Kalau di postingan ini judulnya Haul dan Review, kali ini, dibalik. Kenapa dibalik? Karena sebenarnya cuma mau review si Wardah Aloe Hydramild face wash, tapi demi estetika gambar, si St.Ives ikutan difoto. Biar si Apricot ga ngiri sama si Lidah buaya, lebih efisien judulnya saja agak di modif dikit. Hehe
Saturday, November 17, 2018
[Review] dan Haul Wardah Aloe Hydramild Face Wash
Kalau di postingan ini judulnya Haul dan Review, kali ini, dibalik. Kenapa dibalik? Karena sebenarnya cuma mau review si Wardah Aloe Hydramild face wash, tapi demi estetika gambar, si St.Ives ikutan difoto. Biar si Apricot ga ngiri sama si Lidah buaya, lebih efisien judulnya saja agak di modif dikit. Hehe
Thursday, November 1, 2018
Coffee Time Story #3 Bonus Salaman Dengan Presiden Jokowi
![]() |
| Photo By Jamey Ekins free photo |
Weekend lalu mulai dari Jum'at adalah hari-hari yang akan Saya kenang. Dari judulnya sudah jelas, iya, Saya berkesempatan berada di 1 ruang dengan Pak Jokowi, bahkan sempat bersalaman. Pengalaman yang ga tau kapan akan terulang lagi. Saya memang sering ketemu dan kenal beberapa public figure. Dan Saya tidak pernah star struck. Syuting atau ngopi dengan artis pun Saya ga pernah minta foto bareng. Kecuali orang tersebut memang berteman dengan Saya. Tapi ketemu Pak Jokowi, rasanya tuh beda. Berada di jarak kurang dari 3 meter saja Saya sudah deg-deggan.
Sunday, October 7, 2018
Crazy Rich Asian, Lebih Dari Sekedar Romcom
![]() |
| Crazy Rich Asians, |
Awal mula tertarik nonton film Crazy Rich Asians karena pacar yang merekomendasikan. "You have to watch it! You absolutely gonna love it!". Awalnya tidak kepikiran akan nonton, karena Saya sendiri belum pernah baca bukunya. I know some people are crazy about it, tapi masih belum segitunya penasaran sampai pada akhirnya pacar begitu menggebu-gebu rela nonton 2 kali demi nemenin Saya nonton. Saya nonton show pertama dan studio hampir penuh. Sisanya, sold out! Apakah the real crazy rich asians bought the the tickets? Yang pasti, hype is REAL, pemirsa.
Saturday, September 29, 2018
[Haul] Dan Review Biokos 30's Vital Nutrition
Sebenarnya Saya kurang cocok bikin judul Haul, karena Saya jarang sekali belanja produk-produk baru. Karena Saya orangnya hemat alias medit. Kali ini bikin judul haul karena kebetulan lagi coba produk baru yang belum Saya coba sebelumnya. Produk-produk itu adalah skincare dari Biokos, face scrub Himalaya, kuteks Beauty Story, Cologne Belia dan Biore Pore pack.
Friday, September 14, 2018
Mana Yang Harus Didahulukan, Pasangan Atau Karir
![]() |
| Photo by bruce mars from Pexels |
Sebulan terakhir ini, Saya sedang mengerjakan project kantor untuk distribusi film import dari Thailand berjudul "7 Days". Film ini sudah rilis hari Rabu lalu, 12 September 2018 di bioskop Indonesia. Yah, walaupun judulnya 7 Days, tapi project ini cukup bikin hidup Saya tambah intense selama 30 days. Rasanya tuh kepengen ambil liburan 2 minggu, tapi Saya tau diri, pertama tanggal gajian masih lama dan dollar lagi mahal. Kedua, film rilis bukan berarti pekerjaannya selesai. Tetap harus check promo berjalan dan dag dig dug saban pihak bioskop e-mail laporan penonton. Lelah akutu, Kak....
