Wednesday, November 30, 2016

27, I'm Brave and Strong



Terima kasih Tuhan untuk perjalanan hidup yang luar biasa ini. My 26 was not easy, when I reach my zero turning point. Setahun lalu seperti dikasih lihat sifat asli orang-orang sekitar. Diberi kesempatan untuk mendekatkan dan memasrahkan hidup pada Tuhan. 

Di usia 27 ini, Saya berdoa pada Tuhan agar dia selalu menyinari hati Saya dengan cahaya. Agar diberi hati dan pikiran yang terus positif, tanpa prasangka apapun. Karena manusia sangat lihai berprasangka dan itulah yang menyebabkan kurangnya iman pada Tuhan bahkan memperburuk hubungan dengan sesama manusia. Saya minta agar ditempatkan bersama orang-orang baik, minta diberikan kebaikan dunia akhirat. 

Saya ga mau memaksakan keinginan Saya tanpa menyertakan Tuhan sebagai alasan terkuat Saya. Saya mau Tuhan terus menemani dan membimbing Saya dalam setiap pengambilan keputusan. Dan... Saya berani menghadapi apapun karena Tuhan selalu ada bersama Saya. 

Di 27 ini, Saya mau lebih pasrah dan ikhlas pada Tuhan. Selama ini Saya sibuk menggunakan logika dan itu yang membuat Saya terpuruk. 

I will get up even I hit the ground. I'll find my way home.





Tuesday, November 29, 2016

#KapanMapan





Baru saja Saya buka twitter dan membaca ada sebuah kuis dari OJK gerakkan #AyoNabung. Kontra isu banget ya sama gerakkan rush money beberapa hari yang lalu. Tapi, sebelum ikut gerakkan rush money, pertanyaan Saya cuma satu. Emang situ punya duit berapa banyak sih di bank? Kok pede banget kalo ikutan rush money bakal bikin perekonomian dan perbankan kacau. 😋. Daripada ikutan rush money, mending ikut #AyoNabung biar mapan. Hahahaha.

*Disclaimer: postingan ini tidak diikutkan dalam partisipasi lomba OJK dan tidak mendapat imbalan apapun. Tulisan ini murni inisiatif dari penulis.


Kata kuis tersebut, "Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk investasi dan apa alasannya?"

So this is my answer based on my experience. Disini Saya membedakan menabung dan berinvestasi. Kalau menabung, bisa dimulai sejak usia sekolah. Kalau adik-adik yang uang jajannya bulanan, bisa sisihkan 10%. Tapi jika bicara investasi, biasanya ini bisa dilakukan saat kita sudah mulai bekerja. Karena pendapatan dan kesiapan mental juga lebih stabil (walau ada beberapa yang bekerja sebagai freelancer dan dapat bayaran per-project). Kapan mulainya? Dari 6 bulan - 1 tahun pertama kerja. Jadi namanya baru kerja, baru megang duit sendiri, ga ada salahnya kasih waktu untuk 'foya-foya'. Hitung-hitung sebagai reward atas hasil kuliah atau sekolah kamu. Tapi foya-foyanya jangan kelamaan.
 
Langkah pertama, bikin investasi dana darurat dulu. Saya bikin 1 rekening khusus yang akan auto debet setiap bulannya 10% dari gaji bulanan. Coba tanya bank masing-masing, ada yang menyediakan layanan ini? Dan biasanya ada jangka waktu minumum yaitu 2 tahun. Ambil saja platform yang paling pendek dulu. Beneran ga akan berasa. Tau-tau pas jatuh tempo, lumayan banget hasil tabungan kita selama 2 tahun itu.
 
Selanjutnya, uang itu mau dilanjutkan investasinya atau mau dipakai untuk apa harus jelas tujuannya. Mau buat DP kuliah lagi, liburan, atau ditabung lagi, bebas. Nah, karena sudah lebih mapan secara pendapatan karena usia kerja sudah masuk tahun ke 3, coba beranikan untuk investasi di Reksadana. Coba tanya bank lagi supaya lebih praktis, apakah mereka ada layanan tabungan reksadana. Kenapa reksadana? Karena modalnya tidak sebesar saham dan resikonya tidak sebesar saham. Return dari reksadana juga lumayan. Dan biasanya investasi reksadana dipakai untuk investasi jangka pendek-menengah. Jadi kalian harus punya tujuan jelas dulu uangnya mau dipakai untuk apa nantinya.

