Saturday, April 18, 2020

Catatan Masa Pembatasan Sosial

pembatasansosial


Hari tepat 36 hari Saya menjalani pembatasan sosial yang dihimbau pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Kurang paham pastinya program pemerintah pusat atau daerah yang Saya ikuti. Yang jelas kantor termpat Saya bekerja sudah menerapkan WFH alias Work From Home yang artinya kerja dari rumah sejak 16 Maret 2020.



Saya cukup beruntung sempat merasakan keriaan malam sebelum keesokannya Pak Presiden mulai mengeluarkan himbauan untuk tetap berada di rumah sampai 2 minggu kedepan. Hari terakhir Saya bekerja dan berinteraksi normal itu tanggal 13 Maret 2020. Disiang hari Saya dan team sempat syuting kecil karena ada revisi klien. Malam harinya Saya sempat datang ke premier film layar lebar pertama teman Saya untuk memberikan support, lalu Kami berlanjut untuk pergi minum, entah untuk selebrasi atau sekedar melepas penat. Lagipula Kami sudah lama tidak ngobrol apalagi hangout bareng. Malam itu Kami pergi ke Duck Down. Dan keesokan paginya saat bangun pagi, Kami kena lockdown.

Tanggal 16 Maret 2020, hari Senin. Saya dan team kantor turut serta Pak Bos masih disibukkan dengan deadline. 2 minggu yang sangat intense dan melelahkan. Jam tidur berantakan, bahkan Kami harus tidur bergantian agar komunikasi bisa berjalan smooth. Tentu saja ada sedikit drama sepanjang 2 minggu itu. Saya tidak terlalu ambil pusing yang penting team bisa deliver kerjaan dengan baik dan Kami bisa break sejenak untuk istirahat. Setidaknya 2 minggu pertama WFH, Kami masih bisa tetap produktif.

Ternyata program pembatasan sosial diperpanjang 2 minggu lagi dari pemerintah pusat. Sampai pada akhirnya, pemerintah daerah Jakarta memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar selama 2 minggu. Jadi total 6 minggu sudah Saya menjalani PSBB. Saya tidak merasakan kendala yang berarti. Hari-hari Saya berjalan dengan normal. Saya mulai bekerja dirumah pukul 10 pagi sampai sekitar pukul 7 malam. Rasa bosan seringkali muncul. Bagaimana tidak bosan? Jika saat akhir pekan kita bisa jalan santai ke mall, kali ini tidak bisa. Karena sejak akhir Maret sampai hari ini, mall di Jakarta tutup.

Saat santai dimalam hari sebelum tidur, Saya membaca cerita orang-orang di sosial media betapa mereka bosan sekali di rumah bahkan banyak pula yang terlalu mendramatisir. Jujur, selain rasa bosan, tidak ada yang perlu Saya keluhkan saat ini. Saya pernah melewati hari-hari yang lebih berat dari ini. Saya pernah 6 bulan hidup tanpa pemasukan mengandalkan tabungan dan saat ada yang menawarkan pekerjaan malah Saya tidak dibayar. Rasa khawatir tentang keadaan ekonomi terkadang suka muncul. Namun Saya alihkan pikiran tersebut karena untuk apa terlalu keras memikirkan hal-hal yang belum terjadi? Itu sudah diluar kontrol kita. Disaat pademi seperti ini rasanya sangat penting untuk mengelola pikiran agar tidak stress. Tidak banyak yang berubah dari kebiasaan Saya sehari-hari. Karena Saya rasa Saya sudah cukup menjalani hidup yang sehat, higienis dan minimalis.

Terkadang Saya suka bingung. Orang-orang yang menghabiskan waktunya terlalu banyak mengomentari atau membuat segala asumsi di sosial media, apa mereka tidak punya kesibukan lain? Bukankah harusnya mereka bekerja dari rumah alih-alih sibuk bersosial media? Apakah eksposure di dunia maya lebih penting daripada eksistensi di dunia nyata? Jika seakan-akan seantero jagad maya harus mendengarkan opini dia, apakah lingkungan terdekatnya sudah mendapatkan manfaat dari buah pikirnya? Seringkali kita haus pengakuan dari orang jauh daripada memberikan impact nyata untuk orang-orang terdekat.

Harusnya di masa pademi ini bisa membuat kita bisa lebih menurunkan ego. Dunia sedang berjalan melambat. Seakan kita dipaksa membuat sebuah pattern kehidupan yang baru. Tidak ada terkecuali orang merasakan dampak yang tidak enak akibat pademi ini. Saat ini bukan lagi siapa lebih tinggi dari siapa. Tapi kita sedang bergotong royong agar tidak jatuh terlalu dalam. Dimasa slow down ini ada baiknya kita semua intropeksi diri. Apa sudah cukup memberikan kontribusi nyata? Bukan sekedar mengetik "Twitter please do your magic".

No comments:

Post a Comment