Sunday, July 4, 2021

Coffee Time Story #12 Friend With Benefit

 


Istilah Friend With Benefit sebenarnya bukan hal yang baru. 1 dekade sebelumnya kita biasa menyebutnya dengan Teman Tapi Mesra atau Hubungan Tanpa Status. Para pelakunya pun dari dulu juga sudah ada. Namun saat ini lebih sering terdengar karena hadirnya social media dan orang-orang yang lebih muda dari kita lebih gamblang membicarakan atau menceritakan pengalaman mereka dibanding 10 tahun yang lalu.

Friend With Benefit diidentikkan dengan hubungan seksual tanpa adanya komitmen, sebatas teman. Beberapa waktu ini, saya sempat berkenalan dengan seseorang  yang memakai akun alter di twitter. Tujuan dia membuat akun alter adalah untuk bergabung di forum Friend With Benefit. Singkat cerita kami bertemu. Saya tekankan dari awal bahwa saya tidak berminat sama sekali mencari partner Friend With Benefit. Saya hanya mau mendengar cerita. Lalu dilain waktu, saya juga berbincang dengan teman saya yang seorang penganut Friend With Benefit sejati. Bahkan dia punya beberapa partner. Dari kedua orang ini saya menyimpulkan beberapa hal alasan mereka lebih memilih Friend With Benefit dibandingkan menjalin hubungan yang normal.

Mereka biasanya merasa insecure untuk menjalin hubungan dengan komitmen. Mereka merasa belum selesai atau selalu merasa ada kekurangan dalam diri mereka. Setiap orang memang memiliki luka dan masa lalu yang kita tidak bisa tahu seberapa beratnya itu untuk mereka. Mungkin dengan Friend With Benefit adalah cara mereka untuk menghadapi itu dengan tetap mendapatkan afeksi. 

Yang menjadi persoalan adalah jika ada salah satu pihak menginginkan eksklusifitas dari hubungan ini, maka akan timbul pihak yang merasa dirugikan terutama perempuan. Namun apa yang bisa diharapkan dari hubungan macam ini. Bukankah diawal kedua belah pihak sudah sepakat bahwa tidak akan ada komitmen. 

In this modern days, men are spoiled and women are desperate. Both man and woman could act like a pig, if you give them the chance to treat you with disrespect. Your homework is to train the pig. Sebuah hubungan diperlukan usaha dari 2 belah pihak. Jika hanya ada 1 pihak yang selalu berusaha, maka pihak lainnya hanya memanfaatkannya. Dan dalam hubungan Friend With Benefit, hal ini sangat mungkin terjadi. Ini bukan hubungan yang sehat, lebih baik tinggalkan orang tersebut, jangan buang-buang waktu dan energi. Lebih baik gunakan waktu dan energi kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik setiap waktunya sehingga kita pantas untuk mendapatkan respect.

Saya sebenarnya bisa saja untuk menjalin hubungan Friend With Benefit, tapi saya lebih memilih tidak. Well, that is not my playground. It is not my place. Kenapa saya harus berada didalamnya jika hanya sekedar agar dicap edgy atau open minded. Because I deserve a healthy relationship.



No comments:

Post a Comment