Saat file film 7 Days diterima dikantor, langsung nonton rame-rame dulu di private theater kantor Kami. Jujur ya, saat nonton film ini, teringat kisah hidup (caileee) beberapa tahun yang lalu. 2 karakter utama di film ini, Tan dan Meen, adalah pasangan yang sama-sama punya passion. Tan (Kan Kanthatavorn) adalah chef terkenal yang sangat kreatif menciptakan menu. Meen (Mew Nittha) adalah food critic yang dijuluki lidah emas, hanya mencicipnya sekali, dia bisa tau bagaimana makanan itu diolah dan darimana bahan-bahannya. Sebenarnya Meen adalah seorang chef juga, tapi karena pernah dikritik habis-habisan, dia bantik setir jadi food critic. Dalam hubungan mereka, Meen ingin hubungan yang lebih settle sedangkan Tan masih berambisi mengembangkan karirnya. Sampai suatu hari mereka bertengkar.
![]() |
| Tan dan Meen di film 7 Days |
Konflik Meen dan Tan ini sangat familiar dengan apa yang pernah kita hadapi. Dimana kita harus memilih, pasangan atau karir.
Pasangan dan karir adalah 2 hal yang tak dapat dipisahkan dari hidup kita. Tanpa karir, kita tak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup ataupun passion. Tanpa pasangan, kita tak akan bisa bersandar, walau sekedar a shoulder to cry on. Ehe :D.
2 hal ini adalah bahan bakar. Lalu, apakah keduanya bisa jalan beringingan? Jelas bisa. Asal mau ada effort lebih. Ada 2 hal utama yang perlu dilakukan:
Yang paling penting adalah KOMUNIKASI. Iya, ini harga mati. Ada baiknya sebelum memulai hubungan, kedua belah pihak harus tahu apa yang diinginkan pasangannya. Konflik muncul dan akan mencapai puncaknya saat salah satu pihak dianggap tak diacuhkan. Menjalin hubungan itu ibarat investasi waktu. Hidup itu terlalu singkat jika hanya untuk dihabiskan merasakan hal yang menyesakkan hati. Bicara dari hati-ke hati. Jika pasangan maunya kamu biasa-biasa saja agar ada waktu lebih banyak untuk dia, sedangkan kamu tidak bisa memenuhi ekspetasi itu, lama-lama akan menjadi toxic dalam hubungan. Lebih baik sakit diawal daripada memendam emosi atau hasrat yang perlahan akan menghancurkan diri kita sendiri.
Kalau dalam relationship Saya, pada waktu Kami lebih muda dulu, Kami sama-sama keras kepala dan masih sangat berambisi untuk punya karir bagus. Tidak ada solusi selain memutuskan hubungan. Terlebih saat itu dia di Amerika, Saya di Jakarta. Pada saat itu, Kami punya prinsip, merusak mimpi berarti merusak hidup. Iya, sekeras itu.
Hal kedua yang penting setelah komunikasi adalah, support. Keputusan untuk memilih pasangan tetap ada ditangan kita sendiri. Pasangan yang baik adalah pasangan yang supportif. Diluar sana kita sudah dihadapkan pada kerasnya kenyataan untuk menjalani passion. Jika dia tak supportif bisa dibayangkan lelahnya akan seperti apa. Contoh, saat deadline atau menghadapi klien demanding, tiba-tiba pasangan kamu komplain karena kurang waktu. Akhirnya dengan pasangan timbul pertengkaran, saat bekerja pun jadi kurang maksimal karena adanya gesekan dengan persoalan pribadi yang pastinya akan membuat pikiran bercabang.
Dalam hidup sangat penting untuk bekerja dengan passion. Tanpa itu, kita hanya bagaikan robot. Pergi pulang kerja menunggu gaji. Betapa membosankannya. Orang yang punya passion akan jauh lebih berwarna hidupnya, jadi jauh-jauh deh dicap orang yang membosankan.
Ada 2 hal penting yang jangan sampai salah pilih, yaitu pasangan dan pekerjaan. Dimana sebagian besar hidup kita akan dihabiskan untuk 2 hal tersebut
Sunday, August 5, 2018
Coffee Time Story #2
Minggu ini tiba-tiba merasa kehilangan energi. Bawaannya pengen menyendiri terus ga mau mikirin apa-apa. Mungkin bisa dikatakan Burnout. Penyebabnya Saya sendiri tidak tahu. Hingga disuatu tengah malam Saya terbangun dan ibarat menemukan ilham, ada hal yang harus Saya perbaiki.
Saya sedang jenuh dengan pekerjaan. Sebenarnya perasaan jenuh itu sudah mulai muncul beberapa bulan lalu tapi selalu Saya ignore. Saya masih memiliki semangat untuk mencapai tujuan kehidupan profesional Saya. Ternyata hal yang selama ini Saya perjuangkan bisa menjadi hal buruk untuk diri Saya. Wajar Saya merasa jenuh. Saya bekerja sejak umur 18 tahun dimana biasanya orang lain sedang menikmati fase perubahan dari remaja ke dewasa. Karena bekerja sejak muda, Saya memiliki keterbatasan menikmati masa muda. Bukan berarti masa muda Saya tak menyenangkan. Justru Saya sangat bersyukur Saya memiliki pengalaman yang cukup diawal 20-an dulu.
Sejak usia 14 atau 15 tahun, Saya memang sudah merancang mau jadi apa dalam urusan pekerjaan dan sampai saat ini Saya masih menjalani apa yang sudah Saya rancang itu. Ternyata ada kesalahan dalam setiap perjalanan itu. Dan 1 yang paling jelas adalah Saya terlalu keras pada diri Saya sendiri. Saya melupakan bagian kecil untuk kehidupan personal Saya.
Jadi sejak malam itu, Saya memutuskan untuk mulai fokus ke kehidupan personal. Sudah cukup Saya fokus di profesional selama 10 tahun. Bukan waktu yang singkat. Tak lama lagi Saya akan menginjak usia 30 tahun. Mungkin ini waktunya Saya rehat sejenak. Toh suatu saat akan ada keluarga kecil yang harus Saya urus. Jadi daripada menyesal nantinya karena kurang memperhatikan diri sendiri, lebih baik dimulai dari sekarang. Saya yakin setiap orang memang ada waktunya untuk rehat sejenak dari kehidupan profesionalnya untuk membangun kehidupan personalnya. Bukan artinya Saya ingin berhenti bekerja sama sekali, hanya saja saat ini prioritas utama Saya adalah untuk kehidupan personal.
Semoga saat Saya kembali ingin menata karir lagi, Saya sudah jauh lebih baik dari hari ini.
Saturday, July 28, 2018
Syuting Di Indonesia Tidak Murah
![]() |
| Blackhat at Jakarta |
Indonesia sudah cukup banyak dilirik sineas luar negeri sebagai salah satu lokasi syuting. Bahkan beberapanya adalah film Hollywood blockbuster. Sebut saja "Eat, Pray, Love", "Blackhat", dan "King Kong". Selain itu masih banyak project lain seperti TVC dan Series, bahkan film indie. Sebelum menjelaskan lebih jauh, Saya ingin memperkenalkan kepada masyarakat yang bukan bekerja di bidang film. Mereka yang berjasa membawa Indonesia lewat layar perak adalah Gary Hayes dan Tino Saroengallo. Ditangan mereka tercipta kualitas film dan iklan yang grand, disertai para kru yang sangat terampil. Baru saja mereka menutup usia. Dasar sahabat sejati, mati saja jaraknya masih dekat. Pak Tino memang sudah sakit kanker beberapa tahun terakhir. Dan Pak Gary sempat jatuh sakit sebelum menghadap Sang Kuasa. Jasa dan dedikasi mereka akan terus Saya kenang.
Indonesia diberkahi pesona alam yang eksotik. Hutan tropis yang belum terjamah bahkan virgin beach. Tak jarang setiap project pasti menemukan lokasi baru yang bahkan kita sebagai orang lokalpun belum tahu. Selain lokasi, Indonesia juga memiliki cukup sineas yang mampu memenuhi standard kerja International. Seharusnya dengan 2 aset utama ini, Indonesia bisa menjadi salah satu Film Friendly. Untuk syuting di Indonesia masih banyak kendala yang perlu dihadapi.
Syuting di Indonesia tidaklah murah, seperti yang digembar-gemborkan para jajaran pemerintah di Indonesia. Tidak adanya tarif yang jelas dan birokrasi yang berbelit seringkali menyurutkan sineas asing untuk syuting di Indonesia. Sebagai contoh untuk perbandingan, syuting di kota New York hanya diperlukan $750 untuk perizinan lokasi. Sedangkan harga syuting di Kota Tua Jakarta, diperlukan 60 juta. Syuting di Jakarta dalam studio pun bisa mencapai 12-15 juta sehari dengan rata-rata tarif studio 6 juta per-8 jam.
Baca juga: Susah Sinyal lebih mahal dari Critical Eleven
Saat ini digadang-gadang untuk perizinan syuting, dimanapun di wilayah Indonesia bisa dilakukan 1 pintu, melalui Pusbang Film. Pada kenyataannya, Kami tetap harus mengurus izin dari RT/RW, Polsek, Pemda dan preman setempat. Tentunya disetiap tahap tersebut Kami harus menyediakan amplop untuk melancarkan terbitnya surat izin syuting. Itupun tidak bisa menjamin mereka akan 100% bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang mengakibatkan proses produksi terganggu karena faktor eksternal.
Yang membuat biaya syuting di daerah Indonesia mahal juga disebabkan karena infrastuktur yang belum baik. Kami harus mengakali dengan menambah jumlah personil atau menyewa alat khusus yang akhirnya akan muncul cost baru. Biasanya jika syuting di daerah, Kami harus merekrut warga sekitar yang seringkali harga permintaan awal bisa berbeda saat sudah melakukan pekerjaan. Yang bikin kesal terkadang mereka tidak bisa mengikuti pace kerja Kami yang serba cepat.
Baca juga: Tentang Perfilman Indonesia
Beberapa waktu lalu Saya membaca buku "Film Marketing Into The 21st Century". Di dalamnya ada bab yang membahas Marketing Location, salah satunya membahas tentang Film Friendly yang sudah dilakukan New Zealand, dan negara / kota lainnya dibelahan dunia.
Berikut rangkumannya:
1. Di Michigan ada sebuah agency yang menawarkan pelatihan kepada warga lokal, perusahaan dan penyedia jasa fixer untuk memudahkan proses pembuatan film dilokasi tersebut dan memudahkan warga yang ingin bergabung sebagai filmmaker.
Di Indonesia sendiri, Badan Perfilman Indonesia, juga sedang memberikan pelatihan-pelatihan serupa di daerah guna mempersiapkan mereka sebagai lokasi baru untuk syuting film. Kota-kota di Indonesia yang pemerintah daerahnya sudah siap sebagai lokasi syuting antara lain Bandung, Bayuwangi, Siak, dan Yogya. Di Bali pun tak ada kendala berarti karena kesigapan warganya yang juga sudah terbiasa sebagai daerah wisata.
Banyak pula komunitas film di daerah yang menelurkan sineas baru. Bagaimanapun sineas juga perlu regenerasi.
2. Film friendliness sangat penting untuk tempat yang tak memiliki atau sedikit track record sebagai lokasi syuting. Kualitas dan pelayanan yang buruk bisa merusak reputasi tempat tersebut.
Kami sebagai filmmaker lokal pun terkadang kapok syuting di tempat tertentu dan pastinya akan kami blacklist dan tak akan pernah masuk rekomendasi Kami. Pembuatan film itu secara tak langsung turut meningkatkan perekonomian. Karena pastinya Kami akan mempekerjakan warga lokal sebagai porter dan membayar sewa / hotel selama proses syuting berlangsung. Belum lagi Kami akan membutuhkan penyedia konsumsi. Coba bayangkan berapa banyak uang yang harus Kami keluarkan untuk syuting film.
3. Location Marketing tidak sama dengan promosi pariwisata, walaupun bisa saja itu akan menjadi salah satu tujuannya. Lebih dari itu, dengan adanya film friendliness, akan memicu pertumbuhan infrastuktur, baik untuk pariwisata maupun keperluan pembuatan film dikemudian hari.
Jadi tolong kepada jajaran pemerintah, jangan promosikan Indonesia murah untuk syuting film. Selain perizinan yang mahal, upah Kami sebagai pekerjapun tidak bisa dikatakan murah. Ga mungkin Kami mempekerjakan kru yang kemampuannya belum memenuhi standard demi harga murah. Karena Kami bawa nama negara saat bekerja dengan sineas asing.
Walau banyak yang masih awam terhadap pekerja film, secara tak langsung Kami turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi. Kami bayar pajak penghasilan, dimana pajak itu akan digunakan untuk pembanguan negara. Berkat industri yang semakin maju, tentunya tercipta lapangan kerja baru. Dalam proses produksi film kurang lebih ada 150 orang yang terlibat. Belum lagi dari sisi distribusi, munculnya bioskop atau channel distribusi baru, tentunya perlu pekerja baru. Berkat film juga berhasil muncul budaya atau trend baru yang lagi-lagi akan meningkatkan dan memperluas pasar.
Subscribe to:
Posts (Atom)