Sebenarnya produk investasi yang bisa kita coba untuk pemula itu ada Obligasi dan emas mulia. Tapi kedua produk ini modal awalnya cukup besar. Kalau punya uang lebih, bisa dicoba untuk investasi disini. Silahkan kalian pilih mana yang lebih cocok untuk kondisi keuangan kalian. Pokoknya penting untuk mengatur keuangan pribadi. Karena jangan sampai hidup kita malah menjadi beban untuk orang lain karena ga punya kemampuan mengelola uang sendiri. Jangan sampai diusia setengah abad nanti, hasil kerja keras kita malah tidak terlihat. 




Saturday, November 26, 2016

Drama Cari Kostan 2016



Saya mulai jadi anak kost sejak 2008. Waktu dulu karena pertama kali kerja, Saya kost ditempat teman satu kantor dengan harga sewa Rp 350.000,-. Murah banget dan tempatnya masuk gang gitu. Saya berhasil bertahan selama 3 tahun. Alasan Saya pindah tiba-tiba aja muncul. Karena sudah tidak nyaman dengan suasana tetangga yang sibuk gosip dan ibu kost gesrek yang Saya pernah ceritakan disini. Singkat kata, sebenarnya Saya orangnya malas pindah-pindah. Jika keadaan tidak memaksakan Saya untuk pindah, Saya ga akan pindah kostan. Males angkut-angkut barang :D

Lanjutan dari postingan sebelumnya. Saat ini Saya sudah pindah kost di daerah Dharmawangsa. Lingkungannya sejauh ini enak walau tidak sehijau kost di Ampera dulu yang masih bisa melihat pohon-pohon dan mendengar kicauan burung dari dalam kamar. Kalau mau hijau banget, bisa sambil jogging di sepanjang jalan Dharmawangsa dan Brawijaya sambil memandangi rumah-rumah gedong, lalu mbatin "Kapan gue beli rumah disini" - Hahahaha, halu maksimal 😂. Tapi sebelum Saya menemukan tempat ini, Saya tempat mengalami beberapa drama yang bikin Saya menyeritkan dahi. Berikut drama-dramanya:

1. Ditanyain Agama
Mmmm.... Serius. Banget. Ini. Saya sampe bengong. Segini rasisnya kah orang Indonesia? Jadi Saya sempat datangi salah satu kost di daerah sekitar Pasar Minggu. Keluar lah ibu-ibu berjilbab umur sekitar 40-an. "Mbak agamanya apa? Disini hanya muslimah yang boleh kost dan berpakaian sopan", tanya ibu itu. Saya sengaja jawab ngasal, "Saya Hindu, Bu. Asli Bali". Ya langsung tidak diizinkan kost disitu. Saya pun hilang selera. Saya ga mau aja tinggal satu atap satu tanah sama orang yang hatinya picik. Gak lagi-lagi deh. Bikin seret rezeki tauk!

2. Mahal Tapi Kumuh
2 tempat Saya sempat datangi kostan yang harganya ga murah juga (1,5jt) satu di daerah Mampang, satu di jalan Cisanggiri. Tempat yang di Mampang, Saya tertarik dengan sebuah spanduk yang menawarkan kostan dengan suasana bersih, nyaman dan tenang. Saya masuk kedalam untuk mencari penjaganya dan alangkah terkejutnya Saya begitu masuk ke perkarangan rumahnya, bau lembab sangat mengganggu bikin Saya jijik. Tempatnya ga nyaman sama sekali. Lalu yang di jl. Cisanggiri, Saya ga nyangka harga kost 1,2 juta dengan kamar mandi luar tapi tempatnya kumuh banget. Persis kayak masuk pemukiman yang dibelakang-belakang diskotik di Kota. Sangat ga manusiawi untuk ditinggali. Yang Saya ga habis pikir, kok tega sih menyewakan tempat seperti itu? Kostan Saya waktu jaman 300 ribuan aja masih lebih bagus.

