Jumat, 30 September 2016

Problem Dunia Kerja Generasi Millenial


Tulisan ini sekedar curhat. Jadi beberapa bulan ini Saya beberapa kali di approach untuk bekerja sebagai team kreatif dibeberapa perusahaan baru. Dan diantara mereka adalah perusahaan media digital yang buka cabang di Indonesia. Sayang, beberapa kali Saya harus menolak karena tidak sesuai dengan standard industri. Sebagai contoh, ada satu perusahaan mereka menawarkan pekerjaan sebagai Digital Content Producer. Dalam pikiran Saya pasti ini soal produksi video. Saya yang memang bagian dari industri film dan posisi terakhir sebagai Associate Producer tentunya tidak asing dengan produksi video. Tapi begitu Saya temui, Saya sungguh terkejut dan.... merasa sedikit tidak terima. Yang mereka harapkan dari Saya adalah Saya mahir SEO, mengerti bahasa HTML, dan beberapa skill yang sebenarnya lebih cocok dikerjakan oleh orang yang mahir IT. Bukan orang yang paham produksi film / content video. Jadi sebenarnya Digital Producer itu, orang IT yang paham industri showbiz, atau memang orang dengan latar belakang industri showbiz yang bisa pemograman? Beberapa hari Saya terus bertanya-tanya. Apa Saya yang salah paham atau mereka yang tidak paham industri?

Cerita kedua. Saya membaca sebuah perusahaan digital media besar, mereka mencari seorang Video Producer. Saya baca skill-skill yang harus dimiliki. Orang tersebut selain bisa membuat video, dia juga harus bisa editing dan motion graphic. Lagi-lagi Saya menyeritkan dahi. Okelah kalo editing Saya masih bisa terima, walau sebenarnya ada orang yang berprofesi sebagai editor. Tapi ini harus bisa motion graphic? Doh!! Producer itu adalah orang yang meng-hire editor dan motion graphic. Producer adalah leader sebuah project. Producer memang harus paham soal teknis, tapi bukan harus menjadi expertise di editing, design produksi atau departement lainnya.

Saya yang gagal paham atau HRD yang sebenarnya tidak paham soal pekerja kreatif? Disini masih blur soal sistem ini. Jika dibiarkan bisa-bisa merusak industri itu sendiri. Jika semua orang bisa mengerjakan semua pekerjaan, pasti akan banyak orang yang menganggur.

Kembali ke tema awal. Jelas ini sebuah problem dunia kerja masa kini. Generasi Millenial dituntut harus memiliki beberapa skill. Bagusnya hal ini akan merangsang keinginan untuk terus mempelajari hal baru dan bisa lebih paham banyak hal. Sisi buruknya, hal ini bisa membuat kita kurang expert di satu skill, jadi seperti setengah-setengah. Sedangkan untuk menghadapi persaingan global, kita wajib memiliki keahlian yang mendalam agar bisa maju. Dan memang dengan menumbuhkan expertise, akan membuat iklim dunia kerja lebih dinamis. Masa kalau ada Account Executive yang bisa design, dia juga yang harus menyiapkan dummy bahan presentasi untuk client? Yang ada makin banyak Graphic Designer yang nganggur dong :P

Sebenarnya banyaknya perusahaan baru baik dari asing maupun dalam negeri, harusnya mampu menyerap tenaga kerja. Tapi jika terus menerus 1 orang diharuskan memiliki banyak skill bahkan yang sebenarnya ada beberapa skill yang kurang cocok untuk pekerjaan tersebut, maka akan semakin sedikit tenaga kerja yang dapat diserap. Terus kalau sudah begini, kita akan berkoar "Lebih baik bikin usaha sendiri" ? Hallooo bikin usaha itu tidak mudah dan perlu mental yang kuat. Mau sekedar jadi pengusaha karbitan?

Kapan negara ini bisa punya sistem yang lebih bagus?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar