyak hal.


Jika saat ini kamu ingin menjadi freelancer tapi masih bekerja dibawah naungan instansi, tak usah bersedih hati. Segala sesuatu ada waktunya. Sebaiknya kita terus mengasah skill kita sebagai bekal agar tak bingung saat menemui kesulitan sebagai pekerja lepas dikemudian hari.

Sebenarnya untuk menjadi besar, diperlukan kerja tim. Menjadi pekerja tetap adalah pilihan yang tepat. Karena untuk membuat sesuatu yang spektakular diperlukan konsistensi dengan tim yang belum tentu bisa diraih jika bekerja sebagai freelancer.



Singkat kata, apapun status kita, freelancer atau pekerja tetap, kita wajib memberikan yang terbaik sebagai aktualisasi diri.

Cintai Produk Lokal

Masih ingat slogan “Aku Cinta Produk Indonesia”? Slogan yang sangat populer di tahun 1998 saat negara Indonesia mengalami krisis moneter. Mari kita lihat keadaan sekarang ini. Semua orang bangga menunjukkan label produk import. Karena bagi mereka itu prestige, menunjukan kalau mereka mampu membeli produk import yang harganya bisa 2 kali lipat dari produk lokal. Brand-

brand luar pun semakin menjamur apalagi di kota besar.


Disini kita ambil 1 contoh yaitu produk fashion. Kenapa fashion? Karena sebagian orang membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian terlebih pakaian merupakan kebutuhan premier.  Masih banyak orang yang memandang dengan sebelah mata untuk produk-produk buatan dalam negeri. Sekarang mari kita kupas lebih dalam bagaimana perkembangan industri fashion dalam negeri ini.


Saat ini banyak sekali bermunculan designer-designer yang menelurkan brand lokal. Sebut saja Tikprive, Tulisan dan Up Shoes. Mereka menciptakan produk yang up to date dan mengerahkan semua sumber daya yang Indonesia miliki. Designer-designer ini turut andil dalam memajukan negara. Terlebih produk mereka memang sudah memiliki standard International.


Banyak sekali produk lokal yang diproduksi dengan baik, memiliki bahan material yang bagus dan umur ekonomis yang panjang. Contohnya Elizabeth dan Buccherri. Tapi sayang sekali masyarakat kita lebih suka dengan merk luar yang umur ekonomisnya lebih pendek. Dipakai 1 tahun sudah rusak.

Jika ditelusuri lagi ada banyak produk lokal yang dibuat untuk kebutuhan kita sehari-hari. Seperti produk perawatan tubuh dan make up. Kita punya Sari Ayu, Fanbo, Mustika Ratu dan sebagainya. Harga mereka 10x lebih murah daripada kosmetik import dengan kualitas yang sama.


Ini bukan hanya menjadi PR bagi pemerintah. Tapi juga kita semua. Ada beberapa sebab kenapa banyak orang lebih memilih produk import salah satunya yang paling sering ditemukan adalah soal design. Produk lokal kebanyakan membuat model yang lebih cocok untuk golongan usia diatas 35 tahun.  Ini menjadi bahan evaluasi dan tantangan bagi produsen untuk terus meningkatkan kreatifitas dalam hal design agar target pasar mereka bisa lebih luas dan menjangkau konsumen muda. Jika para produsen sudah memiliki brand statement, mereka pun akan lebih siap bersanding dengan brand-brand luar. Dan juga kesempatan untuk dieksport pun akan lebih terbuka lebar. Ini sangat baik untuk meningkatkan pendapatan negara. Dengan begitu kita tidak akan tergantung dengan produk import. Jika kita bisa membuatnya didalam negeri, kenapa tidak? Jika pemerintah, pengusaha dan masyarakat konsisten untuk membangun industri dalam negeri, bukan hal yang mustahil jika dalam waktu 5 tahun mendatang kita akan melihat anak-anak muda begitu bangga menggunakan produk lokal.


Mungkin fashion terdengar sepele. Tapi jika urusan gaya hidup saja harus import bagaimana untuk kebutuhan hidup lainnya? Beberapa waktu lalu kita sempat import beras, gula, ikan, daging bahkan buah-buahan. Kondisi ini timbul bisa saja karena memang permintaan akan produk import bertambah. Lagi-lagi soal kualitas. Tugas pemerintah adalah menemukan solusi agar para petani dan nelayan dapat menghasilkan produk pangan yang berkualitas.  Paling tidak kita dapat memenuhi kebutuhan sendiri dulu sebelum kita mengeksport. Negeri kita ini begitu luas. Iklim kita tidak ekstrim seperti negara-negara di Barat yang memungkinkan kita selalu memiliki sumber daya alam yang bagus.



Kita harus mendidik generasi saat ini untuk menjadi generasi yang mandiri. Semua ini akan berdampak bagi kekuatan negara Indonesia dimata dunia. Meningkatkan produksi dalam negeri akan meningkatkan laju perekonomian Indonesia.


Sunday, December 14, 2014

Kreatifitas Tak Terbatas Pada Keadaan Yang Terbatas

Filmmaker Indonesia terbiasa dengan proyek film dengan budget yang tak terlalu besar, terutama para filmmaker indie yang cenderung membuat film dengan budget yang sangat kecil. Sebenarnya keadaan inilah yang merangsang kreatifitas para filmmaker bagaimana meramu keterbatasan itu menjadi sesuatu yang bagus.  Bulan ini Saya menonton film 7 hari 24 Jam dan The Sun, The Moon 
and The Hurricane.

Dalam film 7 Hari 24 Jam, budget bukanlah kendala untuk perusahaan sebesar MNC pictures. Tapi Saya suka kreatifitas penulisnya, Nataya, yang mampu memperluas cerita dengan setting dan aktor yang tak banyak. Film ini 80% setting nya berada di ruang rawat rumah sakit. Tapi penonton tak dibuat bosan. Ada saja hal-hal menarik yang tercipta.


Poster film 7/24

Lalu film The Sun, The Moon and The Hurricane. Film indie yang sempat screening dan sutradaranya menjadi nominasi untuk The Best Director untuk Vancouver Film Festival ini diproduksi dengan budget yang sangat minim. Tapi Andri Cung, sebagai penulis dan sutradaranya, mampu menyelesaikan filmnya dengan sangat baik. Terasa sentuhan hati saat menontonnya.


Poster film The Sun, The Moon and The Hurricane

Film minimalis seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi pembuatnya. Lihat saja Carnage by Roman Polanski dan Some Velvet Morning by Neil LaBute. Mereka mampu menyajikan film yang brilliant. Skenario yang kuat dan tidak membuat bosan walau pemain dan latar tempatnya itu-itu saja.  Untuk membuat suatu film yang bagus tak melulu harus dengan budget yang fantastis