3. Fasilitas Yang Gak Penting
Sebenarnya Saya pengen cari kost yang harganya 1juta saja. Selama tempatnya masih bagus sirkulasi udaranya, ga perlu pake AC juga. Tapi sekarang susah sekali cari kost yang ga pake AC. Terkadang yang bikin mahal itu bukan daerah atau AC nya. Melainkan fasilitasnya yang sebenarnya ga perlu-perlu amat. Seperti TV, siapasih sekarang yang ga punya tv?

4. Hanya Untuk Pekerja Kantoran
Ini beda tipis lah sama cerita ditanya agama pas nanya kostan. Saya juga pernah mendatangi kostan di Mampang lalu yang punya kostan tanya dimana kantor Saya. Saya bilang saat ini masih freelancer, lalu si ibu kost itu bilang, "Maaf, disini cuma untuk pegawai kantoran" dan langsung pergi masuk kedalam rumah -__-.
Wah, ini sih tipe-tipe ibu kost yang bakalan matre abis-abis dan nyebelin. Ga deh, makasih.

5. Gratis Nasi
Jadi Saya sempat tanya teman, Pandhu. Berapa kostan dia di Setiabudi. Dia bilang 1,6 juta dengan kamar mandi luar. Tapi dapat nasi dan air, masak gratis tinggal bawa bahannya sendiri dan gas ditanggung pemilik kost. Well... at least fasilitas ini lebih penting sih daripada TV datar :P

Nah akhirnya Saya ingat teman Saya Uut, kalau ke Jakarta dia nginep di kost temannya di Dharmawangsa dan yang Saya ingat pada waktu itu harga kostnya 900 ribu. Berarti tahun ini paling 1,2 juta. Saya dikasih kontak temannya Uuut, namanya Ellen. Dan Ellen ini baik banget, dia menawarkan diri boncengan naik motornya dia buat nyari kostan. Padahal kita baru kenal banget. Pertama dia anterin Saya ke tempat kost lamanya, tapi dia sempat memperingatkan kalau pemilik kostnya rada-rada gesrek. Untungnya kostan itu penuh dan pas didepannya ada kostan kosong yang pemiliknya jauh lebih enak dan khusus perempuan. Saya langsung dapat chemistry nya dengan tempat yang Saya tinggali ini. Lagipula sekarang agak sedikit ngeri kalau kost ditempat campur gitu. Secara banyak anak kost yang mati dibunuh pacarnya atau malah jadi sarang tempat prostitusi. Ya kalo mau 'ngamar' sama pacar, modal dikit lah ya buka kamar di hotel atau sewa apartement sekalian biar private. Kalo kere mah ga usah kebanyakan gaya deh. Hehehe...

Berkat bantuan Mbak Ellen Saya jadi punya tempat yang lebih enak. Btw, Ellen ini juga ngajar bahasa Jerman lho, barangkali ada yang mau les private, bisa kirim email ke Saya, nanti Saya kasih kontaknya dia.

Jadi, kalo ada pengalaman cari kostan, boleh lho di sharing :)


Monday, November 21, 2016

New Life



So.... It's been awhile.... So many happen in my life.... I,ve been focusing and need time alone.... Its was so up and down feeling. But I have faith, i can handle this by God's blessing. It's only a chapter of life.

Awal November pada akhirnya Saya pindah dari kostan yang sejak 2011 Saya tempati. I let God bring me to a better place, better life. Kemarin juga sudah dapat tempat yang lebih enak lingkungannya. Semoga rezeki tempat baru dan Saya bertemu. Saya pengen banget cerita what happen lately. Tapi kayaknya Saya mau simpan dulu. Saya janji ini akan jadi cerita yang bagus ;).

Saya hanya mau berpesan, ikhlas dan pasrah kan hidup kita pada Tuhan. Karena sebaik-baiknya kita berusaha dan berencana, jika Tuhan masih mau mengajarkan kita sesuatu, keinginan itu bisa saja sendikit tertunda.

Have a good day!

Friday, September 30, 2016

Problem Dunia Kerja Generasi Millenial


Tulisan ini sekedar curhat. Jadi beberapa bulan ini Saya beberapa kali di approach untuk bekerja sebagai team kreatif dibeberapa perusahaan baru. Dan diantara mereka adalah perusahaan media digital yang buka cabang di Indonesia. Sayang, beberapa kali Saya harus menolak karena tidak sesuai dengan standard industri. Sebagai contoh, ada satu perusahaan mereka menawarkan pekerjaan sebagai Digital Content Producer. Dalam pikiran Saya pasti ini soal produksi video. Saya yang memang bagian dari industri film dan posisi terakhir sebagai Associate Producer tentunya tidak asing dengan produksi video. Tapi begitu Saya temui, Saya sungguh terkejut dan.... merasa sedikit tidak terima. Yang mereka harapkan dari Saya adalah Saya mahir SEO, mengerti bahasa HTML, dan beberapa skill yang sebenarnya lebih cocok dikerjakan oleh orang yang mahir IT. Bukan orang yang paham produksi film / content video. Jadi sebenarnya Digital Producer itu, orang IT yang paham industri showbiz, atau memang orang dengan latar belakang industri showbiz yang bisa pemograman? Beberapa hari Saya terus bertanya-tanya. Apa Saya yang salah paham atau mereka yang tidak paham industri?

Cerita kedua. Saya membaca sebuah perusahaan digital media besar, mereka mencari seorang Video Producer. Saya baca skill-skill yang harus dimiliki. Orang tersebut selain bisa membuat video, dia juga harus bisa editing dan motion graphic. Lagi-lagi Saya menyeritkan dahi. Okelah kalo editing Saya masih bisa terima, walau sebenarnya ada orang yang berprofesi sebagai editor. Tapi ini harus bisa motion graphic? Doh!! Producer itu adalah orang yang meng-hire editor dan motion graphic. Producer adalah leader sebuah project. Producer memang harus paham soal teknis, tapi bukan harus menjadi expertise di editing, design produksi atau departement lainnya.

Saya yang gagal paham atau HRD yang sebenarnya tidak paham soal pekerja kreatif? Disini masih blur soal sistem ini. Jika dibiarkan bisa-bisa merusak industri itu sendiri. Jika semua orang bisa mengerjakan semua pekerjaan, pasti akan banyak orang yang menganggur.

Kembali ke tema awal. Jelas ini sebuah problem dunia kerja masa kini. Generasi Millenial dituntut harus memiliki beberapa skill. Bagusnya hal ini akan merangsang keinginan untuk terus mempelajari hal baru dan bisa lebih paham banyak hal. Sisi buruknya, hal ini bisa membuat kita kurang expert di satu skill, jadi seperti setengah-setengah. Sedangkan untuk menghadapi persaingan global, kita wajib memiliki keahlian yang mendalam agar bisa maju. Dan memang dengan menumbuhkan expertise, akan membuat iklim dunia kerja lebih dinamis. Masa kalau ada Account Executive yang bisa design, dia juga yang harus menyiapkan dummy bahan presentasi untuk client? Yang ada makin banyak Graphic Designer yang nganggur dong :P

Sebenarnya banyaknya perusahaan baru baik dari asing maupun dalam negeri, harusnya mampu menyerap tenaga kerja. Tapi jika terus menerus 1 orang diharuskan memiliki banyak skill bahkan yang sebenarnya ada beberapa skill yang kurang cocok untuk pekerjaan tersebut, maka akan semakin sedikit tenaga kerja yang dapat diserap. Terus kalau sudah begini, kita akan berkoar "Lebih baik bikin usaha sendiri" ? Hallooo bikin usaha itu tidak mudah dan perlu mental yang kuat. Mau sekedar jadi pengusaha karbitan?

Kapan negara ini bisa punya sistem yang lebih bagus?

 

Tuesday, September 27, 2016

Faktor Penentu Film Box Office



Tahun ini film "Warkop DKI" berhasil menjadi Film Indonesia Terlaris sepanjang masa dengan total 5juta penonton. Posisi sebelumnya diraih oleh film "Laskar Pelangi" (2008) yang mendapat 4 juta penonton. Saat film Laskar Pelangi rilis, Saya masih bekerja di 21 cineplex untuk divisi film Indonesia (fyi, dulu yang urus cuma 2 orang). Begitu mendapat laporan data harian penonton untuk Saya proses pembayarannya, Saya sempat tercengang melihat begitu banyaknya jumlah penonton untuk film Laskar Pelangi. Saya pun ikutan bersemangat menghitung sharing profit untuk produser. Hal yang sama Saya rasakan saat menghitung profit sharing film Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Masuk 2010, perolehan penonton film Indonesia tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Terlebih saat itu didominasi film Plus-Plus yang menjual sensualitas. Dan masanya juga sudah berbeda. Tahun-tahun sebelumnya film Indonesia yang tayang setiap minggunya hanya 1 film. Di 2010 karena banyak yang mulai produksi film, penayangan film Indonesia berubah menjadi 2 film setiap minggunya. Lalu berubah lagi menjadi 3 film/minggu hingga hari ini terkadang 4 film/minggu. Sebelum tahun 2010 untuk mencapai 200.000 penonton bukan hal yang sulit. Memasuki 2010 sampai hari ini untuk mendapat 150.000 penonton adalah hal yang patut disyukuri. Seiring berjalannya waktu, tantangan dan trend terus berubah. Terbatasnya jumlah layar membuat produser harus memikirkan strategi dengan cermat bagaimana caranya agar filmnya mendapat untung.

Di tahun 2016 ini geliat penonton Film Indonesia mulai meningkat lagi. Pastinya para produser sudah menemukan formula baru untuk mendapat penonton yang banyak dengan lebih jeli membaca pasar. Kualitas film-film Indonesia juga sudah memiliki production value yang bagus. Walau masih ada beberapa film Indonesia yang kualitasnya dibawah standar dan biasanya dibuat oleh produser karbitan. Ada 2 faktor utama yang menentukan sebuah film mendapat jumlah penonton yang massive.

1. Cerita
Cerita adalah fondasi dalam setiap produksi film. Cerita yang bagus adalah Investasi. Cerita yang bagus dapat berdiri sendiri untuk meninggalkan kesan pada hati penonton yang pada akhirnya bisa mengajak orang lain agar menonton film tersebut. Untuk sisi penonton, mereka tidak paham soal teknis tapi mereka pasti tahu cerita yang bagus atau tidak. Produser dan sutradara harus jeli untuk mendapatkan cerita bagus. Bahkan cerita yang bagus bisa mendatangkan kesempatan mendapat sponsor. Mungkin dalam cerita tersebut memiliki ideologi yang sama dengan sebuah brand sehingga bisa berkolaborasi.


2. Promo Tepat Sasaran
Promo adalah  faktor penentu kesuksesan sebuah film bahkan untuk film yang kualitas ceritanya tidak terlalu bagus. Sama seperti produk, tanpa marketing maka akan minim pembeli. Strategi promo harus sudah dirancang saat penggodokan cerita. Karena dari cerita kita bisa tahu demographic yang akan menjadi target market film yang kita buat. Beda demographic tentu beda pula treatment promonya. Salah satu strategi promo adalah dengan menggandeng brand yang sesuai dengan target market kita. Karena brand sudah pasti memiliki strategi marketing yang juga bekerja sama dengan agency advertising.

Promo tidak bisa hanya mengandalkan sosial media. Karena tidak semua orang digital savvy. Jika melihat contoh promo yang dilakukan Warkop Reborn, mereka bahkan melakukan promo eksklusif di salah satu station tv swasta. Bahkan setiap hari diputar di infotainment di tv tersebut. Selain itu mereka juga memasang reklame besar di gedung daerah Semanggi. Falcon Pictures, selaku production house film Warkop Reborn memang ahli dalam promosi. Promo untuk film-filmnya selalu berbeda.

Promo besar sekalipun tidak akan menghasilkan banyak penonton jika tidak dilakukan dengan tepat sasaran. Maka dari itu penting berkolaborasi dengan banyak pihak agar film bisa sukses secara komersial.


Lalu apakah film bagus itu sudah pasti laris? Tidak juga. Ada film bagus dan laris, ada pula film bagus tapi sayang tidak laris dan banyak pula film yang biasa-biasa saja tapi laris. Bagus tidaknya sebuah film itu tergantung selera masing-masing. Sebenarnya banyak pula film bagus yang tidak diputar di bioskop tapi diputar lewat penayangan alternatif yang banyak dilakukan oleh komunitas film. Lagipula masyarakat Indonesia masih banyak yang belum terbiasa dengan film arthouse.

Perfilman Indonesia semakin dinamis walau masih banyak kekurangan namun hal ini tidak menyurutkan semangat untuk berkarya. Semoga trend film box office ini bisa meningkatkan kepercayaan para investor untuk berinvestasi di industri film.



Sunday, September 25, 2016

DIY Dove Shower Cream



Saya pernah tulis review Dove Beauty Bar sebelumnya disini. Sesuai janji Saya dan demi kepraktisan mandi dengan sabun kesayangan ini, Saya coba bikin Dove sabun cair. Dove kan sudah ada sabun cairnya, ngapain bikin sendiri? Karena Saya juga keramas pakai Dove Beauty Bar dengan hasil rambut Saya baik-baik saja dan Saya gak tahu apakah formula sabun cair  Dove yang dipasaran bisa dipakai keramas atau tidak. 

Cara membuat Dove Shower Cream sederhana sekali. Kita hanya perlu menyiapkan air sebanyak 2 gelas (400 ml) untuk 1 batang Dove Beauty Bar.  Pertama-tama, kita cairkan dulu Dove Beauty Bar. Cara mencairkannya persis seperti mencairkan coklat batang, beri sedikit air sambil ditekan-tekan dengan spatula agar lumer. Jika air mulai agak mengering, tuang sedikit air lagi. Terus lakukan sampai sabun meleleh semua.


Ketika sabun sudah meleleh, akan masih ada bagian-bagian kecil sabun yang belum meleleh dengan sempurna. Kecilkan api. Lalu terus tambah air sedikit demi sedkit sampai air yang telah disediakan habis. Aduk sesekali untuk memeriksa apakah sabun sudah meleleh dengan sempurna. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit.


Lalu dinginkan adonan sabun yang sudah meleleh sebelum dituang kedalam wadah kira-kira setengah jam. Jika hasilnya terlalu kental, bisa ditambah sedikit air panas sampai tingkat kekentalannya pas.

Voila! Jadi deh shower cream! Saya coba shower cream ini untuk mandi seperti biasa, hasilnya sama sekali tidak beda dengan versi batangan. Saya sempat mencoba tidak memakai pelembab setelah mandi untuk memastikan DIY Shower Cream ini tidak mengurangi kualitas beauty bar. Dan kulit Saya tetap halus dan lembab seperti jika Saya mandi dengan versi batangan. Karena bentuknya yang cair, lebih mudah jika memakai shower puff. Kalau mau langsung digosok dengan tangan juga boleh, suka-suka hati kamu aja. Versi cair ini juga lebih mudah untuk diaplikasikan saat keramas dibandingkan jika mengusap versi batangan.  Tapi karena setiap sebelum keramas Saya selalu melakukan hot oil treatment, Saya harus 2x bilas jika keramas dengan versi cair. Kalau dengan versi batangan, 1x bilas sudah cukup.

DIY Dove Shower Cream ini bisa dipraktekkan kalau kamu mau lebih praktis mandi dengan Dove Beauty Bar. Tapi mungkin alasan yang paling jujur adalah, DIY Shower Cream ini jatuhnya lebih murah daripada Shower Cream yang dipasaran :D. Harga Dove Shower Cream 400 ml dipasaran sekitar Rp 20.000,-. Sedangkan kalau membuat sendiri, kamu hanya perlu beli Dove Beauty Bar seharga Rp 7.000,- untuk menghasilkan 400 ml shower cream.